Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 71 Kematian Delima


__ADS_3

Clara terhenyak di tempat duduknya. Matanya mengalir buliran bening. Kekasih di samping menatap tak mengerti.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Pria itu penasaran.


"Resepsionis, di-bun-bunuh di toi-let kantor," jawab Clara tergagap untuk mengatakannya.


"Apa? Kenapa bisa? Bukankah kantormu banyak CCTV?" Ervin meraih tangan Clara dan menggenggam seakan memberikan kekuatan.


"Aku juga tidak tahu, padahal dia sudah lama bekerja di perusahaan," Wanita itu menghela napas berat.


Pria di sampingnya mengambil tisu dan mengelap air mata kekasihnya.


"Kamu harus kuat! Kita hadapi bersama-sama!" Pria itu menguatkan diri wanitanya.


"Ayo kita pergi ke sana! Daddy sudah sampai barusan, ada pesan teks yang masuk," mereka berdua terdiam dengan pikiran masing-masing.


Banyak pertanyaan yang berkecamuk dikepala. Kenapa bisa dia dibunuh? Kenapa pula di tempat umum yang nota benenya sebuah perusahaan besar.


Tak berapa lama mereka sudah sampai di tempat kejadian perkara. Ada garis kuning polisi yang terpasang di salah satu kamar mandi lantai bawah dekat dengan meja resepsionis.


"Mbak Deli, mbak Delima," Clara terisak.


Tubuh Delima sudah tertutup kain, mayat itu sebentar lagi akan di bawa ke rumah sakit untuk mencari petunjuk kenapa kematiannya tidak biasa.


Ramai sekali karyawan yang menyaksikan beberapa pihak berwajib yang tengah mengambil sidik jari di beberapa titik toilet tersebut.


"Clara!" Panggil sebuah suara.


"Daddy," Clara berlari meraih tubuh ayahnya dan memeluk erat.


Baru kali ini ada kejadian kematian tak wajar pada perusahaannya.


"Kenapa mbak Delima bisa mati mengenaskan?" Tanyanya setelah tadi melihat mayat Delima yang berwarna biru keunguan akibat keracunan.


"Daddy akan mencari tahu tentang ini semua. Ini merugikan perusahaan kita. Semua awak media sudah Daddy sumpal agar berita ini tidak menyebar kemana-mana. Kamu harus lebih berhati-hati lagi sayang," Tuan D mengelus rambut anaknya yang masih menempel erat.


Ervin hanya diam termangu melihat ayah dan anak itu. CCTV yang merekam gerak-gerik Delima sudah di periksa oleh petugas kepolisian. Mereka tidak menemukan kejanggalan apapun.


"Aneh, seharusnya kalau misalkan dia diracun pasti ada bekas dimana sisa makanannya. Tapi sejak siang dia sepertinya belum makan," gumam salah satu pria besar.


"Tunggu dulu! Putar ulang menit ke 13! Buat slow motion!" Suruh salah satu dari mereka.


Pengontrol ruang CCTV melaksanakan perintah.


Ada sebuah botol minuman berwarna merah seperti sirup yang diminum oleh Delima sampai habis.


Mereka saling berpandangan, dalam benak mereka terbersit sebuah kecurigaan.


"Cepat cari ke tempat sampah!" Mereka langsung keluar dari ruangan tersebut dan turun ke lobi perusahaan.


Mayat Delima sudah dibawa ke rumah sakit untuk diautopsi. Hasilnya akan ketahuan setelah beberapa jam melakukan cek pada air liur mayat. Tak ada bekas kekerasan ataupun luka akibat benda tajam.

__ADS_1


Pihak kepolisian masih berada di perusahaan dan mencari barang bukti.


Tuan D melambaikan tangan pada Ervin.


"Ervin! Jaga Clara baik-baik! Aku akan pergi ke kantor polisi dan membawa beberapa saksi. Jangan sampai lengah menjaga anakku!" Perintahnya.


"Baiklah tuan," Ervin mengangguk mantap setelah berada di depan Clara.


Beberapa saksi dan tuan D sudah masuk ke dalam mobil polisi. Kendaraan tersebut bergerak memecah jalanan kota.


Ervin dan Clara duduk di kursi lobi yang tersedia. Beberapa polisi masih mencari benda-benda yang bisa merujuk sebagai barang bukti di tempat resepsionis.


"Bagaimana kalau kita pulang saja? Kamu butuh istirahat," ajak kekasihnya.


