
"Aku harus memberitahu Daddy, pantesan ajah dia bilang sekretaris itu baik-baik saja, tak ada masalah sedikit pun. Ternyata ini alasannya," Tangan Clara mengepal erat.
"Sabar sayang! Kita harus melakukannya dengan kepala dingin. Kita sudah tahu tentang mereka sebenarnya yang bersekongkol," Ervin mengusap punggung kekasihnya.
"Bagaimana bos? Kerjaan kita bisa diandalkan 'kan?" Mereka bangga.
"Tentu saja, otak kalian encer bisa menaruh alat sadap dan kamera mini pada rumah mereka. Salute!" Ervin mengacungkan kedua jempol.
"Kalau saya jadi anak buah Daddy nona, saya tidak akan pernah mengkhianatinya walaupun dibayar dengan tubuh sekretaris itu. Toh, diluar sana masih banyak wanita yang lebih woah daripada dia," ucap salah seorang anak buah Ervin.
"Kalau denganku bagaimana? Kalian berdua akan setia tidak?" Ervin merapikan rambutnya berlagak keren.
"Hah? Anda siapa? Saya tidak kenal tuh!" Salah satu dari mereka terkekeh geli.
"Sialan kalian!" Tunjuk Ervin pura-pura marah.
Mereka tertawa bersamaan.
Mereka memesan makanan cepat saji dan beberapa minuman. Setelah selesai, Ervin mengeluarkan sebuah amplop coklat tebal.
"Upah buat kalian. Kalau aku ada perlu lagi, ku hubungi kalian lagi!" Ervin beringsut dari tempat duduknya.
Dia menggandeng lengan Clara dan pergi meninggalkan kedua informan tersebut.
"Aku nggak sabar ngasih bukti ini pada daddy," ucap wanita itu geram.
"Tapi ingat! Jangan mengobrol diluar rumah atau di ruang tamu. Kita berbincang di ruangan daddy kamu saja," Ia memperingatkan.
"Tentu saja, aku yakin ini semua ada hubungannya dengan orang dalam," sahut Clara.
Mereka keluar dari restoran dan masuk ke mobil. Jalanan padat dan macet membuat mereka merasa tak sabar.
"Pake acara macet segala," kesal Clara.
"Biasa, kan lagi waktu istirahat makan siang," Ervin menoleh sekilas.
Seharusnya mereka sudah sampai ke rumah Clara, namun karena terjebak macet, siang menjelang sore barulah mereka sampai. Wajah Clara ditekuk sedemikan rupa. Kesabarannya sudah hilang entah kemana berganti terdiam karena tidur.
"Baguslah kalau tidur, nggak ada yang ngomel-ngomel lagi," Ervin terkekeh.
Di depan sana sudah ada rumah mewah tuan D. Pria itu membuka mobil dan menggendong kekasihnya. Dia tidak tega membiarkan wanita itu terbangun.
"Lah ..." Frank melongo melihatnya.
"Ketiduran di jalan pak," Ervin berbicara pelan.
"Bukan nona, maksudku mobil itu!" Tunjuknya.
"Owh mobil itu, saya mampir ke rumah sebentar tadi pak. Sudah dulu ya pak," Ervin melangkah meninggalkan Frank.
"Nih orang badannya berat juga," keluh Ervin yang merasa tangannya kebas.
"Heem," Clara bersuara dalam tidurnya.
__ADS_1
Dia merentangkan tangannya dan mengenai pipi Ervin.
"Aduh," Pria itu mengaduh karena pipinya seperti kena tampar.
Mendengar suara itu Clara memicingkan mata dan melihat Ervin yang dekat dengan wajahnya.
"Kenapa aku?" Tanyanya bingung, suaranya serak khas suara bangun tidur.
"Pake nanya lagi, turun gih!" Ervin melepaskan gendongannya perlahan.
"Kupikir aku pingsan, hehehe," cengirnya.
Ervin memutar bola matanya, dia menarik lengan kekasihnya.
"Panggil daddy kamu! Kita bicarakan yang tadi," Pria tersebut berbisik.
"Kamu tunggu di sofa dulu sana!" Seru kekasihnya.
Pria itu mengangguk, kekasihnya naik ke lantai dua dan mencari keberadaan ayahnya.
"Daddy!" Wanita itu mengetuk pintu.
Dari dalam terdengar suara ribut-ribut.
"Hah? Ada apa lagi ini?" Ucapnya malas.
"Dad! Daddy!" Clara tak sabar.
