Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 53. Menguak Rahasia Supir


__ADS_3

"Mas boleh saya tanya sesuatu gak?" Pria tersebut berbisik pada Royan. Kepalanya mendekat.


"Tanya apa?" Royan malas menanggapi.


"Yang punya apotek ini beneran mas yang barusan masuk tadi ya?" tanyanya.


"Heeem," jawab Royan singkat.


"Kalau misal saya mau pesan obat-obatan yang spesial ada nggak sih mas?" selidiknya lagi.


"Maksud Bapak apa ya?" Royan tidak mengerti.


"Maksud saya obat yang buat kepala melayang," pria itu memancing Royan untuk mendapatkan informasi.


"Maaf ya Pak, obat di Apotek ini memiliki ijin dari BPOM. Kami tidak sembarangan memilih obat yang kami jual," entah kenapa Royan tampak emosi. Pria itu tahu apa maksud pertanyaan dari si pelanggan.


"Bilang aja kalau gak jual obat itu mas, jangan baperan jadi manusia," pria itu melangkah menjauh dan keluar dari apotek.


Ervin yang mendengar suara Royan yang lumayan keras menghampiri ke konter pemesanan.


"Kenapa? Kamu teriak-teriak pada pelanggan?" tanya pria itu.


"Dia sudah tidak sopan Vin, tadi dia bertanya kalau saja di sini ada obat yang terlarang," jawab Royan jujur.


"Mana orangnya?" Ervin celingak-celinguk mencari keberadaan orang tersebut.


"Sudah pergi entah kemana," Royan mendengus sebal.


"Kalau ada yang tanya seperti itu lagi panggil saja aku! Aku akan memberikan mereka pelajaran," Ervin meninggalkan Royan.


Jeffrey tengah duduk dan fokus menatap layar laptop. Jari jemarinya lincah berpindah tempat, dia mengerjakan tugas akhir bulan.


"Bos kita sedang sibuk," Ervin menepuk orang kepercayaannya.


"Waduh bos, jangan ganggu dulu! Kerjaan aku banyak banget nih," serunya.


"Mau dibantu nggak? dua hari ini aku libur bekerja jadi supir," Ervin keceplosan.


Pria itu menutup mulutnya dan seolah lupa dengan perkataannya barusan.


"Hah, apa bos bilang? Kerja jadi supir?" Jeffrey menghentikan aktivitasnya, dia menoleh pada pria di depannya dan menatap dengan lekat.


"Siapa yang jadi supir Jef?" Tanyanya mengalihkan perhatian.


"Lah tadi bukannya bos yang jadi supir?" Jeffrey menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Maksud aku mumpung aku gak dianterin supir jadi aku bisa kapan aja pulangnya," Ervin beralasan.


"Kalau bos mau bantu nanti pasti uang lemburku dikurangi," pria itu menoleh sambil terkekeh.

__ADS_1


"Ya sudah kalau tidak mau aku bantu, sekarang aku pulang saja. Besok laporan keuangan, laporan barang masuk dan keluar, laporan gaji karyawan harus ada di mejaku setelah makan siang!" perintahnya.


"Bos Ervin," Jefrey terbelalak tak percaya dengan pendengarannya.


Sudah sebulan lebih dia membantu kerjaan bosnya itu. Namun kini dia harus rela mengerjakan tugasnya lagi.


"Kapan aku punya waktu luang bos? Aku ingin pacaran dan kencan sama cewek," keluhnya.


Punggungnya bersandar pada kursi.


"Memangnya ada cewek yang mau sama kamu?" godanya.


Tawa mulai terdengar dari mulut Ervin.


"Bos bisanya cuma menggodaku saja," Jefrey malas meladeni ucapan bosnya lagi. Dia kembali bekerja, tatapannya sudah fokus pada layar laptop.


Ervin kembali ke ruangannya, dia duduk dengan bersandar dan menyalakan ponsel mahal yang dia punya.


"Sudah lama aku tak menghubungi mereka," gumamnya sembari mencari sebuah nomor telepon.


Suara bariton di seberang telepon terdengar antusias.


["Heh bangs4t, aku pikir kamu udah mati peak, lama kali ngilang tanpa kabar"]


Ervin terkekeh geli mendengar perkataan pria tersebut.


["Pa0k memang kamu nih. Udah tau aku disuruh papa buat gantiin jaga apotek. Mana ada waktu lagi ngumpul bareng kalian lagi"]


Ervin mengernyit seakan tak percaya dengan pendengarannya.


