
Malik langsung memberikan ponselnya pada Ervin.
Ervin tersenyum lebar karena menang dari ayahnya.
"Iya pak, maaf tadi bukan saya yang menjawabnya. Tapi orang lain, tunggu di bawah ya pak!" Ervin melangkah pergi meninggalkan meja.
Semua orang hanya menatap kepergiannya.
"Itu anak nggak betah sepertinya," Elisa meratap.
"Sabarlah! Menghadapi anak keras kepala butuh waktu lama agar dia bisa berubah, setidaknya sedikit," Fatma mengelus telapak tangan Elisa.
"Bagaimana ini pa? Jadi 'kan ya Ervin dijodohin sama Mimi?" Nissa bertanya sengaja mengeraskan suaranya.
"Nissa!" Pekik Malik dan Elisa bersamaan.
"Kenapa? Nanya aja kok," Nissa terkekeh geli.
Dia memasukkan anaknya pada kursi bayi yang tersedia karena putrinya tidak rewel lagi.
"Jadi, sepuluh hari lagi mereka akan bertunangan. Lebih cepat lebih baik. Bagaimana Vans?" Malik menatap sahabat sekaligus saudara kandung baginya.
"Kita ikut aja, lebih cepat lebih baik," Evans menambahkan.
Selesai makan malam, mereka bercengkrama.
Sementara Ervin sudah memegang sebuah perekat yang dia dapatkan dari pak kurir barusan. Dia melihat pramusaji yang tadi.
"Mas! Sini!" Ervin melambaikan tangannya.
"Sudah bisa dipasang sekarang mas?" Tanya Ervin setelah pramusaji tersebut mendekat.
"Bisa, nanti saya antarkan yang ini dahulu. Pesanan mereka banyak mas. Mas tunggu di sini aja dulu," Pramusaji tersebut berlalu pergi.
Pramusaji tersebut mencoba mencari celah untuk melakukan aksinya setelah ini. Dia harus meletakkan di bawah kursi kosong yang ada di pinggir si wanita dewasa.
Dia segera menyajikan makanan di atas meja dan kembali menghampiri Ervin.
"Ini ponselnya, klik perekam suara ini ya mas! Jangan sampai ketahuan! Mereka berdua berniat jahat," Ervin mencoba menjelaskan.
"Setelah tugas selesai, kita bertemu di toilet pria. Di sana aku akan memberikan tip," Ervin menepuk pundak si pramusaji.
Pramusaji tersebut melaksanakan perintah dari Ervin. Dia mencoba mengulur waktu untuk membetulkan tali sepatunya yang sengaja dilepas.
"Huh, berhasil," batinnya senang.
__ADS_1
Pramusaji tersebut mengembalikan nampan hidangan. Setelah itu dia ijin pergi ke kamar mandi. Rekan kerjanya yang lain tak ada yang tahu dengan kejadian tadi.
"Untung besar," lirihnya sumringah.
Ervin menunggunya di pintu toilet depan. Setelah bertemu dia langsung memberikan beberapa lembar uang pecahan 50 ribu.
"Terimakasih banyak mas," Matanya berbinar melihat uang yang dia pegang. Uang tersebut langsung di kantonginya.
"Nanti setelah mereka pergi langsung ambil ponsel tadi ya mas!?" Serunya.
"Siap laksanakan mas," si pramusaji bergegas pergi meninggalkan Ervin di Depa pintu toilet.
"Ervin, ngomong sama siapa kamu?" Evans tiba-tiba saja muncul dari balik pintu.
"Tadi nelpon om, sekarang udahan nelponnya," Ervin tersenyum singkat.
Mereka berdua kembali naik ke lantai atas untuk berkumpul kembali. Jam sudah hampir tengah malam, mereka berniat pergi dari sana setelah Ervin berhasil dipaksa oleh keluarganya agar menyetujui pertunangan ini. Keluarga Evans dan Nissa sudah kembali ke rumahnya. Sementara Ervin pamit sebentar pada kedua orang tuanya yang sudah berada di dalam mobil. Dia mencari tahu keberadaan pramusaji tadi. Dia melihat kursi yang diduduki oleh Firda sudah kosong, piring bekas makan mereka pun sudah bersih.
"Kemana dia?" Ervin kebingungan menatap sekeliling.
"Mas," panggil seseorang sembari melambaikan tangan.
"Nah, itu dia," Ervin berucap lega.
