
Frank terbelalak, dia melihat seorang wanita yang tidak ia kenal berada di depan pintu ruangan. Wanita itu sepertinya masih kebingungan mencari pintu asli.
"Kenapa dia bisa kemari? Siapa yang memberi tahu dia tentang tempat ini?" Frank curiga dengan Ervin.
Karena Ervin sampai saat ini belum sampai juga.
"Kalian berhati-hati! Bisa jadi dia membawa orang suruhan atau siapapun itu." Frank menyuruh salah satu dari anak buahnya untuk berjaga-jaga.
Terdengar Tania menggerutu, "Mana sih itu Roy? GPS-nya terlacak di sini. Tapi, orangnya gak nongol juga," Tania berkacak pinggang. Wanita itu menatap sekeliling yang diterangi cahaya lampu redup. Dia berusaha membuka beberapa pintu, namun hasilnya zonk. Dia belum berhasil menemukan pintu yang sebenarnya.
"Bos ...saya mendengar ocehan wanita itu. Dia menyebutkan nama Roy dan GPS," seorang pria yang menjaga pintu memberikan informasi.
"Owh, jadi dalangnya wanita laknat itu. Mereka bekerja sama. Kalau begitu kamu tangkap dia! Tapi, jangan gegabah bertindak! Selidiki dulu ada orang lain atau tidak," Frank memberi perintah.
"Baik om," Pria itu mengendap-endap.
Matanya awas mengecek keadaan. Tania berusaha lagi untuk mencari pintu asli.
"Berhenti di sana!" Pria itu menodong punggung Tania yang menghadap pintu.
"Siapa kamu?" Tania gemetar hebat. Wanita itu tidak menyangka ada orang lain selain dirinya di sana. Dia tidak berpikir panjang untuk meminta pengawasan orang bayaran.
"Tidak perlu banyak omong! Sebaiknya kamu ikuti aku!" Pria itu masih menodongkan senjata pada Tania. Tania terpaksa menuruti perintah.
"Cepat jalan!" Pria itu mendorong tubuh Tania.
Tania melangkah pada sebuah pintu, pria itu membuka pintunya lebar-lebar. Dia mendorong tubuh Tania dengan kuat sampai wanita itu kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembab di lantai yang dingin.
"Auw," Tania meringis menahan sakit.
Matanya menatap sekeliling ruangan, dia tersentak dengan apa yang dilihatnya. Royan dan ketiga orang suruhannya untuk menghabisi Clara ada di depan mata dengan kondisi babak belur dan kaki tangan yang terikat.
Plok ... Plok
"Sungguh luar biasa! Ternyata kamu perempuan licik ya. Memanfaatkan Royan untuk mendapatkan informasi tentang nona muda," Frank mencengkram dagu Tania.
"Apa maksudmu? Aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak kenal siapa itu Royan," Tania menggelengkan kepala.
Wanita itu berdalih untuk menyelamatkan diri.
"Owh ... tidak kenal siapa Royan? Baiklah kalau begitu," Frank merogoh saku dan mengeluarkan ponsel.
__ADS_1
Dia menggunakan jari Royan untuk membuka kunci ponsel itu. Dia mencari sebuah nama. Dia mencoba beberapa kali, akhirnya setelah meng-klik nomor ke tiga kalinya, ponsel Tania berbunyi nyaring.
"Itu ... jawablah! Royan menelponmu," Frank mencibir. Sudut bibirnya terangkat sebelah.
"Tolong! Jangan sakiti aku! Aku tidak tau apa-apa! Aku hanya membantu Royan menjalankan rencana ini," Tania merangkak mendekati Frank. Dia bergelayut pada kaki pria dewasa itu.
"Lepaskan perempuan licik!" Frank mengibaskan kakinya. Dia menjauh dari Tania.
"Ikat dia sekarang! Aku akan menemukan hukuman yang pas untuknya!" Frank menyuruh anak buahnya.
Di waktu bersamaan, orang suruhan Tania sudah menyelidiki tentang Jasmine. Mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk menculiknya. Ponsel Tania berdering, Frank mengambil alih ponsel itu, dia mengernyit melihat nama yang tertera di layar ponsel.
"Wah, ada apa lagi ini?" Frank menggelengkan kepala.
"Benar-benar perempuan kejam," ucap Frank.
