Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 28 Tugas Pertama


__ADS_3

"Motor itu punya temen saya Nona," Ervin beralasan.


"Jadi temanmu itu orang kaya dong? kenapa kamu tidak bekerja dengannya malah menjadi sopir?" Clara bersedekap dan menelisik raut wajah Ervin melalui kaca spion.


"Di tempat teman saya itu sudah cukup pekerjanya Non, jadi saya tidak bisa bekerja di sana," jawab Ervin cepat.


Kali ini tanggapannya cepat, tepat dan terdengar logis.


Clara hanya mengangguk saja, manik mata coklat itu masih menatap Ervin dengan intens.


"Entah kenapa sepertinya aku pernah melihatmu," Clara berpikir keras.


"Hah? apa yang Nona katakan tadi?" Ervin bertanya.


"Kamu, aku pernah melihatmu tapi entah dimana," ulangnya lebih keras.


"Mungkin itu hanya perasaan Nona saja," Ervin menyahut cepat sambil terus menyetir.


Semoga saja dia tidak ingat kalau kita pernah bertemu di Singapura.


"Hey, kamu salah jalan!" Clara menyuruh Ervin berhenti berbelok.


"Maaf Non, saya tidak tahu kemana arah perusahaan Anda," Ervin berhenti dan menoleh ke belakang.


Senyumnya terkembang sempurna.


Gara-gara kepikiran yang tadi malah gagal fokus.


"Ck, memangnya pak sekuriti belum ngasih tahu kamu alamat kantor aku?" Clara berdecak kesal.


Ervin menggelengkan kepalanya, matanya masih menatap Clara.


"Buka peta lokasi di layar bawah dasbor itu! Ketik alamatnya biar kamu tahu lokasinya dimana," Clara menyuruh Ervin.


Clara menyebutkan sebuah alamat, Ervin tidak berkata apapun hanya jarinya saja yang bergerak lincah.


"Wah, canggih ya Non mobilnya," Ervin kagum ( dia pura-pura lho pemirsa ).


"Cepat jalan! Aku udah telat nih," geramnya.


Kalau aja bukan hari pertama bekerja, udah aku maki kamu sopir sialan.


Dengan cepat mobil yang di setir Ervin melesat ke jalanan. Tidak sampai setengah jam kendaraan itu sudah berada di depan sebuah bangunan tinggi menjulang yang terdapat puluhan lantai di dalamnya.


Ervin diam saja setelah mereka sampai.


"Lho, kok nggak dibukain pintu sih?" Clara mulai jengkel karena menunggu.


"Ah iya Non, maafkan saya Nona," Ervin bergegas membuka Seat belt yang dia kenakan dan keluar dari mobil serta membuka pintu untuk Clara.


Tuh kan aku lupa lagi kalau aku ini sekarang status sosialnya berubah.

__ADS_1


Ervin melebarkan senyumnya pada Clara, dirinya menunduk hormat dan menutup pintu mobil kembali setelah Nona mudanya keluar.


"Jangan lupa untuk nanya sama Om Frank tugas kamu apa setelah nganterin aku! dan jangan lupa jemput aku setiap jam 3 sore, aku gak mau kamu telat datang," sebelum Ervin menyahut perkataannya, Clara sudah melangkah masuk meninggalkan pria itu yang terbengong melihat punggung Clara.


"Ternyata dia jutek juga," Ervin masih terdiam terpaku di tempatnya.


Plak...


Tepukan lembut mendarat di pundaknya.


"Mas ini siapa ya? kok penampilannya aneh? karyawan baru di kantor ini ya mas?" Telisik seorang wanita yang menepuk tadi.


"Bukan Mbak, aku cuma nganterin seseorang aja," sahutnya kemudian berlalu dari hadapan wanita itu.


"Masnya ganteng tapi sayang gak fashionable," Wanita itu menatap punggung Ervin sampai tak terlihat lagi.


Braaaakk...


Suara pintu mobil yang ditutup dengan kencang.


"Aneh katanya? penampilan aku aneh?" Tangannya mengepal setir mobil dengan erat.


Kendaraan itu pun meluncur kembali ke jalanan kota yang sudah dipenuhi bermacam jenis kendaraan.


Ervin kembali ke rumah keluarga tuan D. Dengan sigap dirinya melapor pada orang yang bernama Frank setelah keluar dari mobil.


