
"Katakan apa masalah sebenarnya. Waktuku banyak, ceritakan semuanya!" serunya.
"Barang baru kita sudah terendus pihak luar selain konsumen tuan. Saya perintahkan mereka untuk menutup gudang," sahut Frank.
"Kalau begitu jangan tambah bodyguard Frank. Perintahkan saja mereka menjauh dari gudang selama 2 minggu. Nanti kita alihkan saja distribusinya ke lain tempat. Cari tempat yang aman dan jauh dari perkotaan!" tuan D memberikan usulan.
"Baiklah tuan saya akan memberi tahu pada mereka," Frank mengirimkan sebuah pesan teks.
"Jangan lupa agar mereka bergantian mengambil barang itu!" ucap tuan D lagi.
"Baiklah tuan," Frank permisi dan menjauh dari majikannya.
"Sudah puluhan tahun tapi baru kali ini terendus pihak luar," Frank berdecak.
***
Senin pagi telah tiba. Ervin kembali ke rumah majikannya. Seperti biasa dia memakai motor butut sekuriti rumahnya. Dia sudah membelikan si sekuriti motor baru yang bagus, jadi kini motor itu sudah menjadi miliknya. Mereka bertukar kendaraan.
"Wah wajah juragan kenapa ceria sekali pagi ini?" Sekuriti rumah Clara menyapanya.
"Mau aku tonj0k nggak itu mulut? sembarangan ajah," mood Ervin berubah.
"Maaf mas, aku keceplosan," Pria itu tersenyum kikuk.
Ervin tidak meladeni lagi, dia masuk dan memarkirkan motornya di tempat seperti biasa.
"Bagaimana liburannya?" Frank yang baru saja turun dari rooftop menyapa anak buahnya.
"Seperti biasa dapat ceramah dari ibu di kampung pak," jawabnya santai.
"Owh orang kampung? bukannya kamu orang kota?" Frank yang sudah tahu rahasia Ervin hanya bisa tersenyum.
"Bapak saya asli orang kampung pak. Jadi saya juga otomatis orang kampung," sahutnya lagi.
"Ya sudah kamu kerjakan apa pekerjaan hari ini! jangan lupa menjaga nona dari orang-orang yang berniat jahat!" perintahnya.
"Tentu saja pak, apa sih yang tidak akan saya lakukan kalau demi nona Clara," wajahnya terlihat bersemangat.
Frank menatap Ervin, ada yang aneh dengan pria di depannya ini ketika membahas perihal Clara.
Ervin pamit dan meninggalkan orang kepercayaan tuan D. Dia melangkah sambil bersiul ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobil.
"Pagi nona," sapanya ketika melihat Clara yang baru saja turun dari tangga.
"Hem," sahutnya singkat.
Muka Clara ditekuk seperti kain yang lusuh.
Sepertinya moodnya sudah hancur pagi ini.
"Apakah ada masalah?" Ervin berani bertanya.
__ADS_1
"Tidak," sahut majikannya cepat.
Clara pergi ke dapur untuk sarapan. Setiap pagi dia hanya sendirian di meja makan untuk sarapan. Jadi dia malas sarapan di meja makan tersebut dan memutuskan untuk ke dapur karena di sana dia ditemani oleh si bibi.
Pagi itu tuan D turun dari tangga, dia berpapasan dengan Ervin. Tatapannya dibuat sesantai mungkin walaupun sebenarnya tuan rumah sudah tahu siapakah Ervin yang sebenarnya.
"Kenapa masih disini? nggak kerja?" tuan D menatap lama.
"Ini baru mengambil kunci mobil tuan, saya permisi dulu," pamitnya.
Supir keluarga itu melangkah pergi meninggalkan ruang tamu.
Tuan D yang memegang ponsel langsung menghubungi tangan kanannya.
"Kemari Frank!" serunya pada suara di seberang telepon.
Tuan D berjalan mendekati sofa dan mengenyakkan pantatnya. Dia duduk sambil bersender.
Frank tergopoh masuk, pria itu celingukan mencari keberadaan majikannya.
"Sini Frank," panggil tuan D yang melihatnya.
"Ada apa tuan?" tanyanya penasaran.
Tak biasanya tuan D memanggil dirinya pagi-pagi begini.
"Kamu ikuti supir itu! jangan sampai lolos, kemanapun dia pergi kamu harus melaporkannya padaku. Selama seminggu ini kamu harus tahu tindak tanduknya di luar sana!" titahnya.
