Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 77 Pengakuan Lainnya


__ADS_3

Ervin melajukan kendaraannya dengan cepat. Sebenarnya dia penasaran apa yang akan tuan D dan Frank lakukan. Tapi, rasa penasaran akan orang dibalik rencana itu semua lah yang membuatnya tak sabar menunggu.


Ponsel berdering nyaring, Clara menoleh pada kekasihnya.


"Sayang ... angkat dulu tuh! Pasti dari si bapak," kekehnya.


"Bapak siapa?" Tanyanya mengernyit bingung.


"Jawab aja dulu!" Ervin tak sabar.


["Mas Ervin, si tikus ada di belakang sedang mengikuti.," Clara bengong.


"Tikus? Apa maksudnya pak?"


["Lha, non Clara. Saya pikir mas Ervin. Itu non, tikus yang dijebak mas Ervin keluar dari sarang dan sedang mengejar mobil mas Ervin."]


Wanita itu benar-benar bingung.


"Ya udah deh pak, nanti aku sampein ya!" Clara memutuskan panggilan.


"Kenapa nggak dinyalain speaker-nya? Kan lumayan aku bisa godain bapak dan si tikus," Ervin terkekeh.


"Sumpah ya, aku tuh belum ngerti maksud kalian berdua. Apalagi tadi ketika bapak bilang tikus sudah keluar dari sarang dan sedang mengejar mobil kamu," Wanita itu berpikir keras.


"Owh jadi begitu," Ervin yang tahu maksudnya, mengangguk mantap.


"Plat kendaraan nyonya palsu berapa yang?" Tanya Ervin.


"Hah? Nyonya palsu?"


"Iya, ibu tiri kamu,"


"Owh, plat nomornya sekian sekian," sahut Clara.


"Memangnya kenapa? Kenapa nanya plat nomornya?" Wanita itu heran.


"Nanti juga tahu sendiri kok," Ervin tersenyum lebar.


"Kita mampir di Caffe sebentar boleh tidak?" Tanya Pria itu.


"Boleh aja sih, nggak masalah. Lagian aku haus gara-gara di rumah belum sempet minum," cengir wanita itu.


Ervin memarkirkan mobilnya di depan sebuah Caffe mewah yang berdesain interior ala Prancis. Sebelum dia keluar, pandangan matanya tertuju pada mobil yang berjalan lambat dan hendak memarkirkan kendaraan. Nomor plat itu sesuai dengan yang disebut Clara tadi.


"Loh, kok melamun?" Tanya Wanita itu pada kekasihnya.


"Eh, nggak kok. Jangan turun dulu!" Ervin menghadang kekasihnya.


Dia kemudian menghubungi seseorang di telpon.


Setelah beberapa menit berbincang, telpon terputus dan mereka langsung turun.


"Aku duduk di luar saja. Nih kamu pesan apapun!" Pria itu menyodorkan black card miliknya.


"Kamu pikir aku nggak punya ini?" Clara menolak kartu pemberian Ervin.


(Horang kaya mah bebas 🙄)

__ADS_1


Pria itu tersenyum tipis dan mengedarkan pandangannya. Seorang wanita paruh baya berjalan santai dan duduk di depannya.


"Wah, ada nyonya palsu di sini," Pria itu bertepuk tangan.


"Hei, mulutmu masih tetap kurang ajar." Kesalnya.


"Ngapain ngikutin kami? Penasaran dengan tujuan kami? Atau malah ingin mencelakai kami?" Ervin menatap tajam wajah wanita di depannya.


"Tidak semuanya. Aku ingin memberikan ini padamu. Ini adalah salah satu bukti persekutuan Di dengan seorang petugas kepolisian yang mengurus kematian kakek dan ibu Clara," Wanita itu memegang sebuah Hard disk.


"Maksudnya apa? Kenapa tuan D terlibat dalam kematian mereka?" Ervin tidak bisa menebak.


"Kamu harus menyelamatkan aku! Aku tidak mau terlibat dengan sekretaris dan bodyguard sialan itu. Mereka berdua seharusnya aku singkirkan dari awal," ucap Wanita itu.


"Dugaan aku ternyata benar," Ervin tersenyum simpul.


"Ini akan menjadi punyamu asalkan kamu bisa menyelamatkan aku, bagaimana?" Firda merayu Ervin.


"Entahlah, aku tak yakin," sahut Ervin santai.


"Ya sudah kalau begitu, aku pergi," Wanita itu melangkah pergi.


"Tunggu! Aku akan melindungimu kali ini saja. Kalau lain kali kamu berulah lagi, aku tidak akan segan untuk menyingkirkan kamu," Ervin masih santai.


