Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 79 Kemunculan Tania


__ADS_3

"Heh ... sembarangan nunjuk muka orang!" Clara berkacak pinggang tak mau kalah.


"Sudahlah yang! Nggak usah diladeni! Kita pergi saja yuk dari sini!" Ervin tersenyum manis agar kekasihnya terhibur.


"Ervin ... aku itu Tania. Teman satu SMP dan satu universitas. Kamu pasti kena pelet perempuan ini! Makanya lupa sama aku 'kan?" Tania menggeret lengan Ervin.


Semua orang yang berlalu-lalang menatap mereka dengan tatapan penuh tanda tanya.


Tangan kanan Ervin ditarik oleh Tania, sementara tangan kirinya ditarik oleh Clara. Badan Ervin sempoyongan ke kiri dan ke kanan.


"LEPASKAN TANGANKU!" Teriaknya.


Kesabaran pria itu sudah menipis.


"Aku tidak tahu kamu itu siapa. Jadi, jangan pernah muncul di hadapanku lagi!" Ervin meraih tangan kekasihnya dan pergi meninggalkan Tania seorang diri.


"ERVIN!" Teriak Tania tak terima.


"Lihat saja nanti Vin. Kalau aku tak bisa mendapatkan kamu, wanita lain juga tidak akan pernah bisa bersama kamu seumur hidupnya," seringai licik terpampang jelas pada raut wajah Tania.


Tangannya mengepal erat, wanita itu merogoh tas dan mengambil ponsel. Dia menghubungi seseorang dan mengobrol lama. Setelah selesai berbincang, dia langsung memasukkan ponselnya kembali dan melangkah pergi.


Disaat bersamaan, Ervin dan kekasihnya sudah masuk ke mobil. Muka Clara ditekuk seperti kanebo kering. Wanita itu dongkol karena kejadian tadi.


"Ra, kamu kenapa sih harus meladeni perempuan tadi? Lagian aku juga nggak kenal kok sama dia," Ervin melirik kekasihnya.


"Kalau nggak kenal, kenapa dia bisa tahu nama kamu mas?" Clara merengut seperti anak kecil.


"Mungkin saja dia tahu aku entah dari mana," Ervin mengendikkan bahu.


"Kalau gitu pulang aja deh! Aku udah males mau beli gaun. Nanti pake karung goni bekas beras aja," mulut Clara dimajukan.


"Ya sudah kalau kamu mau pake itu, nanti aku foto terus sebar ke sosial media, mau tahu reaksi netizen seperti apa," Ervin terkekeh geli mendengar perkataan kekasihnya.


"Ih mas Ervin paan sih," Clara mulai bersikap manja.


Ervin tak menanggapi, pria itu tersenyum lebar dan menyetir kendaraan tersebut dengan santainya. Jalanan sore itu mulai macet. Wanita di sebelahnya tertidur pulas.


"Pantesan ajah udah nggak berisik, ternyata udah tidur," gumamnya seorang diri.

__ADS_1


Ervin menghubungi ibunya, dia menjelaskan kejadian hari ini. Pria itu tersenyum lebar karena ibunya antusias untuk membuat kejutan buat calon menantu.


Dia kembali ke rumah Clara. Wanita itu masih tetap tertidur. Ervin menggendong ala bridal style. Langkahnya mantap naik ke lantai dua dan membuka pintu kamar Clara dengan susah payah. Ervin mencoba untuk menenangkan diri, detak jantungnya memacu lebih cepat karena kini dia hanya berdua dengan Clara di kamar.


Ervin mengecup lembut kening Clara. Dia kemudian keluar dari rumah dan naik ke rooftop. Di sana, dia masuk dan berkemas. Sebelum acara pertemuan dua keluarga, Ervin harus kembali ke rumahnya sendiri.


"Tak menyangka udah bekerja di sini sudah empat bulanan," Pria itu menghela napasnya. Dia memandang sekeliling rooftop. Ada senyum tipis yang terlihat.


"Wah, calon mantu tuan D ternyata belum pulang juga," sesama rekan kerja Ervin menyapa. Pria itu baru saja muncul.


"Eh, bro ... bisa aja ngomongnya. Ini lagi siap-siap. Besok pagi baru bisa pulang, soalnya tuan D dan pak Frank lagi sibuk di perusahaan. Kasian mereka harus membantu kepolisian karena kematian mbak Delima," ucapnya.


