
"Kita kalah cepat dari Firda, kalian berlima segera berpencar di jalanan dekat dari sini! Pasti mereka belum jauh," Frank mengeratkan giginya.
Dirinya sudah kalah satu langkah dari Firda.
"Awas saja Firda, setelah orang suruhanmu tertangkap, kamu akan tamat," Frank meremas tangannya sampai urat menyembul.
Sementara itu, Dendi masih duduk di ruang kerjanya. Matanya terpejam dan mengingat kembali kenangan bagaimana dia bertemu dengan Diana puluhan tahun silam.
*Dendi POV
Saat itu aku baru saja keluar dari penjara. Aku mendekam selama dua tahun di dalam sana. Orang tuaku menyambut di luar bangunan penjara. Mereka memelukku erat, ibu meneteskan air matanya.
"Syukurlah kamu baik-baik saja di dalam sana nak! Beruntunglah kamu hanya di penjara selama dua tahun. Bos David sungguh bermurah hati," ibuku berucap syukur.
Aku mengerutkan kening mendengar ucapan ibu. Sungguh ku tak mengerti apa maksud dari perkataannya. Mulutku hendak bertanya, namun bapak menarik lenganku kasar.
"Ayo kita masuk! Taksi sudah menunggu di parkiran depan!" Ajak bapak.
Kami bertiga masuk dan duduk dengan tenang, bapak duduk di samping pak sopir. Hampir satu jam berlalu, Taksi sudah berada di sebuah rumah kecil minimalis tanpa teras. Halaman rumahnya pun kecil hanya cukup untuk memarkirkan dua motor.
Kami keluar bersamaan, setelah ongkos taksi diberikan, kami masuk ke dalam rumah.
"Bu, pak, ini rumah siapa?" Tanyaku penasaran sambil melihat sekeliling dalam rumah yang perabotnya sudah kuno.
"Salah satu rumah bos David nak, beliau bermurah hati pada kita dengan memberikan tempat yang layak untuk kita singgah," ibu menjawab pertanyaanku.
"Kalian masih bekerja pada David itu? Kenapa bisa?" Tanyaku memastikan.
"Bos David baik pada kami, walaupun kamu telah mencuranginya," Bapak menjawab.
"Bagaimana mungkin aku mencurangi dia? Aku hanya tidak beruntung saja karena telah tertangkap," ucapku tak terima.
"Sudahlah Dendi! Bapak dan ibu kamu sudah tahu kalau kamu itu selalu memotong penghasilan dari menjual barang-barang itu. Bos David sengaja menjebloskanmu dalam penjara agar kamu itu sadar!" Bapak malah menunjuk wajahku.
Aku tersentak mendengar ucapan bapak, ternyata dalang di balik ini adalah si David. Tentu saja aku geram dan amat emosi.
"Tidak semuanya pak, Malik juga merasakan uang itu," kilahku, aku beringsut duduk di kursi plastik yang warnanya sudah memudar.
"Bos David tahu kalau Malik tidak tahu apa-apa, bahkan kamu juga memangkas gaji Malik juga 'kan?" Ibuku menambahkan.
__ADS_1
"Kurang ajar mereka, kenapa malah aku yang tersudut seperti ini," batinku menjerit.
"Sudahlah pak, bu, aku malas membahasnya lagi. Aku ingin beristirahat saja," Aku beranjak dari tempat duduk dan pergi meninggalkan mereka.
Aku masuk ke kamar yang di dalamnya ada tas yang aku bawa dari penjara tadi. Kurebahkan diri ini pada kasur kapuk yang berbau apek dan pengap.
Mungkin karena di penjara tidur beralaskan tikar, aku tertidur tak lama setelah berbaring di kasur.
Malamnya, perutku berbunyi nyaring karena lapar. Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mencari makanan.
Namun makanan itu tak sesuai seleraku. Aku mengambil dompet dan membukanya.
"Syukurlah duitku masih ada," aku merasa lega.
"Mau kemana kamu?" Tanya bapak yang sedang duduk beralaskan tikar pandan.
"Mo nyari makan pak, laper. Makanan di sini nggak enak," sahutku santai dan berlalu pergi meninggalkannya.
Aku berjalan ke pangkalan ojek, setelah bertanya pada orang sekitar, akhirnya aku berada di sana.
Aku naik ojek menuju kota, puas berkeliling aku memutuskan untuk makan di sebuah restoran mewah. Uangku lebih dari cukup kalau hanya sekedar makan di tempat seperti ini.
