Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 81 Menyambut Tamu Penting


__ADS_3

Firda keluar dari kamar dan bergabung bersama bibi di dapur. Moodnya berubah drastis setelah mendengar telpon dari seseorang. Dia menyuruh bibi di dapur.


"Bi, besok kan orang tua Ervin mau ke sini. Bibi buatkan makanan yang enak-enak ala hotel ya!" Serunya.


"Astaga nyonya, bibi kan bisanya cuma masak masakan kampung. Masakan ala restoran aja belum pinter, buat sushi masih diajarin non Clara," Bibi kebingungan.


"Kalau begitu pesankan saja di restoran yang mewah. Nanti biar aku yang tuliskan menunya apa aja. Nih pake kartu kredit aku aja bi!" Firda menyodorkan sebuah kartu pada bibi.


"Tapi nyonya, apa tidak sebaiknya bibi bilang pada tuan dulu?" Raut wajah bibi terlihat khawatir.


"Nggak apa-apa bi, dia pasti setuju kok. Kan orang tua Ervin bukan orang sembarangan. Jadi, makanan yang disajikan harus sesuai dengan kastanya," Firda tersenyum lebar.


Bibi akhirnya menerima kartu tersebut, dia mencari nomor telepon restoran langganan Clara dan ibunya.


Mata wanita tua itu menyipit ketika membaca nama-nama yang tertera di layar ponsel.


Sementara Firda ingin mencari udara segar. Wanita paruh baya itu pergi ke taman samping tempat dimana Ervin dan Clara bersenda gurau dan bermesraan.


"Ehem," deheman Firda sengaja dibuat keras.


Ervin yang melihat nenek sihir itu merasa tak nyaman, terlebih dandanan wajahnya begitu menor seperti ondel-ondel yang akan tampil show berkeliling di jalanan.


"Sayang, kita berangkat yuk!" Ajak Pria itu sembari menggamit tangan kekasihnya.


"Kemana Yang?" Tanya wanita itu.


"Mama punya surprise buat kita. Dia bilang kita harus ke tempat ini!" Tunjuk Ervin mengeluarkan ponselnya.


"Aku ganti baju dulu ya!" Clara pergi meninggalkan Ervin. Dia tidak pernah peduli pada kehadiran ibu tirinya.


Ervin mengangguk sebelum kekasihnya melangkah pergi. Kini, Firda semakin berani mendekat padanya.


"Setelah tahu rahasia Di, apakah kamu masih mau bersama anaknya?" Firda mengernyit.


"Memangnya kenapa? Lagipula ini semua tak ada hubungannya dengan Clara," Ervin pergi meninggalkan Firda seorang diri.


"Ha-ha-ha," Firda tertawa mengejek.


Pria itu menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Firda.


"Sepertinya kamu harus pergi ke psikiater!" Ervin bergidik melihat tatapan mata Firda yang seakan ingin memakannya.


Pria itu melangkah ke beberapa titik di rumah ini untuk berpamitan pada rekan-rekan kerjanya. Karena sore nanti setelah mengantar Clara pulang, dia tidak akan bekerja di rumah ini lagi. Setelah Clara bersiap, dia pergi mencari keberadaan kekasihnya.


Tiba-tiba saja ada yang menutupi kedua mata dari belakang.


"Mas Ervin, nggak lucu banget lho," Clara memegang tangan itu dan berbalik badan.


"Kupikir masih lama, aku hampir aja mau ke atas menyusul kamu. Oh iya, pamit dulu sama daddy kamu sana!" Seru Ervin.


"Daddy berangkat ke kantor tadi, ternyata pembunuh mbak Delima sudah tertangkap," mata wanita itu berubah sendu.


"Benarkah? Siapa dia?" Ervin pura-pura tidak tahu.


Clara berjinjit dan berbisik di telinga kekasihnya, wanita itu seolah tak mau ada yang mendengarnya selain mereka berdua.


"Sekretaris aku dan body guard daddy bekerja sama meracuninya, mereka kini sudah mendekam di penjara," ucapnya.

__ADS_1


"Ternyata mereka ya," Ervin menggelengkan kepalanya seolah belum tahu.


"Kamu nggak tahu aja kalau target mereka sebenarnya kamu sayang," batin Ervin.


