Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 97 Ceroboh atau Berani?


__ADS_3

Sekuriti tergopoh berjalan keluar rumah. Dia masuk ke dalam pos keamanan tanpa berbicara sepatah kata pun dengan Ervin.


"Pak! Apa kata mereka?" Tanya Ervin sedikit keras.


"Maaf mas, bapak tidak tahu. Bapak hanya disuruh untuk tidak membuka pintu gerbang dahulu sebelum ada persetujuan dari tuan," Sekuriti langsung menutup pintu pos jaganya.


"Bagaimana ini bos? Nggak mungkin kita menunggu di sini terus 'kan?" Jeffrey pesimis.


"Diam kamu Jef! Masuk mobil kalau kamu tidak mau menunggu di sini," Seru Ervin kesal.


"Manja kayak anak kecil," gerutu Ervin menatap wajah karyawannya.


"Maaf bos," Jef menarik baju bos-nya.


"Jef! Jaga sikap! Ingat kamu itu pria dewasa!" Ervin menjitak kepala si Jef.


Jeffrey hanya bisa meringis menahan sakit, mulutnya terkunci rapat, tak ada protes lagi.


Frank terlihat menghampiri mereka.


"Ngapain kamu?" Tanyanya dengan pintu pagar yang masih tertutup.


Ervin tidak menjawab namun mengeluarkan ponselnya. Dia mengotak-atik ponsel tersebut untuk mencari rekaman suara Firda.


"Ini!" Dia menyodorkan ponsel tersebut lewat celah pagar rumah.


"Dengarkan rekamannya om!" Seru Ervin.


"Siapa kamu? Berani-beraninya memerintahkan aku," Frank tidak bergeming dari tempatnya berdiri.


Ervin memutar rekaman tersebut dan meninggikan volumenya. Frank terlihat mengernyit dan penasaran dengan suara yang ia kenal. Belum selesai di dengarkan, rekaman tersebut di hentikan oleh Ervin.


"Masih tidak mau mendengarkan ini? Ada yang lebih dari ini tapi, aku harus masuk dan bertemu langsung dengan om Dendi," kepercayaan diri Ervin meningkat.


"Tunggu sebentar!" Frank mengeluarkan ponselnya. Pria dewasa itu menjauh, menghubungi Dendi dengan penawaran yang Ervin berikan.


"Kamu boleh masuk. Tapi, hanya kamu sendirian. Mereka bertiga harus menunggu di luar!" Frank memberikan syarat.


"Bos," Jefrey gusar seraya menoleh pada Ervin.

__ADS_1


"Kalian tunggu di sini! Jangan bertindak gegabah! Kalau ada tanda-tanda dariku barulah kalian bergerak, mengerti?!" Ervin berucap tegas.


Mereka bertemu mengangguk bersamaan. Gerbang dibuka sedikit, hanya bisa dilewati oleh satu orang. Ervin masuk dan diperiksa oleh Frank dari atas sampai bawah untuk mengantisipasi agar tidak membawa senjata apapun ke dalam.


"Tenang saja om! Aku tidak mempunyai dendam pada om Dendi. Om Dendi itu kerabat dekat papa. Tidak mungkin aku membahayakan dirinya," Ervin menjelaskan.


Frank tersentak mendengar perkataan Ervin.


"Kenapa om? Kaget? Memangnya om Dendi tidak bercerita tentang papa aku?" Ervin tersenyum tipis.


Frank menormalkan ekspresi wajahnya. Dia mendorong tubuh Ervin agar segera berjalan di depan.


Mereka sudah berada di dalam rumah dan menaiki tangga menuju ruang kerja Dendi.


"Om Frank, bagaimana keadaan Clara? Aku merindukannya," Ervin menoleh pada pria dewasa tersebut.


"Diam dan terus jalan!" Frank malas menanggapi.


Frank mengetuk pintu sebelum masuk ke ruang kerja Dendi. Setelah ada sahutan dari dalam, barulah mereka masuk.


Di ujung tangga ada sepasang mata yang memperhatikan mereka yang baru saja melintas.


"Aku tidak salah lihat 'kan? Tadi itu si Ervin?" Firda penasaran kenapa Pria itu ada di rumah ini.


Wanita itu duduk santai di ruang keluarga sembari memainkan gadgetnya.


Ervin dan Dendi saling berhadapan. Bola mata Dendi masih tersimpan kebencian. Terlihat jelas dari sorot matanya yang tajam menatap Ervin. Rahangnya mengeras walaupun dirinya berusaha menguasai emosi.


