Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 15 Menunaikan Janji


__ADS_3

Raut wajah salah satu awak kapal itu membuat Ervin meremang ketika dia menampakkan seringainya.


"Sebenarnya pulau itu bekas pelatihan tentara, tapi karena mereka sudah pindah di lain tempat jadi ada orang yang mengelola bangunan tua yang konon ada beberapa pengganggu di sana," jelas awak kapal.


"Pengganggu maksudnya?" Ervin masih belum mengerti.


"Ada desas desus bahwa dulu pernah ada anggota pelatihan yang meninggal di sana, penyebabnya apa? mereka juga tidak mengetahuinya. Ada yang janggal dengan kematian anggota tadi," jelasnya lagi.


Plaaaak


Awak kapal tersebut di tepuk oleh pria tua di belakangnya.


"Woi, jangan dengerin dia nak! dia kebanyakan minum obat," pria tua itu terkekeh geli.


"Jadi semuanya itu bohong?" Ervin masih penasaran.


"Bukan bohong bukan kenyataan, hanya desas-desus yang tidak berdasarkan bukti," jelas si pria tua.


"Owh begitu, oh iya... sebenarnya kita akan berada berapa jam di laut? perutku sudah mulai mual," Ervin merasakan sesuatu di perutnya yang bergejolak.


"Pelampungnya tetap di pakai ya! laut ini suka dadakan datang badai, aku akan mengambil obat untukmu, jadi tunggu di sini!" pria tua meninggalkan keduanya.


Mentari sudah terik, sinarnya membuat silau siapapun yang terkena pancarannya. Terutama Ervin yang tengah berbaring di atas dek kapal. Perutnya sudah mulai bisa beradaptasi dengan goncangan ombak laut.


"Sabarlah! sebentar lagi sampai, pulaunya sudah terlihat dari sini," tunjuk si pria tua.


Ervin bangkit dan memicingkan netranya, sebuah pulau kecil terlihat jelas.


Apakah aku akan sanggup bertahan hidup di sana selama dua tahun? tak ada Mall, tak ada game, tak ada teknologi, tak ada restoran, tak ada makanan enak.


Ervin menghela nafasnya dengan panjang, sejenak ia mulai ragu. Satu jam kemudian mereka semua turun dan menyandarkan kapal di daratan, mereka mengantarkan Ervin ke tempat tujuan.


"Lepaskan!" seru pria tua.


"Lepaskan? maksudnya?" pria muda itu mengernyit.


"Lepaskan pelampungmu! kita udah sampai jadi tidak perlu pelampung lagi," jelasnya.


Ervin melihat badannya sendiri, ia menepuk jidatnya karena melupakan sesuatu.


"Maaf aku lupa," ia menyengir. Kemudian ia memberikan pelampung itu pada si pria tua dan melanjutkan langkahnya.


Di depan mereka sudah berdiri bangunan tua yang masih kokoh dan terawat. Ervin mengitari sekelilingnya dengan saksama.


"Sampai sini dulu ya nak, kami harus kembali ke kapal, selamat berjuang," pria tua menepuk pundak Ervin dengan kuat.

__ADS_1


Toni tersenyum pada Ervin, dia dan seorang pemuda yang umurnya lebih muda dari Ervin menyambut kedatangannya.


"Selamat datang Ervin, semoga kamu betah dan bisa bertahan di sini," Toni membuka lebar tangannya ke udara.


Ervin dengan ragu melangkah mendekat dan memeluk Toni. Pemuda di sampingnya terlihat penasaran siapakah Ervin sebenarnya. Mereka melepaskan pelukannya.


"Om Toni? dan ini...?" ia tak melanjutkan ucapannya sembari menoleh ke samping.


"Anak Om namanya Zayn Marino," sahutnya.


Pemuda itu bersalaman dengan Ervin, tangannya terasa kokoh dibandingkan tangan Ervin yang masih halus sebagai seorang pria. Terus terang saja, Ervin bukan tipe pria yang gemar berolahraga berat, ia hanya berlari keliling kompleks perumahannya seminggu tiga kali, tak lebih dari itu.


"Kalian berdua harus akur! seperti aku dan papamu dulu Vin, Malik seperti adik kandungku," mereka melanjutkan langkahnya masuk ke dalam bangunan.


Rasa penasaran Ervin sudah terjawab, kini ia berada di sana dan mulai merasakan sesuatu yang aneh. Tata letak jendela yang beraneka ragam ukuran memenuhi bangunan.