Aku turun dari ojek. Langkahku mantap masuk ke restoran itu. Banyak pasang mata menatapku. Tak heran, karena pakaian yang aku kenakan saat ini adalah jeans sobek-sobek, kaos polos dan jaket. Kakiku pun memakai sendal jepit.
"Kenapa bengong? Buruan! Aku udah laper!" Seruku menatap waiters tadi.
"Eh ... iya pak, maafkan saya. Saya akan segera memesankan makanan ini," Waiters tadi pergi menjauh.
Aku duduk dengan gaya arogan. Sepertinya ada yang salah denganku.
"Astaga pantesan aja aku bosan, ternyata hape ku raib entah kemana," Aku tersadar.
Tak harus menunggu lama, makanan yang aku pesan sudah datang. Dengan senyum terkembang sempurna aku langsung menyendok makanan itu dan menyuapkannya pada mulutku.
Hampir setengah jam aku menghabiskan makanan itu. Kini perutku sudah kenyang. Tapi tiba-tiba saja aku merasa ingin buang hajat. Dengan cepat aku pergi ke toilet di restoran. Aku setengah berlari dan membuka pintu toilet.
"Toiletnya sepi," ucapku mengelilingi ruangan.
Aku teringat akan hajatku, aku duduk di kloset dan bernapas lega. Namun, setelah itu ada suara lirih yang sepertinya meminta tolong. Aku merinding, cepat-cepat ku tuntaskan hajatku dan keluar dari toilet. Namun, di kaca wastafel setelah aku membasuh tangan, kulihat ada dua pasang kaki di toilet sebelah. Ada rintihan dari dalam sana, kaki si pria seperti mengunci kaki si wanita.
__ADS_1
"Sialan mereka, malah main di toilet," cibirku.
"Tolong!!" Suara itu terdengar jelas.
Mataku melotot tajam ketika melihat kaki wanita itu yang berontak. Ku tendang pintu toilet itu berkali-kali hingga akhirnya terbuka, di dalam sana terlihat seorang wanita yang bercucuran air mata dan keringat. Seorang pria telah memperkosanya di tempat seperti ini.
Pria itu melotot tajam padaku, dia mengepalkan tangannya dan mengarahkan tinjunya pada wajahku.
"Hei bajingan! Berani sekali kamu melecehkan seorang wanita!" Pekikku.
Aku melawan pria itu, tenagaku sepertinya bertambah banyak karena emosi yang menguasai.
Kakinya diangkat untuk menerjangku. Tapi sayangnya aku menangkap kaki itu dan menariknya agar dia terjatuh.
"Kamu ... pergi dari sini! Tidak usah ikut campur dalam urusan rumah tangga kami!" Ucap pria itu.
Wanita tadi beringsut mendekati aku dan membantah perkataan si pria.
"Tidak, jangan dengarkan ucapan dia bang! Dia itu belum resmi menjadi suamiku," Wanita itu menangis tersedu-sedu.
"Aku memberikan jaket yang kupakai padanya. Bajunya sudah robek di sana sini. Sungguh miris melihat wanita sepertinya. Walaupun selama ini aku selalu bermain dengan wanita, tapi aku tidak pernah memaksa mereka untuk berhubungan denganku.
Aku berhasil melumpuhkan pria itu, kepalanya beberapa kali aku benturkan pada pintu dan di wastafel. Kini dia tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dari pelipisnya.
Aku keluar dari toilet, kulihat benda kuning di depan sana.
"Pantas aja tak ada orang, ternyata ada tanda kalau toilet rusak dan aku tak melihatnya tadi karena terburu-buru," gumamku.
Wanita itu pingsan setelah berusaha untuk memelukku. Ada beberapa orang yang melihat. Mereka melotot tajam padaku.
"Bajingan! Kamu apakan nona muda kami?" Salah satu dari mereka berucap lantang.
"Siapa kalian? Kalian kenal dengan wanita ini?" Tanyaku tak peduli pada pertanyaan mereka.
"Serahkan wanita itu atau kamu akan kami bunuh di sini!" Salah satu dari mereka mengeluarkan senjata api dari balik jas hitamnya.
*
*
__ADS_1
*Bersambung 🤭
Kita ulik kisah Dendi dulu sedikit ✌️. Biarkan Clara dan Ervin beristirahat sejenak 😂. Karena novel ini adalah sekuel, jadi masih berhubungan dengan novel yang pertama 🤭. Terimakasih yang sudah membaca sampai sejauh ini 😘