
Langkah wanita itu yang memakai sepatu hak tinggi terdengar di telinga Frank yang tengah turun tangga. Pria tersebut mendongak dan melihat istri tuannya.
"Wanita parasit," ucapnya meremehkan.
Frank menghubungi anak buahnya yang berjaga di area gudang dan menjelaskan maksudnya untuk mengikuti kemanapun Ervin pergi ketika libur nanti.
Setelah kesepakatan sudah dibuat, pria kepercayaan tuan D tersebut kembali ke depan dan melihat pekerjaan dua orang yang tengah berkutat dengan rumput.
"JANGAN LUPA SIRAM SEMUA TANAMAN DAN POTONG DAUN YANG SUDAH KERING!" teriaknya pada mereka.
Kedua orang tersebut hanya pasrah mengangguk mengiyakan permintaan Frank.
Ervin dan Clara sudah berada di depan kantor. Seperti biasa pria itu melayani majikannya, dia membuka pintu mobil. Clara yang berjalan di depan menjadi pusat perhatian karena penampilannya di pagi ini tidak seperti biasanya. Setelan kerja yang wanita itu kenakan lebih feminim dari biasanya. Sementara Ervin juga tidak luput dari pandangan mata orang-orang. Setelan jas yang Frank pinjamkan padanya telah membuat penampilannya bak seorang CEO.
"Mana sarapanku?" tiba-tiba wanita itu menoleh ke arah Ervin.
"Aku lupa Non, sebentar aku ambilkan," supir itu bergegas kembali ke mobil.
Dia mengambil tas kain yang tadi dibawa oleh majikannya.
Dia kembali dan menenteng tas tersebut.
"Bawakan itu ke kantin, aku ingin duduk di sana!" Suruhnya.
Ervin mengangguk mantap, dia meninggalkan Nona mudanya yang tengah berhenti di depan meja resepsionis.
Pria itu melihat seseorang yang sepertinya dia kenal sebelumnya. Atau lebih tepatnya pernah dia lihat sebelumnya.
"Siapa ya? Sepertinya aku pernah melihatnya beberapa kali," gumam supir tersebut.
Tak lama Clara sudah berada di depannya. Clara mengalihkan pandangannya pada supir itu.
"Kamu lihat apa?" Clara merasa aneh karena tidak ada orang lain selain mereka berdua.
Dapur kantin terletak di bagian belakang dan tidak mungkin Ervin melihat bagian tersebut.
"Tadi ada pria yang duduk di bangku sudut sana Non, sepertinya aku pernah melihatnya," dia menunjuk sebuah kursi kosong.
"Itu kosong mas supir. Tidak ada orang lain selain kita berdua," ucap Clara.
Wanita itu mengenyakkan pantatnya pada kursi dan mengambil kotak makan di dalam tas yang Ervin bawa.
"Tadi ada, setelah kami saling berpandangan dia sudah pergi entah kemana," Ervin mengernyit heran.
"Mungkin orang yang numpang duduk," Clara menyahut.
Kemudian dia sudah disibukkan oleh makanannya. Dia tidak peduli pada Ervin lagi.
"Aku duduk di sini bolehkan, Non?" Tanyanya.
__ADS_1
"Duduk aja," jawab majikannya.
Mereka berdua terdiam dan fokus melahap makanan yang ada di depannya.
Sesekali Ervin melirik pada majikannya. Dia tersenyum puas melihat Clara yang tanpa malu-malu memakan sarapannya. Biasanya wanita yang mendekati dirinya akan menjaga image ketika mereka berduaan. Tapi wanita di depannya ini memang berbeda. Tidak salah kalau dia menaruh harapan pada wanita itu.
"Kamu pulang saja ya! Aku tidak usah di jaga. Pagi ini aku ada meeting penting dengan dewan direksi," serunya.
"Tapi Non, aku bisa kok berdiri di depan pintu ruangan meeting nanti," tolaknya.
"Pulang saja! Aku harus segera menyiapkan presentasi," Clara yang menyudahi sarapannya segera menenggak habis air putih kemasan yang sudah disiapkan oleh bibi.
"Baiklah," dia menjawab.
Clara tanpa basa-basi lagi langsung pergi meninggalkan Ervin seorang diri.
"Aku akan tetap di sini, terserah kamu suka atau tidak," Ervin tersenyum puas.
Dia menghabiskan sarapannya. Dan menaruh kotak bekas makanan di depannya ke dalam tas. Langkah kakinya mantap disaat menuju ke mobil.
Setelah menaruh tas tadi, ada seorang wanita yang berteriak ketakutan dan meminta pertolongan.
"Masih pagi ada-ada saja," ucap Ervin malas.
Dia bergegas melangkah ke arah keramaian.
