Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 96 Kecemasan Clara


__ADS_3

"Ada apa malam-malam begini?" Clara berusaha menguap agar terlihat mengantuk.


"Aku mau menunjukkan sesuatu, lihatlah!" Firda menyerahkan ponselnya.


"Memangnya apaan sih?" Clara menyambar ponsel itu.


"Pelan-pelan! Jangan sampai merusak hape mahalku!" Firda hendak mengambil kembali ponselnya. Namun Clara menepis tangan ibu tirinya.


"Aku belum liat semua!" Clara menonton video yang direkam oleh Firda.


Wajah Clara mulai memerah setelah mengetahui hal yang tidak diketahuinya. Ervin juga tidak membicarakan tentang hal itu. Tangannya terkepal kuat, dia langsung memberikan ponsel tersebut pada ibu tirinya.


"Kamu kenapa? Pasti kaget ya? Sudahlah menyerah saja! Lebih baik kamu berbaikan dengan mantan tunangan kamu yang dulu agar--," belum sempat Firda menyelesaikan ucapannya.


Blam!


Pintu tertutup rapat dan dikunci dari dalam.


"Dasar anak tak tahu sopan santun, maen tutup pintu aja," kesal Firda berlalu dari hadapan pintu kamar Clara.


Clara duduk di pinggiran ranjang, tatapannya sayu seketika. Kebahagiaan karena berbincang dengan Ervin langsung lenyap seketika berganti kekecewaan.


"Benarkah itu?" Gumamnya pelan.


Air bening menetes tanpa dia sadari, ternyata dirinya sudah sedalam itu mencintai Ervin. Melihat Ervin dan keluarga besarnya berbincang tentang pertunangan dengan wanita lain membuat hatinya luluh lantak.


"Apa yang harus aku lakukan?" Clara mengusap air mata.


Malam ini waktu serasa berjalan amat lambat. Mata yang sembab menambah kesan kesedihan.


Sementara Firda tersenyum puas di kamarnya. Dalam kamar tidur tersebut hanya ada dirinya. Dendi, seperti biasa lebih betah berdiam diri di ruang kerjanya.


"Rasakan kamu Clara, untung saja aku sempat mengikuti Ervin ke lantai atas. Ternyata mereka sedang membincangkan hal pertunangan. Nasib baik berpihak pada kami." Firda menyeringai lebar.


"Kita lihat saja Diana! Anakmu tidak akan pernah bahagia selama aku masih hidup di dunia ini," Firda tertawa puas.


***


Ervin mengernyit heran karena mendadak panggilan terputus. Dia mencoba untuk menghubungi Clara lagi, tapi ternyata usahanya gagal karena nomor kekasihnya tersebut tidak aktif.


"Kemana dia? Kenapa tiba-tiba begini?" Ervin menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


Berbagai macam pertanyaan muncul di benak Ervin. Dia harus secepatnya bertindak sebelum acara pertunangannya dengan Jasmine.

__ADS_1


"Dimulai dengan menghancurkan Firda, tadi aku merekam ucapannya yang telah mensabotase produk baru Dendi. Besok aku harus berusaha untuk menemui Dendi, aku akan menghancurkan Firda terlebih dahulu." Ucapnya mantap.


Malam itu karena terlalu letih, pria tersebut tidur dengan nyenyak walaupun pikirannya masih saja memikirkan kekasih hati.


Esok paginya seperti biasa Ervin harus selalu pergi dengan pak sopir. Dia sudah merencanakan untuk pergi bersama Jefrey karyawan kepercayaannya setelah sampai di apotek. Untuk mengelabui utusan ayahnya terpaksa Ervin berbohong pada satu apotek agar rencana yang sudah dia susun bisa berjalan dengan baik dan lancar.


"Jeff! Aku tunggu di belakang gedung! Kamu kasih tahu semua karyawan kalau aku sedang sibuk di kantor banyak kerjaan, jadi nggak bisa diganggu,"


Dia menyuruh Jefrey melaksanakan perintah.


"Kalau begitu aku kumpulkan semua karyawan dulu, biar bos bisa keluar lewat gudang dan tunggulah aku di belakang gedung," Jefrey dengan setia menuruti kemauan si bos.


Semua karyawan sudah berkumpul, Jefrey mewanti-wanti mereka agar tidak mencari keberadaan si bos. Bos-nya sedang berada di dalam ruangan kerjanya dan tidak boleh diganggu. Mereka semua bubar setelah mendapatkan arahan dari kepala apotek yaitu Jefrey.


