
Wanita itu menyengir lebar dan membalas pelukan Elisa. Nyonya besar rumah itu merasa senang karena kehadirannya.
"Jasmine ... tante kangen banget sama kamu nak!" Elisa mengurai pelukannya. Dia menatap wanita itu yang semakin cantik dan tinggi.
"Mimi juga kangen sama tante dan keluarga," sahutnya.
"Ayolah masuk! Kenapa harus berdiri di ambang pintu?" Elisa mencubit gemas pipi Jasmine.
"Sudah lama Mimi nggak kemari tan. Mimi merasa canggung," Wanita itu tersenyum ramah.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang tamu. Malik yang sudah mengenal Jasmine menyapanya dengan penuh semangat.
"Anak Om udah semakin dewasa, tinggi dan cantik. Bagaimana keadaan kamu dan grandma di Aussy?" Malik memeluk Jasmine seperti anak sendiri.
"Baik om, grani dan granpi baik-baik ajah," jawab Jasmine menyebutkan panggilan kesayangan untuk sang nenek dan kakek.
"Maaf ya kalau kami masih memakai piyama," cengir Malik.
"Cepat pergi mandi mas! Kita akan jalan-jalan dengan Jasmine sebentar," seru istrinya antusias.
"Memangnya mau pergi kemana?" Malik mengernyit.
"Jasmine bilang sih tadi mau ke Mall yang ada di pusat kota. Mau membelikan setelan jas untuk Ervin sebagai hadiah," jawab Elisa tersenyum lebar.
"Benarkah? Ervin kan kerja di Apoteknya sendiri. Jadi, dia tidak perlu repot-repot memakai jas seperti orang kantoran," Malik terkekeh geli.
"Mas," Elisa melotot tajam pada suaminya.
"Maaf, sebaiknya aku mandi dulu," Malik setengah berlari meninggalkan mereka berdua.
"Jangan dengerin apa kata om! Dia terbiasa dengan kehidupan kampung jadi pakaian dan celananya juga tidak jauh beda, itu-itu saja," Elisa menenangkan hati Jasmine.
"Iya tan, santai ajah," senyum Mimi terkembang.
Setelah sarapan bersama, mereka bersiap-siap untuk keluar dari rumah. Supir pribadi keluarga Malik sudah menyiapkan sebuah mobil yang akan dikendarai.
Pukul sembilan tepat mereka masuk ke dalam mobil. Mobil meluncur ke jalanan yang mulai padat.
Tak ada percakapan berarti. Mereka seolah terhipnotis oleh keadaan jalan yang licin karena hujan tadi.
Tiba-tiba saja Elisa berucap.
"Ervin ... seandainya dia menikah denganmu, pasti tante pasti bahagia sekali," Elisa hanya bisa menghela napas.
Jasmine dan Malik yang mendengarnya langsung menoleh pada Elisa. Jasmine tersipu malu mendengar perkataan Elisa. Sementara Malik sepertinya tidak nyaman dengan perkataan istrinya.
__ADS_1
Elisa menoleh pada Jasmine, dia tersenyum ramah dan hangat padanya.
"Tante memang berharap seperti itu sayang. Tapi, semua keputusan ada di tangan Ervin," keluhnya merasa gelisah.
Entah kenapa Malik merasa lega mendengar ucapan istrinya. Hampir satu jam mereka berada di perjalanan.
Mereka turun dari mobil setelah berada di tempat parkir VIP.
***
Di rumah Clara.
Clara tidak pergi ke kantor karena tuan D menyuruhnya agar di rumah saja untuk menghindari dari kelompok manusia yang membuat keributan semalam.
Nona muda di rumah itu merenung karena merasa bosan. Dia hanya berbaring, berguling ke kiri dan ke kanan di ranjang. Karena terlalu gila kerja, Clara menjadi kepikiran tentang perusahaan ibunya.
"Seharian di rumah bosen banget, mana harus menghubungi staf kantor dan sekretaris," keluhnya.
Kemudian dia bangkit dan duduk di pinggiran ranjang. Dengan langkah mantap dia keluar kamar dan pergi ke dapur.
"Bi ... aku mau makan shusi nih, pake ikan salmon ya!" serunya ketika melihat bibi merenung di dapur.
Wanita tua itu duduk sambil menopang dagu. Seruan dari majikannya membuyarkan lamunan.
