
"Ternyata Ervin memasang layar hologram tanpa sepengetahuanku," Malik berdecak.
Tangannya terlipat di perut seraya memperhatikan gerak-gerik karyawan apotek. Yang tidak dia tahu, berapa biaya yang dikeluarkan oleh Ervin ketika memasang layar hologram raksasa tersebut.
Daun pintu mulai terbuka dari sebuah tempat mungil yang ada di kantor Ervin. Sang empunya keluar dari sana dan terbelalak melihat keberadaan ayahnya yang tengah memperhatikan dirinya.
Malik mendekat, tangannya terangkat di udara. Ervin mengelak namun telinganya tidak luput dari jeweran sang ayah.
"Apa maksudmu kabur dari rumah, hah?" Malik meradang seraya menjewer telinga anaknya.
"Papa! Ervin nggak kabur, cuma berangkat lebih pagi aja kemari." Belanya.
"Apanya nggak kabur? Lihat cermin sana! Muka lebam begitu bilang nggak kabur dari rumah. Kemana kamu semalam? Apa ke rumah wanita itu?" Malik melepaskan telinga anaknya setelah ia puas menjewer.
"Clara diculik pa, tentu aja aku nggak bisa tinggal diam begitu saja," Ia berterus terang pada akhirnya.
"Seharusnya kamu tahu diri kalau hubungan kalian kami tentang habis-habisan. Masih saja berharap wanita itu. Kalau kamu nekad seperti ini, papa majukan acara pertunangan kalian," Malik sudah mengambil sebuah keputusan.
"Bos, aku sudah siap," Jeffrey masuk tanpa mengetuk pintu dahulu.
Dia menatap wajah bos besar dan anaknya bergantian.
Ada rasa menciut yang tiba-tiba saja muncul.
"Mampus, bisa-bisa aku dipecat kalau tuan besar tau," batinnya gelisah.
"Ngapain kamu Jef? Kenapa wajahmu lebam begitu? Atau jangan-jangan kalian berdua sebenarnya ...." Malik menatap mereka bergantian.
Jeffrey spontan menggelengkan kepalanya dengan cepat seakan membantah apa yang ada di pikiran Malik.
"Kami tidak berbuat apa-apa bos besar." Ucapnya gemetar.
Malik menelisik raut wajah Jefrey yang menegang. Dia curiga kalau Jef ada hubungannya dengan Ervin yang kabur semalam.
"Kalian bersekongkol kan? Ayo ngaku kamu Jef!" Malik berkacak pinggang.
"Eum, sebenarnya begini bos besar. Aku itu sebenarnya begini--," belum sempat Jef meneruskan.
"Nggak usah dengerin dia pa! Dia itu orangnya suka banget bikin alesan gak jelas," Ervin menghampiri Jef. Pria itu menarik bawahannya dan menggeret badannya keluar ruangan.
"Kamu tunggu di sini! Jangan ngomong apapun sama papa, mengerti?" Bentak Ervin seraya menoyor kepala Ervin.
__ADS_1
Dengan kode menutup mulut, Jef mengangguk cepat. Dia ke depan membantu karyawan lainnya sebelum Malik bertanya lebih jauh padanya mengenai kejadian semalam.
"Pulang sekarang Vin! Besok malam pokoknya pesta pertunangan kamu dan Jasmine. Papa akan menghubungi mereka agar menyiapkan Jasmine. Hari ini juga papa akan booking hotel untuk acara besok malam!" Malik berjalan mendekati daun pintu, dia menoleh ke arah anaknya yang menahan emosi.
"Walaupun pertunangan itu terjadi, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mencintai Jasmine pa." Ervin mengepal erat tangannya.
"Ikut papa sekarang! Kita pulang!" Malik masih menunggu reaksi anaknya.
"ERVINO!" Bentaknya keras karena melihat si anak tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
Dengan terpaksa, Ervin menuruti kemauan si ayah. Ervin mengekori langkah ayahnya sampai ke depan. Malik menyuruh anaknya agar masuk ke mobil duluan. Mereka saling terdiam di mobil, kendaraan tersebut bergerak memecah jalanan kota kala itu.
Malik merogoh kantong celana, dia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
["Tumben nih nelpon, biasanya Elisa yang semangat nelpon."] Nada suara seberang seperti mengejek.
"Kalian bersiaplah untuk membeli gaun yang bagus untuk besok malam! Kami akan memajukan pertunangan Ervin dan Jasmine. Kuharap kamu dan Evans setuju." Malik tidak sabar.
["Kenapa mendadak begini? Memangnya Ervin bersedia mas? Kenapa mendadak begini sih mas?"] Fatma terdengar masih tak percaya.