"Santai saja Vin, gak usah tegang begitu, tahun ini ada 20 orang yang Om terima untuk belajar tehnik ilmu dalam di sini," Toni melihat raut wajah pria itu yang sepertinya masih bingung.


"Ilmu dalam Om?" ia tak mengerti.


"Besok saja Om jelaskan bersama pelajar lainnya, sekarang kita pergi makan dulu di dapur," ia mengajak Ervin.


Ada seorang wanita paruh baya yang berkerudung syar'i sedang menata makanan di atas meja.


"Kalian sudah datang? ayolah kita makan dahulu!" ajak wanita itu ramah.


Sorenya Ervin mulai bergabung di sebuah ruangan yang besar dan tertutup, di sana terdapat sepuluh kasur bertingkat. Semua pria yang sudah berada di ruangan itu langsung berkumpul ketika melihat Toni datang membawa seorang anggota lagi. Setelah berkenalan, mereka harus beristirahat memulihkan kondisi tubuh agar latihan pertama besok pagi berjalan dengan lancar.


***


"JASMINE!" teriak ibunya.


"Ada apa lagi sih Moms?" ia berkacak pinggang di depan ibunya yang mendekat.


"Kamu kenapa meninggalkan Ruby? dia hampir saja terjatuh dari tempat tidur," ia menunjuk anaknya.


"Please Moms, aku capek ada di rumah ini, Ruby itu anak Mommy bukan anakku, kenapa harus aku yang menjaganya selama 24 jam?" Jasmine protes.


"Bantu Mommy sayang!" ibunya mulai meredam amarahnya.


"Nope, aku harus kembali ke Aussie, saatnya aku berkuliah lagi meneruskan cuti panjangku," ia meninggalkan ibunya.


"Mommy berubah menjadi sosok wanita panas baran semenjak si Ruby lahir," keluhnya.


Jasmine membuka koper dan memasukkan barang keperluannya, tak banyak yang harus ia bawa karena di sana sudah banyak baju-baju peninggalannya dahulu.

__ADS_1


Jauh hari dia sudah memesan tiket tanpa memberi tahu kedua orangtuanya. Sore ini gilirannya untuk landing ke sana. Ia berpamitan pada Fatma di kamarnya.


"Kamu beneran mau kembali ke Aussie?" Fatma terlihat murung.


"Tentu saja Moms, aku harus pergi sekarang juga," ia keluar tak mengindahkan panggilan ibunya.


"Dad, aku pergi ya," ia menyalami tangan ayahnya.


"Tumben mendadak sayang?" Evans menghela nafasnya.


"Sudah dua Minggu yang lalu aku udah beli tiket Dad, kini aku harus mengejar ketertinggalan pendidikanku," ia meringis.


"Daddy tahu, kalau begitu biar Daddy yang akan mengantarkan kamu ke Bandara," dengan tenang Evans bangkit dan melangkah di sebelah anak gadisnya.


"Thanks Dad," kali ini senyumnya terlihat tulus.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil yang sama, Evans dengan senang hati mengantarkan kepergian anaknya. Dia tidak akan pernah mencampuri kemauan anak gadisnya asalkan itu adalah keputusan yang terbaik untuk pendidikannya.


Ciiiiiiiitt


Jantung keduanya berdetak kencang melihat kejadian yang ada di depan mereka. Sebuah mobil hitam mengelilingi mobil mereka dan banyak pria berjas hitam yang keluar dari mobil. Total ada 12 orang pria yang berbadan besar dan tegap mengelilingi mobil yang Evans kendarai.


"Dad, siapa mereka?" Jasmine ketakutan.


"Daddy juga tidak tahu, apa mungkin mereka salah sasaran?" Evans mulai bergetar.


Mungkin satu sampai tiga orang bisa dia lumpuhkan, tapi ini ada 12 orang pria yang besar.


Salah satu dari mereka mendekat dan mengetuk pintu kaca.


"Keluar dari sini!" perintahnya.


"Dad..." pipi Nissa mulai mengalir air bening.


"Kamu tunggu di sini! jangan pernah keluar apapun yang terjadi! kunci pintu mobilnya sayang!" perintahnya pada anak gadisnya.


Evans keluar perlahan dan langsung menutup pintu mobil, dengan segera Jasmine menekan sebuah tombol agar pintu terkunci rapat.


"Kalian siapa? mau apa kalian?" Evans menengadah menatap mereka bergantian.


"Kami adalah organisasi dari...


*


*

__ADS_1


*Bersambung


Kira-kira Evans dan Jasmine selamat dari maut apa tidak ya?


__ADS_2