
"Maaf ya mas, sebenarnya tadi itu saya...
Suara di seberang masih ragu untuk bercerita.
"Sebenarnya kenapa Pak? saya tidak diterima bekerja?" tanyanya galau.
"Bukan Mas, sebenarnya tidak lama setelah memberikan berkas tadi Non Clara menyuruh Mas untuk bekerja besok, tapi saya baru sempat menginfokan sekarang, sekali lagi maaf ya Mas!" ucapnya pelan.
"Huh, aku pikir tidak keterima Pak, ya sudah kalau begitu besok pagi aku akan ke sana Pak!" Ervin memutuskan panggilan telepon.
Wajahnya berbinar-binar dan bersemangat.
Dia membuka pintu kamar dan melangkah ke ruang makan, kedua orang tuanya sudah menunggu di sana.
"Lama banget sih Vin? memangnya kamu lagi ada kerjaan ya?" tanya ibunya.
"Gak sih Mam, cuma menunggu informasi penting aja tadi," sahutnya datar.
"Lain kali kalau tidak mau makan bersama kasih tahu saja biar kami makan duluan," Malik mulai menyentong nasi ke piring.
Ervin tidak berani menyahut, ia hanya menatap wajah mamanya yang masih menatapnya sedari tadi. Mereka makan bersama dengan khidmat tanpa ada sepatah kata pun.
Malam itu Ervin langsung masuk ke kamarnya dan mulai mencari cara agar orang tuanya tidak tahu apa yang dia lakukan.
"Gimana ya caranya biar Mama dan Papa gak tahu kalau aku kerja jadi supir?" gumamnya seorang diri sambil duduk di sofa tunggal yang ada di samping ranjang.
Dia mendongak menatap atap kamarnya seakan-akan di sana ada ide yang muncul.
"Apa aku panggil Royan ajah untuk mengurus Apotek? ada Jefrey yang bisa mengajarinya," tiba-tiba saja sebuah ide muncul.
"Besok pagi aku harus menghubungi Roy agar secepatnya pergi ke Apotek," gumamnya lagi.
Ervin mulai menguap setelah berjam-jam memikirkan solusinya. Kini dirinya sudah menghenyakkan tubuhnya di atas ranjang dan berbaring pelan.
***
Pagi telah tiba, mentari sudah menampakkan wujudnya, embun pagi pun lambat laun menghilang karena panas yang ditimbulkannya. Ervin sudah bersiap, ada tas ransel sedang yang dia bawa. Sebelum bersiap dirinya sudah menghubungi Royan dan Jefrey, mengatur tugas dan pekerjaan untuk mereka selama sebulan penuh.
"Tumben kamu udah rapi Vin?" Malik menyapa anaknya yang sudah duduk di kursi.
"Ada kerjaan dadakan Pa, jadi aku harus pergi lebih pagi," dia beralasan.
Malik hanya mengangguk saja. Si mbok dan Elisa sudah datang dengan membawa makanan untuk sarapan bersama. Mereka sarapan roti tawar yang diolesi selai kacang, tidak lupa susu rendah lemak menemani sarapan mereka.
"Lho Mbok, kopi aku mana?" Ervin mengernyit.
"Sebentar Den, saya ambilkan," dengan langkah tergesa si mbok kembali ke dapur dan menyuguhkan kopi untuk majikannya.
__ADS_1
Sarapan sudah siap, Ervin mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Dia takut kalau waktunya tidak cukup untuk datang tepat waktu ke rumah Clara, apalagi hari ini adalah hari pertamanya bekerja.
Dia mampir ke Apotek sebentar untuk menyapa sahabatnya sekaligus berganti baju agar penampilannya tidak mencolok.
"Untung saja aku inget kalau aku cuma jadi supir, bajuku terlalu bagus untuk menjadi seorang supir," pikirnya sambil berganti baju di toilet apotek.
Dia sudah keluar dengan penampilan barunya, para karyawannya menatap lekat pada bos-nya itu. Mereka berpikir macam-macam tentang bos-nya yang memakai baju kaos distro dan celana chinos pendek seperti orang yang mau nongkrong.
"Mau kemana sih Bos?" Jeffrey memandang Ervin dari atas sampai bawah.
"Terserah aku mau kemana," sahutnya setengah berlari meninggalkannya.
Ervin langsung mengendarai motornya dan mengebut di jalanan. Pikirannya tertuju pada Clara, Clara dan Clara. Satu jam berlalu, dirinya menekan tombol bel setelah berada di depan rumah Clara yang megah.
