
"Tidak mungkin Mimi ketabrak kan?" Nissa langsung berlari ke depan rumahnya.
Ada seorang gadis muda berjongkok ketakutan, kepalanya menunduk dalam.
"Hey, punya mata gak sih kalau menyebrang?" pekik seorang pengendara mobil yang menabrak pembatas jalan.
"Maafkan aku," Mimi masih ketakutan.
Nissa menghampirinya dan mengajaknya untuk menyingkir dari tengah jalanan.
'Untunglah jalanan masih sepi, kalau agak sorean pasti dia bisa ketabrak mobil lainnya,' batin Nissa bergidik ngeri.
Supir mobil keluar dan berkacak pinggang di depan mereka.
"Aku gak mau tahu, sekarang juga aku mau minta ganti rugi," matanya menatap nyalang.
"Tenang saja Pak, kami pasti ganti kok. Biar aku hubungi orangtuanya dulu," Nissa langsung menghubungi Evans.
"Hey, anak Daddy tumben menelpon?" Evans sumringah mendengar suara Nissa.
"Om, Mimi butuh bantuan. Kami sekarang ada di depan rumahku, Om sekarang juga harus ke sini," Nissa berkata ragu.
"Apa yang terjadi dengan kalian? ada apa sebenarnya ini?" ia yang duduk, sontak langsung berdiri.
"Kami baik-baik saja Om, pokoknya aku tunggu ya om secepatnya!" Nissa memutuskan panggilannya.
Nissa beralih memandang pria tadi dan menawarkan agar masuk ke dalam rumahnya.
"Sebentar lagi orangtua anak ini akan datang, mari pak kita masuk dulu!" ajaknya ramah.
Melihat Nissa yang ramah dan Mimi yang ketakutan, pria itu masuk ke dalam rumah di seberang jalan.
Pria itu dipersilakan untuk duduk di teras untuk menenangkan diri dan tak lupa Nissa menyuruh si mbok untuk menyediakan minuman.
"Mimi masuk dulu, nanti kakak mau tanya sesuatu," ia menyuruh Mimi duduk di sofa untuk menenangkan dirinya.
Mimi hanya mengangguk patuh, ia masih saja memikirkan hal yang menakutkan tadi.
"Dek, temenin Mimi dulu ya! kakak mau menemani tamu di teras," ia mengetuk pintu kamar adiknya.
"Males kak, aku banyak tugas," ia beralasan.
"Kalian berdua kenapa sih?" gerutu Nissa sebal dan turun dari lantai dua.
Setelah Evans datang dan Nissa serta bapak itu menjelaskan kejadian yang menimpa Mimi.
"Memang salahnya sih kalau dia langsung menyeberang apalagi sudah ada bunyi klakson sebelumnya," Evans lega karena anaknya tak kenapa-napa.
Setelah mengganti kerugian, pria itu pamit dan pergi meninggalkan kediaman Malik.
"Papa kamu mana?" Evans tak mendengar suara apapun di dalam sana.
"Papa sama Mama lagi chek up Om, mungkin agak sore baru mereka pulang," Nissa tersenyum kecil.
"Oh iya Daddy sampe lupa, mana sih si Mimi? kenapa dia malah gak kelihatan?" ia langsung berdiri.
__ADS_1
"Om masuk saja! dia ada di dalam kok," ia menyusul langkah Evans di depannya.
Evans masuk dan melihat anaknya yang masih duduk gemeteran, terlihat jelas bahwa anaknya masih ketakutan akan kejadian tadi.
"Kamu gak apa-apa sayang?" tanyanya khawatir.
"Daddy..." ia berlari memeluk erat ayahnya.
"Kita pulang sekarang sayang, semua sudah beres jadi kamu gak usah takut lagi ya!" ia mengelus rambut anaknya itu penuh dengan perasaan.
Ia berjalan pelan sambil dipapah oleh Evans.
"Daddy, aku mau bersekolah di Australia ajah. Aku kangen dengan Grannie," tiba-tiba anaknya itu membahas sesuatu yang sudah lama tidak dibahas.
"Memangnya kenapa? ada masalah? bukannya walaupun tidak bersekolah di sana kamu masih bisa pergi ke rumah grannie di sana?" Evans bingung dengan perkataan anaknya.
Selama ini anaknya pergi ke Australia kalau ia merindukan kakek neneknya di sana. Akan tetapi, perkataannya kali ini sungguh berbeda.
"Nanti saja aku ceritakan keinginan aku yang lama terpendam Dad," Jasmine memaksa untuk tersenyum.
"Lho, Om Evans sudah mau pulang? baru aku suruh bibi untuk masak," Nissa kecewa.
"Sepertinya kamu kangen dengan Daddy ya, makanya mainlah ke rumah." Ia mengelus pipi Nissa.
