Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 94 Menyusun Strategi Baru


__ADS_3

"Hah? Apakah aku tidak salah dengar?" Ervin terkekeh.


Elisa menatap wanita yang seumuran dengannya yang tiba-tiba saja datang dan memanggil dirinya tante.


"Sepertinya dia memang orang sinting," batin Elisa.


"Dia harus segera disembuhkan mentalnya," batinnya lagi.


"Nyonya Dendi seharusnya anda berada di istana itu dan tidak boleh berkeluyuran malam-malam begini," Ervin berdiri mengajak orang tuanya yang masih duduk. Dia malas meladeni Firda.


"Mama dan papa lebih baik masuk duluan! Aku akan mengusir dia dulu," Ervin berusaha mengusir orang tuanya.


"Hati-hati Vin!" pekik Elisa cemas.


"Itu orang sepertinya tidak punya urat malu," Malik mencibir.


Ervin menoleh pada orang tuanya yang menjauh.


"Kenapa kemari? Apakah kamu sengaja membuntuti aku?" Ervin melipat tangannya di dada.


"Tentu saja tidak, aku ada janji dengan seseorang di sini. Aku hanya ingin memastikan kalau kamu sudah membuka file yang aku kasih kemarin," Firda tak sabar.


"Aku sudah tahu kelemahan Dendi," sahut Ervin.


"Terus apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Firda penasaran.


"Tentu saja rahasia, aku akan menyingkirkan Dendi kalau dia masih menolakku menjadi suami anaknya," tekad Ervin kuat.


"Kamu bermimpi kan? Jangan pernah meremehkan Dendi manusia licik itu," Firda memperingatkan Ervin.


"Tidak, aku tidak pernah meremehkannya. Aku tahu dia itu licik dan cerdas karena selama ini sindikatnya selalu saja berhasil lolos dari pihak berwajib," Ervin tersenyum simpul.


"Hahaha, kamu tidak tahu saja kalau produk barunya sudah aku sabotase. Untunglah aku tidak diusir dari rumah karena mereka tidak punya bukti apapun kalau aku terlibat di dalamnya. Ucapan wanita tua itu tidak bisa dijadikan bukti konkrit," Firda tertawa puas.


"Terserah kamu mau berbuat apa. Aku harus masuk menyusul mama dan papa. Sebaiknya kamu menjauh dariku. Setelah ini aku tidak mau melihat wajah norakmu itu lagi. Berdandanlah sesuai usiamu tante!" Ervin pergi meninggalkan Firda yang mendengus kesal mendengar ungkapan Ervin.


"Dasar anak bau kencur, setelah Dendi aku hancurkan dan menguasai hartanya, giliran Clara yang akan aku hancurkan. Kamu itu hanya salah satu dari bagian rencanaku semata. Aku ingin tahu diantara kalian berdua siapakah yang lebih kuat," Firda tertawa meremehkan. Wanita dewasa itu menatap punggung Ervin sampai tak terlihat lagi.


Nissa dan keluarganya telah berada di depan restoran. Dia menghubungi Elisa dahulu sebelum masuk.


"Mam, kalian udah di dalam? Kami udah sampai nih," Tanyanya.


["Masuk aja nak! Meja di lantai dua dekat jendela kaca ya! Keluarga om Evans udah datang."]


"Oke mam, kami masuk sekarang," Nissa berjalan santai sambil menggandeng Kian si anak sulung. Sementara putrinya digendong Kino.


Sesampainya di lantai dua, terlihat dua keluarga yang sedang berbincang hangat. Mereka semua tersenyum bahagia kecuali Ervin yang menekuk wajahnya.


Nissa menepuk pundak dan mengacak rambut adiknya. Kelakuan adiknya itu ternyata masih sama seperti dulu.

__ADS_1


"Apaan kak?!" Dia mengibas tangan Nissa di kepalanya.


"Mukanya jutek amat pak. Lagi datang bulan ya?!" Nissa duduk di sebelah adiknya.


"Gak lucu," sahut Ervin datar.


"Kalian berdua kalau udah ketemu pasti berantem," Elisa melerai keduanya.


"Seneng aja kalau godain si jomblo yang satu ini," Nissa yang spontan berkata seperti itu langsung dicubit pinggangnya oleh Kino.


"Nanti adikmu itu tambah emosi lho," Kino gemas dengan ucapan istrinya.


"Sakit tau mas," Nissa menepuk tangan Kino yang mencubitnya.


"Mimi kenapa diem aja? Nggak mau ngobrol sama Ervin? Kenapa kalian malah kikuk begitu? Padahal waktu kecil kalian sering mandi berdua, maen berdua, ketiduran pun barengan," Nissa mengingat masalalu.