"Ayolah berangkat sekarang! Aku nggak sabar apa yang mama kamu siapkan untuk kita," Wanita itu menarik lengan kekasihnya.


Mereka setengah berlari keluar dari rumah dan memasuki garasi rumah.


"Eits, tunggu dulu! Kiss in the morning-nya tadi belum lho!" Pinta Ervin sambil menunjuk pipinya.


Clara tersipu dan langsung mengecup pipi kekasihnya.


"Udah kan, ayo kita masuk!" Clara menarik pintu mobil dan masuk.


Ervin menyalakan mesin kendaraan, sementara Clara menyetel lagu John Legend feat Megan Trainor yang berjudul Like im gonna lose you. Lagu tersebut mendeskripsikan perasaan mereka.


Karena keduanya hapal, mereka bernyanyi bersama.


Pria itu sambil menyetir pelan dan bernyanyi bersama kekasihnya.


Di rumah Elisa.


"Mas, bawa apa ini ke rumah Clara? Mama jadi deg-degan mau ketemu calon besan," Elisa yang sudah berada dalam posisi ini masih belum terbiasa. Karena dulu Nissa yang dilamar. Sekarang dia harus menyiapkan segala sesuatunya untuk calon menantu dan calon besan.


"Nggak usah banyak-banyak mam! Kan besok sore menentukan tanggal pertunangan Ervin. Sewajarnya aja sih menurutku. Dulu Kino juga begitu kok," Nissa menyahut, ia menggendong seorang bayi mungil. Usia bayi tersebut sudah satu minggu.


"Mama, eyang, Kian ditinggal sama papa," Kian berlari menghampiri mereka yang tengah duduk bersandar di ruang keluarga.


"Sepertinya papa kamu mulai bosan dengan anak sendiri," Nissa tergelak.


Elisa mendudukkan cucunya di samping.


"Papa cariin, ni anak aktif banget lari kemanapun," Kino ngos-ngosan dan berusaha menormalkan deru napasnya.


"Kino, kamu nggak mau berhenti dari perusahaan? Apotek papa sebentar lagi mau merambah ke beberapa cabang di kota besar lainnya. Papa nggak bisa mengurus semuanya sekaligus. Om Evans juga masih belum mau pensiun dari pekerjaannya sebagai seorang dokter," Malik berusaha mengalihkan pembicaraan.


Mertua dan menantu itu membicarakan bisnisnya. Sementara Elisa dan Nissa berbicara tentang parcel yang akan mereka bawa esok sore. Karena acara akan dimulai dari sore hari sampai malam hari.


***


Ervin sudah mengantar Clara pulang ke rumahnya. Wanita itu sungguh bahagia karena dibelikan gaun berwarna hijau tosca muda yang sesuai dengan keinginannya. Banyak Payet dan bordir menghiasi gaun tak berlengan itu. Sementara di rumah, bibi memanggil beberapa orang untuk membersihkan rumah dan menghiasinya seelegan mungkin. Kini Ervin kembali ke rumahnya. Dia tampak berbeda karena ada keluarga Nissa yang sudah datang. Pria itu menyapa kakak dan kakak ipar. Kian berlarian dan minta digendong oleh Ervin.


Malam itu beberapa parcel sudah dibungkus rapi. Semua anggota keluarga masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat agar besok stamina mereka terjaga.


Keesokan paginya di rumah Clara lebih berwarna dari biasanya. Bunga-bunga di dalam pot diletakkan berjejeran di depan teras rumah. Ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan dan taman samping dihiasi dengan vas bunga besar berwarna putih tulang dan ada bunga sintetis berwarna coklat muda di dalamnya. Bibi sudah menghubungi katering yang dipesannya. Tiga jam lagi makanan akan diantar ke rumah.


Siang itu Clara turun untuk mengecek semua persiapan. Bibi mendorong tubuh nona mudanya agar pergi ke spa sebelum acara dimulai.


"Ih apaan sih bi, aku kemarin udah luluran ditemenin mas Ervin. Muka aku juga nggak jerawatan, udah glowing," Clara merengut.


