Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 23 Musibah keluarga Royan


__ADS_3

"Serahkan semua harta kalian atau nyawa kalian melayang!" perampok bertopeng beraksi di halaman rumah Royan.


Entah kenapa kedua orang tuanya sudah pulang dan mereka saat ini menjadi sandera tiga orang perampok.


Ervin dan Royan langsung berhamburan keluar rumah.


Mereka mencoba untuk bernegosiasi dengan ketiga perampok, akan tetapi perampok tidak mengindahkan ucapan mereka.


Ervin dan Royan yang mempunyai ilmu beladiri tidak bisa berbuat banyak. Mereka tidak mau mengambil resiko karena perampok tersebut membekap mulut kedua orang tua Royan sembari mengacungkan pistol di udara.


"Bagaimana ini Roy? kita harus menyelamatkan ibu dan bapak mu dahulu!" Ervin menelisik sekeliling berharap ada celah.


"Kalian berdua sedang apa di sana? jangan macam-macam atau kepala kedua orang ini akan aku lubangi menggunakan pistol," salah satu perampok mengancam.


Ervin dan Roy menjauh perlahan. Mereka berdua menyingkir dari teras rumah dan menuju ke arah pohon besar yang terletak di pinggir kanan halaman rumah. Sementara perampok menggiring orang tua Roy agar masuk ke dalam rumah dan mengeluarkan harta benda yang mereka miliki.


"Bagaimana kalau kita laporkan ke polisi?" Ervin berbisik.


"Tidak, aku tidak mau orang tuaku kenapa-napa! biarkan aku yang menyelamatkan mereka," Roy bertekad.


"Kamu yakin? mereka bertiga memegang senjata api, bagaimana caranya satu orang tanpa senjata melawan tiga orang yang memegang senjata?" Ervin berpikir keras.


"Aku harus mencoba menolong mereka Vin, aku hanya punya mereka di dunia ini. Aku tidak ingin kehilangan mereka," Roy mengepal erat.


Suara orang-orang yang tadi ribut di luar pagar mulai meninggalkan rumah Royan. Mereka seakan tak peduli pada nasib kedua orang tua Royan yang menjadi sandera.


Sementara di dalam rumah, mereka berlima mulai terkikik geli melihat Ervin yang seperti orang kebingungan.


"Cepatlah kalian masukkan barang apapun! kami akan pergi dengan membawa harta kalian ini dan kalian berakting lah kesakitan karena sudah aku pukul, jangan lupa pakai make up warna biru keunguan agar akting kalian terlihat meyakinkan," salah satu perampok membuka topengnya.


"Sepertinya kita bisa untung besar, anak orang kaya," salah satu dari mereka terkikik geli.


"Shuutt! kalian berisik, nanti bisa terdengar, ini ambillah dan keluar sekarang juga!" bapak Roy melempar tiga buah tas pada perampok tadi.


"Kami akan pergi, tapi jangan lupa untuk berakting yang bagus!" mereka bertiga bergegas keluar lewat pintu belakang dan meninggalkan rumah Roy.


"Kenapa sepi sekali Roy?" Ervin yang masih berada di luar merasa penasaran.


Tiba-tiba pintu terbuka, seorang kepala wanita menyembul di balik pintu, wajahnya pucat dan tidak bisa berdiri tegak. Tubuhnya limbung terkulai di lantai yang dingin.


"Tolooong," ucapnya pelan sebelum matanya tertutup rapat.


"IBU..." Roy berlari mendekat.


Roy melihat wajah ibunya yang babak belur, dia pingsan tergeletak di lantai. Ervin dan Royan menggotong tubuhnya dan membaringkan tubuh itu di atas sofa.


"Mana bapak kamu Roy? lebih baik kamu mencarinya!" seru Ervin.

__ADS_1


Roy melangkah mencari keberadaan bapaknya. Ternyata tubuh bapaknya tidak jauh berbeda dengan kondisi tubuh ibunya.


"Di sini Vin, bapak ada di sini!" Roy memekik.


Ervin berlari menghampiri dan mereka menggotong tubuh pria paruh baya tersebut dan membaringkan tubuhnya ke atas sofa tunggal.


"Sialan, mana semua perampok itu? mereka sudah membuat orang tuaku begini," emosi Roy membuncah.


"Panggil Ambulans Roy, bawa mereka ke RS terdekat!" Ervin berseru.


Belum sempat Roy menjawab, ibu Roy mulai sadar.


Wanita paruh baya tersebut memicingkan mata dan mulai menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mengecek keadaan.


"Tante baik-baik saja? mananya yang sakit Te?" Ervin mencoba untuk mengelus rambut ibunya Roy.


"Aku sudah tidak apa-apa, hanya nyeri di bagian ini," wanita tersebut meraba kening yang lebam.


