
Ervin keluar dan berkacak pinggang. Matanya menyiratkan bahwa emosi telah menguasainya. Dia terbelalak melihat seorang pria yang baru saja melempar kaca mobil.
"Kenapa? mau berantem denganku?" pria itu sudah tampak normal, rasa mabuknya sudah berada di titik rendah.
"Kenapa kamu mengganggu aku?" Ervin menatap intens.
Pria itu melangkah menghampiri Ervin. Dia menelisik Ervin dari atas sampai bawah.
"Fashionable sekali kamu," pria itu menahan tawanya.
"Ini semua gara-gara kamu karena menyiram aku dari rooftop," Ervin mengeratkan giginya.
"Benarkah? maaf aku memang sengaja... mungkin," pria itu mengendikkan bahunya.
"Kenapa kamu melempar kaca mobil Nona Clara?" Ervin heran dengan tingkah absurd pria di depannya.
"Biar kamu kena marah Nona muda sombongmu itu," pria tadi tersenyum sinis.
"Bukankah kamu masih menyukainya dan ingin bersama dengannya?" rasa penasarannya begitu besar.
Tadi dia berpikir pria itu mencintai Clara dan ingin kembali bersamanya.
"Aku ingin kembali bersamanya, namun aku tidak sungguh-sungguh menyukainya. Dia gadis yang kasar dan angkuh. Aku hanya ingin membalasnya saja, tidak lebih," pria itu tersenyum licik.
"Apa maksudmu?" Ervin masih tidak mengerti. Dia harus waspada dengan pria di depannya ini. Ervin menatap baik-baik wajah pria itu agar dia bisa melindungi Clara dari niat jahatnya.
"Aku mengikuti kamu karena ini," dia melemparkan amplop coklat tebal.
Amplop itu jatuh di kaki Ervin, Ervin sama sekali tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
Melihat reaksi Ervin, pria tersebut berkacak pinggang dan berbicara lantang.
"Ambillah amplop itu! dan biarkan hari ini aku yang menjadi supir untuk Clara. Kamu tidak perlu bekerja lagi selama setahun ini. Pergilah menjauh!" pria itu tersenyum sinis.
Jadi isi amplop itu adalah uang. ( Ervin )
"Hey tuli! kamu tidak mendengar perkataan aku?" pria itu mulai geram.
"Aku tidak punya waktu untuk meladeni permainan kamu yang gila ini!" Ervin melangkah masuk ke dalam mobil.
"Sialan nih pria miskin, udah bagus aku ngasih duit," pria tadi menghampiri mobil dan mengetuk pintu mobil Ervin.
__ADS_1
"Pria sinting!" cibir Ervin langsung pergi tanpa menoleh pada pria tersebut.
"Awas saja kamu Ra! awas saja kalian berdua!" pria tadi memungut amplop coklat dan melangkah menghampiri motornya di pinggir jalan raya.
Ervin tidak mau ambil pusing dengan kelakuan pria tadi. Sekarang masalah utamanya adalah harus melindungi Clara dari siapapun yang ingin berbuat jahat padanya. Ervin mengurungkan niatnya pergi ke Apotek yang dipegang oleh Jefrey. Kini pikirannya tertuju pada Clara. Namun, dia harus berganti pakaian dengan yang lebih layak. Dia mampir ke pasar tradisional dan membeli sepasang pakaian santai. Dia kembali ke kantor dan melangkah ke ruangan Clara.
Deli si resepsionis berpesan padanya agar tidak menggangu Clara di dalam ruangannya. Dia menyuruh Ervin agar menunggu di luar, dekat dengan meja sekertaris Clara.
Kini di sinilah dia menunggu. Rasa bosan menguasai, dia mengambil ponsel mahalnya dan mengaktifkan kembali. Notif panggilan dan pesan yang masuk saling bersahutan. Dia mengecilkan volume ponselnya dan membaca isi pesan satu persatu.
"Aku melupakan sesuatu," dia menepuk keningnya berulang kali.
Ervin mematikan kembali ponselnya dan merogoh tas pinggang kecil yang selalu ia bawa. Ia mengeluarkan ponsel jadulnya. Dia menghidupkan ponsel jadul tersebut, namun tidak ada jaringan sama sekali.
"Pantas saja tidak ada jaringan, kartu SIM-nya belum ada," keluh Ervin malas.
