
Ervin meraih tangan Clara dan menempelkan telapak tangan wanita tersebut pada dada bidang miliknya.
"Dengarkan detak jantungku!" Pintanya.
"Jantung ini berdebar kencang setiap berada di dekatmu," Pria itu tersenyum tipis.
Clara masih terdiam, dia hanya bisa menatap manik mata supirnya. Sedari tadi matanya tak berkedip karena terpana oleh sikap si supir. Clara merasa terhipnotis oleh ucapan dan sentuhan Ervin.
"Bagaimana? Kamu percaya kan sekarang?" Pria itu tersenyum lebar.
"Tidak mungkin aku percaya. Itu hanya akal-akalan kamu saja supir sialan!" Clara menarik tangannya yang menempel di dada Ervin.
"Percayalah padaku, inilah alasan kenapa aku menjadi supir di rumahmu. Aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama kalinya padamu Clara Adeline," Ervin meraih kedua tangan majikannya.
Dia kemudian mengecup tangan itu bergantian.
"Ih apaan sih," Clara bersemu merah.
Egonya telah berganti. Wajahnya kini seperti orang yang sedang dilanda asmara.
"Aku mencintaimu Clara, apakah kamu juga mencintaiku?" Ervin sudah tidak bisa lagi membendung perasaannya.
Ini adalah momen yang tepat untuk mencurahkan isi hatinya.
"Tentu saja aku tidak mencintaimu," jawab wanita itu sambil memalingkan wajahnya.
"Benarkah?" Ervin menoel dagu majikannya.
Clara tidak merespon ucapan Ervin. Wanita itu berkecamuk di dalam hati dan benaknya.
"Parah, kenapa aku bisa meleleh seperti ini? Apa istimewanya supir itu?" Batinnya berkecamuk.
Ervin memperhatikan reaksi Clara yang mulai tidak nyaman. Dengan berani dirinya mendekati wajah nona mudanya.
Wajahnya mendekat sedikit demi sedikit, wanita itu tidak bisa menghindar. Ervin mengelus bibir Clara dan melahapnya secara tiba-tiba. Entah kenapa Clara tidak bisa menahan hasrat dalam diri. Wanita itu terbuai oleh ciuman si supir dan malah membalasnya.
Ervin serasa berada di atas awan. Mereka berdua saling *****4*, menc3cap dan mengulvm. Ini pertama kalinya Ervin mencium wanita yang ia cintai.
Wajah mereka berdua memanas karena hasrat. Tangan Ervin mulai berani membuka handuk kimono majikannya, menelusuri dan mengelus benda kembar itu bergantian. Clara tidak bisa menghentikan tindakan Ervin, karena tidak bisa dipungkiri dia menyukai ini semua.
"Ah ...." lenguhan Clara terdengar merdu di telinga pria itu.
Ervin semakin berani, pria itu mengurai ciumannya dan berpindah tempat pada salah satu benda kenyal yang terdapat pucuk berwarna merah kecoklatan.
Pria itu memainkan pucuk Clara dengan buas. Clara gemetar karena hasrat yang meluap. Ervin bergantian memainkan benda kembar tersebut sampai si empunya merintih keenakan. Bibirnya pun ikut aktif memainkan pucuk benda tersebut.
Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu. Keduanya terdiam dan saling berpandangan.
__ADS_1
Clara seakan sadar dengan apa yang sudah mereka lakukan. Dengan cepat dia mendorong tubuh kekar Ervin dan berdiri tegak. Dia merapikan penampilannya di cermin yang menempel di meja rias.
"Non ... makan malamnya sudah siap nih. Ayo kita turun!" Ajak suara di depan pintu yang tak lain dan tak bukan adalah bibi.
"Iya bi, sebentar lagi aku turun," sahut Clara dari dalam kamarnya.
Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Dia tak berani menatap wajah supirnya.
"Kenapa? Mau aku lanjutkan?" Ervin menggoda.
"Supir sialan, pergi kamu dari sini!" Usirnya.
Clara berdiri menjauh dari tubuh Ervin. Pria itu semakin senang menggoda majikannya. Dia membuka kaos yang dipakai dan melemparkan kaos tersebut di atas tempat tidur.
"Mau aku lanjutkan atau kamu yang melanjutkannya?" Senyumnya menggoda Clara.
Clara menelan ludahnya, badan Ervin yang berotot membuatnya menahan napas.
"Pergi dari sini atau aku panggilkan om Frank!" Serunya.
"Jawab dulu pertanyaanku tadi!" Ervin mendekat perlahan. Clara mundur dari hadapan Ervin namun ternyata dia terjebak di dalam kungkungan pria itu. Badannya menempel di tembok.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu," ucap wanita itu.
