
"Kenapa malah begini?" Sepasang anak manusia itu saling berpandangan.
Ervin dan Clara menutup kedua pintu itu dengan pelan.
Mereka berdua melihat pintu sebagai hiasan saja. Setelah pintu dibuka ternyata tak ada ruangan di dalamnya. Yang ada hanya dinding semata. Bangunan kecil dan terdapat banyak pintu hanya sebuah kamuflase dari orang luar.
Pria yang keluar dari ruangan tadi terlihat menjauh dari sana. Sepasang kekasih itu kembali mengintai.
"Mas, itu kan sekretaris aku dan body guard Daddy. Lihatlah mereka!" Tunjuk Clara.
Mereka berbincang dengan pelan agar tak terdengar.
"Gawat, bisa-bisa terlambat nih kalau mereka mengaku tentang tikus itu," gumam Ervin seorang diri.
"Apa katamu?" Clara menoleh.
"Nggak ada apa-apa kok," Ervin menggeleng.
Seorang wanita dan pria yang tengah duduk sambil diikat dengan tali meronta. Mulut mereka dibekap dan menerima beberapa kali cambukan dari Frank.
"Udahlah kita masuk aja, toh aku kan anak daddy," ajak Clara.
"Beneran nih, kita mau masuk?" Ervin meyakinkan kekasihnya.
"Iya, beneran," suara Clara mengeras.
"Siapa di sana?" Pekik suara yang mereka kenal.
Tanpa menyahut, Clara melangkah masuk dengan santai. Sementara Ervin menimang haruskah dia masuk bersama kekasihnya.
"Ra? Kenapa kamu ada di sini? Tahu darimana ruangan ini?" Tuan D beringsut dari tempat duduknya.
"Hentikan Frank!" Frank seketika berhenti memecut kedua orang yang diikat.
"Daddy, tempat apa ini?" Tanya Clara yang menelisik sekeliling ruangan.
"Lihatlah dan perhatikan! Kamu pasti tahu ini tempat apa," Tuan D menghampiri anaknya.
"Seharusnya kamu tidak perlu tahu kalau ada tempat ini di belakang gedung," tuan D menghela napasnya.
"Ini ... ini ruang penyiksaan," Wanita itu menutup mulutnya.
"Ervin! Masuklah! Kamu pasti ada di luar. Nggak mungkin anakku sendirian kemari," tuan D menatap pintu yang terbuka lebar.
Mau tak mau, Ervin menyengir lebar pada tuan D. Pria itu masuk dan menghampiri kekasihnya.
"Tuan, sudah mengaku apa belum mereka?" Tanya Ervin.
"Belum ... makanya masih Frank siksa," mata Pria paruh baya itu melotot tajam pada anak buahnya.
"Mungkin saja mereka punya dendam pribadi pada tuan dan nona, makanya mereka bersekongkol," Ervin mencoba menjelaskan versinya.
"Semoga aja tuan D percaya," batin Ervin cemas.
"Mungkin saja, tapi aku tidak yakin itu yang menjadi alasan utama mereka," tuan D mencekik anak buahnya.
__ADS_1
"Daddy," Clara mendekat pada kekasihnya, dia tidak menyangka bahwa ayahnya bisa berbuat kejam pada orang lain. Selama ini Clara hanya tahu kalau ayahnya sekedar menggertak musuh-musuhnya.
"Frank ... sepertinya dia akan bicara. Buka lakban di mulut mereka!" Perintah tuan D.
"Tuan, ampuni kami! Kami hanya melaksanakan tugas," si sekretaris itu mencoba untuk melepaskan diri.
"Kamu pasti ada dendam dengan Clara kan?" Tanya Ervin mendekat. Matanya melotot tajam pada wanita di depannya.
"Katakan iya atau aku sendiri yang akan membunuhmu!" Ervin mengucapkan itu di depan sekretaris Clara tanpa suara sedikitpun. Pria itu hanya menggerakkan bibirnya.
"Ervin ... pergi dari sana!" Frank mengambil alih.
"Kalian pergi dari sini! Biar aku yang akan menghabisi mereka. Kalian jangan pernah ikut campur dalam urusan ini! Tapi, terimakasih untuk informasinya Vin," tuan D menepuk pundak Ervin berulang kali.
Tuan D mendorong anaknya dan Ervin agar segera keluar dari ruangan itu.
"Jagalah Clara! Sebentar lagi kematian Delima akan menemukan titik terang. Aku tidak mau anakku kenapa-napa." Tuan D menutup pintu itu setelah mereka berdua sudah berada di luar ruangan.
Pria paruh baya itu mengunci pintunya, terdengar putaran kunci yang bergesekan.