"Awas saja kamu!" Gerutu wanita paruh baya itu yang pergi meninggalkan kamar.
"Dad ... " Clara mematung.
Tuan D menghela napas, dia menoleh pada anaknya yang terdiam di ambang pintu.
"Daddy ... ada yang mau aku dan Ervin sampaikan. Kita ke ruangan Daddy yuk!" Ajaknya mulai mendekat.
"Memangnya bicara apa lagi? Masalah orang tua Ervin? Ke sini aja, kan daddy udah bilang biar kamu cepet nikah agar ada yang menjaga kamu," Tuan D seolah frustasi. Dia mengacak rambutnya beberapa kali.
"Bukan itu Dad, kita pergi ke ruangan Daddy dulu yuk!" Ajak anaknya yang menarik tangannya.
"Okey, baiklah," tuan D menurut.
Mereka keluar dari kamar, Clara menghubungi kekasihnya agar segera naik dan pergi ke ruangan tuan D. Tak berapa lama mereka sudah duduk berhadapan.
Ervin tidak berbicara, dia langsung mengeluarkan sebuah kotak yang diberikan oleh informannya.
"Apa ini?" Tanya tuan D, keningnya mengernyit.
"Daddy liat saja dari awal sampai akhir!" Seru anaknya.
Mereka terdiam, tuan D menatap rekaman itu dengan fokus. Setelah tahu siapa mereka berdua, tangannya terkepal erat. Urat di wajahnya menyembul dan terlihat.
"Setan ini anak, dari kampung aku bawa ke kota. Aku pekerjakan dia dan percaya dengannya. Tapi, sekarang semuanya lenyap tanpa bekas. Kalian berdua minggir! Jangan pernah ikut campur dalam masalah ini.
__ADS_1
Ervin, makasih sudah membantuku. Seandainya kamu tidak menindaklanjuti, sampai sekarang aku tidak tahu tentang hubungan mereka," tuan D sangat geram.
"Kalian tunggu di dalam! Aku akan ke kantor bersama Frank, biar aku bawa itu anak sekalian," tuan rumah berjalan cepat saking emosinya.
"Apa sebaiknya kita ikuti daddy?" Clara mendadak khawatir.
"Daddy kamu bukan orang sembarangan. Dia pasti dilindungi oleh bodyguardnya. Kita ke bawah dulu aja yuk!" Ajak Ervin.
Mereka melihat tuan D, Frank, beberapa anak buahnya dan tersangka yang bersekongkol meninggalkan rumah. Mereka pergi ke kantor dengan alasan kasus kematian Delima kemarin.
"Sepertinya kita harus pergi mengikuti mereka deh," Clara mondar mandir bak setrika yang belum panas.
"Tapi kan ...." Ervin merasa keberatan.
"Ayolah! Perasaan aku nggak enak," Clara memaksa.
Sepasang kekasih itu tidak tahu bahwa ada sepasang mata yang mengintai gerak-gerik mereka setelah keluar dari ruangan kerja tuan D.
"Baiklah, ayo kita berangkat!" Ervin beringsut dari tempat duduknya.
Akhirnya pria itu menuruti kemauan kekasihnya.
Sebelum Ervin keluar rumah, dia pergi ke pos keamanan dan berbisik sesuatu. Padahal di sana hanya ada mereka berdua.
"Beres bos, nanti langsung aku kasih ke bos sesuai perintah," Pak sekuriti mengangguk mantap.
"Jangan lupa ya pak! Harus cepat setelah aku keluar rumah," Ervin pergi meninggalkan pos tersebut.
Pria itu setengah berlari ke arah parkiran mobil dan masuk ke dalamnya.
"Apa sih kamu tuh? Ngomong apaan sih sama si bapak?" Clara mengerutkan keningnya.
"Udah deh, kita berangkat sekarang," Pria itu langsung menyetir dan keluar dari halaman rumah.
Setelah ada di luar pagar, Ervin membunyikan klakson dan langsung memecah jalanan sore itu.
"Semoga saja dugaan aku bener," gumam Pria itu.
"Kamu bilang apa tadi?" Kekasih hati masih tak mengerti.
"Tunggu saja kejutan dariku, sebentar lagi akan ada tikus yang masuk jebakan," tawa Ervin menggelegar.
"Kamu aneh, memangnya kamu ngapain?"
"Tunggu sepuluh menit lagi! Pasti tikus itu akan masuk perangkap," Pria itu menyunggingkan bibir atasnya.
Clara masih tak mengerti apa maksud Ervin.
*
*
*Bersambung
__ADS_1