"Hem, benarkah? Apa aku harus menyentuhmu lebih jauh lagi agar kamu mau mengakuinya?" Ervin memprovokasi majikannya.
"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Aku harus berganti baju dan turun makan malam," Clara hendak keluar dari kungkungan badan supir.
"Tunggu dulu, aku belum selesai," Ervin menempelkan hidungnya dengan hidung Clara. Napas mereka saling beradu.
"Kamu kenapa begini sih?" Clara mencoba menjauhkan wajahnya namun pria itu tidak tinggal diam.
Pria itu kemudian mencium seluruh wajah Clara. Clara terbelalak dan hanya bisa pasrah karena dia sebenarnya menyukai sentuhan Ervin. Setelah itu supir tersebut berhenti menciumi wajah Clara.
"Aku akan keluar sekarang. Selamat menikmati makan malam wanita yang aku cintai," senyum Ervin terkembang, ia mengambil kaos kemudian memakainya. Pria itu berjalan kemudian membuka pintu dan keluar dari kamar nonanya.
Supir itu tersenyum tipis. Dia sudah bisa membuat majikannya merasa terbang ke angkasa
Langkah kaki Ervin terhenti sebelum menuruni tangga.
"Ngapain kamu di kamar Clara?" Tuan D bersedekap dan menatap wajah Ervin yang sepertinya bahagia.
"Owh saya hanya meminta maaf pada nona, itu saja tuan." Senyumnya merekah, pria itu kemudian pamit dan menuruni tangga.
"Anak itu mulai berani masuk ke kamar Clara, apa aku harus menghubungi orang tuanya agar rahasia yang selama ini disembunyikan terbongkar?" tuan D berpikir keras.
"Daddy ...." Clara yang sudah berganti baju menyapa ayahnya yang tengah berdiri mematung.
__ADS_1
"Kenapa supir itu bisa masuk ke kamarmu? Apa yang kalian lakukan?" Tanyanya.
Clara terkesiap mendengar pertanyaan ayahnya. Bibirnya kelu tak mampu berkata-kata.
"Kamu menyembunyikan sesuatu pada Daddy?" Selidik tuan D.
"Tentu saja tidak," jawab anaknya cepat.
"Sayang, ayo kita turun!" Firda istri ayah Clara tiba-tiba saja muncul dan menggamit lengan ayahnya.
Tuan D menghela napas dan melangkah turun dari lantai dua. Clara bisa bernapas lega. Dia kemudian menyusul langkah ayahnya.
"Selamat, ini semua gara-gara Ervin. Awas aja nanti," geram wanita itu yang berkata lirih.
Sementara Ervin yang masih merasakan sentuhan bibir Clara sudah berada di rooftop. Dia tersenyum puas sambil memandangi bintang-bintang yang bertaburan di langit malam.
"Sebentar lagi aku bisa memiliki kamu seutuhnya. Barulah aku akan mengakui siapa aku sebenarnya," gumam pria itu yang masih mendongak menatap langit.
"Apa katamu?" Seseorang yang dia kenal menghampiri.
"Owh tidak ada apa-apa kok," sahutnya santai, menoleh ke arah pria di samping.
"Sepertinya kamu memang diperlakukan khusus oleh tuan D dan Om Frank," pria tersebut tersenyum sinis.
Raut wajahnya menampakkan kebencian terhadap keberadaan Ervin yang selama ini menjadi pusat perhatian tuan rumah.
"Tidak ... itu hanya perasaan kamu saja," sahut supir itu malas meladeni.
"Bohong, aku tahu apa yang kamu bicarakan dengan om Frank. Kamu pasti disuruhnya mengantarkan barang spesial tuan D, kan?" Tebak pria tersebut.
"Tentu saja bukan aku," Ervin tidak ingin mengakui.
"Jujur saja, dulu aku pernah diperlakukan spesial oleh tuan D dan Om Frank. Tapi sekarang, kamu lihat sendiri kan aku masih saja bertugas di rumah ini. Aku pikir kamu juga pasti akan bernasib sama denganku," cibir pria itu.
"Tentu saja berbeda, aku kan sebenernya anak orang ..." Ervin tidak melanjutkan ucapannya.
"Apa maksudmu?" Tanya pria itu penasaran.
"Ada yang aneh dengan supir ini," batinnya bertanya-tanya.
Suara alarm rumah berbunyi nyaring membuat mereka berdua berpandangan dan terbelalak lebar.
"Pasti ada masalah!" ucap pria itu. Mereka berdua turun dari rooftop dengan terburu-buru.
*
*
__ADS_1
*Bersambung