Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 85 Clara Tersiksa


__ADS_3

"Tapi aku akan melindungi anakmu dari orang-orang jahat," Entahlah tiba-tiba kalimat itu terlontar begitu saja.


"Tidak segampang itu! Lagipula anak buahku banyak," David meremehkanku.


Pria itu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponselnya. Dia menghubungi seseorang dan langsung memutuskan panggilan begitu saja.


"Ada apa bos?" Beberapa orang masuk rumah dengan tergopoh-gopoh.


"Usir dia! Bawa ke markas dan habisi dia di sana!" David memberikan perintah.


"Papi, apa maksudnya ini?" Diana mulai meneteskan air mata.


"Tidak usah menangis Diana! Aku bisa menghadapi semua ini," Ucapku meyakinkannya.


Mereka menyeret tubuhku, aku berjalan tanpa memberontak sedikitpun. Kulihat Diana tengah menangisi kepergianku.


"Papi, lepaskan bang Dendi!" Kudengar teriakannya.


Entah apalagi yang dia katakan pada David. Aku sudah tidak mendengar suaranya lagi. Aku harus melawan ketika mereka membawaku nanti. Aku tidak akan mati konyol begitu saja. Aku berada dalam mobil, tanganku tidak diikat. Setelah melihat mereka lengah, aku membuka pintu mobil dan mendorong tubuh pria di samping. Kami berdua berguling-guling di jalanan. Aku langsung berusaha bangkit dan lari secepatnya. Di jalanan itu sungguh sepi, aku berlari terus sekencang mungkin sampai mereka tak bisa menyusul.


"Ah, ada rumah papan," Aku berusaha masuk untuk mencari perlindungan. Di sana tak ada siapa-siapa. Yang ada hanyalah tumpukan botol-botol plastik dan kardus bekas yang menggunung. Aku berusaha menutupi badanku dengan kardus itu. Tempat yang sempurna untuk bersembunyi.


Entah kenapa aku sungguh mengantuk dan tertidur di rumah itu.


Sayup-sayup terdengar suara pintu dibuka dan ada suara ribut-ribut. Aku memicingkan mata, membuka mata perlahan dan mengerjapkannya.


"Cepat angkut semuanya pak! Ibu mau bersih-bersih," suara wanita terdengar.


Aku bangkit seketika dan kardus yang sudah aku susun langsung roboh bersamaan.


"Awas bu!" Teriak si pria.


Aku mengendap-endap, mencoba untuk keluar tanpa diketahui pemiliknya. Mereka sibuk mengeluarkan botol-botol bekas. Aku mengambil kesempatan itu untuk kabur dari sana.


"Huh, akhirnya bisa bebas juga. Ternyata hari sudah pagi," Kulihat sekeliling jalanan.


Ponselku masih ada di kantong saat kurogoh.


Aku berusaha menghubungi Diana dan mempunyai ide gila bersamanya. Sambil berjalan aku mengobrol dengannya. Suaranya terdengar senang dan bersyukur bahwa aku masih hidup. Ku suruh dia agar pergi ke suatu tempat yang lumayan jauh dari rumahnya. Aku mengajak Diana untuk kawin lari. Biarlah David hidup seorang diri tanpa keluarga satu pun.


"Bang Dendi," Diana turun dari taksi, kulihat dia membawa tas punggung yang lumayan besar.

__ADS_1


"Kamu yakin dengan ideku?" Kutanya untuk memastikan.


"Iya bang, aku akan pergi denganmu dan meninggalkan papi. Lagipula papi selalu sibuk dengan pekerjaannya dan sering meninggalkanku sendiri," Ucapnya tertunduk lesu.


"Ayo kita ke kota lain dan menghilangkan diri dari kota ini!" Ajakku.


Diana mengangguk mantap, kami pergi ke pelabuhan secepatnya untuk menyebrang dari pulau ini.


"Papi tidak akan tahu kalau aku pergi dari rumah, bodyguard itu pun sudah aku kelabui," Diana menyengir lebar. Kami berdua duduk dengan santai di atas kapal penumpang. Hampir delapan jam kami berada di sana. Sore telah tiba, kami turun dari kapal dan meninggalkan pelabuhan.


"Bang, sebaiknya ke kota kecil saja agar papi tidak curiga," usul Diana.


"Kita pergi ke kota yang dekat dengan kampungku!" Kuraih tangannya, kami berjalan sambil bergandengan.