"Ambillah! Pacarmu sudah selesai dengan pesanannya," Firda melempar benda kecil itu pada Ervin. Dia melangkah pergi meninggalkan Ervin dan kembali ke mobil, mobilnya melaju entah kemana tujuannya.


Ervin tersenyum lebar, dengan cepat dia mematikan rekaman pada ponselnya.


"Dapat ... aku dapat dua rahasia, ya walaupun sebenarnya tuan D bisa menebak dalang dibalik semua kejadian ini," Ervin mengantongi hard disk tadi.


Clara membuka pintu Caffe dan menghampirinya. Wanita itu memberikan gelas minuman pada kekasihnya.


"Makasih ya sayang," lanjut pria itu.


"Kita pergi sekarang juga, ayo!" Clara sudah tak sabar.


"Kamu masuk dulu! Aku ingin minum sampai habis, nanti aku menyusul," serunya.


Clara mengangguk dan melangkah menjauh dari kekasihnya. Setelah dirasa cukup jauh, Ervin mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang lagi.


"Hilangkan bukti kalau sekretaris dan bodyguard itu berkaitan dengan Firda!"


["Tapi bos ..."]


"Tak ada tapi-tapian! Kita harus merencanakan ulang semuanya karena ada fakta baru yang aku ketahui tentang tuan D," Perintahnya.


["Baiklah bos!"]


Ervin menyedot minumannya, kemudian dia beringsut dari tempat duduknya dan berjalan mendekati mobil.


"Aku harus menyembunyikan ini dari Clara," batinnya kalut.


Pria itu menatap kekasihnya dengan lembut dan hangat. Ada perasaan kasihan karena ternyata wanita itu tidak tahu apa-apa tentang kematian orang terdekatnya.


"Kita berangkat sekarang ya!"


Perusahaan sudah di depan mata. Mereka turun begitu saja, pria itu meminta pada keamanan untuk memarkir kendaraannya di tempat parkir VVIP. Sementara mereka langsung ke tempat tujuan.

__ADS_1


"Itu om Frank!" Tunjuk Clara.


"Kita ikuti dia!"


Mereka setengah berlari mengikuti langkah Frank yang tergesa-gesa. Mereka saling berpandangan setelah tahu ada sebuah ruangan tersembunyi di belakang gedung kantor.


"Ruangan apa itu?" Mereka berdua berucap bersamaan.


"Astaga, rahasia apa lagi ini. Terlalu banyak rahasia yang tuan D simpan," batin Ervin.


Mereka masih mengikuti Frank.


"Apa kita panggil saja om Frank?" Tanya Wanita itu.


"Tidak! Kita ikuti dulu. Setelah tahu itu ruangan apa, barulah kita menampakkan diri," Ervin berucap.


Wanita itu mengangguk mantap.


Langkah mereka dipercepat karena Frank sudah masuk ke salah satu pintu yang ada di sana.


"Ruangan ini seperti labirin, kemana kita harus pergi selanjutnya?" Clara menoleh pada kekasihnya.


"Tadi aku melihat pak Frank membuka pintu yang gagangnya ada warna merah," Ervin mengingat.


Mereka mulai mencari keberadaan pintu itu diantara beberapa pintu yang ada di sana.


"Ketemu," pekik Clara.


"Shut, jangan berisik!" Ervin membungkam mulut kekasihnya dengan telapak tangan.


Dengan pelan pria itu membuka pintu tadi. Dia mengintip sedikit dibalik celah pintu.


"Lihatlah! Ada Daddy kamu di sana," Ervin berpindah tempat.


Pria itu bergeser dan memberikan kesempatan pada kekasihnya untuk mengintip dibalik pintu.


"Daddy, om Frank dan ... "Clara membekap mulutnya sendiri.


"Siapa?" Ervin mencoba melihat lagi.


"Mereka dan beberapa orang lainnya," bisik Clara pelan.


"Mereka? Siapa mereka? Ini masih di perusahaan. Apa sebenarnya yang mereka lakukan?" Ervin berbisik.


Suara langkah seseorang yang mendekat terdengar di telinga mereka. Dengan cepat Ervin menarik tangan kekasihnya dan menjauh dari pintu itu.


Mereka mencoba untuk membuka pintu lainnya untuk tempat bersembunyi, namun keduanya tak menyangka melihat dua pintu yang sudah mereka buka.


"Kenapa malah begini?" Sepasang anak manusia itu saling berpandangan.


*


*


*Bersambung


Ruangan apa ya itu?

__ADS_1


Apa lagi yang disembunyikan tuan D?


Siapakah sebenarnya tuan D? 👀


__ADS_2