"Aneh. Biasanya kejadian di rumah ini dan di perusahaan selalu mulus seperti jalan tol. Tapi, semenjak tuan D menjadi seorang pemasok terbesar produk baru, banyak yang mengincar kedudukannya dalam kartel," Pria itu berkata pelan.


"Maksudnya?" Ervin belum mengerti.


"Sudahlah! Lebih baik kamu tidak tahu apa-apa tentang hal ini," Pria itu mengambil beberapa barang dalam tasnya kemudian pergi meninggalkan Ervin seorang diri.


"Sebenarnya produk baru apa? Kartel? Kartel apa?" Ervin masih belum menyadari.


Tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Dia merogoh ponsel mahal keluaran terbaru. Pria itu melihat layar ponsel. Ia tersenyum dan menjawab panggilan.


["Mama udah pesenin gaun dan tuksedo yang serasi untuk kalian. Besok siang bawa Clara untuk mencobanya. Mama yakin kalau kalian pasti suka."] Elisa bersemangat. Suaranya terdengar gembira.


"Makasih ya mam, cuma mama yang bisa Ervin andalkan," Ervin berusaha merayu ibunya.


["Ada maunya pasti baek, coba nggak ada maunya mana mau nelpon mama ataupun jawab telpon mama."] Elisa berkata ketus.


"Mama ... Ervin terpaksa, mama kan sekarang sudah tahu kalau aku bekerja jadi sopir Clara untuk mendekatinya. Kalau selalu berbincang di telpon mereka bisa curiga," Ervin menjelaskan.


["Nasib baik kamu anak mama satu-satunya, kalau ada yang kedua pasti kamu udah mama pecat jadi anak."]


Keluh Elisa.


"Sorry mam, kali ini nggak mungkin bohong lagi. Kan, Clara udah jadi milik Ervin," Anak Elisa menyengir lebar.


["Belum jadi suami Clara kok bangga."] Ketus Elisa memutuskan panggilan.


"Yah, tumben amat," Ervin mengendikkan bahu.

__ADS_1


Pria itu turun dan pergi ke dapur untuk mencari bibi dan bertanya sesuatu hal yang menurutnya penting.


***


Di suatu tempat yang pernah Ervin singgahi.


Dalam rumah itu berserakan. Seorang wanita ditampar oleh suaminya sendiri dan menjambak rambutnya.


"Istri tak tahu diuntung! Pergi dari sini kalau kamu bisa! Tapi awas, jangan pernah kembali lagi!" Pekik Pria itu sembari berkacak pinggang setelah melepaskan jambakannya.


"Aku selama ini sudah sangat sabar menghadapi kamu mas. Bahkan, aku juga terlibat dalam penipuan yang kamu lakukan dulu. Sekarang setelah uang itu kamu habiskan untuk berfoya-foya apakah ini yang kamu lakukan? Menyiksa aku agar anak kita kembali ke rumah," Wanita itu menangis terisak-isak.


Wajahnya lebam, sudut bibirnya terluka karena tamparan keras berkali-kali.


"Kamu sedari dulu memang tidak pantas untuk diperlakukan sebagai manusia normal. Kamu itu tukang Selingkuh!" Pria itu tak mau kalah dari istrinya.


Mereka berdua saling bersahutan, saling memekik.


Kekerasan fisik selalu dilakukan oleh sang suami.


Pintu terbuka lebar, keduanya saling menatap pada orang yang baru saja datang.


"Kalian berdua selalu saja begini! Itulah kenapa aku itu malas untuk pulang dan melihat kalian selalu beradu urat," Pria muda yang baru masuk berkata ketus.


"Dasar anak tidak tahu diuntung!" Pria paruh baya itu mendekati anaknya.


"Memangnya kenapa? Sudah sewajarnya kamu sebagai kepala keluarga bekerja dan menghidupi anak dan istrimu. Tapi, apa yang kamu lakukan pada kami dan impian kami? Kami selalu saja menjadi bulan-bulanan kamu kalau kamu kalah dari judi, kalau hasil rampokan sedikit," Seorang anak mengkritik ayahnya.


"DIAM KAMU! Mana gaji yang sudah kamu dapat? Berikan padaku!" Si ayah mendekati anaknya. Pria paruh baya itu merogoh kantong anaknya satu persatu.


Istrinya terdiam, badannya menyender pada dinding. Harapan agar keluarganya baik-baik saja dan harmonis ternyata hanya tinggal harapan saja dan tidak akan pernah bisa menjadi nyata.


"Tidak, itu bukan hak kamu pria tua!" Anak itu mencekal lengan ayahnya.


Mata ayahnya melotot tajam.


*


*

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2