Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 108 Pencarian


__ADS_3

Malik masuk ke kamarnya dan membangunkan Elisa. Dia mengguncang tubuh istrinya yang sudah terlelap.


"Mas, kenapa lagi?" Elisa emosi karena sudah dua kali suaminya mengganggu tidurnya.


"Ervin, anak kita kabur. Dia tidak ada di kamarnya?" Malik menatap Elisa.


"AAPA?" Elisa tersentak mendengar kabar dari suaminya.


"Iya, anak kesayangan kamu kabur. Bagaimana ini? Sekarang juga kita harus mencarinya," Malik mengambil jaket dan memakainya.


"Jangan mas! Dia itu pria dewasa, mungkin saja kamu keterlaluan karena menghalanginya untuk bersama orang yang dia cintai. Aku yakin, pasti dia ingin sekali bertemu Clara. Bagaimana kalau kita ke sana? Tapi, bukan malam ini. Sekarang sudah tengah malam mas. Besok pagi kita pergi ke rumah Clara ya!?" Elisa menarik lengan suaminya agar dia tidak bertindak gegabah. Apalagi Malik baru saja keluar dari rumah sakit dan harus menahan emosi.


Elisa membuka jaket yang sudah dipakai suaminya. Ia berusaha menenangkan Malik yang tersulut emosi karena tingkah anaknya yang diluar dugaan.


"Sebaiknya kamu tidur saja mas! Kosongkan dulu pikiranmu, pasti kamu bisa tidur. Ayo kemarilah!" Elisa membuka dua lengannya. Mau tak mau Malik menuruti perkataan istrinya, besok pagi dia akan memberikan perhitungan pada anak laki-lakinya.


Mereka tidur dengan perasaan yang tidak dapat ditebak.


Di sisi lain di rumah sakit, beberapa jam sebelumnya. Clara mendapatkan perawatan medis. Setelah di periksa oleh dokter yang bertugas gadis itu hanya mengalami trauma. Tidak ada luka ataupun lebam.


"Clara, coba katakan pada Daddy! Benarkah semua ini gara-gara Royan?" Dendi menahan emosi.


Clara terdiam, namun kepalanya mengangguk mantap.


Yang ada dalam pikirannya dia tidak mau bertemu dengan pria laknat itu.


"Aku diberikan obat sampai kepala pusing dan tak sadarkan diri Daddy," Clara terisak mengingat kembali.


Dendi memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang. Dia mengelus rambut Clara.


"Jangan khawatir sayang! Daddy sudah menyuruh Frank untuk menghabisi mereka. Mereka akan menerima balasan yang setimpal karena telah membuatmu menderita seperti ini," Dendi berusaha menenangkan Clara.


Clara tertidur di pelukan ayahnya setelah lelah terisak.


Dendi membaringkan tubuhnya di atas brankar, dia tidak mau orang lain yang menjaga Clara. Kejadian ini membuatnya jera dan tidak akan pernah terjadi kembali dalam hidup anaknya, itulah janjinya.

__ADS_1


Pagi tak secerah biasanya, mentari seolah malu menampakkan diri kepada makhluk di bumi. Clara masih tertidur pulas di brankar. Dendi menjaga di sisi brankar si anak. Semalaman dia tidak mampu memejamkan mata karena harus mengawasi si anak.


Ponselnya berdering membuat Clara bergerak, dengan cepat ia menjawab panggilan telepon.


"Kenapa Frank?" Dendi perlahan menjauh dari brankar.


["Firda pingsan di rooftop tuan, detak jantungnya semakin lemah. Sesuai dengan keinginan tuan kami tidak memberikannya makan dan minum selama tiga hari ini. Sekarang bagaimana tuan?"] Dari nada suaranya, Frank tampak cemas.


"Sebaiknya kurung dia di kamarnya! Panggil satu orang anak buah yang belum pernah ke rumah untuk menyamar sebagai dokter dan berjaga di sana. Kalau dia mati, tinggal kubur saja mayatnya. Kalau perlu undang tetangga agar mereka tidak curiga dengan kematian Firda. Wanita ular itu sudah cukup membuatku pusing." Dendi sudah malas dengan keadaan Firda.


["Baiklah tuan, saya akan melaksanakannya. Satu lagi, Royan dan kawan-kawan yang menculik nona sudah kami gertak dan siksa. Kini, apa yang harus kami lakukan pada mereka? Apakah kita harus melapor pada polisi yang bekerja sama dengan kita?"]


Dendi berpikir sejenak, dia belum memutuskan tentang Royan dan yang lainnya. Frank bertanya lagi pada Dendi.