"Selamat," Ervin mengelus dada karena telah berhasil keluar dari gedung apotek miliknya.


"Semoga pak sopir masih menunggu di ruang depan," batinnya berharap.


Ervin menatap jam tangan bermerek Omeygat yang mahal. Sudah sepuluh menit lebih dia menunggu karyawannya.


Suara klakson mobil membuat pandangan Ervin teralihkan. Dia tersenyum lebar dan masuk tanpa aba-aba.


"Lama banget Jef!" Gerutunya.


"Tancap sekarang Jef!" Seru si bos.


"Alamat mana alamat? Maen tancep ajah nanti malah kesasar," Gerutu si Jef.


"Jadi lupa, bentar dulu!" Ervin mengetik alamat lengkap Clara pada layar digital yang ada di depan dasbor. Peta elektronik sudah mengunci alamat tersebut dan rute-rutenya terpampang jelas di layar itu.


"Tancep Jef!" Perintahnya.


Mobil sudah berada di jalanan utama, pagi itu tidak seberapa banyak kendaraan karena instansi pemerintah mengadakan libur panjang bagi pegawainya. Perjalanan kali ini terasa lebih singkat.


Tidak sampai satu jam mobil telah berada di sebuah rumah megah berpagar silver. Banyak tanaman dan bunga yang tersusun di halaman rumah.


"Jadi ini rumah ceweknya si bos?" Tanya Jefrey awas melihat sekeliling.


"Iya, ini rumahnya. Tapi kali ini aku tidak bertemu dengannya. Aku harus bertemu sama bapaknya," Ervin berkata mantap.


"Bagaimana orang yang sudah aku suruh hubungi Jef? Sudah kamu katakan padanya?" Tanya Ervin yang menelisik lingkungan sekitar karena tak ada tanda-tanda mobil lainnya yang parkir di sana.


"Tentu saja udah bos, dua orang itu sudah saya hubungi. Mungkin sebentar lagi mereka sampai. Apa aku harus menghubungi mereka lagi?" Tanyanya.

__ADS_1


"Tidak perlu! Kita tunggu mereka barulah masuk ke rumah Clara. Semoga aja Dendi ada dirumahnya dan mau mendengarkan penjelasan aku," Ervin berkata ragu.


"Lah, kenapa malah ragu-ragu begitu bos?"


"Plin plan amat jadi orang," ucapnya lagi.


"Berisik kamu Jef! Kamu tidak akan tahu rasanya karena kamu tidak ada di posisi aku yang serba sulit," Ervin menghela napasnya.


"Bos itu mereka bukan? Mereka keluar mobil tuh!" Tunjuk Jefrey pada dua orang bersetelan hitam.


"Iya, itu mereka. Orang bayaranku yang terpercaya," Ervin menyengir lebar.


"Udah kayak CEO perusahaan besar aja bos pakaian yang mereka pakai," Jefrey berdecak kagum.


"Itulah namanya profesionalitas Jef! Emangnya kamu cuma make kemeja doang, dasi aja nggak pernah mau make," Ervin mengacak rambutnya.


"Astaga bos, kegantengan aku berkurang kalau rambut klimisku berantakan," Jefrey menepis tangan Ervin dan merapikan penampilannya.


"Rambut berminyak kek gitu dibanggain. Nggak usah banyak omong ayo kita turun!" Ervin segera membuka pintu mobil dan turun secepat.


Kedua pria berseragam kantoran tersebut tersenyum ramah pada Ervin.


"Tugas apa kali ini bos?" Tanya mereka.


"Kalian temani aku masuk menemui tuan Dendi! Kalian jangan bertindak apa-apa sebelum ada aba-aba dariku! Mengerti!" Ervin menekankan pada mereka.


Mereka berempat menekan bel rumah. Pak sekuriti bingung mau membuka pagar atau tidak.


Cepat-cepat Pria itu berlari ke dalam rumah karena di depan Frank tak ada di tempatnya.


"Mas Frank! Ada mas Ervin di luar, dia membawa tiga orang pria. Mereka sedang menunggu di luar," si Sekuriti menjelaskan ketika melihat Frank yang turun dari anak tangga.


"Buat apa mereka kemari? Kamu sudah tahu apa alesan mereka kemari?" Tanya Frank.


Sekuriti menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu kamu buka gerbang untuk mereka! Aku akan menemui tuan D lagi," Frank melangkah naik.


*


*


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2