
"Kita selidiki dulu Pak, kita bisa mengecek CCTV yang terpasang di depan ruangan Nona," usul Ervin.
"Tentu saja, aku juga tidak percaya kalau keracunan itu terjadi karena kelalaian penjual," sahut Frank.
Ervin kembali ke kantor Clara, mereka sudah menemukan tersangkanya namun belum punya bukti yang kuat.
"Kamu minta daftar karyawan yang keluar masuk ke ruangan Nona Clara sebelum dia masuk rumah sakit!" suruh Frank.
"Iya Pak," Ervin turun dari mobil dan menemui Deli yang sudah bersiap untuk pulang.
Deli menyerahkan selembar kertas pada Ervin setelah pria itu memintanya.
Frank yang akan masuk lift menyuruhnya agar masuk ke dalam mobil.
"Tapi saya juga mau melihat CCTV itu Pak," Ervin menolak masuk mobil.
"Jangan membantah! biarkan aku yang menangani ini," Frank meninggalkan Ervin.
"Masuk mobil ngapain jugak," gumamnya seorang diri
"Lebih baik aku pergi ke rumah sakit tempat Clara dirawat," dia tidak berpikir panjang lagi.
Mesin kendaraan sudah dia nyalakan, kini mobil sudah bergerak menuju jalan raya.
Hampir satu jam berlalu, rumah sakit tempat Clara dirawat sudah terlihat. Ervin tersenyum tipis karena kali ini dia akan bertemu dengan orang yang disukai.
Ervin melangkah dengan mantap. Setibanya di depan kamar perawatan Clara dia terdiam sejenak dan mendengarkan percakapan yang sayup-sayup terdengar.
"Dad, aku ingin pulang sekarang," Clara terdengar merengek.
"Ngapain pulang kalau pelakunya belum ketemu? makanan kamu itu diracun seseorang Ra," tuan D terdengar emosi.
"Tidak mungkin, mungkin saja penjualnya ajah yang menggunakan bahan makanan yang sudah busuk," Clara merengut.
"Tidak boleh, sebelum pelakunya ketemu kamu harus berada di kamar ini!" tuan D tidak mau dibantah.
"Sudahlah sayang, kasian Clara yang sudah bosan di tempat ini," suara seorang wanita terdengar.
"Suara siapa ya itu? sepertinya pernah dengar," Ervin berpikir.
Kepalanya semakin menempel di daun pintu yang tertutup rapat.
"Kamu tidak usah ikut campur! lagipula ngapain kamu kemari?" tuan D membalas dengan kasar.
"Aku kasian pada Clara, biar ada yang menemaninya di sini makanya aku kemari tapi ternyata kamu masih di sini dan belum pulang dari kemarin," wanita itu berucap dengan lembut.
"Tidak usah basa-basi lagi di depanku! sejak kapan kamu peduli pada anak tirimu?" pertanyaan menohok dari suaminya membuat wanita tersebut tersentak.
Dia tidak membalas perkataan suaminya, kini mereka yang berada di dalam kamar semuanya terdiam. Tidak ada kata-kata yang terucap.
"Jadi itu istrinya tuan D," Ervin bergumam seakan menjawab pertanyaannya sendiri.
Gagang pintu bergerak, Ervin mundur menjauh dari pintu kamar tersebut. Keluarlah seorang wanita yang pernah menggoda dirinya waktu membersihkan kamar di rooftop.
__ADS_1
"Kalian anak dan ayah sama saja!" gerutunya kesal.
Wanita itu menoleh ke belakang dan menutup pintu kembali.
"Awas saja kamu Di, aku pasti akan membalas semua perbuatan kamu padaku selama ini," wanita itu mengepalkan tangannya.
Langkahnya yang memakai sepatu hak tinggi terdengar jelas. Ervin keluar dari tempatnya bersembunyi. Dia menatap punggung wanita tersebut sampai tak terlihat lagi.
Ervin mengetuk pintu beberapa kali, tuan D menyuruhnya untuk masuk.
"Ngapain kamu kemari? bukankah kamu dan Frank yang menyelidiki tentang musibah Clara?" tuan D menatap Ervin dengan intens.
"Pak Frank menyuruh saya masuk ke mobil, sementara beliau mengecek CCTV di depan ruangan Nona. Daripada saya harus pulang sekarang lebih baik saya kemari dan menemani Nona Clara. Boleh kan Tuan?" Ervin mulai berani berbicara.
"Boleh saja. Kebetulan aku harus pulang sekarang dan berganti baju. Kamu jaga baik-baik anakku! aku pulang sebentar," tuan D menepuk pundak Ervin.
"Siap Tuan. Serahkan saja tugas ini pada saya," sahut Ervin.
