
Langkah mungil Clara berlari mengejar mobil orang tuanya. Beberapa kali dirinya terjatuh dan berusaha untuk bangkit lagi. Teriakannya tak terdengar orang-orang di sekitar.
Pak sopir yang tengah kehilangan anak majikan, langsung berlari mencari bocah tersebut.
"Non, non Clara!" Panggilnya.
Matanya teralihkan pada seorang anak kecil yang terjatuh. Bocah itu menangis sesenggukan karena lututnya terluka.
"Mommy ... daddy ... Rara jatoh," isaknya pelan.
"Nona!" Panggil Joni.
Pria paruh baya tersebut berlari kencang dan berhenti tepat di depan anak majikannya.
"Ayo kembali ke mobil non!" Ajaknya.
"Nggak mau! Itu mobil mommy dan Daddy pak!" Tunjuk bocah itu.
Clara kecil mencoba berlari lagi, sedikit lagi dia merasa bahwa orang tuanya sudah dekat.
Tiba-tiba ada suara ledakan terdengar. Namun, bocah itu masih tetap berlari seolah tidak tahu apa yang ada di depannya.
Sementara Joni terpana melihat asap hitam yang terbang ke langit tertiup angin. Banyak orang yang penasaran dengan kejadian itu.
"Ada apa ini?" Gumamnya.
Dia baru tersadar, pandangannya nyalang menatap sekitar mencari anak majikannya.
"Astaga tuh bocah cepet amat larinya," gerutunya.
Pria tambun itu menyusuri pinggiran jalan raya sambil berteriak-teriak memanggil Clara.
"Mobil mommy ... Mommy mobilnya ada api. Api, api," Clara menangis, dia menatap kobaran api yang menyala. Gadis cilik itu hapal dengan mobil si mommy karena ada stiker besar berbentuk kepala Barbie yang terukir namanya. Dia hendak berlari menuju kobaran api tersebut. Untung saja Joni langsung menggendong dan berlari menjauh dari kobaran api.
Kendaraan tersebut meledak untuk kesekian kalinya.
Clara meraung-raung meminta turun, dia ingin menyelamatkan ibunya.
"Non, nyonya sudah tidak bisa diselamatkan lagi," Joni terus saja berlari sampai mobil terlihat.
"Kita pulang non," Dia menurunkan Clara kecil dan memaksa masuk mobil.
Dengan segera mobil dikuncinya, sopir tersebut langsung mengendarai mobil dengan kencang.
Clara menangis kencang sambil berteriak memanggil ibunya. Sebelum sampai di rumah, gadis cilik itu tertidur karena terlalu lelah.
"Maaf non, seharusnya nona tidak melihat kejadian itu," perasaan menyesal menyelimuti Joni.
Rumah mewah ibunya Clara terlihat jelas. Mobil masuk ke rumah tersebut setelah pagarnya terbuka lebar. Joni menggendong Clara dan membawanya ke dalam.
"Bi ... tolong bawa nona ke kamarnya. Dia kecapean tadi setelah menangis karena terjatuh," Joni memanggil si bibi, pria itu berbohong.
Dia tak tahu harus berkata apa. Biarkan saja itu menjadi rahasia dirinya dan nona kecilnya itu. Joni berjanji tidak akan mengungkit kenangan pahit itu pada gadis malang tersebut.
__ADS_1
Clara menghela napasnya, kenangan itu tiba-tiba saja muncul. Ingatannya seolah berada pada masa lalu.
"Begitulah ingatanku tentang kecelakaan mommy. Aku tiba-tiba saja mengingat kembali setelah melihat kobaran api pada kap mobil tadi," Matanya masih sembab. Bekas air mata masih menempel jelas.
"Jangan diingat lagi! Ada aku di sini yang akan menjagamu!" Ervin berjanji.
"Besok pagi antarkan aku pergi ke kuburan mommy ya?!" Clara menatap wajah kekasihnya.
Matanya terlihat sendu. Baru kali ini Ervin melihat sisi lain pada kekasihnya yang keras kepala, galak dan semaunya sendiri. Ternyata, dalam jiwa kekasihnya tersimpan sebuah kesedihan yang mendalam.
"Aku akan mengantarkan kamu kemanapun," sahutnya sambil tersenyum.
"Kalau begitu kita pulang saja! Aku malas kalau mencium bau obat di sini," keluh kekasihnya.
"Belum aku ajak ke apotek lainnya udah bilang kalau anti bau obat," dengus Ervin.
"Kalau pake masker, aku mau kok pergi ke apotek kamu. Tadi, waktu di ruangan kamu tak ada bau obatnya," Clara mulai tersenyum.
