Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 32 Adu Mulut


__ADS_3

"Dia itu menggunakan kepercayaan yang diberikan oleh Bos sembarangan. Baru satu hari ulahnya udah buat kepala aku sakit Bos, apalagi kalau berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan," Jefrey mengeluh pada Ervin.


"Aku akan menanyakan itu padanya langsung!" Ervin jengah mendengar perkataan karyawannya.


"Jangan Bos, nanti dia malah mengelak. Lebih baik Bos pergoki dia saja dengan datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan!" usul Jefrey.


"Terserah nanti! aku masih ada pekerjaan di sini. Kamu harus mengurus Apotek selama aku tidak ada di sana! mengerti kamu?!" Ervin langsung memutuskan panggilan teleponnya.


"Pusing amat jadi aku, semuanya tidak berjalan dengan lancar," Ervin menghela nafasnya dengan panjang. Dia kemudian menghembuskannya perlahan.


Ervin berpikir sebaiknya menemani Clara di ruangannya. Dia teringat pesan tuan D yang terang-terangan agar dia menjaga anaknya dari bahaya. Dia keluar dari mobil dan melangkah ke dalam lobi.


Tap... tap... tap


Suara langkah kaki menghampirinya dari belakang.


Ervin menoleh karena penasaran dengan asal suara.


"Aku pikir kamu belum sampai, kemana saja? tadi aku telpon Daddy dan dia bilang kamu udah keluar rumah," gerutu Clara.


"Maaf Non, saya tadi ada di dalam mobil dan baru saja keluar. Nona udah selesai dengan pekerjaannya?" Ervin menjawab sembari tersenyum lebar.


"Udah, barusan aja beres. Aku pikir bakalan lama, tapi ternyata bisa cepet aku kuasai," jelas Clara dingin.


"Kalau begitu mari kita masuk ke mobil Non," Ervin mempersilakan Nona mudanya untuk melangkah dahulu.


"Tunggu dulu! kamu berkelahi ya? kenapa kening kamu lebam begitu?" Clara memandangi wajah pria di depannya.


"Owh ini hanya jatuh terjungkal tadi Non, jangan khawatirkan saya!" Ervin tersenyum lebar.


Kalau dia khawatir berarti dia mulai memperhatikan aku. Ah, baru hari pertama bekerja tapi dia sudah seperti ini. Begitu perhatian. ( Ervin )


"Siapa juga yang khawatir? aku tidak mau kamu membawa masalahmu ke tempat kerja," Clara berdecak dan melangkah menjauh dari Ervin.


"Ternyata aku salah sangka," lirihnya kecewa.


"Tapi tidak mengapa Ervin, kamu harus bersemangat karena dia memang harus menjadi milikmu," Ervin menyemangati diri sendiri.


"Hei! mau pulang atau tidak?" pekik Clara.


"Maaf Nona," Ervin setengah berlari dan menyusul Clara.


Mereka sudah duduk di tempatnya masing-masing. Tidak ada perbincangan yang terjadi antara keduanya. Suasana terasa canggung bagi Ervin. Dia tidak tahu apa yang harus diperbincangkan. Selama hampir setengah jam di jalanan, akhirnya rumah mewah berpagar silver terlihat. Ervin langsung masuk setelah sekuriti membuka pagar otomatis.

__ADS_1


Clara keluar dan mulai melangkah pergi. Tapi Ervin yang memanggilnya menghentikan langkahnya.


"Nona, pekerjaan saya hari ini sudah selesai. Saya harus pulang sekarang. Besok saya kemari lagi," Ervin tersenyum dengan manis.


"Kenapa harus laporan? memangnya aku peduli?" sahutnya jutek dan berlalu pergi.


Ervin mengusap dadanya mendengar perkataan Clara. Dia masuk dan meletakkan kunci di tempatnya. Dia merogoh tas pinggang untuk mengambil kunci motor. Dia berjalan di pinggir taman tempatnya memarkirkan kendaraannya. Bodyguard tuan D yang sedang berjaga di teras depan acuh dengan keberadaan Ervin.


Dengan cepat Ervin pulang ke rumahnya. Dia belum sempat menghubungi Jeffrey dan Royan.


Sesampainya di rumah, banyak pertanyaan yang harus dia jawab. Mulai dari wajahnya yang memar dan lebam. Aktivitasnya di Apotek apa saja. Dan makan siangnya juga ditanyakan oleh ibunya.


"Please Mam, aku tuh udah besar. Berhenti terlalu khawatir dengan kehidupan aku," Ervin tidak menjawab satu pun pertanyaan Elisa.


