Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Bab 66. Akhirnya Mengaku


__ADS_3

"Siapa sih itu?" Gerutu Elisa. Namun, dia tersadar karena dirinya lah ada pelayan restoran yang datang.


Elisa tanpa sadar meremas sebuah tombol yang berada di pinggiran meja.


"Maaf, ini salahku," Elisa tersenyum tipis pada suaminya yang sedang menatap wajahnya.


"Tanganmu siniin yang!" Malik memegang tangan istrinya.


"Ervin! Buka pintunya dan kasih tahu sama waiters kalau kami pesan makanan sepuluh menit lagi!" Suruh Malik pada anaknya.


"Yeah," sahut Ervin datar lalu beringsut dari tempatnya.


"Duh perut aku laper banget," Clara memegang perutnya karena sedari pagi dia tidak menyentuh makanan sama sekali.


Ervin kembali duduk di samping Clara, namun dia tidak tahu bahwa majikannya tersebut telah menahan perih karena perutnya yang kelaparan.


"Ervin ... cepat ceritakan semuanya!" Malik menatap tajam mata anaknya.


Ervin meneguk air liur dengan berat. Dia kemudian menghela napas.


"Sebenarnya aku memang bekerja pada keluarga tuan D dan menjadi supir di sana karena Clara," Dia tidak bisa mengelak lagi. Akhirnya pria itu mengakui.


"Apa maksudmu Vin? Karena aku? Kenapa bisa?" Clara melotot tajam pada Ervin.


Namun dihatinya entah kenapa dia merasa senang tapi demi gengsi dia berpura-pura marah.


"Jelaskan lagi Vin!" Malik berkata datar.


"Papa ingat nggak? Ketika Ervin ke Singapura dulu. Di sanalah aku bertemu dengan Clara," Pria itu menoleh pada wanita yang ia cintai dan tersenyum lebar.


Namun ekspresi Clara malah sebaliknya karena dia tidak mengingat Ervin sama sekali.


"Ketika kamu pulang dari pelatihan mas Toni 'kan?" Malik mengangguk beberapa kali.


"Iya, setelah jatuh cinta pada pandangan pertama pada Clara aku mulai mencari informasi tentangnya. Mengumpulkan keberanian, untuk melamar menjadi sopir karena waktu itu sopirnya telah mengundurkan diri. Dan seperti yang papa dan mama lihat, sekarang aku menjadi sopir nona muda ini," jelas Ervin panjang lebar.


"Jadi dia tidak tahu kalau kamu anak seorang pengusaha sukses?" Malik menaikkan alisnya.


"Tentu saja tidak pa, kan Ervin harus menyamar menjadi orang miskin agar diterima. Nasib baik ternyata berpihak," sahutnya santai.


Clara yang mendengar itu semua hanya bisa berkedip berkali-kali. Rasa laparnya tiba-tiba saja menguap begitu saja.


"Clara? Nama wanita ini Clara?" Tunjuk Malik dengan kepalanya.


Ervin mengangguk. Mata Elisa memperhatikan wajah Clara yang cantik dan bermata bulat.


"Cantik sih, tapi entah kenapa aku lebih setuju kalau Ervin bersama Mimi," batin Elisa yang menghela napas panjang.

__ADS_1


"Jadi sekarang mau kamu itu apa? Lihatlah dia sekarang sudah tahu siapa kamu Vin, sebaiknya kamu mengundurkan diri dari sana," Perintah Malik.


"Belum waktunya pa, aku akan menaklukkan hatinya lagi," Ervin meraih tangan Clara yang berada di bawah meja. Seketika saja wanita itu tersadar dari lamunannya.


"Jadi kamu ...." Clara mengatupkan bibirnya.


"Iya, semua ini karena aku mencintaimu," Ervin mengedipkan sebelah matanya.


"Dih, kepedean amat," Clara menepis tangan sopirnya.


Malik hanya mampu menggelengkan kepalanya saja.


Sementara Elisa senyum-senyum sendiri melihat tingkah keduanya.


"Jadi sekarang mau kalian apa?" Malik berkata lantang.


Sudah saatnya Ervin membuat sebuah pilihan.


"Aku akan tetap menjadi sopir Nona Clara, pa," Ervin masih tetap dengan keputusannya.


"Tidak, aku tidak setuju. Lebih baik aku pecat saja kamu. Kembalilah pada keluargamu!" Clara menahan emosi.


"Nona, jadikan aku sopirmu! Aku akan mengantarkan kamu kemanapun kamu mau pergi. Aku akan menjagamu dalam perjalanan. Dan aku akan selalu berhati-hati ketika memacu kendaraan," Ervin menatap lekat manik mata Clara.