"Baiklah tuan, kalau begitu saya bersiap dulu," Frank pamit dan pergi meninggalkan majikannya.
"Daddy, kenapa pagi-pagi begini sudah turun? biasanya di ruang kerja sampe siang," anaknya mengernyit heran.
"Daddy ada perlu dengan Frank," jawabnya santai.
Clara pamit dan meninggalkan ayahnya. Dia berjalan santai dengan sepatu hak tinggi. Tak lupa tas yang ada di lengannya adalah sebuah tas keluaran terbaru dari merek ternama.
"Nona, silakan masuk," senyum supir terkembang sempurna.
Wajahnya berseri dan bersemangat ketika melihat nona mudanya menghampiri.
"Hem," jawabnya masih acuh.
Clara duduk dan terdiam. Dia tidak bisa menahan rasa dongkolnya pada Ervin karena pria itu tidak memberitahu perihal liburannya.
Mobil memecah jalanan kota. Clara melihat jalanan yang ramai kendaraan. Pandangannya tidak lepas dari jalanan.
"Nona kenapa? pagi-pagi begini moodnya terlihat jelas kalau sedang ada masalah," sambil menyetir Ervin menatap kaca yang memantulkan wajah nona mudanya.
"Semua gara-gara kamu," Clara meluapkan kekesalannya.
"Hah, aku? Aku kenapa Non?" Ervin meminggirkan kendaraannya dan berhenti.
__ADS_1
Dia menoleh ke belakang dan menatap Clara intens.
"Nona boleh jelaskan kenapa aku yang merusak mood anda hari ini?" tatapannya masih lekat pada wanita itu.
"Sudahlah tidak usah dibahas lagi. Cepat jalankan mobilnya!" Clara acuh. Wajahnya masih ditekuk.
"Tapi rasa penasaran saya besar non, kenapa saya yang menjadi alasan mood anda bermasalah," Ervin masih menatapnya.
"Akan aku jelaskan di kantor. Sekarang lekas berangkat!" serunya.
Mau tidak mau supir itu menyetir kendaraannya lagi. Tak berapa lama mereka sudah tiba di kantor. Seperti biasa Ervin yang membukakan pintu untuk nona mudanya.
Sebelum Clara melangkah menjauh tiba-tiba saja supirnya meraih salah satu lengannya.
"Lepaskan tanganku!" Clara meronta.
"Tidak, saya akan melepaskan tangan ini kalau nona menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi," Ervin tetap dengan keputusannya.
Ervin malah memojokkan Clara sampai menempel di badan mobil. Di tempat parkir VIP tersebut hanya ada mereka berdua.
"Heh supir sialan, apa-apaan ini?" Wanita itu masih meronta.
"Ayolah nona, katakan saja! Saya akan mendengarkan keluh kesah anda," mata Ervin menatap manik mata wanita di depannya dengan lembut.
Wanita itu memalingkan wajahnya. Dia tidak mau terpesona oleh tatapan supir barunya. Supir barunya itu berhasil membuat dirinya menjadi seseorang yang tidak bisa ditebak.
"Tidak usah bahas lagi hal yang tadi. Aku harus naik sekarang juga," Wanita itu masih saja meronta berusaha melepaskan dirinya.
Namun kini supirnya bertindak lebih jauh. Ervin mendekat perlahan ke telinga Clara dan berbisik.
"Kalau tidak memberitahu apa yang terjadi aku akan menciummu di sini, di tempat ini. Agar mulutmu itu berbicara yang sebenarnya."
Mata Clara terbelalak lebar, dia tidak menyangka bahwa pria yang dikenalnya sebagai seorang yang lugu dan penurut ternyata punya sisi lain.
"Kamu sudah lancang sekali supir brengs3k!" maki wanita itu.
Ervin tidak mempedulikan ucapan Clara lagi. Dia tidak mau menunggu lebih lama untuk mendapatkan hati majikannya.
"Aku melakukan ini semua karena kamu," tatapannya beralih pada Clara.
Hati Clara berkata tidak, namun badannya seolah ingin disentuh oleh supirnya itu.
Selama ini belum pernah dia merasakan perubahan perasaan yang tidak menentu seperti sekarang.
Dengan berani Ervin mendekatkan bibirnya pada Clara.
Bibir mereka menempel, wanita itu tidak memalingkan wajahnya.
Mereka terperanjat bersamaan ketika ada sebuah suara dari....
*
__ADS_1
*
*Bersambung