"Kenapa telat Mas? udah ditunggu tuh di dalam!" pak sekuriti tergopoh membuka pintu.
Ervin masuk dengan motornya ke dalam, dia menanggalkan helem yang dia pakai. Tas yang Ia bawa pun di letakkan diatas jok motor.
"Siapa kamu?" tanya dua orang berbadan besar.
"Aku supir baru Nona Clara," jawab Ervin datar.
"Kamu nggak salah? bukannya kalau Nona memilih Supir usianya diatas 40an tahun?" pria tadi merasa heran.
"Maaf aku tidak punya waktu," Ervin menerobos kedua pria tadi yang masih diam terpaku setelah mendengar permintaan maafnya.
"Wah anak itu masih baru udah bertingkah aja Bro," geram pria satunya.
"Benar juga katamu," timpalnya.
Mereka berdua saling berpandangan dan terkekeh bersamaan.
"Permisi, saya Ervin supir baru Nona Clara," Ervin mengetuk pintu utama yang terbuka lebar.
"Masuk!" perintah sebuah suara.
Seorang wanita membelakangi tubuh Ervin. Wanita itu sibuk dengan ponselnya dan tidak menghiraukan keberadaan Ervin.
"Permisi Nona atau Nyonya?!" Ervin kebingungan.
Wanita itu berbalik arah dan menatap wajah Ervin dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mata mereka saling beradu pandang.
Gila, wajahnya tetap cantik, apalagi mata bulatnya itu indah sekali.
"Kamu siapa?" tanya Clara menelisik.
"Saya Ervin yang akan menjadi supir baru Anda Nona," jawabnya santai.
__ADS_1
"Tidak, pasti bukan kamu! pasti kamu salah masuk rumah," wanita itu menggeleng cepat.
"Saya dipanggil kemari setelah menyerahkan berkas lamaran kerja Nona," Ervin tersenyum tipis.
"Apa iya?" Clara mulai berpikir.
Dirinya melangkah ke ruang keluarga dan mengambil sebuah amplop coklat. Ternyata benar amplop itu masih ada di sana sampai saat ini. Dia mengambil amplop itu dan membuka isinya.
Betapa terkejutnya dia kalau foto di dalam berkas itu adalah Ervin. Dia langsung membawa berkas tersebut.
"Jadi, kamu yang membawa berkas ini?" tanyanya.
"Iya betul Non, saya dihubungi kemarin dan di suruh datang pagi ini," jawabnya jujur.
"Tapi aku pikir usia kamu 40an, sementara kamu tidak jauh usianya denganku," Clara khawatir.
"Lho, memangnya kenapa ya Non? saya memang masih muda tapi keahlian saya dalam menyetir tidak perlu diragukan lagi," Ervin berucap mantap.
"Bukan itu maksudku-," belum sempat Clara menambah, suara bariton seorang pria terdengar dari ujung tangga.
"Biarkan saja dia bekerja Ra, tidak ada salahnya walaupun dia masih muda," seorang pria paruh baya mengamati wajah Ervin.
Ervin tersenyum padanya dan menundukkan kepalanya sedikit untuk memberikan rasa hormat.
"Tapi ingat, kamu itu hanya supir tidak lebih," tuan D berkacak pinggang.
"Berangkatlah sekarang! kamu sudah telat," perintah daddy-nya.
"Oke Dad, aku pergi dulu! kamu, ambil kunci berwarna silver di gantungan sana!" tunjuk Clara pada sebuah dinding ruangan.
Ervin menurut apa perkataan Clara, dirinya kemudian menyusul Clara dan pergi ke arah garasi mobil yang berada di samping rumah.
"Besok kamu harus lebih pagi datangnya biar aku gak telat," perintah Clara.
"Maaf Non, besok saya akan lebih pagi datangnya," Ervin masuk ke arah kemudi.
Mobil sudah meluncur dan mata Clara terpaku pada sebuah motor yang terparkir di halaman rumahnya.
"Itu motor gede punya kamu? bukankah motor itu cukup mahal?" Clara menelisik wajah Ervin dibalik cermin spion dalam mobil.
"Eh- itu- motor itu-," Ervin tergagap untuk mengatakannya.
Mobil sudah menjauh dari rumah Clara, Clara masih menanyakan perihal yang sama.
"Motor tadi punya kamu kan?" selidiknya lagi.
"Sebenarnya motor itu...
__ADS_1
Ervin menenggak salivanya dengan berat.
Bersambung