
Pria diseberang telpon tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Firda.
["Hey, tentu saja aku bebas karena aku sudah membayar orang agar mencarikan bukti konkrit bahwa aku bukan dalang dari kecelakaan Diana. Kita lihat saja nanti! Aku ingin kamu menggantikan posisi aku di dalam jeruji besi. Aku bisa bebas karena banding dan mengajukan sidang ulang. Akan aku seret kamu secepatnya. Hahaha,"]
Pria itu tertawa mengejek Firda dan langsung memutuskan panggilan teleponnya.
"Sialan, aku tidak akan pernah masuk penjara. Aku akan mencoba mencari kamu dan melenyapkanmu agar tidak mengganggu hidupku," Firda meremas ponselnya. Kemudian dia langsung menghubungi seseorang.
["Hai sayang! Akhirnya kamu merindukanku"] suara Pria di ujung telepon menyapa Firda.
"Aku nggak perlu basa-basi lagi. Aku ada tugas untukmu!" Firda kemudian menjelaskan panjang lebar apa yang harus pria tersebut lakukan. Setelah selesai, dia turun dari lantai dua dan bergabung di ruang keluarga bersama mereka.
Kedatangan Firda membuat semua orang heran, tak biasanya wanita paruh baya itu mau berkumpul bersama. Namun kali ini wajahnya terlihat memaksakan diri untuk tersenyum melihat tingkah Ervin dan Clara yang mulai terbiasa mengobrol.
Dua hari kemudian, nyeri di tubuh Ervin berangsur membaik. Luka di dagunya pun sudah kering. Beberapa kali dia dihubungi oleh Clara yang berada di ruangan kerjanya.
"Vin, kamu harus menyelidiki sekretaris itu. Sepertinya ada yang aneh dengannya. Dulu Daddy sudah berusaha mencari tahu, aku bertanya pada om Frank mengenai itu. Tapi sayangnya orang suruhan Daddy belum menemukan petunjuk apapun," Clara berbisik.
Ervin yang baru saja sampai terlihat bingung dengan perkataan kekasihnya. Pria itu berpikir sejenak dan menemukan sebuah ide.
"Sepertinya kita harus mencari orang luar. Tidak usah pikirkan dia lagi! Aku akan mencari orang yang tepat untuk menyelidikinya," Ervin meraih tangan Clara dan menempelkan badannya agar lebih dekat.
"Disini kantor, jangan macem-macem!" Clara menolak dengan halus.
"Aku hanya ingin memeluk kamu ajah kok," Ervin menyeringai. Pria itu mengedipkan sebelah matanya dan mulai memeluk Clara dengan erat.
Belum lima menit, suara ketukan pintu membuat mereka mengurai pelukan.
"Siapa ya? Ganggu ajah," Ervin menggerutu.
Wajahnya datar dan dingin karena kesal. Pria itu membuka pintu dan terus keluar sambil menatap orang yang baru masuk dengan dingin. Clara yang melihatnya hanya bisa tersenyum lebar melihat reaksi kekasihnya.
"Bu Clara, ini laporan tentang omset penjualan sebulan terakhir," Sekretaris itu menaruh sebuah berkas di atas meja.
"Baiklah, nanti akan aku cek ulang dan periksa lagi catatan anggaran produksi," Clara menatap wajah di depannya dengan intens.
Wanita itu tersenyum kaku dan terburu-buru pergi setelah pamit.
__ADS_1
"Baru diliatin udah kaku duluan," cibir Clara.
Ervin kini berada di parkiran VVIP perusahaan. Dia masuk ke mobil dan berbicara di telepon untuk menyelidiki tentang sekretaris Clara dan suruhan tuan D. Tak tanggung-tanggung Ervin meminta langsung anak buah Toni yang sudah terlatih untuk membantunya.
"Nanti foto, identitas dan alamat lengkapnya akan saya kirim ke email ya om. Terimakasih banyak om Toni, setelah selesai aku akan membayar mereka dengan pantas," Ervin terkekeh mendengar ucapan sendiri.
["Kamu selalu saja tak enakan begitu Vin. Santai aja kalau sama om tuh. Kamu udah om anggap anak sendiri, jadi kalau ada perlu apa-apa tidak usah sungkan!"]