Clara hanya mendengus mendengar perkataan ayahnya.
"Kalau dia macem-macem hubungi Daddy secepatnya Ra!" tuan D mengerlingkan matanya pada anaknya.
"Pergilah Dad! sepertinya Daddy sudah bosan menjagaku di sini," Clara malas melihat ayahnya yang sedang menggoda dirinya dengan supir baru itu.
"Ada yang Nona butuhkan tidak? misalnya mau minum atau cemilan," Ervin menawarkan diri.
"Nggak," jawabnya singkat.
Clara berbaring dan menutup dirinya dengan selimut. Dia membelakangi Ervin. Baginya Ervin memang penyelamat, kalau saat itu Ervin tidak mendobrak pintu ruangannya mungkin saja keadaannya lebih parah dari saat ini.
"Makasih telah menolong aku," ucap Clara pelan.
Entah Ervin mendengarnya atau tidak, Clara masih menunggu reaksi dari Ervin.
"Nona tadi bilang apa?" Ervin yang mendengar perkataan Clara hanya bisa tersenyum lebar.
Dia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri brankar majikannya.
Sementara Clara masih saja tidak beranjak dari tempatnya berbaring. Dia masih saja membelakangi Ervin.
"Kalau nggak denger ya udahlah, lupakan saja!" sahut Clara malas.
"Saya dengar kok Non, apapun akan saya lakukan karena itu memang tugas saya," Ervin menyahut.
"Kalau begitu boleh keluar dari sini nggak? aku butuh privasi!" pinta Nona mudanya.
"Tapi kan--," belum sempat Ervin menyahut namun Clara sudah memotong perkataannya.
"Sebentar saja, hanya setengah jam," ucap majikannya.
"Baiklah Non, kalau begitu saya akan menunggu di depan pintu," Ervin melangkah keluar.
Entah kenapa semenjak kedatangan Ervin, Clara menjadi salah tingkah karenanya. Dia mengingat kembali tangannya yang dicium oleh Ervin.
__ADS_1
Ada rasa marah, kesal, dongkol, dan salah tingkah ketika Ervin mencium tangannya dan digenggam erat.
"Nggak mungkin Ra, ingat dia itu gak pantes buat kamu!" Clara menepuk pipinya berulang kali.
"Dia menyelamatkan kamu hanya karena memang pekerjaan yang menuntutnya demikian," Clara bergumam sendiri.
Dia menghembuskan napasnya perlahan, pikirannya hanya ingin keluar dari kamar ini dan beraktivitas kembali seperti biasanya. Dia tidak mau Ervin semakin dekat dengannya.
"Non, ada yang mencari Anda!" Ervin membuka pintu perlahan, kepalanya menyembul dibalik pintu.
"Siapa?" Clara mengernyit.
"Temen Nona," sahutnya.
"Siapa namanya?" tanya Clara lagi.
Ervin terdiam, pria itu kemudian menanyakannya pada dua orang yang berada di depannya.
"Mereka Mitha dan Emi Non," kepala Ervin menyembul lagi.
"Suruh mereka masuk! mereka berdua sahabatku," seru Clara.
Emi dan Mitha masuk ke dalam kamar Clara, keduanya memekik tertahan melihat Clara yang masih pucat.
"Eh kamu nggak kenapa-napa kan? mananya yang sakit?" Emi menyentuh badan Clara.
"Kalian berisik ah, mau jenguk apa mau berisik di sini?" Clara melempar bantal pada Emi.
"Santai ngapa sih Ra, jangan ngambek mulu!" Emi mengerucutkan bibirnya.
"Ra, itu di depan siapa sih? sepertinya aku pernah liat deh," Mitha akhirnya bersuara.
"Di depan yang mana?" Clara berpura-pura tidak tahu.
"Itu di depan pintu, dia siapa Ra? kok manggil kamu Nona?" Mitha penasaran.
"Dia itu supir baru aku yang merangkap jadi bodyguard," jawab Clara.
"Supir pribadi tapi masih muda ya. Biasanya sih nggak ada pria muda yang mau jadi supir apalagi Nona mudanya galak kayak kamu," Mitha terkekeh geli.
"Wei, jaga tuh omongan! mau aku timpuk pake ini ya?" Clara mendelik, dia berpura-pura marah.
"Ampun Nona, ampun," mereka bertiga tertawa bersamaan.
"Tapi beneran aku seperti pernah melihatnya, tapi entah dimana," Mitha masih berpikir keras.
"Perasaan kamu aja itu," Clara malas membicarakan Ervin.
"Aha, aku ingat sekarang. Dia itu pria yang...
*
*
__ADS_1
*Bersambung