"Siapa yang mencariku?" Tanya seorang lelaki yang tinggi besar dengan lengan berotot, dia melangkah hendak masuk ke dalam rumah.


"Ada apa memangnya? Untuk apa kamu mencariku?" tanya pria berotot tadi.


"Saya di suruh Nona untuk mencari Bapak sebelum saya pergi menjemputnya nanti," dia berkata jujur.


"Kalau begitu ikut saya ke atas!" Frank melangkah ke samping rumah dan menaiki tangga yang ada di sana.


Ervin terbelalak tidak percaya akan penglihatannya.


"Kamu harus bersihkan Rooftop ini sebelum waktunya makan siang!" perintah Frank.


Ervin menelan ludah dengan berat, baru hari pertama bekerja malah di suruh membersihkan Rooftop yang luas ini.


"Kenapa diam saja? cepat bersihkan! Ambil ember, sikat kamar mandi dan cairan pembersih jamur di dalam toilet sana!" tunjuknya.


"Iya Pak, akan saya bersihkan!" Ervin tergopoh berjalan ke toilet tersebut.


Frank mengekori dari belakang dengan santainya.


"Aku belum tahu siapa namamu?" Frank memicingkan mata karena terkena cahaya matahari.


"Namaku Ervin Pak," Ervin menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


Namun, tangannya tersebut hanya menggantung di udara. Frank tidak mau berjabat tangan.

__ADS_1


"Kamu harus tahu ya Vin, kalau di sini aku itu adalah tangan kanan Tuan D, jadi apapun yang aku perintahkan kamu harus melaksanakannya!" Frank langsung pergi meninggalkan Ervin seorang diri.


Ervin tertegun menatap Rooftop yang luas sekali.


Tempatnya menyerupai cafe outdoor yang eksentrik.


Terlihat botol-botol kaca berserakan di lantai. Terlihat juga gelas-gelas yang berserakan di atas meja lengkap dengan asbak yang sudah penuh dengan puntung rokok.


"Mimpi apa aku semalam? aku kan hanya seorang sopir, kenapa aku harus membersihkan tempat ini?" Ervin menatap kotoran itu dengan malas.


'Hey, cepat kerjakan! Kalau tidak kamu tidak akan mendapatkan jatah makan siang!" Pekik seseorang yang baru saja naik. Orang itu masih berada di ujung tangga.


"Baiklah," Ervin menjawab asal.


Sekarang mau tidak mau, Ervin membersihkannya.


Dia memulai menyikat dinding pembatas. Lama kelamaan keringat bercucuran di kening Ervin. Baju kaos yang dia kenakan pun menjadi basah. Kini giliran memungut botol-botol minuman dan asbak yang penuh tadi. Dengan gesit Ervin membuang di tempat sampah yang berada di salah satu sudut rooftop.


Napas Ervin mulai tersengal, dirinya beristirahat sejenak dengan menyenderkan punggungnya di kursi yang tersedia di sana.


"Sumpah capek banget, seumur hidup baru kali ini aku melakukan pekerjaan beginian," keluhnya.


( Kebanyakan ngeluh nggak gentleman lho Vin 🙄)


Tidak sampai sepuluh menit dirinya kembali mengambil sapu dan mulai menyapu seluruh lantai.


Tubuh Ervin terlihat berkeringat, Ervin meringis sambil sesekali menghapus keringat di dahi menggunakan lengannya. Dia baru menyadari kalau posturnya yang berotot tercetak jelas di bajunya yang basah karena keringat. Dia pun membuka bajunya dengan cara menyilang ke atas, sehingga terekspos bulu rapi yang tersembul di ketiaknya.


Ervin meletakkan bajunya begitu saja di atas kursi, kemudian dia mulai menyapu kembali.


Di anak tangga ada dua orang yang mengintip pekerjaan Ervin.


"Hahaha, dasar cowok bego, mau-maunya aja di kerjain Om Frank," tawanya yang tertahan.


"Beneran deh Om Frank ini kebangetan ngerjain anak baru," sahut satunya


Ada dua orang yang membicarakan Ervin si sopir baru di anak tangga.


"Ah sudahlah, bukan urusan kita, ayo kita pergi dari sini! Bisa-bisa Om Frank memergoki kita," mereka turun dari anak tangga dengan perlahan agar tak ada suara yang ditimbulkan.


Bruaaakk...


Kedua orang itu terkejut dan sontak berlari ke sumber suara


"Astaga, kenapa bisa....


*


*


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2