"Itu karena aku memesan sebuah pengharum ruangan khusus. Aku juga agak pusing kalau kelamaan mencium bau obat. Kalau cium wanita di depanku ini malah lebih parah pusingnya," Ervin menggoda.
"Nggak usah mancing-mancing deh!" Clara mengerucutkan bibirnya.
"Wah udah ada kodenya nih, ya udahlah aku comot ya!" Ervin hendak mencium bibir Clara yang mengerucut.
Tapi, tubuh pria itu didorong dengan kuat oleh kekasihnya.
"Pulang! Jangan macem-macem!" Wanitanya mulai kesal.
"Gitu dong, ngambek lagi. Jangan nangis mulu! Nanti cantiknya ilang lho," Ervin menjawil hidung Clara.
"Udah malem sayang, kamu nggak bisa pulang kalau malam begini. Besok pagi ya kita pulangnya! Oh iya, tadi ada pak Frank kemari," Ervin tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
"Terus ... Daddy?" Matanya menyipit.
"Daddy kamu masih di kantor polisi. Makanya Frank disuruh kemari," jawab Ervin.
Suara ponsel membuat perhatian mereka teralihkan. Ervin merogoh kantong celananya.
"Aku pikir telpon jadul ini jatuh, ternyata masih nempel di kantong," gumamnya.
"Ada apa? Ada kabar?" Tanyanya pada suara di seberang telepon.
Clara mengernyit mendengar perkataan kekasihnya.
["Bos, kami sudah menyelidiki mereka berdua. Bos gak akan menyangka perbuatan mereka berdua di luar kantor."]
"Benarkah? Kapan kita bisa bertemu?"
["Apa aku kirim sekarang file rekamannya bos?"]
"Kalau kita bertemu besok siang, bagaimana? Kalian berdua harus memberikan informasi yang akurat. Aku harus melihatnya sendiri," seru Ervin.
["Besok kami usahakan bos, bos pasti tidak akan percaya ini semua!"]
__ADS_1
"Baiklah, besok siang kita bertemu di restoran Six Food. Sekalian aku akan memberikan bayarannya,"
Ervin memutuskan panggilan teleponnya setelah mendengar sahutan dari seberang telepon.
Senyumnya terkembang sempurna. Dia melirik wanita di sampingnya.
"Siapa sih?" Wanita itu penasaran.
"Besok siang kamu harus iku aku menemui mereka," Pria itu tak menjawab pertanyaan kekasihnya.
"Memangnya mereka itu siapa?" Wanita itu masih penasaran
"Besok saja deh yang, malam ini kamu tidurlah dengan nyaman!" Seru Pria itu.
Clara malas mendengar ucapan Ervin, dia berbaring dan memeluk guling disampingnya. Badannya memunggungi Ervin. Pria itu selalu bisa membuat emosinya berubah-ubah.
Ervin pamit keluar untuk menemui Frank.
"Pak, bagaimana kasus mbak Deli? Sudah ada petunjuk?" Tanyanya setelah duduk di sebelah Frank.
"Entahlah, tuan D tidak mau membahasnya denganku. Sepertinya dia mencurigai semua pekerjanya kecuali kamu," Sahut Frank mengendikkan bahu.
"Hah? Aku tak mengerti, kenapa harus aku?" Ervin bingung.
"Karena kamu tidak akan berani macam-macam dengannya. Secara tiga hari lagi kamu dan orang tuamu akan berembuk mencari hari baik untuk pertunangan anaknya," sahut Frank.
Ervin manggut-manggut saja, dia mengerti maksud tuan D.
Ponsel bergetar hebat, Frank merogoh kantong celana.
"Orang yang kita omongin nelpon nih!" Pria itu terkekeh.
"Panjang umurnya dia pak," balas Ervin tersenyum tipis.
"Ada apa tuan?"
["Saksi sudah pulang ke rumah masing-masing. Kamu harus menghubungi Toni dan meminta anak buahnya agar mengikuti kemanapun mereka pergi. Jangan sampai lengah Frank! Bisa jadi salah satu saksi berubah menjadi tersangka."]
"Baiklah bos, saya akan menghubungi mas Toni," sahut Frank.
Tuan D memutuskan panggilan.
"Geram aku sama pembunuh Delima, tak ada sidik jari di sana selain sidik jari korban," helaan napas Frank terasa berat.
"Dimana om? Di meja resepsionis?" Tanya Frank.
"Iya ... tak ada apapun selain sidik jari Delima," keluhnya.
Ervin mengingat kembali apa yang dilihatnya.
"Ah, ada om. Aku ingat sekarang," Ervin sontak berdiri.
*
__ADS_1
*
*Bersambung