
Clara tergeletak begitu saja di sofa, ada cairan berbusa yang keluar dari mulutnya. Dengan cepat Ervin bersusah payah menggendong tubuh Clara.
Sekuriti di depan membantunya untuk membuka pintu mobil dan membaringkan Clara di kursi belakang.
"Nona kenapa Mas?" sekuriti terlihat khawatir.
"Nggak tahu Pak, maaf saya harus membawanya ke rumah sakit," Ervin masuk dan langsung tancap gas.
Setengah jam dalam perjalanan, RS terdekat mulai terlihat dari sisi jalanan. Mobil langsung berbelok masuk. Klakson memekakkan telinga, pria itu keluar dan memanggil petugas kesehatan.
"Mana sih mereka? Clara butuh pertolongan pertama ini," Ervin cemas.
Dia membuka pintu belakang mobil dan mengusap mulut Clara dengan tissue yang diambil dari atas dasbor.
Pria berseragam menghampirinya dengan tergesa. Dia meminta maaf karena ada beberapa petugas medis yang absen secara bersamaan. Jadi, mereka kewalahan menghadapi pasien.
"Cepatlah Pak! pasien sepertinya keracunan," Ervin sudah tidak sabar.
Dia berlari menghampiri seorang pria yang mendorong brankar.
"Pelan-pelan saja mas! kasian pasien," si petugas melarang Ervin menggendong Clara sendirian.
Kedua petugas langsung mengeluarkan wanita tersebut dari dalam mobil. Brankar langsung masuk ke ruang IGD. Sementara Ervin menunggu dengan rasa gelisah.
"Apa aku harus menghubungi tuan D?" dia masih menimbang-nimbang.
Ervin masih mondar-mandir di lorong, dia bingung harus berbuat apa karena tidak tahu nomor telepon tuan D dan orang lainnya.
Akhirnya dia hanya bisa menunggu dokter selesai melakukan pemeriksaan dan perawatan terhadap Clara.
"Bagaimana keadaannya Dokter?" Ervin menatap wajah dokter yang baru saja keluar dari ruangan ICU.
"Pasien mengkonsumsi makanan yang mengandung jenis racun Glicoalkaolid, waktu pemulihan bisa sampai 1x24 jam," jelas dokter.
"Apa itu Dok?" Ervin tidak mengerti.
"Salah satu jenis racun alami yang terdapat pada tomat, kentang dan umbi-umbian. Bisa jadi pasien teledor kalau ada bahan makanan busuk yang ia konsumsi," terang dokter.
"Terimakasih banyak atas bantuannya Dok," Ervin menyalami tangan dokter.
"Tapi Anda ini siapanya pasien? suaminya?" dokter mengernyit.
"Bukan Dok, saya ini supir pasien," jawab Ervin jujur.
"Tapi kenapa khawatir sekali dengan keadaan pasien? seperti akan kehilangan orang yang tersayang," dokter bertanya hal yang tidak semestinya.
"Saya supir sekaligus bodyguard Nona muda, kalau terjadi apa-apa dengannya saya juga bisa celaka," akhirnya Ervin merasa alasan itulah yang tepat untuk saat ini.
__ADS_1
Dokter mengangguk, dia pun menyuruh Ervin agar segera melunasi tagihan biaya perawatan. Setelah selesai dengan urusannya, dokter tersebut pergi meninggalkan Ervin seorang diri.
Ervin kembali ke tempat parkir untuk mengambil tas selempang. Tapi sayangnya, tas itu tidak ada di sana.
Dia mencari-cari namun tetap saja tidak ketemu.
Dia menendang ban mobil dengan kuat saking emosinya.
"Aku lupa kalau dompetku ada di mobil satunya," kesalnya.
"Sekarang aku harus apa? kembali masuk menjaga Clara atau mengambil uang?" Ervin kebingungan.
Namun dia langsung berlari ke ruang IGD tapi sayang, Clara tidak ada di sana.
"Pasien ada di mana sus?" Ervin bingung.
"Anda siapa?" tanyanya penasaran.
"Aku supir Nona muda yang ada di sini," jawabnya.
"Owh, pasien sudah di pindahkan ke kamar perawatan di lorong B kamar Cempaka," terangnya.
"Makasih ya sus," Ervin beranjak menuju lorong yang dimaksud oleh suster.
Dia membuka pintu dengan pelan agar Clara tidak terusik oleh kehadirannya.