"Daddy," Clara masih menatap pintu yang tertutup.
"Ayolah kita pulang!" Ervin sebenarnya cemas, dia khawatir kalau mereka menyebut nama Firda.
"Bagaimana ini?" Batinnya berkecamuk.
"Lho, mas Ervin," Sapa seorang pria ketika mereka sudah berada di luar tempat itu.
"Kamu kemari juga? Ada perlu dengan tuan D?" Ervin mengernyit.
"Iya mas, eh bos. hehehehe," cengirnya lebar.
"Baiklah, berikan kabar padaku dan katakan seperti do telpon tadi," bisik Ervin.
Ervin langsung menarik tangan kekasihnya setelah informan itu menjauh.
Mereka kembali ke gedung utama perusahaan.
"Bagaimana ini? Apa kita pulang saja?" Clara bingung tak tahu harus berbuat apa.
"Terserah kamu! Aku ikut kemanapun kamu pergi, kan?" Cengirnya lebar.
"Kalau begitu ayo kita pergi belanja agar lusa tampil serasi ketika acara pertemuan orang tua kita," Clara memiliki ide.
"Oke, kita berangkat sekarang!" Sahut Ervin.
Sebenarnya Pria itu tak sabar ingin segera tahu apa isi di dalam hard disk yang Firda berikan. Namun agar Clara tak curiga, dia mengiyakan permintaan kekasihnya.
Hampir satu jam berkendara, kini mereka sudah berada di tempat parkir dan keluar dari kendaraan.
"Ayo kita masuk!" Clara dengan manja bergelayut pada kekasihnya.
Ervin membalas perlakuan kekasihnya dengan lembut.
Mereka berbelanja gaun dan jas setelan yang senada.
__ADS_1
Sudah beberapa toko yang mereka kunjungi, namun belum ada yang cocok menurut Clara.
"Ini butik langganan mama lho yang, coba kita ke sini ajah!" Ervin menarik tangan wanita itu.
Mereka berkeliling mengitari seluruh butik untuk menemukan gaun yang Clara suka.
"Astaga Ervin ... kamu Ervin kan?" Seorang wanita mendekat.
"Kamu siapa?" Ervin mengernyit.
"Kemana aja kamu Vin? Aku kehilangan kabar, kamu juga jarang pulang ke rumah," Wanita itu bersandar di lengan Ervin.
"Apa-apaan ini?" Ervin menghindar.
"Mas Ervin, siapa dia?" Clara yang sedari tadi memilih gaunnya merasa terganggu dengan ulah wanita itu.
"Dia? Aku aja nggak kenal kok," Ervin menepis tangan wanita itu.
"Bohong! Kita pernah satu sekolah Vin. Kita juga satu universitas," Wanita itu tersenyum lebar, dia tidak terlalu memperhatikan Clara yang mendelik sebal ke arahnya.
"Maaf ya mbak, aku tidak mengenal anda. Anda pasti salah orang," Ervin merasa tak nyaman dengan tatapan genit dari wanita di depannya.
Clara langsung bergelayut mesra di lengan Ervin. Tangannya mengelus dada bidang kekasihnya.
"Siapa sih dia ini? Ngaku-ngaku kenal lagi sama pacar aku," kesal Clara dalam hati.
"Kita pergi yuk sayang!" Ajak Clara sengaja dibuat-buat.
"Sayang? Apa maksudnya Vin?" Wanita itu seperti tak terima.
"Kamu itu cinta pertamaku. Kamu harus menjadi pasangan aku seumur hidup," pekik wanita itu pada Ervin.
Dia menarik tangan Clara yang menempel pada badan Ervin.
"Apa-apaan kamu? Lepaskan dia! Dia itu calon istriku," Ervin berusaha melerai mereka berdua.
"Mimpi apa aku semalam, malah jadi tontonan orang-orang," batin Ervin.
"Ervin, kamu beneran nggka kenal siapa aku?"
"Ayo kita pergi!" Ervin berhasil melerai mereka dan menarik lengan kekasihnya.
Mereka berdua keluar dari butik langganan Elisa.
Tapi wanita itu masih mengikuti langkah pasangan kekasih di depannya.
"Astaga, dia itu sebenarnya siapa sih? Kenapa ngikutin kita?" Clara tak nyaman.
"Ervin! Coba ingat lagi aku siapa!" Wanita itu memekik tertahan. Dia menghadang Clara dan Ervin.
"Dulu Jasmine yang menjadi penghalang, sekarang ada wanita ini yang memisahkan kita," Wanita itu menunjuk wajah Clara.
*
*
__ADS_1
*Bersambung