Frank membaca sebuah nama di layar ponsel Clara. Nama itu adalah 'pembunuh bayaran', pria itu tidak menduga kalau Tania sekejam kelihatannya.
"Kali ini pasti ada lagi korbannya," batin Frank.
Pria itu belum menjawab panggilan telepon Tania.
["Bos ... cewek itu cakep ya! Orang bule. Jadi, eksekusinya kapan nih?"] Tanya suara sana yang tidak sabaran.
["Bos!"] Panggilnya lagi.
["Kalau nggak jawab, aku culik sekarang nih! Mumpung dia masih ada di tempat fitness. Padahal sudah malam, tapi dia berani sekali pergi ke tempat itu."] Suara di seberang telepon terdengar antusias.
Frank memutuskan panggilan begitu saja, dia mempunyai ide bagus. Frank mengirimkan pesan, dia mengetik alamat perusahaan ini pada nomor yang menelpon tadi. Pria dewasa itu menyuruh agar orang yang menghubungi Tania datang ke tempat ini. Setelah terkirim, dia tersenyum puas.
"Tania, sepertinya aku pernah mendengar namamu. Tapi dimana ya? Atau itu hanya nama yang mirip," Frank mengitari kursi Tania. Wanita itu berontak ingin lepas dari ikatannya.
Frank menarik sumpalan di mulut Tania.
"Katakan kenapa kamu menculik nona? Apa alasannya? Siapa kamu sebenarnya?" Frank memberikan Tania kesempatan untuk berbicara. Pria dewasa itu memberondong Tania dengan banyak pertanyaan.
"Aku tidak tahu siapa nona itu. Mereka pasti salah culik. Dan asal bapak tau ya! Aku ini anak orang kaya, anak seorang pengusaha. Orang tuaku tidak akan tinggal diam kalau tau aku disekap," Tania menahan emosi.
Frank pusing mendengar ocehan Tania, dia menyumpal mulut Tania dengan kain lagi.
"Wanita cerewet, kejam lagi," Frank mencemooh Tania.
__ADS_1
Kakinya menyepak kaki kursi Tania yang bergeser.
Royan yang tidak sadarkan diri mulai terbangun. Seluruh tubuhnya merasakan nyeri yang luar biasa. Dia hendak berbicara namun mulutnya masih tersumpal. Dengan penuh tenaga, Royan memberontak hendak melepaskan diri. Tapi, dia harus berhadapan dengan anak buah Frank yang menjaganya.
"Mau kemana kamu? Kamu tidak akan pernah bisa keluar dari ruangan ini!" Seringai licik muncul.
Semua orang yang ada di ruangan itu mendengar suara derap langkah yang mendekat. Frank menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu siapa yang berada di bangunan ini selain mereka.
"Mungkin saja itu pembunuh bayaran yang menelpon wanita laknat ini!" Frank teringat.
"Jangan lupa bawa senjata! Kalian harus waspada!" Serunya.
Dua orang mendekati pintu secara perlahan. Mereka tidak mau menimbulkan suara yang mencurigakan agar orang di luar sana tidak bisa mencari pintu asli.
"Dari suara derap langkahnya ada lebih dari satu orang," Mereka menempelkan daun telinga di daun pintu. Keduanya berbicara dengan suara pelan.
"Jangan gegabah! Kita harus waspada!" Dia menarik lengan rekan kerjanya. Pria itu tidak sabaran dan ingin membuka pintu.
Mereka mendengar ada suara ribut-ribut dari luar sana. Pintu yang semula rapat dibuka dari luar. Sayup-sayup terdengar percakapan.
"Sepertinya ini pintu yang asli, dari tadi udah buka semua pintu tapi tetep aja nggak bisa," gerutu suara falseto.
"Nggak usah banyak cincong! Cepat buka pintunya!" Seru suara satunya.
"Males ah ... kalau nanti pintu palsu lagi gimana dong?"
"Kalau begitu kamu pergi aja sana! Nggak usah ikutan kemari!" Gerutu satunya.
Kedua orang dibalik pintu mendengarkan percakapan mereka.
"Ah ... kelamaan nunggu, biar aku saja yang buka!" Ujar salah seorang anak buah Frank.
Dia mendadak membuka pintu, pria lainnya terlambat menghentikan aksi rekannya.
"Jangan!!" Pekiknya tertahan.
*
*
*Bersambung
__ADS_1