Evans tidak menyangka bahwa gadis di depannya itu sudah tumbuh menjadi seorang wanita yang cantik dan manis. Karakternya yang penyayang sama seperti ayahnya.
"Tugas menumpuk Om, dan aku juga harus merawat keluargaku," ia tersenyum lebar.
"Kak, aku pulang ya. Mungkin aku gak akan main ke sini lagi," Jasmine ragu untuk mengatakannya.
'Pasti mereka berantem deh, makanya Mimi gak mau kemari lagi.' Batinnya.
"Aku kan bentar lagi ujian kelulusan kak, jadi harus fokus dengan pelajaran dan harus mengurangi main," ia beralasan.
"Oh iya, kamu benar juga Mi, kalau begitu kakak saja yang main ke sana kalau ada waktu luang," ia tersenyum ramah.
"Daddy pulang ya nak," ia mencium pipi Nissa.
"Om Evans mulai genit," Nissa protes.
"Habisnya Daddy rindu ketika kamu kecil dulu, kamu menggemaskan," ia mengacak rambut Nissa.
"Tuh kan kusut deh," Nissa cemberut.
Sambil tertawa Evans melangkah pergi meninggalkan Nissa seorang diri.
"Kamu kenapa diem begitu honey?" Evans merengkuh pinggul anaknya.
"Males ngomong aja Dad," sahutnya.
"Lho, Daddy yang nyetir? aku pikir ada pak supir juga," ia masuk ke dalam mobil di samping ayahnya.
"Ayo kita pulang sekarang juga!" Evans langsung meluncur ke jalanan.
****
__ADS_1
Hari kelulusan sudah tiba, mereka bersuka cita dan merayakannya. Akan tetapi ada seorang gadis muda yang seolah bimbang akan keputusannya.
"Pokoknya aku harus sekolah di sana," gumamnya pelan.
"Kamu kenapa Mi? kenapa kamu menjauhi aku?" Ervin duduk di sebelah Jasmine yang termenung seorang diri.
Jasmine tak menggubris pertanyaan Ervin, ia beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan pria muda itu seorang diri.
"Apa salahku sangat fatal sehingga kamu gak mau berteman dan berbicara padaku lagi?" lirihnya seorang diri.
Esoknya hari yang ditunggu oleh Jasmine, ia ingin melupakan kenangannya bersama Ervin.
Kini saatnya Jasmine meninggalkan negara ini untuk belajar di negara tetangga tepatnya di Australia kampung halaman Ayahnya. Jasmine dan orangtuanya menunggu waktu keberangkatan di bandara internasional.
"Kamu harus patuh dengan aturan Grannie di sana! ingat jaga pergaulan kamu selama kamu berada di negara orang," Fatma menasehati anaknya.
"Moms, di sana bukan negara orang tapi negara asal Daddy," seketika bibir Mimi mengerucut.
"UPS, sorry honey. Moms lupa kalau Daddy kamu orang luar," ia terkekeh geli melihat reaksi suaminya yang melotot.
"Udahlah gak usah dibahas lagi," Mimi pura-pura kesal.
"Oh iya, kamu sudah pamit pada teman-temanmu? kalian gak akan ketemu lagi setidaknya dalam beberapa tahun kedepan," ia mengelus rambut anaknya yang pirang.
"Udah kok Moms, aku dapat banyak benda kenangan dari mereka," ia tersenyum lebar.
"Ervin? kenapa dia lama gak kelihatan?" Fatma penasaran.
"Moms, please ya gak usah bahas dia," Mimi terlihat malas.
"Eh, itu sudah ada peringatan. Ayo masuk sekarang juga sayang!" Evans menarik anaknya.
Panggilan suara untuk keberangkatan internasional sudah dekat, mereka mengantarkan anaknya.
"Hati-hati di rumah ya sayang, besok aku kembali," Evans memeluk istrinya erat dan menciumnya.
"Kalian juga berhati-hatilah dalam perjalanan," ia membalas pelukan suaminya.
"MIMI..." teriak seorang pria muda. Dia berlari sekencang mungkin.
"Siapa sih? teriak-teriak gak jelas begitu," Jasmine tak menghiraukannya. Ia masih saja berjalan dengan menggeret koper di tangannya.
Evans sekilas berhenti melangkah, akan tetapi anaknya tak peduli dengan suara yang memanggilnya.
Jadi ia mengikuti langkah anaknya dengan santai.
"Aku akan menunggumu pulang Mi," pemuda itu mengatur nafasnya yang memburu.
Ada seorang wanita mendekatinya dan tersenyum getir.
"Ternyata memang benar kalau kalian sebenarnya....
*
*
__ADS_1
Bersambung