"Maaf mas, jangan berisik di sini ya!" si sekretaris menatap Ervin dengan tampang datar.
Ervin tersenyum tipis dan beranjak dari tempat duduknya. Sebelum Ervin masuk ke dalam lift, Clara yang baru saja keluar menoleh ke arah Ervin dan mengernyitkan keningnya.
"Hei... ngapain kamu di sini?" Clara bersedekap.
"Nona," mata Ervin berbinar sebentar, tapi kemudian tatapannya ia rubah menjadi datar.
Clara mulai tersenyum lebar dan menggeleng kepala mendengar perkataan Ervin.
"Di sini aku bekerja, mana ada yang bisa mencelakakan aku di tempat serame ini? kamu ada-ada saja," Clara meninggalkan Ervin masuk ke dalam ruangannya.
"Sebaiknya kamu pulang ke rumah dan bantu Om Frank di sana!" suruhnya tanpa menoleh pada supirnya itu.
"Iya Non," Ervin tersenyum kaku dan pergi.
Dia kembali ke rumah tuan D. Di sana Frank dan kedua penjaga rumah memandangnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Kamu kenapa kemari? bukankah tugas kamu menjadi supir merangkap bodyguard?" Frank menatap intens.
"Nona menyuruh saya pulang Pak," jawab Ervin datar.
"Kalau begitu ikut saya ke gudang kontainer tempo hari," Frank melambaikan tangannya agar Ervin mengikuti.
"Ngapain ke sana?" Ervin berkerut.
__ADS_1
"Ngantar barang yang baru datang," Frank menjawab.
"Barang apa?" Ervin sungguh penasaran.
"Nggak usah banyak nanya! turuti ajah semua perintahku!" Frank masuk ke dalam mobil, kali ini dia yang menyetir.
Sesampainya di gudang, banyak pekerja yang rata-rata sudah berumur membungkus pesanan. Mereka menyortir barang sesuai jenisnya.
"Om Frank, yang ini pesanan Bos Moris sudah selesai," tunjuk salah seorang yang berdiri memperhatikan gerak-gerik para pekerja.
"Masukkan ke bagasi mobil dan kursi belakang! hari ini juga aku akan mengantarkannya langsung sekalian rembukan soal harga baru," Frank menyuruh Ervin mengikuti pria tadi dan mengangkat kotak kecil itu.
"Ini sebenarnya apa sih Pak? kok ringan tapi harganya mahal," Ervin menelisik kardus.
"Kamu nggak usah banyak nanya! tugas kamu nganterin ini, nanti kamu yang menyetir mobil ke alamat ini!" tunjuk Frank pada alamat yang tertera di kardus.
"Baiklah," jawab Ervin datar.
Mereka sudah selesai memasukkan kardus-kardus tadi. Mobil sudah melaju dengan cepat, Ervin sudah memasukkan alamat lengkap di layar dashboard agar dia tidak tersesat harus berbelok kemana.
Setengah jam berlalu, mereka keluar dari mobil dan melihat sebuah rumah yang kumuh namun besar. Halamannya luas tertutup rumput liar yang tumbuh di sembarang tempat. Pintu pagar depan di tutup dengan rantai yang tebal.
"Lho, kita tidak salah alamat kan Pak?" Ervin mengerjapkan matanya berulang kali.
"Tentu saja tidak! di sini rumah lama tuan Moris, kamu masuk dan bawa pesanan itu ke dalam! aku akan menunggu di sini," Frank masuk kembali ke dalam mobil. Kakinya naik ke atas dashboard dan membuka ponselnya untuk berselancar di dunia maya.
Ervin meneguk air liurnya dengan berat, entah kenapa firasatnya tidak enak.
Dia membawa semua barang itu dalam sebuah keranjang yang sudah disiapkan. Tidak ada bel rumah ataupun sekuriti yang bertugas. Dia mulai kesulitan untuk masuk ke sana.
"Om, masuknya gimana?" tanya Ervin yang mengetuk kaca mobil.
"Sebutkan kata sandi dengan lantang, teriak saja gila uang," ucap Frank santai
Ervin berteriak kencang dengan mengatakan gila uang. Tiba-tiba saja ada seorang pria keluar dari rumah dan berjalan mendekati pintu gerbang.
Ervin mundur perlahan, entah kenapa dia seperti pernah melihat pria itu.
"Aku ingat sekarang, bukannya dia yang selalu saja...
*
__ADS_1
*Bersambung