"Maaf non, tadi bilang apa ya?" Bibi menyengir sembari menggaruk kepalanya.
"Sebentar non, bibi mau mengecek bahannya dulu," Bibi kemudian berjalan menghampiri lemari es dan membukanya serta mencari bahan yang harus disiapkan.
"Maaf non, kita tidak punya stok ikan salmon. Rumput laut kering juga tidak ada non, bibi tidak bisa membuat sushinya," sesal bibi.
"Yah," Clara duduk terhenyak di kursi. Wajahnya lesu tidak bersemangat.
"Bagaimana kalau nona makan sushi diluar saja! Makanan restoran lebih enak daripada masakan bibi, non," si bibi mengusulkan.
"Daddy melarang aku bi. Aku harus berada di rumah sebelum dalang keributan semalam tertangkap," keluh nona muda.
"Coba aja nona rayu lagi, soalnya nona itu anak kesayangan, tidak mungkin tuan D tega," bisik bibi.
"Ya udah nanti aku coba bi. Apa aku order online saja ya bi," Clara berpikir ulang.
"Order online nggak enak non. Lebih baik pergi ke mall saja sekalian jalan-jalan! Bibi tahu kalau nona bosan, kan?" Bibi mencoba membujuk Clara.
Dia tidak mau melihat raut wajah Clara yang muram selama berada di rumah.
"Nanti aku coba ijin ke Daddy bi," Clara pergi meninggalkan dapur. Langkahnya lesu tak bersemangat.
__ADS_1
"Daddy ... biarkan aku keluar ya?" Mohonnya pada si ayah.
Tuan D yang berada di ruang tamu menoleh pada anaknya.
"Memangnya kamu mau kemana Ra? Diam di rumah saja kan lebih aman," tuan D tetap kekeuh.
"Mau makan sushi, Rara teringat mommy makanya pengen sushi yang biasa mommy pesen," ungkapnya.
Mendengar perkataan anaknya, tuan D hanya bisa menghela napas. Dia berpikir sejenak dan menatap manik mata anaknya yang terlihat lesu.
"Baiklah, kali ini Daddy ijinkan asalkan kamu tidak sendirian. Kamu bawa Ervin untuk menjagamu! Daddy percaya padanya," tuan D akhirnya menyerah.
"Aku terpaksa membiarkan Clara bersama kamu Vin, aku tahu kamu akan menjaganya tanpa aku suruh," batin tuan D yang sebenarnya tidak rela.
Mata Clara berbinar-binar bahagia, dia tiba-tiba merangsek memeluk tubuh ayahnya.
"Makasih Daddy," ucapnya bersemangat dan melepaskan pelukan.
Clara berlari kecil, dia masuk ke dalam kamar dan berganti baju dengan cepat. Sepuluh menit berlalu, wanita itu keluar dari kamarnya dan berjalan ke depan.
"Ervin! Ayo kita ke mall!" panggilnya pada Ervin yang tengah menolong tukang kebun harian.
Ervin yang mendengar teriakan Clara spontan menoleh. Dia tersenyum lebar melihat wanita kesayangannya. Pria itu bangkit dan undur diri pada si bapak kang kebun.
"Tumben tuh muka girang, udah kayak anak kecil," Ervin menggelengkan kepalanya.
Clara masuk ke dalam mobil, dia menyerahkan kunci pada Ervin setelah menekan tombol pada kunci tersebut.
"Ke mall seperti biasa!" Suruhnya.
Kali ini Ervin melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh. Tak sampai setengah jam mereka sudah berada di tempat parkir sebuah pusat perbelanjaan.
Clara yang tidak sabar secara tak sengaja, menabrak seorang wanita paruh baya yang sedang bergandengan tangan dengan seorang wanita seumuran dengannya.
"Ih punya mata kenapa nggak lihat sih kalau ada orang," Clara berkacak pinggang. Seketika moodnya hancur.
"Hey gadis muda, kamu yang menabrak kami. Bukannya minta maaf malah marah-marah nggak jelas.
Ervin berdiri mematung melihat pemandangan di depannya. Lidahnya kelu tak bisa berkata-kata.
Clara yang sejatinya keras kepala masih berdebat dengan wanita paruh baya itu.
*
*
__ADS_1
*Bersambung