Toni berbincang cukup lama dengan Ervin. Rasa rindu karena sudah lama tidak berjumpa akhirnya bisa terealisasikan ketika Ervin melakukan acara pertunangan nantinya. Berita baik itu dia ucapkan pada Toni walaupun lima hari lagi orang tuanya baru akan menemui orang tua Clara.
Setelah puas berbincang akhirnya Ervin keluar dari mobil. Dia melihat ada seorang pria yang tengah melewatinya.
"Orang aneh," batin Ervin melihat pria yang memakai jaket tebal pada cuaca yang terik begini.
Dia pergi ke kantin dan membelikan Clara makan siang. Mereka selalu makan bersama di dalam ruangan Clara ketika jam istirahat tiba.
***
Rumah keluarga Ervin.
"Sayang ya Nissa pisah rumah. Seandainya dia mau menghuni rumah ini," Fatma menyayangkan.
"Kasian suaminya kalau begitu Fat, biarkan saja mereka mandiri. Ya walaupun aku sebenarnya selalu kepikiran mereka, terutama cucuku," Elisa menyahut perkataan Fatma.
Begitulah percakapan antara dua keluarga yang saling mengenal sejak muda. Mereka seakan bernostalgia karena sudah hampir dua tahun terakhir tak bertemu karena kesibukan masing-masing.
Jasmine tidak berkata apapun, dia termenung memikirkan nasibnya tanpa Ervin karena pria itu sebentar lagi akan bertunangan dengan wanita lain.
Melamun, melamun dan melamun.
Begitulah Jasmine, mencintai dalam diam dan tidak berani mengungkapkan perasaannya.
"Mi ... Mi," Jasmine masih terdiam setelah beberapa kali namanya dipanggil.
Setelah Fatma menepuk pundaknya barulah wanita itu tersadar dari lamunannya.
"Eh, ada apa moms?" Jasmine tak mengerti.
__ADS_1
"Mommy tuh yang seharusnya nanya, kamu kenapa melamun? Berkali-kali Tante Elisa memanggil tapi tak ada sahutan," Fatma menggerutu.
"Owh, maaf ya tan! Aku hanya kepikiran sesuatu ajah kok," Mimi berusaha menyengir lebar.
Mereka kembali melanjutkan obrolannya. Pak sekuriti menerima sebuah panggilan dari luar pintu pagar. Dia melihat beberapa orang yang keluar dari mobil.
"Pak, kita boleh masuk, kan?" Tanya salah satu dari mereka.
"Duh maaf ya mas semua. Tuan dan nyonya sedang berbincang dengan tamu penting," Sekuriti rumah itu tidak berani membuka pagar.
"Tapi kami sahabat Ervin pak, kami ingin melihat keadaan Ervin. Nomor teleponnya sudah lama tidak aktif," mereka khawatir.
"Kabar mas Ervin baik-baik saja kok. Mas Ervin sibuk mengurus tiga cabang Apotek, makanya waktunya terbatas," sekuriti mencoba menjelaskan.
"Ya sudahlah kalau kami tidak diijinkan masuk," Mereka masuk kembali ke mobil, menyalakan mesin kendaraan dan meluncurkan kendaraan tersebut.
"Pak, saya mau bertemu dengan orang tua Ervin," suara pria paruh baya terdengar jelas.
Wajah pria itu seperti orang yang sedang frustasi.
"Memangnya anda siapa?" Tanya sekuriti.
"Hari ini calon tamunya macem-macem," batin sekuriti.
"Saya ini ayah dari sahabatnya Ervin. Saya kemari untuk menemuinya atau kalau bisa ingin bertemu orang tuanya," Pia tersebut terkesan memaksa.
"Maaf ya pak, sekarang ini mas Ervin tidak ada di rumah. Nyonya dan tuan sedang sibuk di dalam," sekuriti meninggalkan bapak itu di depan pagar rumah.
"Hey sekuriti b4jing4n! Berani sekali kamu menolak aku untuk masuk ke rumah itu. CEPAT BUKA!!" Pria tersebut berteriak kencang berkali-kali.
"Apa perlu aku laporkan pada satpam kompleks ya?" batin si Pak sekuriti.
*
*
*Bersambung
__ADS_1