Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 42 Membujuk Orang Tua


__ADS_3

Ervin menggendong bocah lelaki tadi, ia mulai menciumi pipi kanan kiri bergantian dan berkali-kali.


"Om kangen sama kamu, mamamu jarang mengajak kamu bermain di rumah ini," Ervin suka melihat ekspresi keponakannya.


Sementara Elisa keluar dari rumah, dia penasaran kenapa cucunya bisa berjalan sendirian tanpa orang tuanya. Elisa menutup mulutnya karena melihat Nissa yang keluar dari mobil dibantu oleh suaminya Kino.


"Duh ternyata kalian lancar ya, Alhamdulillah Kian udah mau punya adik," Elisa menghampiri mereka di depan teras.


"Alhamdulillah diberikan kepercayaan Ma," Nissa tersenyum lebar.


"Mana Kian Ma? dia itu tidak sabaran," Nissa berjalan sambil memegang pinggulnya. Perutnya membesar dan agak susah untuk berjalan normal.


"Dia bareng Ervin, dia manggil omnya tadi, padahal anak itu jarang kemari tapi masih ingat saja kalau punya om," Elisa terkekeh.


Mereka semua masuk dan duduk di sofa. Kian masih berada di gendongan Ervin. Mereka tengah bercanda dan tertawa bersama-sama.


"Sudah cocok kamu jadi seorang Papa Vin," ledek Nissa.


"Halah kak, baru aja umur 25. Mau menikmati hidup dulu," Ervin beralasan.


"Loh, itu perut..." Ervin menunjuk perut Nissa yang membesar.


"Itu adeknya Kian Om," kian berbicara cadel karena umurnya baru beranjak tiga tahun, dia tersenyum lugu. Dia meminta agar Ervin menurunkannya dari gendongan.


Dia berlari menghampiri ibunya dan memeluk kaki ibunya itu.


"Iya, hebat dong Kian bentar lagi punya adek," Ervin mencubit pipi keponakannya dengan gemas.


"Tumben kalian kemari malam begini? biasanya kalau Mama suruh pasti ada aja alesannya," cemooh Elisa.


Nissa membalas perkataan ibunya, mereka duduk dan mengobrol sementara bibi menyiapkan makanan di atas meja makan. Mereka makan bersama setelah Malik sampai. Selesai dengan makan malam, Ervin menarik lengan ibunya dengan pelan.


"Mam, gimana pertanyaan Ervin yang tadi?" mereka seperti berbisik-bisik di sudut ruangan.


"Tanya sama Papa kamu aja deh, tuh orangnya mumpung lagi senang didatengin cucunya," akhirnya Elisa pasrah. Dia malas berdebat dengan anaknya yang keras kepala.


"Yaudah deh, bentar lagi Ervin minta ijin," Ervin bersandar pada dinding. kakinya dia silang dan napasnya dihembuskan dengan cepat.


Semua orang bersenda gurau di ruang keluarga kecuali Ervin. Pikirannya masih terbebani dengan keadaan Clara dan perihal ijin yang belum dia kantongi. Ervin menjauh dari mereka semua, dia kini berada di taman samping rumah, memandang cahaya bulan. Namun sebenarnya pandangannya samar karena terhanyut oleh lamunannya.


Tidak ada suara riuh lagi di ruang keluarga, suara langkah seseorang membuyarkan konsentrasi Ervin. Dia lantas menoleh dengan spontan.


"Kamu kenapa Vin? apa ada masalah?" Malik duduk di sebelah anaknya.

__ADS_1


"Nggak ada masalah Pa, cuma..." Ervin tidak meneruskan kalimatnya.


"Cuma apa?" Malik menatap manik mata anaknya.


Malik sebenarnya sudah tahu apa yang menjadi sumber pikiran Ervin, namun dia masih menimbang-nimbang antara mengijinkan atau tidak.


Dia ingin tahu lebih jelas apa alasan anaknya yang sudah dewasa itu.


"Cuma mau minta ijin aja Pa," Ervin membalas tatapan ayahnya.


Beberapa detik mereka saling menatap satu sama lain, namun Ervin mengalihkan pandangannya kembali.


"Minta ijin apa? coba ceritakan dengan jelas," Malik bersandar pada kursi taman. Umur yang semakin menua membuatnya menjadi cepat letih setelah seharian berada di luar kota.


"Bolehkan kalau Ervin keluar dari rumah ini?" dia menatap wajah ayahnya.


