
"Akan aku bunuh kamu kalau berani muncul dihadapan aku lagi," geramnya.
Dia menghapus pesan tersebut dan langsung
menonaktifkan ponsel tersebut. Clara menaruhnya di laci. Malam itu pikiran Clara terpecah beberapa bagian. Pikirannya semrawut.
Dia berusaha untuk tidur karena seharian itu dirinya berusaha semaksimal mungkin dalam bekerja. Belum lagi kesedihan karena teringat sosok ibunya. Tanpa sadar Clara akhirnya tertidur.
Sementara di kediaman Ervin yang megah, Elisa menatap nanar foto keluarga yang terpasang di dinding. Dia menghela napasnya dan menghembuskannya perlahan. Dia khawatir dengan keadaan Ervin yang sudah seminggu ini belum pulang juga.
"Ayo tidur ma! udah larut malam ini," ajaknya pada si istri.
"Aku kangen Ervin mas, ponselnya gak aktif. Tidak bisa di hubungi. Aku menghubungi Apotek pun si Jefrey bilang dia ada urusan di luar. Aku tidak tahu apa yang Ervin kerjakan di luar sana," matanya menatap suami yang sedang berada di hadapannya.
"Tidak perlu kamu pikirkan tentang keadaan Ervin. Dia itu pria sejati dan sudah dewasa, dia juga bisa jaga diri dengan ilmu bela dirinya. Ayolah kita tidur! jangan terlalu memikirkan anak kita, kita doakan saja agar dia baik-baik saja," Malik duduk di samping istrinya.
Pria itu mengelus pucuk kepala istrinya dengan lembut agar istrinya bisa tenang.
"Tapi mas, tetap saja aku..." Elisa belum selesai dengan perkataannya.
"Tidak perlu ada tapi, ayo kita masuk dan tidur!" Malik menarik lengan istrinya.
Mau tidak mau Elisa bangkit dan melangkah beriringan dengan suaminya, mereka bergandengan tangan sampai masuk ke kamar.
***
Pagi hari tidak seperti biasanya, mendung terlihat jelas. Ervin yang hanya beberapa jam tidur sudah terbangun karena efek dingin yang menghampiri.
"Dingin sekali pagi ini," suaranya parau.
Ervin memicingkan mata, di dalam kontainer itu hanya ada dirinya dan satu orang yang berjaga bersamanya semalam.
Dia mengucek mata berkali-kali namun penglihatannya tetap saja tidak melihat beberapa orang yang seharusnya ada di sana.
"Bukannya semalam mereka juga tidur di ujung sana," Ervin beberapa kali mengerjapkan mata.
Dia bangkit dari tempat tidur, dia kemudian melaksanakan ritual paginya.
Setelah berpakaian ala bodyguard resmi, dia turun dari rooftop dan melihat dua orang yang sedang membersihkan taman samping.
"Rajin sekali mereka," Ervin tersenyum mengejek.
"Apa liat-liat?" salah satu dari mereka melihat senyuman Ervin.
"Eh nggak ada apa-apa mas, lanjutkan saja nyambut rumputnya," kekehnya.
Dia masuk ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobil. Langkahnya dihentikan oleh Frank yang menepuk pundaknya dari belakang.
__ADS_1
"Ada apa pak?" tanyanya menoleh pada Frank.
"Kamu ingin tahu siapa yang mengunci kamu di kamar mandi kan?" Frank menatap mata pria di depannya.
Ervin mengangguk mantap, dia tidak bersuara.
"Kamu liat dua orang yang sedang membersihkan taman?" tanya pria paruh baya itu lagi.
"Iya pak, memangnya kenapa?" Ervin mengernyitkan keningnya.
"Mereka berdua orangnya," sahut Frank santai.
Ervin terbelalak tidak percaya, ternyata rekan kerja yang selama ini dia kenal yang melakukan itu.
"Kenapa wajahmu? santai saja, mereka tidak akan pernah berbuat seperti itu lagi. Aku sudah memberikan peringatan pada mereka," lanjut Frank sebelum Ervin membuka mulut.
"Terimakasih pak," Ervin berkata mantap.
Pria paruh baya di depannya ini ternyata tidak seburuk apa yang dia pikirkan.