Aku menemui seorang pemuka agama. Aku bilang saja kalau Diana sudah yatim piatu. Saat itu juga aku menikah siri dengannya. Kehidupan kami yang sederhana dimulai dari sana. Selang setahun kemudian, David menemukan kami. Pria paruh baya itu akhirnya luluh juga karena Diana sudah mengandung anakku. Padahal itu hanya kebohongan agar David menerimaku sebagai menantunya.


Kami melaksanakan pernikahan ulang dan David membiayai pesta pernikahan kami di Lampung. Aku merasa cemas dan khawatir kalau Diana tidak kunjung hamil setelah pernikahan kami. Tapi, nasib baik ternyata berpihak padaku. Seminggu setelah pesta pernikahan, akhirnya kabar baik itu membuatku lega.


Dendi menghela napasnya, ternyata perjuangannya untuk bersama Diana telah berlalu. Kini David dan juga istrinya Diana, sudah berpulang. Ruang kerjanya masih gelap. Dia malas untuk bangkit dari tempat duduknya dan menyalakan lampu.


Dering ponsel terdengar sedari tadi namun tak dihiraukan.


"Clara," gumamnya. Dia langsung beranjak berdiri dan melangkah membuka pintu.


"Ada apa dengan Rara bi? Kenapa dia?" Dendi bertanya.


"Tak ada suara tangisan atau teriakan yang terdengar tuan. Bibi takut terjadi sesuatu pada nona," kecemasan di wajah renta itu terlihat jelas.


"Kita kesana bi!" Dendi berlari dan berhenti tepat di depan pintu kamar anaknya.


"Ra ... buka pintunya nak!" Dia menggedor pintu itu dengan keras dan berulang.


"Tak ada sahutan tuan," Bibi mulai meneteskan air mata.


"Panggil anak buahku bi! Panggil Frank juga agar mendobrak pintu ini!" Dendi teringat ponselnya.


"Maaf tuan, Frank pergi ke gudang."


"Memangnya kenapa dia ke sana?"


"Frank mau menangkap orang suruhan nyonya Firda," Bibi menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ck, apalagi ulahnya itu. Sekarang panggil pak sekuriti atau siapapun yang ada di rumah ini untuk mendobrak pintu bi!" Dendi melangkah ke ruang kerja.


Bibi tergopoh turun dari lantai dua dan memanggil sekuriti dan anak buah Dendi yang berjaga di depan pintu rumah. Mereka bergegas pergi ke lantai dua dan mencoba untuk mendobrak pintu kamar Clara.


"Ada apa lagi sih?" Suara berisik dari lantai dua mengganggu pendengaran Firda yang sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya.


"NONA!" Teriak bibi ketika menemukan Clara pingsan di depan pintu kamar mandi.


"Panggilkan ambulans cepat!" Bibi tidak tega.


Wajah nonanya pucat pasi dan kuyu.


"Pasti dari siang belum makan," tebak Bibi yang memeluk Clara di lantai.


Dendi berlari menyusul ke kamar anaknya dan melihat pemandangan yang menyedihkan. Anaknya begitu pucat pasi. Dia mendekat dan mencoba menggendong anaknya. Dia turun dari lantai dua dan tidak peduli pada teriakan bibi.


"Ambulans sedang di jalan tuan, sebaiknya tuan menunggu ambulans!" Bibi mengikuti langkah tuannya.


"Ambil kunci mobil dan bukakan pintu untuk kami bi!" Pekik Dendi.


Dengan susah payah dia berjalan sambil menggendong anaknya. Mereka sudah berada di luar pintu.


"Bersabarlah nak!" Dendi begitu rapuh melihat anak kesayangannya.


"Tuhan, apakah ini yang dirasakan David dulu?" Gumamnya.


Bibi membuka pintu mobil, Clara dibaringkan di kursi belakang. Sementara Dendi langsung masuk ke kursi kemudi dan melajukan kendaraan.


"Bertahanlah nak! Rumah sakit sudah dekat," Ucapnya sambil menoleh pada anaknya.


Tubuh Clara seperti mayat hidup, walaupun bernapas, napasnya terlihat lemah. Wajahnya putih pucat seperti tidak ada darah yang mengalir.


Dendi mengendarai mobil dengan kencang. Di depannya tiba-tiba saja muncul kendaraan beroda empat. Kendaraan itu muncul begitu saja dari belokan tajam.


Dendi berusaha menghindar dari kendaraan itu. Dia memang bisa menghindar, namun di saat bersamaan ada kendaraan lain yang ....


*


*


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2