"Begini saja, kamu serahkan semua pria itu pada polisi. Royan dan wanita itu akan aku urus dengan tangan ini. Mereka berdua pemimpin dari aksi penculikan, aku tidak akan semudah itu melepaskan mereka walaupun wanita itu adalah anak orang berpengaruh sekalipun." Tanpa menunggu jawaban Frank, Dendi langsung memutuskan panggilan telepon begitu saja.


Di sisi lain, Malik yang tahu tentang anaknya yang kabur mulai mencari keberadaan Ervin. Dia mengerahkan tiga orang suruhan yang dikirim Toni saat dia memintanya.


"Udah hampir siang ini mas, kenapa Ervin belum pulang juga?" Elisa mondar mandir di depan suaminya yang tengah menatap ponsel, menunggu informasi dari anak buah Toni.


"Mas bilang semalam mau pergi ke rumah Clara. Kenapa kita tidak mencobanya?" Usul Elisa.


"Aku lupa, astaga kenapa aku melupakan itu." Malik berdiri, dia menarik pergelangan tangan istrinya.


"Sekarang juga kita ke sana! Awas aja itu anak kalau ada di sana. Rumah ini tidak akan terbuka lagi untuknya," Malik berusaha menahan emosi.


Pria dewasa tersebut langsung menyuruh pak sopir agar mengantarnya ke rumah Clara. Mereka duduk di kursi belakang dengan tampang tak tenang. Hampir satu jam mereka baru saja tiba di kediaman Dendi. Dengan tak sabar Malik turun, ia langsung menekan bel pagar berulang kali.


"Cari siapa pak?" Sekuriti seperti pernah melihat wajah pria dewasa di depannya. Mereka terhalang pintu pagar teralis yang menjulang.


"Ervin, mana Ervin? pasti dia ada di sini. Cepat panggil dia keluar!" Malik berkacak pinggang. Dia langsung pada intinya tanpa berbasa-basi dahulu.


"Ervin? Kenapa bapak menanyakannya pada saya? Saya tidak tahu tentang keberadaan Ervin," Sekuriti menjawab jujur.


"Nggak usah bohong ya! Pasti dia kemari karena wanita itu. Cepat panggil anakku!" Nada suaranya terdengar ketus.

__ADS_1


"Nona Clara aja nggak di sini kok. Dia diculik, di rumah ini tidak ada nona dan tuan. Saya hanya menjaganya dengan beberapa orang body guard," Sekuriti malas menanggapi Malik. Dia langsung kembali ke pos jaga.


"Kurang ajar dia, nggak tau sopan santun. Aku ditinggal begitu saja," Malik mengepalkan tangan.


"Kita pergi mas! Menurutku dia tidak bohong. Tatapan matanya tidak ada keraguan. Dia berbicara jujur," Elisa yang sedari tadi diam mulai bersuara.


"Mungkin saja Ervin mencari keberadaan Clara yang diculik." Malik terbelalak melihat istrinya.


"Memangnya anak kita tahu tentang Clara yang diculik?" Elisa mendorong tubuh suaminya agar masuk ke mobil.


Mereka kembali masuk mobil, Malik masih berpikir kemana dia harus pergi untuk mencari anaknya.


"Mas, kita mampir ke Apotek dulu ya! Perutku sakit nih. Berangkat ke apotek sekarang pak!" Seru Elisa pada pak sopir.


"Mana yang sakit? Maag kamu kambuh?" Malik memegang perut istrinya karena khawatir.


"Sakit perut karena banyak sarapan tadi mas," Elisa sempat menyengir lebar.


"Makanya kalau sarapan sewajarnya aja! Sampe sakit perut begini, kan?" Malik tiba-tiba malas.


Dua puluh menit berlalu, apotek sudah ada di depan. Mereka turun, Elisa tidak sabar, ia langsung melesat ke toilet yang ada di dalam apotek.


Malik merasakan hal yang berbeda, dia mengamati karyawan yang ada di sana.


"Bos kalian mana?" Tanyanya pada salah satu karyawan.


"Lho ... bukannya anda bos kami ya pak?" Ia malah bertanya balik.


"Bos kalian itu ya anakku," Malik melangkah pergi meninggalkan mereka yang berada di balik etalase kaca.


Malik masuk ke kantor Ervin, di sana terdengar suara beberapa orang yang tidak dia kenal. Malik memutar gagang pintu, daun pintu terbuka lebar. Matanya melotot melihat sebuah pemandangan yang belum pernah dilihatnya sebelum itu.


"Kenapa ... kenapa bisa begini?"


*

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2