"Ini anak belajar dari mana sih jurus merayu begitu?" Batin Elisa.


"Biasa ajah si om," sahut Clara mencoba cuek.


"Benarkah? Apa mau aku cium kamu di depan mama dan papa?" Ervin menyahut cepat.


"Ervin!" Elisa memekik.


Sementara Clara terdiam seribu bahasa. Wajahnya tegang.


"Sudah ... sudah, Papa mau kamu bertunangan dengan Clara dalam seminggu ini. Bagaimana Clara? Apakah kamu mau menjadi tunangan anaknya om?" Selidik Malik.


Elisa, Clara dan Ervin terbelalak tidak percaya dengan pendengarannya.


"Tapi om-- Clara harus ijin Daddy dulu," Clara keceplosan, dia menunduk tersipu malu.


"Tidak perlu, cukup jawab mau atau tidak! Masalah orang tuamu biar om dan tante yang datang ke sana untuk meminta ijin dan restunya," Malik bersedekap.


Setelah mendapatkan jalan keluar, akhirnya Clara menyetujui apa yang orang tua Ervin tawarkan. Selama empat bulan lebih Ervin menjadi sopirnya, pria itu sudah bisa membuatnya merasakan hal yang berbeda dalam mencintai.


Sementara Ervin masih ingin menjadi sopir Clara sebelum orang tuanya bertemu dengan tuan D. Mereka berempat keluar dari restoran setelah makan siang dan keputusan bersama sudah disepakati.


Mereka berpisah. Sikap Clara malah malu-malu setelah mengobrol tadi. Namun Ervin, bersikap santai seperti biasanya. Dia menyukai sikap Clara yang seperti ini, lebih manis dari biasanya.

__ADS_1


Malik dan Elisa belum beranjak dari tempatnya, mereka menatap punggung keduanya sampai tak terlihat lagi.


"Mas, kenapa kamu terlalu terburu-buru? Bukankah kita harus tahu siapa orang tua Clara?" Elisa menatap intens pada suaminya.


"Jangan menunda-nunda niat baik yang. Kita pernah melakukan dosa besar, jangan sampai itu semua terjadi pada anak-anak kita. Beruntunglah Nissa bertemu dengan jodoh yang tepat. Sekarang kita harus bisa menjauhkan Ervin dari dosa itu. Apalagi dia hidup serumah dengan Clara," Malik menghela napasnya.


Elisa tampak berpikir sejenak dan membenarkan ucapan suaminya. Mereka berdua saling berpandangan dan tersenyum seolah mengingat kembali kenangan terindah dulu walaupun terbalut dengan dosa. Setidaknya mereka tidak mau itu terjadi pada anak-anaknya.


Mereka melangkah beriringan menuju tempat parkir VIP dan masuk ke dalam mobil setelah menghubungi sopir.


***


Clara masih terdiam, tangannya digenggam erat oleh Ervin. Awalnya dia masih malu-malu dan kaku. Tapi, setelah sampai di depan rumahnya wanita itu membalas genggaman tangan sopirnya.


Ervin tersenyum sambil menyetir. Tangan satunya masih meremas tangan nonanya.


Sekuriti membuka pintu pagar secara otomatis. Mobil langsung masuk namun berhenti di samping pos keamanan.


"Kenapa berhenti di sini?" Clara menatap Ervin.


"Aku mau minta jatah muah dulu sebagai peresmian hubungan kita," sahut Ervin menggoda Clara.


Mulutnya bergerak gerak dengan lucu.


"Kamu tuh ada-ada aja," Clara tersenyum malu.


"Wanitaku yang tercinta, boleh ya aku--," Ervin tak melanjutkan ucapannya.


Dia mengurai rambut panjang Clara dan mendekatkan kepalanya. Clara juga tidak diam, wanita itu memejamkan mata sambil mengelus rambut Ervin.


Keduanya berciuman di mobil dengan panas. Setelah beberapa saat mereka dikejutkan oleh suara yang nyaring terdengar seperti sebuah ledakan. Mereka mengurai ciumannya dan menatap pada seseorang yang berada di depan kap mobil.


Mata Ervin dan Clara melotot seolah bola mata keluar dari kelopak mata.


"Tidak," Clara menegang.


*


*


*


Bersambung


Info lanjutan dari GA


-Peringkat ranking Mingguan 1-3 akan diakumulasi ya. Nanti akan ada bukti SS an dari ranking Mingguan tersebut. Semangat yang ikutan GA 🤭

__ADS_1


__ADS_2