["Hah? Yang bener kamu? Rafael kan jomblo sejati sama seperti kamu. Masa iya dia mau nikah"]


["Wah tuh mulut pedesnya udah ngalahin emak-emak kompleks kalau ngomong. Apa yang aku bilang beneran bro, aku, Tio dan Sigit udah dikasih undangan online. Coba nanti kamu cari di inbox email, mungkin masih ada di sana"]


["Beneran aku gak percaya"]


["Harus percaya dong, kan si Rafael dijodohin makanya dia gak bisa nolak. Kalau dia nolak dia gak akan dapat jatah warisan sedikit pun"]


Suara pria di ujung telepon tertawa terbahak-bahak sampai Ervin pun ikut tertawa.


["Kasian sekali tuh anak"]


Entah benar kasian atau tidak, Ervin menggelengkan kepalanya dan berbicara panjang lebar dengan temannya. Dia menghubungi mereka secara bersamaan dan melakukan panggilan video. Mereka mengobrol santai tanpa adanya gangguan.


****


Pria yang disuruh oleh Frank melaporkan segala tentang Ervin dan keluarganya. Kini mereka berada di dalam mobil pria tersebut. Frank masuk ke dalamnya setelah mobil tersebut mendekati rumah mewah tuan D.


"Benarkah ini supir baru itu?" Frank meneliti lagi foto-foto yang dipegang olehnya.

__ADS_1


"Dia bukan anak orang sembarangan om, dia anak seorang pengusaha sukses yang bergerak di bidang obat-obatan. Sudah banyak Apotek yang keluarga mereka kelola," jelas pria tersebut.


"Ada info lainnya? Atau mungkin saja keluarga mereka menyembunyikan sesuatu seperti tuan D?" Frank bertanya lagi.


"Tentu saja tidak, aku sudah mengeceknya om. Keluarga mereka bersih. Tapi herannya kenapa dia bekerja sebagai supir di rumah ini?" pria itu bertanya-tanya.


"Itu juga yang menjadi teka-teki buatku. Oh iya, tentang siapa orang tuanya kamu tahu kan? berikan sekarang juga!" Frank meminta info lebih.


"Maaf om, aku hanya menyelidiki tentang supir itu saja," Pria tersebut terkekeh kecil.


"Ck, sudah kubilang selidiki semuanya! besok pagi aku tunggu kabar terbarunya!" perintahnya.


"Iya iya om," Sahutnya singkat.


Frank mengambil amplop coklat tersebut dan keluar dari mobil. Langkahnya terasa ringan karena ternyata supir baru itu tidak akan bermain api di belakang mereka.


Tuan D duduk santai sambil berselancar di dunia maya. Dia menonton beberapa video lucu yang menggelitik perutnya. Tuan D beberapa kali tertawa lebar.


"Maaf mengganggu tuan," Frank berdiri di hadapan majikannya.


"Kenapa Frank?" Tuan D masih asyik dengan ponselnya, pria paruh baya tersebut tidak melirik Frank sedikit pun.


"Informasi tentang supir baru ada di sini tuan," pria itu mengacungkan sebuah amplop coklat.


"Benarkah? baguslah ternyata kerja kalian cepat," tuan D meraih amplop coklat itu dan membuka isinya.


Pemilik rumah mengangguk mantap beberapa kali, senyumnya terukir dan mengembang sempurna.


"Jadi dia sebenarnya anak orang kaya?!" Dia manggut-manggut.


"Apakah kamu tahu alasannya kenapa dia bekerja di sini?" Tuan D menatap orang kepercayaannya.


"Masih belum tahu tuan, sebentar lagi informan kita akan memberikan kabar susulan," jawabnya takdzim.


"Aku ingin kamu mengambil tindakan tegas pada supir baru itu. Desak dia ketika dia sudah kembali bekerja. Tapi kamu harus melakukannya secara halus!" Titah si majikan.


Frank mengangguk mantap.


Kini dia harus mencari cara agar supir itu mau mengakui segalanya. Frank pamit pada majikannya. Langkahnya tidak seringan tadi, kini pikirannya masih berkecamuk karena harus mencari sebuah ide.


Sekuriti berbicara dengan seseorang. Pria itu berceloteh riang dan menyebut sebuah nama.


"Kenapa dia begitu dekat dengannya?" Gumamnya lirih.


"Mungkin saja mereka kenal," tiba-tiba saja muncul sebuah ide. Frank tersenyum menyeringai.


*


*

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2