"Maaf ya mas, banyak tugas di belakang tadi. Ini ponselnya," Pria itu menyerahkan ponsel pada Ervin.
"Aku akan merusak rencana kalian. Kalian salah telah bermain-main denganku," Ervin melangkah pergi meninggalkan si pramusaji.
"Lama banget sih Vin!" Gerutu Elisa yang tidak sabaran.
"Sorry mam, toiletnya antri," ucapnya beralasan.
Mobil melaju kencang memecah belah jalanan malam. Hari ini perasaan Ervin campur aduk, disatu sisi dia harus menyetujui permintaan orang tuanya. Di sisi lain dia tidak mau meninggalkan Clara yang dia cintai. Mereka bilang bahwa cinta akan datang seiring waktu karena mendengar Ervin yang beralasan tidak mencintai Jasmine makanya dia menolak keras pertunangan tadi. Tapi kalimat demi kalimat nasehat yang membuat telinganya panas akhirnya terpaksa mengiyakan.
Mereka sudah sampai di depan rumah, semua penghuni rumah masuk dan naik ke lantai dua serta masuk ke kamar untuk beristirahat. Malam ini ternyata menguras tenaga dan pikiran mereka semua.
Ervin yang sudah berada di kamarnya langsung mengunci pintu. Dia masuk ke kamar mandi setelah berganti baju, dia duduk di atas kloset yang tertutup seraya mendengarkan rekaman tadi.
"Kita lihat saja nanti, apakah rencana kalian itu berhasil atau tidak," Ervin menyeringai lebar. Dia sudah tahu apa yang direncanakan oleh Firda.
"Kalian pikir aku bodoh dan naif?" Ervin tertawa mengejek.
Pria itu kemudian keluar dari kamar mandi dan mengambil ponsel lamanya untuk menghubungi Clara.
["Mas Ervin, aku dari tadi nelpon tapi nggak aktif."] Clara menggerutu kesal, terdengar jelas suaranya yang agak meninggi.
__ADS_1
"Maaf sayang, aku tadi ada di restoran. Mama dan papa mengajak makan di luar," jawabnya jujur.
Jujur namun tak sepenuhnya.
["Mas, kamu tahu nggak kalau Royan karyawan kamu dulu sekarang menjadi sopir aku?"] Clara merasa kesal dengan keberadaan Royan di rumah ini.
"Tentu saja aku tahu, setelah kita bertemu di kamar mandi emall. Aku melihatnya di belakangmu dan mengikuti kamu," Sahut Ervin.
["Dia kenal dengan wanita yang mendekati mas Ervin waktu kita berdua berbelanja dulu. Sebelum acara pertemuan dua keluarga dulu itu."] Clara mengingatkan.
"Siapa? Wanita mana? Aku tidak ingat," Ervin tidak mengingatnya.
["Itu, cewek sinting yang bilang kalau kamu itu calon suaminya."]
"Cewek sinting? Jasmine?" Ervin menjawab spontan.
["Hah? Siapa mas? Jasmine? Siapa itu?"] Clara curiga, wanita itu baru pertama kali mendengar nama Jasmine.
"Nama cewek yang kamu maksud bukan dia?" Tanya Ervin memastikan. Sepertinya Ervin telah salah menyebut nama.
["Bukan mas, kalau tidak salah ada Tan, Tan gitu. Entahlah lupa."]
"Owh Tania maksud kamu? Cewek nggak waras dia itu," Cecar Ervin.
["Iya Tania mungkin, si Royan kenal dengan Tania. Mereka berbincang di parkiran mobil ketika aku mengikutinya. Sepertinya mereka akrab. Mas harus mencari tahu tentang hubungan mereka! Aku curiga mas."] Nada suara Clara terdengar khawatir.
"Tidak usah pedulikan mereka! Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak! Jangan sampai mereka mengganggu pikiran kamu sayang! Sekarang kamu tidur ya!"
Ervin mulai menguap.
["Ih belum juga sejam ngobrolnya."] Clara merajuk.
Suara ketukan pintu di kamar Clara membuat panggilan telepon mendadak terputus. Clara menyembunyikan ponsel itu.
"Siapa di luar?" Tanyanya belum membuka pintu.
Hatinya ragu.
Tak ada sahutan, namun pintu tetap saja di ketuk secara berulang-ulang.
"Siapa sih? Ganggu orang aja!" Gerutunya kesal.
Clara membuka pintu dengan kasar dan melihat orang di ambang pintu yang sedang bersedekap.
*
__ADS_1
*
*Bersambung