"Kalau gitu biar bibi yang persiapkan semuanya. Nona santai dulu di atas! Kalau nggak, siap-siap deh dua jam lagi mas Ervin sama keluarganya dateng!" Bibi tidak mau merepotkan nonanya karena itu adalah acara penting untuknya.


Ucapan bibi ada benarnya, Siang itu Clara mandi berendam di bathtub. Setelah dirasa cukup, dia keluar dari kamar mandi, mengeringkan rambut dan memakai baju dalam serta gaun yang dibelikan oleh mamanya Ervin.


Ketukan pintu membuat Clara menoleh, wanita itu melangkah dan memutar kenop pintu.


"Daddy, ada apa?" Clara tak menyangka bahwa ayahnya yang mengetuk pintu.

__ADS_1


"Wah, anak Daddy satu-satunya sungguh cantik. Gaunnya cantik begitupun yang memakai," Tuan D terpesona oleh kecantikan anaknya.


"Apaan ih dad, kan dari dulu Rara emang cantik. Belum dandan aja udah dipuji," Clara tersenyum tipis.


"Daddy hanya memastikan kalau kamu bersiap, satu jam lagi mereka sampai. Mereka sudah ada di perjalanan. Barusan calon suamimu yang menelpon daddy," tuan D tersenyum cerah.


Baru kali ini dia melihat anaknya yang sumringah dan berbahagia. Ternyata Ervin sangat berperan dalam kebahagiaan anaknya. Tuan D semakin yakin dengan pria itu.


Clara sudah berdandan, dia turun memakai gaun yang cocok dengan bentuk tubuhnya. Dandanannya sesuai dengan acara, tidak tebal namun tetap terlihat anggun.


Dia turun dari lantai dua dan menuju ke dapur, dia sangat haus. Di depan sana terdengar suara langkah beberapa orang dan riuh tawa terdengar jelas.


"Bi, keluarga mas Ervin pasti sudah datang," Clara melangkah menuju ruang tamu. Di sana ada orang tua Ervin, keluarga kakaknya dan beberapa orang yang membawa parcel.


"Lho, kenapa Daddy belum datang turun juga sih," Clara risau.


Clara dipanggil oleh Firda agar menemani mereka bersamanya. Firda hari itu menunjukkan bahwa dirinya seolah orang tua kandung Clara.


Malik berbincang dengan Clara, namun tiba-tiba saja muncul tuan D dihadapan mereka.


"Daddy, ini om Malik papanya mas Ervin!" Clara menarik lengan ayahnya.


"Malik?" Tuan D mengernyit, dia tidak asing dengan nama itu.


"Iya saya Malik, anda siapa?" Malik menoleh menatap wajah di depannya.


Mereka berdua saling berpandangan dan tersentak karena tidak menyangka akan bertemu disaat seperti ini.


"Dia? Dia Daddy kamu?" Malik bertanya.


"Iya om, dia Daddy aku," Clara merasa heran dengan raut wajah Daddy dan Malik.


"Clara, batalkan acara ini sekarang juga!" tuan D menggeret badan anaknya.


"Om Di, kenapa begini? Apa maksudnya?" Ervin yang sedari tadi terdiam mulai bersuara.


"Jangan pernah panggil aku om! Pergi kalian dari sini!" Usir tuan D.


"Ervin, kamu nggak cocok menikah dengan wanita itu. Sekarang juga kita pergi! Daddy Clara itu orang yang biadap," Malik melangkah pergi, dia tidak sudi menginjakkan kakinya di rumah ini.


Ervin menatap Clara yang sudah berderai air mata, kekasihnya itu diseret tangannya dengan kasar oleh ayahnya sendiri.


"Om Di, sebenarnya ada apa ini?" Ervin meminta penjelasan.


"Tanyakan saja pada ayahmu yang pengkhianat itu!" Pekik tuan D.


"Ervin! Pulang sekarang!" Malik menarik lengan anaknya.


Elisa dan Nissa serta suaminya tidak mengerti apa maksud dari mereka. Mereka seolah orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.


*


*


*Bersambung


Saking hebohnya nggak terasa kalau dalam satu bab ini sudah ada 1.5k kata 😂😂.

__ADS_1


Sebenarnya ada apa sih antara Malik dan tuan D?


__ADS_2