Ervin menjaga di sebelah brangkar, dia berdiri mematung menyaksikan pemandangan yang belum pernah ia saksikan sebelumnya. Kali ini wajah Clara yang tengah sakit terasa sendu dan lemah. Dia memberanikan diri untuk mengelap wajah Clara dengan tisu basah yang ada di atas nakas sebelah brangkar.
Dengan lembut pria itu menyeka keringat dingin di kening wanita cantik tersebut.
"Seandainya kamu tahu kalau aku begitu menyukaimu dan ingin mengenalmu," Ervin meraih tangan Clara dan menciumnya.
Senyumnya terkembang sempurna dibalik musibah yang menimpa wanita itu. Dia bisa mengungkapkan isi hatinya walaupun wanita yang tengah berbaring tersebut tidak membuka mata.
"Ngapain kamu pegang-pegang anak saya?" kedatangan tuan D yang tiba-tiba membuat Ervin tersentak. Seketika dirinya menjauh dari Clara.
"Ss-ay-ya cuma mengelap kening Nona, tuan," Ervin mencoba tersenyum. Namun senyumnya terlihat kaku karena dipaksakan.
"Kamu kenapa tidak mengabari aku tentang kejadian ini?" tuan D berkacak pinggang.
Matanya menyipit menatap pria di depannya.
"Ma-ma-af tuan, ponsel saya tertinggal di mobil Om Frank," jawabnya terbata-bata.
"Untung saja resepsionis tadi mengabari aku, kalau tidak pasti kamu sudah macam-macam dengan anakku," tuan D curiga.
"Tidak Tuan, saya tidak akan berani macam-macam dengan Nona. Saya hanya ingin menjalankan tugas," Ervin menepis kecurigaan majikannya.
__ADS_1
"Pergi sana! biarkan aku yang menjaga dia di sini!" tuan D mengusir Ervin.
"Baiklah tuan," Ervin melangkah pergi. Langkahnya lunglai tak bersemangat.
"Coba ajah tuan D nggak datang begitu cepat, pasti aku sudah..." Ervin bergumam seorang diri, tangannya menyentuh bibirnya dan tersenyum lebar.
Suster dan orang yang melewatinya di lorong melihat Ervin dengan pandangan menjijikkan.
"Jangan-jangan dia pria mesum," salah satu bisikan terdengar di telinga Ervin.
"Apa kamu bilang? aku bukan pria mesum taukk!" bantah Ervin geram.
"Lariii!" dua wanita berlari menjauh.
"Sialan, aku dipanggil mesum," gerutunya kesal.
Ervin masuk mobil dan langsung tancap gas. Dia kembali ke rumah mewah yang sudah seperti sedia kala. Kini pikirannya beralih pada kejadian tadi yang sudah seperti tawuran anak kuliahan. Kedua orang yang berjaga di depan teras menyambut Ervin dengan senyum kaku. Wajah mereka sudah babak belur dan lebam tak karuan.
"Maaf mas, memangnya tadi itu ada masalah apa ya? aku penasaran," Ervin mendekat.
"Nggak usah ikut campur! kamu itu anak baru, tidak perlu tahu macam-macam tentang kami kecuali kalau kamu sudah bekerja selama sebulan lebih di sini," salah satunya menunjuk dada Ervin.
Untunglah Ervin tidak gampang tersulut emosi. Dia mendorong pelan pundak pria tadi.
"Santai ajah mas! nggak usah nge gass!" cibirnya yang melangkah menjauh.
Ervin teringat sesuatu, ia mencoba membuka pintu mobil Frank yang terparkir rapi. Namun usahanya gagal karena mobil itu terkunci rapat.
"Ngapain kamu? udah kayak maling ajah sampe mengendap-endap begitu," Frank menatap Ervin yang seperti putus asa.
"Saya mencari sesuatu Om," dia beralasan.
"Mencari apa?" Frank menelisik wajah Ervin.
"Owh hanya nyari barangku yang tertinggal Om," Ervin tersenyum simpul.
"Kamu mencari ini?" Frank mengeluarkan benda berbentuk segiempat dan menunjukkan pada Ervin.
"Dan satu lagi saya ingatkan, jangan panggil aku Om. Sudah beberapa kali kamu memanggilku Om," ketus Frank tak suka.
"Kembalikan Om, eh Pak. Itu bukan punya saya," Ervin menggapai benda segiempat tersebut.
"Apa jangan-jangan kamu mendapatkan benda ini.....
*
*
__ADS_1
*Bersambung