"Tapi tas kerjaku ada di atas," sahut Clara.


"Aku akan mengambilnya untukmu," Ervin bangkit dari tempat duduk, namun tangan kekasihnya menarik pergelangan tangannya.


"Kenapa?" Kernyitnya heran.


"Aku ikut," Clara mulai berdiri.


Mau tak mau Ervin mengiyakan saja. Mereka berjalan beriringan dengan langkah berat. Setelah naik ke lantai atas, mereka turun dari lift dan bergegas ke ruangan direktur utama.


"Kenapa tadi kamu tidak menyuruh sekretarismu saja untuk mengambilnya?" Ervin heran.


"Aku tidak pernah percaya lagi padanya semenjak aku keracunan dan berakhir di rumah sakit, Daddy memperingatkan aku," bisik Clara.


Tibalah mereka di depan ruangan Clara.


"Kamu belum pulang?" Tanyanya pada si sekretaris ketika wanita itu masih saja berkutat dengan layar komputer.


"Ada kerjaan non, silakan pulang duluan saja!" Wanita itu terbiasa memanggil Clara dengan sebutan nona.


"Hem, oke kalau begitu," Clara nyelonong masuk ke ruangannya.


Sejenak dia berpikir dan menoleh pada Ervin.


"Bukannya tadi ruangan ini aku kunci? Kenapa aku bisa membukanya begitu saja?" Clara menarik lengan kekasihnya.


"Benarkah? Entahlah, aku mungkin tidak memperhatikan," sahut Ervin.


Wanita itu melangkah keluar dan menanyakan pada si sekretaris.


"Ada apa non?" Tanya sekretaris yang mendongak menatap wajahnya.


Sekretaris itu mengernyitkan keningnya karena bosnya itu masih belum berbicara.


"Nggak jadi, aku lupa mau ngomong apa," Clara berbalik badan, dia masuk kembali ke ruangan.


"Sebaiknya aku periksa rekaman CCTV aja daripada nanya sama dia," batinnya.

__ADS_1


"Ayo kita pulang! Tapi, tunggu dulu ... tadi minuman yang aku pesan mana ya? Kenapa tidak ada di sini?" Clara mencari-cari sebuah botol minuman.


"Kalau tidak ketemu nanti aku belikan yang baru. Ngajak pulang tapi dari tadi gak beres-beres," keluh Ervin.


"Ya udah deh, ayo kita pulang," Wanita itu menggandeng lengan Ervin.


Mereka berjalan dengan gontai karena harus kembali mengingat kematian Delima.


Ada sepasang mata menatap punggung mereka berdua. Dalam manik mata itu tersimpan amarah. Pandangannya masih tertuju pada keduanya sampai mereka benar-benar hilang dari pandangan.


"Sudah dua kali, sebentar lagi aku akan memberikan sendiri padamu," tekadnya mengepal tangan.


Ervin dan Clara sudah berada di dalam mobil. Kendaraan roda empat itu langsung meluncur cepat keluar dari parkiran VVIP.


Clara teringat pada rekaman CCTV, dia menghubungi ruangan kontrol keamanan dan meminta mereka mengirimkan file rekaman video sekitar ruangan kerjanya. Setelah mendapatkan respon Clara memutuskan panggilan.


"Vin," lirihnya.


"Please Ra! Jangan selalu panggil aku Ervin bisa nggak sih?" Kesal Ervin.


Ternyata wanita itu masih saja memanggil namanya.


Clara mengerjapkan mata berulang kali.


"Kenapa kesel gitu?" Clara tak mengerti.


"Aku harus panggil apa?" Wanita itu tampak berpikir.


"Sayang?" Tambahnya lagi.


"Itu udah sewajarnya kalau manggil aku sayang," Ervin tak menoleh, pria itu berkonsentrasi pada jalanan di depannya.


"Terus manggil apa?" Clara masih bingung.


"Panggil 'mas'. Masa iya manggil nama terus," dengus Ervin kesal.


"Hem, kalau begitu mulai sekarang aku manggil mas Ervin," Wanita itu tersenyum lebar.


"Nah, gitu dong," Ervin menoleh pada kekasihnya.


Mereka berpandangan sejenak, tersembul kehangatan dan kebahagiaan dalam raut wajah keduanya.


Tiba-tiba decit rem kendaraan terdengar nyaring.


"AWASSS!" Teriakan Clara berdenging.


*


*


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2