"Pokoknya kami yang akan siapkan segalanya! Kalian semua harus hadir besok malam di hotel Marriott yang aku tetapkan. Jangan tanyakan tentang Ervin, dia menjadi urusanku dalam hal ini," Malik bersikeras.
Ervin tak mau kalau Clara mengetahui kabar ini dari orang lain, yang ada wanita itu pasti akan terpukul dan tidak akan pernah percaya lagi padanya.
Kendaraan sudah mendekati rumah mewah Malik. Mobil masuk ke halaman rumah setelah pak sekuriti membuka pagar dengan sekali menekan tombol.
"Turun Ervin!" Pekik Malik yang melihat anaknya terdiam melamun.
"Biasa aja Pa, aku nggak budeg kok," Ervin turun dan menutup pintu kendaraan dengan sangat kencang sehingga menghasilkan bunyi keras.
"Nih anak semakin hari semakin kasar," Malik mendorong tubuh anaknya.
Elisa yang menunggu kedatangan suaminya menatap wajah anak dan suaminya bergantian. Banyak pertanyaan yang ada di benaknya dan ingin sekali ia menanyakan itu pada mereka berdua.
"Ketemu dimana dia? Bukankah kamu bilang dia kabur?" Elisa mendekati si suami dan berbisik di telinganya.
"Tanya sendiri sana sama anakmu!" Malik duduk di sofa yang berada di ruang keluarga.
Dia menghubungi seseorang untuk menyiapkan keperluan untuk acara penting besok malam. Ervin melengos melihat sikap ayahnya yang tidak mau memikirkan perasaan dirinya selama ini. Sudah berulang kali dia selalu berkata kalau tidak menyukai Jasmine, tapi tetap saja mereka tidak mengindahkan.
Elisa yang melihat raut wajah Ervin tidak mau menambahkan kekesalan lagi dengan pertanyaan yang akan dia tanyakan nantinya. Wanita paru baya tersebut mengurungkan niat untuk bertanya. Nyonya rumah memilih duduk bersama si suami. Dia mendengarkan Malik yang berbincang dengan seseorang di seberang telepon.
__ADS_1
"Ngomongin apaan sih? Kok bahas hotel, katering segala," Elisa bergumam.
Malik selesai dengan perbincangan, dia melirik si istri yang memperhatikan gerak-geriknya sedari tadi.
"Kita belanja dulu yuk! Kasih tau Nissa kalau dia harus kemari besok siang!" Malik bangkit dari tempat duduknya.
"Memangnya ada apa dengan besok mas?" Elisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku lupa tidak memberi tahu padamu." Malik refleks menepuk keningnya.
"Maksudnya? Memangnya ada apa sih?" Elisa mengernyit.
"Besok malam pertunangan Ervin dan Jasmine. Aku percepat acara mereka, aku juga sudah menghubungi Fatma tadi. Makanya kamu hubungi Nissa juga ya!" Malik menarik lengan istrinya.
Elisa bangkit, dia berada di samping sang suami.
"Pantesan aja Ervin merengut, ternyata acaranya dipercepat," batin Elisa.
"Ayo kita belanja untuk acara besok malam! Kita ke butik langganan kamu yang di pusat kota!" Malik menggandeng lengan istrinya.
"Tapi mas ... Ervin gimana dong? Seharusnya kita mengajak dia juga agar bisa memilih setelan jas yang akan dia kenakan," Elisa protes.
"Nggak usah ajak dia! Biarkan aja dia di kamarnya! Aku akan menyuruh anak buah Toni agar berjaga-jaga di depan kamarnya. lagipula dia tidak akan mau memilih setelan itu. Biar kamu aja yang pilihkan," Malik malas menanggapi terlalu banyak.
"Aku ambil tas dulu di kamar, tunggu sebentar ya mas!" Elisa berjalan cepat, kakinya menapaki tangga lantai dua.
Suara ketukan pintu membuat Malik mengernyit, bibi yang berada di dapur mendengar suara itu. Ia melangkah tergesa dan melewati si tuan rumah.
"Siapa ya?" Bibi yang membuka daun pintu masih berdiri di ambang pintu. Wanita tua itu tidak membiarkan orang tersebut masuk sebelum tahu siapa tamunya itu.
"Nggak usah tanya siapa saya! Cepat panggil pemilik rumah ini!" Tamu yang tidak diundang berkacak pinggang di depan bibi.
*
*
*Bersambung
3 episode lagi bakalan tamat nih. Maunya Happy ending atau bad ending ya?
Yuk komen di bawah ðŸ¤
__ADS_1