"Itu sudah menjadi tugasku di rumah ini. Semua tentang pekerja tuan D aku yang mengurus apalagi kalau ada orang-orang rendahan seperti mereka. Usil boleh tapi jangan berlebihan karena mengganggu waktu penjagaan," jelas Frank panjang lebar.
"Sekali lagi terimakasih pak, sebelum itu boleh tidak kalau saya ijin pulang dalam minggu ini? orang tua saya pasti menunggu saya pulang," pintanya.
"Boleh, kamu belum dapat jatah pulang kan? silakan saja asalkan tidak lebih dari dua hari," Frank langsung pergi meninggalkan Ervin.
"Terimakasih pak," ucapnya sedikit keras karena pria itu telah berada di depan sana.
"Ervin, kita berangkat sekarang!" panggil Clara dari teras rumah.
"Non Clara tunggu!" bibi berlari kecil dan menghampiri Nona mudanya.
"Kenapa lagi sih bi?" tanyanya.
"Bekal sarapannya tertinggal di dapur Non, ini bibi bawakan," dia memberikan tas kain pada Clara.
Dalam tas tersebut sudah ada beberapa kotak makanan.
"Astaga aku lupa Bi, aku buru-buru mau menyusun materi meeting pagi ini di kantor jadi lupa mau ambil tas ini," tas itu di jinjing oleh Clara.
"Makan dengan mas supir ya Non, kasian dia belum sarapan juga," pinta bibi memelas.
"Bibi siapkan sarapan untuk dia juga?" Clara memutar matanya dengan malas.
"Iya Non, bibi kasian melihatnya," ucap bibi jujur.
"Orang masih muda seperti dia kok di kasihani bi?" Clara mendelik dan pergi meninggalkan bibi tanpa mengetahui alasan bibi yang sebenarnya.
__ADS_1
"Dia seperti anak bibi yang sudah meninggal non," si bibi menatap punggung majikannya yang sudah menjauh.
"Ervin, kamu dengar gak sih?" panggilnya.
"Maaf non, saya mendengarnya tapi saya belum selesai mengelap kaca non," jelasnya.
"Biarkan saja! sekarang juga kita pergi ke kantor!" Clara menunggu pintu dibuka oleh supirnya.
Penampilan Ervin yang berbeda membuat pandangan wanita cantik itu terpana dalam sekejap.
Suara si supir yang membuka pintu mobil menyadarkan lamunannya.
"Silakan masuk Nona," pria itu menampakkan senyum manisnya.
"Hemm," sahut Clara singkat.
Dengan santai Clara duduk di belakang, dia bersandar pada kursi dan meletakkan tas dari bibi di sampingnya.
"Oh iya, letakkan ini di depan!" suruhnya mengambil tas tadi dan menyerahkan pada supir.
"Iya non," Ervin mengambil tas tersebut, tangan mereka bersentuhan secara tidak sengaja.
"Lembut ya non," ucap pria itu spontan.
"Apanya yang lembut?" tanyanya heran.
"Tangan nona yang lembut, eh maksud saya tas tangan ini bahannya lembut," dia berkilah sebelum disemprot oleh mulut majikannya.
"Cepat berangkat!" Clara tidak mengindahkan ucapan Ervin.
Mobil sudah menjauh dari rumah, pintu pagar dibuka oleh pak sekuriti. Mobil memecah jalanan yang mulai basah karena hujan baru saja turun.
"Tuan, Ervin meminta ijin untuk pulang dan saya mengijinkannya," Frank berdiri menghadap tuan D yang berada di dalam ruangan kerjanya.
"Benarkah? bagus sekali Frank, ini kesempatan untuk kita. Jangan sampai ketahuan olehnya. Kalau perlu suruh orang lain yang belum pernah berkunjung ke rumah ini agar dia tidak curiga," ucap tuan D dengan jelas.
"Baiklah tuan, saya akan menghubungi orang itu dan menjelaskan maksud tuan sebenarnya," Frank tersenyum lebar.
"Kamu jangan sampai lengah kalau misalkan dia adalah musuh dalam selimut. Tetap waspada terhadapnya!" tuan D memperingatkan tangan kanannya.
"Siap tuan, saya permisi dulu," Frank berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Seorang wanita menyipitkan mata ketika melihat pria paruh baya itu yang baru saja melintas di depan ruangan kerja suaminya.
"Sepertinya aku harus lebih cepat untuk mendekati pria muda itu," dia menyeringai lebar.
*
__ADS_1
*
Bersambung