Ada seorang pria yang memakai topeng tengah menyandera seorang wanita yang ia kenal.
"Mas, pria tadi mencari Nona Clara tapi mbak Deli tidak mengindahkan. Makanya mbak Deli disekap agar Nona Clara turun dan menemuinya," ada seorang wanita yang menepuk pundak Ervin dan bercerita tentang kejadian di depan mereka.
"Jadi pria itu sebenarnya mengincar Nona?" Mata Ervin terbelalak tidak percaya.
Wanita tadi mengangguk saja dan badannya terasa lemas, terlihat jelas dari raut wajah yang sudah pucat. Wanita itu khawatir dengan keadaan Deli yang di bekap oleh pria di depannya.
"Cepat hubungi Nona agar dia tidak turun, nyawanya bisa terancam. Aku akan menghubungi polisi," Ervin meminta pada wanita di sampingnya.
Ervin ke depan dan menjelaskan keadaan di dalam pada dua sekuriti.
"Bapak jangan gegabah dulu. Pria itu membawa pisau lipat dan menyandera mbak Deli," Ervin menenangkan kedua pria tersebut.
Mereka mengangguk dan masuk tanpa aba-aba. Sementara Ervin menghubungi polisi.
Bukannya tidak mau menolong Deli, tapi dirinya masih masih memikirkan sebuah rencana agar pria itu bisa melepaskan Deli tanpa ditemui oleh Clara.
Setelah menghubungi polisi, Ervin kembali masuk ke depan resepsionis yang dikerumuni oleh karyawan lain.
"Sebaiknya kalian masuk ke divisi masing-masing. Biar aku yang akan mengurus pria itu," seru Ervin pada mereka.
Satu persatu mereka melangkah pergi meninggalkan tempat kejadian.
__ADS_1
"Mas, ayo kita bicarakan baik-baik. Tadi saya sudah menghubungi Nona Clara. Dia akan turun kalau sandera dilepaskan," Ervin beringsut mendekati pria tadi.
"Bohong, kamu pasti bohong," pekiknya sambil mengacungkan pisau.
"Kalau tidak percaya aku akan menghubungi Nona," Ervin merogoh kantong dan mengeluarkan ponsel jadul miliknya.
Ervin mengeraskan suara agar pria tersebut mendengar perkataan Clara.
["Ada apa? Kenapa menghubungiku? Aku tengah sibuk sekarang,"]
["Ada yang ingin berbicara dengan Nona empat mata, sebaiknya Nona turun sekarang juga!]
["Siapa yang ingin berbicara denganku? Berikanlah ponsel ini padanya biar sekarang ini aku akan menanyakan apa yang dia mau!"]
["Sebaiknya nona turun sekarang juga ini penting sekali,"]
["Baiklah aku akan turun sekarang juga. tunggu aku di sana. Tapi ingat sandera harus dilepaskan dahulu oleh pria itu. Aku tidak mau peristiwa ini mengundang perhatian media,"]
["Iya Nona, saya sudah menjelaskan pada pria ini,"]
Ervin tersenyum dengan lebar, dia menatap pria yang sedang menyandera Deli.
"Bagaimana sekarang? Apa kamu sudah percaya?" Ervin bersedekap.
Sebelum menghubungi Clara, supir itu sudah membuat rencana dan mengirimkan sebuah pesan teks pada majikannya. Clara setuju dengan rencana Ervin.
Ervin harus mengulur waktu untuk menunggu kedatangan polisi.
Deli di dorong oleh pria tadi, Clara baru saja keluar dari pintu lift. Dia melangkah dengan santai seolah tidak peduli pada kehadiran pria tersebut.
Ervin menarik lengan Clara agar majikannya tidak jauh dari dirinya. Dia juga bisa mengawasi majikannya tersebut.
"Nah, apa aku bilang. Sekarang nona ada di hadapan kamu, jadi buang jauh-jauh pisau itu! Kalian bisa berbincang berdua saja. Aku akan pergi kalau kamu sudah membuang pisau itu," Ervin merasakan hawa kemenangan.
Pria itu memutar mata dengan malas dan melempar pisaunya. Dia kemudian melepaskan topeng karet hitam yang melekat di wajahnya.
"Jadi kamu? Kamu selalu saja membuat masalah," Clara mendelik melihat pria itu.
"Kamu sudah berjanji Ra," tagihnya.
"Nona," Ervin menyenggol pelan lengan Clara.
Mau tidak mau Clara menuruti kemauan pria tadi sebelum masalah semakin runyam.
Belum sempat Clara mendekat, pria itu tersenyum licik dan menyambar lengan Clara dengan kasar.
"Lepaskan!" Pekik Clara.
*
__ADS_1
*
*Bersambung