"Tapi Ervin, kamu itu tetap anak kesayangan Mama. Jadi Mama harus tahu apa yang kamu lakukan di luar sana. Apalagi wajahmu memar begitu," Elisa berdiri dan menghampiri anaknya yang keras kepala.


"Ervin capek Mam, aku butuh istirahat," Ervin melangkah pergi.


Dia meninggalkan Mamanya yang berdiri termangu. Sementara Malik baru saja keluar dari kamar setelah selesai mandi sore.


"Kamu kenapa sayang? kok lesu begitu wajahnya?" Malik menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang.


"Udah deh Mas! aku capek dengan kelakuan anak kita," Elisa menguraikan pelukan Malik dan melangkah pergi.


"Duduk ajah disana! aku mau mandi dulu," Elisa masuk ke kamarnya.


"Dih, kalau gitu tadi mandi bareng ajah sayang," pekiknya pada Elisa yang sudah berada di balik pintu kamar.


Ervin yang sudah berada di dalam kamarnya termenung seorang diri di depan cermin sambil melihat wajah tampannya.


"Udah tampan begini tapi tetep ajah dicuekin, mana ototku juga udah berisi," keluhnya seorang diri.


Dia melakukan ritual sorenya dan melupakan sesuatu hal yang penting.


Sementara Jefrey masih harus berkutat di depan layar komputer untuk mendata ulang obat-obatan yang masuk. Kerjaan yang dibuat Royan tidak sesuai dengan data aslinya.


"Seharusnya gaji aku doubel nih," gerutunya seperti tidak ikhlas.


Selesai dengan pekerjaannya, Jefrey menghubungi Bosnya karena dia ingin segera pulang.


"Kenapa Jef?" Ervin menjawab panggilan telepon.


"Bos, aku mau pulang Bos, pekerjaan sudah beres semuanya. Aku berdua dengan Robi di ruang data," tutur Jefrey.

__ADS_1


"Baiklah kalian pulang saja! pastikan gudang dan semua tempat terkunci rapat!" perintahnya.


"Siap Bos, jangan lupa uang lemburnya untuk kami," Jefrey meminta haknya.


"Kamu tenang saja! selama kamu menuruti semua perintah aku! masalah uang jangan dipikirkan!" Ervin menutup panggilan telepon.


Jefrey menatap Robi dengan datar karena bosnya langsung memutuskan panggilan begitu saja.


"Bos kamu kok gini amat Rob?" Jeffrey mengeluh.


"Bos kesayangan kamu itu," cibir Robi beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Jefrey seorang diri.


"Tunggu aku bego!" Jeffrey menyusul langkah Robi.


Ervin yang masih memikirkan kembali tentang pekerjaan barunya merasa galau dan tidak tenang.


"Apa sebaiknya aku mengganti smartphone ya? kalau pakai smartphone merek Rambutan ini pasti mereka tahu kalau aku orang berduit," dia menatap ponselnya.


Seharian di rumah Clara, Ervin memang tidak mengeluarkan ponselnya.


Dia menghubungi seseorang yang bisa membantunya.


Ervin memesan sebuah ponsel lama dan baju yang agak ketinggalan jaman. Dia harus menyesuaikan penampilannya dengan kondisinya di saat menjadi seorang supir agar penyamarannya tidak terbongkar.


Dia keluar setelah mendengar panggilan dari Elisa yang menyuruhnya untuk makan malam. Setelah makan malam yang singkat, dia langsung masuk ke kamarnya kembali dan mulai mengecek ulang pekerjaan Jefrey. File yang dikirim Jefrey sedari tadi sudah masuk ke email khusus untuk data obat.


Setelah selesai, dia menghubungi Royan. Masih terdengar nada sambung tanda ponsel belum di jawab oleh pemiliknya. Beberapa kali Ervin menghubungi, namun Royan belum menjawabnya.


Ervin mencoba kembali, dan akhirnya ada suara terdengar di ujung telepon sana.


"Royan, kamu kemana saja? gimana tadi kerja di Apotek? gampang kan?" Ervin mencecar pertanyaan.


"Ini nak Ervin kan?" sahut suara seberang.


"Lho, Royan kemana Tan?" Ervin heran karena suara seorang wanita yang menjawab panggilannya.


"Royan nak, dia itu setelah pulang dari apotek tingkahnya aneh," nada suara cemas terdengar.


"Aneh bagaimana Tan?" Ervin mulai khawatir dan lupa dengan interogasinya.


"Royan dia....


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2