"Om, apa kabar?" Ervin menunjukkan sopan santun.


"Tidak perlu basa-basi denganku! Sampaikan maksud dan tujuan kamu kemari!" Dendi bersedekap.


Mereka masih berdiri, Dendi tidak ingin mereka berbincang dengan nyaman di sofa yang ada di sana.


"Ini om! Om bisa mendengarnya sampai habis. Setelah itu ada lagi rekaman yang lebih penting daripada itu," Ervin menyodorkan ponselnya.


Dendi mengambil earphone di atas meja kerja. Dia mendengarkan dengan penuh konsentrasi agar dapat mencerna kata-kata yang dia dengar. Ekspresi wajahnya berubah, rahangnya mengeras. Matanya menatap tajam, tangannya mengepal erat.


"Frank! Bawa Firda kemari! Jangan sampai lepas! Setelah itu kita bergerak mengambil kembali produk baru yang sudah di rampasnya. Aku sudah terlalu sabar menghadapi wanita ular itu," napas Dendi memburu karena emosi yang membuncah.

__ADS_1


Frank segera keluar dari sana, dia melakukan apa yang diperintahkan oleh Dendi.


"Ada satu lagi yang penting om. Tapi, ada syaratnya. Aku ingin bertemu dengan Clara, sudah hampir sebulan kami tidak bertemu kembali," Ervin berbohong. Padahal dirinya bertemu Clara beberapa hari yang lalu di emall.


"Kamu bertemu Clara? Hubungan kalian berdua kan sudah putus. Buat apa bertemu anakku?" Dendi menatap intens wajah di depannya.


"Mata yang sangat mirip dengan Malik. Tapi keberaniannya berbeda dengan bapaknya, dia lebih berani dan berotak encer," batin Dendi yang tidak melepaskan pandangannya pada Ervin.


"Kami belum mengakhiri hubungan ini om. Aku ingin mempertahankannya walaupun papa dan om Dendi masih belum bisa menerima kami tentang hubungan ini," Ervin berkata mantap. Tatapan matanya penuh keyakinan diri.


"Bos, ini nyonya Firda!" Frank menutup pintu dan menguncinya.


Firda yang tidak curiga sedikitpun hanya berjalan mengitari mereka yang sedari tadi berdiri.


"Frank! Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan dengan wanita keji ini?" Dendi mulai bersuara.


"Apa maksudmu Di?" Firda ditarik oleh Frank dan tangannya diikat kencang.


"Jangan berpura-pura bodoh kamu! Ternyata kamu dalang dibalik hilangnya produk baruku, anak buahku kamu suap agar dia memberikan informasi palsu padaku. Benar-benar licik kamu Fir. Dan satu lagi, kamu boleh menguasai perusahaanku kalau aku sudah mati. Tapi sebelum aku mati kamu duluan yang akan mati mengikuti jejak Diana yang sudah kamu bunuh secara tidak langsung," Dendi mengutuk Firda, tangannya menampar pipi istrinya dengan sangat keras sampai pipi wanita itu memerah.


"Frank, dudukkan dia di sofa! Ikat kaki dan tangannya! Sumpah mulutnya! Dia harus mengakhiri semua ini dengan taruhan nyawanya sendiri," Dendi menjambak rambut Firda dan tersenyum lebar.


"Kamu berakhir sampai di sini," Dendi tersenyum puas.


Frank melaksanakan perintah si majikan. Ervin juga tampak bersemangat melihat Firda yang tidak berdaya.


Wanita dewasa itu terlalu meremehkan Dendi, padahal mereka hidup di satu atap.


Firda memberontak, dia berusaha untuk melepaskan ikatannya. Tapi sia-sia belaka karena Frank mengikat tangan dan kakinya dengan sangat kencang.


"Bagaimana om? Apakah syarat yang aku ajukan tadi terlalu berat? Kalau om tidak setuju aku pergi saja dari sini," Ervin berbalik arah, melangkah keluar ruangan.


Dendi terlihat berpikir. "Kalau cuma bertemu kenapa tidak? Mereka tidak akan pernah bisa menikah," batinnya ragu.


"Baiklah, aku setuju dengan syarat tadi. Mana yang kamu bilang informasi penting tadi?" Dendi menatap punggung Ervin.


Ervin segera berbalik dan meraih ponselnya yang berada di atas meja. Dia memutar rekaman kedua tentang percakapan Firda dengan seorang pria.


*

__ADS_1


*


*Bersambung


__ADS_2