Royan menelusuri setiap sudut rumah namun anehnya tidak ada perampok tadi.


"Ibu, Bapak, kenapa kalian bisa babak belur begini? mana perampok itu?" Roy mengepal erat.


"Mereka kabur lewat pintu belakang setelah mengambil uang dan barang berharga kita nak," ibunya Royan mulai terisak.


"APA? jadi mereka berhasil merampok rumah kita Bu?" Roy mendadak lemas.


"Iya Roy, maafkan kami! kami tidak bisa berbuat banyak," sahut bapaknya.


"Maafkan kami nak! uang tabungan kamu untuk kuliah sudah di bawa pergi perampok," ibunya menunduk dalam.


"Jadi kamu belum kuliah Roy?" Ervin menyela.


"Belum Vin, aku ingin berkuliah tahun ini sembari menunggu panggilan dari perusahaan Light Grup. Jadi aku bisa berkuliah sambil bekerja," Roy menundukkan kepalanya.


"Maaf nak," bapaknya yang sudah sadar berseru.


Ervin berpikir keras untuk menolong sahabatnya yang sedang kesusahan.


"Bagaimana kalau kamu bekerja sementara di Apotek Papaku? beliau punya banyak cabang Apotek, siapa tahu ada lowongan untukmu," Ervin mendapatkan sebuah ide.


"Benarkah itu Vin? tapi kuliah aku bagaimana? sementara uangnya sudah tidak ada sama sekali," Roy yang duduk di lantai semakin tenggelam dalam kesedihan.


Maaf Vin, tapi kami hanya ingin tahu seberapa kaya kamu dan orang tuamu itu.


"Tenang saja! aku akan meminjamkan uang kepada kalian tanpa bunga sepeserpun dan kalian bisa melunasinya kapan saja," Ervin tersenyum lebar.


Dirinya tidak ingin sahabatnya mengalami kesusahan yang berlarut-larut.

__ADS_1


"Benarkah itu Vin, tapi maaf sepertinya aku tidak bisa membiarkan kamu memberikan pinjaman, biarkan aku yang mengurus masalah ini," kata Roy mantap.


"Tak masalah, selama aku bisa membantu aku akan menolongmu, jadi jangan paksakan diri untuk menolak niat baikku," Ervin menatap manik mata Roy.


"Tapi-," Roy belum menyelesaikan ucapannya.


"Benarkah itu nak? ibu bersyukur sekali karena ada orang yang ingin membantu kami," ibu Roy menyela dan meraih tangan Ervin.


"Iya Bu, kami teman dekat dan sekarang ini aku mampu untuk menolong Roy," Ervin tersenyum lebar.


"Kalau begitu berapa banyak uang yang ingin kalian pinjam?" Ervin mengeluarkan ponselnya.


"200 juta saja nak, sesuai uang yang dirampok tadi," bapak Roy menyahut.


Tanpa basa-basi Ervin meminta nomor rekening Bank yang aktif pada keluarga Roy. Setelah dirinya tahu barulah ia mentransfer uang itu.


"Maaf menyusahkan kamu Vin," Roy seperti menyesal.


"Tidak apa-apa, oh iya aku harus pergi, aku ada janji dengan teman lainnya, kalian bisa panggil dokter kemari dan memeriksa keadaan kalian!" seru Ervin.


"Iya nak, kami akan menghubungi dokter secepatnya," ibunya Roy tersenyum manis sekali pada Ervin.


Ervin pergi setelah berpamitan, dirinya langsung mengendarai motor besarnya dan keluar dari halaman rumah, Roy mengantarkan kepergian sahabatnya dan melambaikan tangannya pada Ervin, kemudian pagar rumah dia tutup kembali.


Di dalam rumah


"Bagaimana Roy rencana yang sudah bapak susun berjalan dengan lancar kan? hahaha," tawa bapaknya terdengar jelas.


"Hampir saja Ervin menghubungi polisi Pak," Roy bernafas lega.


"Kita harus bisa memanfaatkan temanmu itu, karena dia adalah anak dari seorang yang bapak benci, jadi kamu harus terus berpura-pura baik padanya," bapaknya menjelaskan.


"Terserah bapak dan ibu, Roy hanya bisa menjalankan perintah kalian berdua," Roy melangkah masuk ke dalam kamarnya.


"Maafkan aku Vin, aku tidak punya cara lain," lirihnya pelan.


"Kita harus membayar ketiga orang itu secepatnya agar mereka tutup mulut dan bisa diajak bekerja sama lagi Pak," seru ibunya Roy.


"Bu, bapak lupa kalau sebenarnya...


*


*


*Bersambung


Ervin dibohongi oleh temannya sendiri 🤧

__ADS_1


Kalau ketahuan apakah persahabatan mereka berdua akan lenyap begitu saja??


Ah episode masih panjang jadi please baca terus 😁


__ADS_2