"Maksud kamu keluar? kamu mau minggat dari rumah ini?" Malik menggoda anaknya.


"Pa," dia menatap ayahnya dengan malas.


"Haha, aku pikir kamu betah berada di sisi kami walaupun sudah umur segini," Malik berucap santai.


"Betah sih betah Pa, cuma Ervin harus tahu kehidupan mandiri itu seperti apa. Apalagi Ervin ini kan udah dewasa, jadi harus belajar bagaimana caranya hidup mandiri dan memecahkan masalah sendiri," Ervin menjelaskan panjang lebar.


"Ya benar, kamu memang sudah dewasa. Dulu seusia kamu Papa udah menikah, sementara kamu masih sibuk dengan hidupmu sendiri yang suka seenaknya," goda Malik.


Malik menghela napasnya dengan berat. Mau tak mau dia harus melepaskan anaknya itu karena sudah dewasa.


"Boleh saja asalkan seminggu sekali kamu pulang. Dan ingat jangan mengacuhkan telpon dari mamamu!" pinta Malik.


"Akan Ervin usahakan Pa," Ervin tersenyum tipis.


Pembicaraan mereka masih berlanjut, tak lama kemudian mereka masuk ke dalam rumah dan melangkah ke kamar masing-masing.


"Akhirnya besok bersama Clara, ya walaupun dia bekerja di kantor setidaknya aku lebih lama bisa memandang wajahnya," Ervin tersenyum simpul.


Malam yang telah larut membuat Ervin merasa mengantuk. Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mulai memejamkan mata setelah selesai berdoa.


***


"Vin! sarapan dulu sayang!" Elisa mengetuk pintu kamar anaknya.


Ervin membuka pintu dan keluar dengan menenteng tas punggung yang lumayan besar.

__ADS_1


"Kamu jadi pindah?" Elisa menatap anaknya yang tersenyum cerah seperti cerahnya pagi ini.


"Iya Mam, jangan khawatir, Ervin pasti pulang seminggu sekali," dia tersenyum dan menggamit tangan ibunya dengan sebelah tangannya yang tidak memegang tas.


Mereka berdua sudah duduk di kursi, anggota keluarga yang lain menikmati sarapan dengan tenang kecuali si kecil Kian yang selalu mengoceh menanyakan hal-hal yang dia lihat setiap hari.


Tibalah saatnya Ervin berpamitan, dia mencium keponakannya itu dengan gemas. Semua baju yang dia beli di pasar loak terpaksa dibawa agar penyamarannya tidak terbongkar.


"Hati-hati nak!" Elisa mencium anaknya dan memeluknya erat.


"Apaan sih Mam," Ervin melepaskan pelukannya.


Dia risih di seperti itu di depan banyak orang apalagi ada suami Nissa yang menyaksikannya.


Ervin mengendarai mobil ke tempat kerjanya. Beberapa puluh menit berlalu, dia sudah berada di depan sebuah rumah. Klakson Ia bunyikan karena sekuriti masih tidak membuka pintu otomatis.


"Pasti dia nggak tau kalau aku yang bawa mobil ini," Ervin membuka pintu kaca dan membunyikan klakson lagi.


Setelah Darto si sekuriti membuka pintu, Ervin masuk dan memarkirkan mobilnya di samping garasi rumah.


"Gara-gara mama dan papa aku lupa mampir ke Apotek dan menukar mobil ini," Ervin menghela napasnya.


"Mobil siapa Vin?" Frank yang baru saja turun dari rooftop langsung menghampiri ketika pria itu tiba.


"Owh ini mobil temen Pak. Nanti sore saya pulangkan lagi, tadi bannya kempes di jalan," Ervin beralasan.


'Ada yang tidak beres dengan anak ini. Dia selalu saja membawa barang-barang mahal mulai dari ponsel, motor dan bahkan sekarang mobil,' batin Frank curiga.


"Beneran itu punya temenmu?" Frank masih tidak percaya.


Ervin turun dari mobil dan melangkah menghampiri Frank. Dia mengangguk mengiyakan saja.


"Om Frank..." sebuah tepukan tangan menyadarkan Frank dari konsentrasinya.


"Ngagetin aja!" bentak Frank.


"Om, Tuan D baru saja menelpon," pria itu mengatur napasnya yang memburu.


"Kenapa dengan Tuan?" kali ini Ervin yang bersuara.


"Tuan D dia... dia...


*

__ADS_1


*


*Bersambung


__ADS_2