"Kalau masih bocah wajar lah kak. Beda ceritanya kalau sekarang," Ervin menanggapi perkataan Nissa.


"Kenapa kamu yang nyahut sih? Kan kakak ngobrol sama Mimi," Nissa ketus.


Ervin beranjak dari tempat duduknya, dia malas karena orang tuanya membahas perjodohan dengan Jasmine.


Sementara Jasmine tidak menolak perjodohan tersebut.


Ervin meluapkan emosinya pada pintu toilet. Dia meninju pintu toilet tersebut berkali-kali sampai tenaganya habis.


"Kamu kenapa? Sudah gila karena harus berjauhan dengan Clara?" Seorang Pria yang dia kenal sedang menyunggingkan bibirnya.


"Aku sudah tidak berminat pada mereka, kamu ambil aja mereka. Aku hanya ingin mereka jatuh tersungkur ke kotoran, hahaha," tawa pria itu menggema di toilet yang sepi.


"Udahlah, malas meladeni kamu. Buang waktu ajah," Pria tersebut pergi meninggalkan Ervin setelah selesai mencuci tangan.


"Dia ada di sini? Firda ada di sini juga? Apa jangan-jangan mereka sekongkol?" Mulut Ervin terbuka lebar. Pikirannya seketika berintuisi.


"Aku harus mengikuti mereka," Ervin keluar dari toilet dan mencari keberadaan mantan tunangan Clara.


"Ternyata kalian memang sekongkol," Ervin menyeringai.


"Aku harus memastikan apa perkataan mereka," sebuah rencana baru terlintas di benak Ervin.


Ervin menghentikan seorang pramusaji yang melintas.


"Mas, itu buat siapa?" Ervin bertanya.


"Buat mas sama ibu di meja sana! Memangnya kenapa mas?" Pramusaji seketika berhenti.


"Ada lagi nggak pesanan mereka?" Ervin ingin tahu.


"Ada mas, ini baru hidangan pembukanya aja."

__ADS_1


"Boleh minta tolong tidak mas? Nanti aku kasih tip deh," Ervin merayu.


Si Pramusaji berpikir sejenak kemudian mengangguk mantap.


"Mas letakkan ponsel ini di bawah kursi salah satu dari mereka! Aku ingin merekam obrolan mereka berdua mas. Nanti aku kemari lagi setelah mendapatkan perekat yang kuat. Mejaku ada di lantai dua, mas bisa mencari aku di sana kalau hidangan utama mereka sudah bisa disajikan!" Ervin menjelaskan maksudnya.


Pramusaji menurut saja.


"Lumayan, duit tambahan," batinnya melonjak gembira.


Pramusaji segera menyajikan hidangan pembuka tersebut pada mereka. Ervin segera memesan barang yang dia butuhkan pada kurir online. Kemudian dia melangkah naik ke lantai dua sebelum dicari oleh semua orang.


"Aku pergi nyari Ervin ya moms!" Jasmine baru saja beringsut dari tempatnya.


Namun langkahnya terhenti setelah melihat Ervin yang sudah datang.


"Kemana aja Vin? Mereka menunggu kamu lho, kita harus makan bareng!" Jasmine menggerutu sebal.


"Tinggal makan aja, nggak usah nunggu aku segala!" Ketus Ervin menatap nyalang pada manik mata Jasmine.


Malik yang melihat perdebatan tersebut melerai keduanya.


"Ervin! Yang sopan kamu sama wanita! Siapa yang ngajarin kamu berbicara ketus begitu?!" Malik geram dengan tingkah anaknya.


Ponsel Ervin berdering membuat pandangan semua orang memperhatikannya apalagi tadi dia tengah ditegur oleh Malik.


"Siniin ponselnya!" Pinta Malik.


"Pasti perempuan itu," Malik tak sabar ingin memaki suara di ujung telepon.


"Bukan pa, dia tidak tahu nomor telepon Ervin yang baru," Ervin mengelak.


"Kino! Ambil ponsel itu dan berikan pada papa!" Tunjuk Malik.


Kino mengikuti kemauan mertuanya dan berjalan mendekati kursinya seraya menyodorkan ponsel tersebut.


"Dibilangin nggak percaya," gerutu Ervin.


Malik menjawab panggilan ponsel Ervin.


"Siapa itu? Siapa kamu?" Malik bertanya ketus.


Setelah dijelaskan Malik tersentak mendengar jawaban dari orang di seberang telepon.


*


*


*Bersambung.

__ADS_1


Menuju tamat 😁 karena awal bulan depan launching novel baru tapi bukan di sini.


Kalau tidak keberatan bisa baca novel terbaru aku di awal februari nanti di aplikasi HotBuku dengan judul novel: Kisah Kasih Debt Collector dengan nama pena yang sama. Selamat membaca 🥰


__ADS_2