
"Ini kan tempat umum, terserah aku dong mau ada dimana," Tania berkacak pinggang dan melotot tajam pada Clara.
"Pergi sana kalau udah selesai! Aku sakit perut dan tak ada waktu untuk berbicara denganmu," Clara terburu-buru masuk ke toilet.
"Dasar wanita sinting, pasti dia takut karena nggak ada Ervin di dekatnya," cibir Tania.
Tania membasuh tangannya dan berlalu dari sana. Wanita itu berjalan santai dan menuju ke outlet sepatu.
Ervin melihat Tania, sebelum wanita itu melihatnya, Ervin melengos pergi. Pria tersebut berjalan menjauh dari Tania dan bersembunyi di balik tiang besar.
"Sialan, kenapa di saat seperti ini ketemu wanita sinting itu?" Batinnya menjerit.
Setelah Ervin melihat Tania masuk outlet, dia berjalan tergesa-gesa menuju toilet yang dimaksud olehnya.
Pak sopir sudah membawa dua kaleng minuman dan menepuk pundak Ervin.
"Mas, ini minumnya!" Sopir itu mengikuti langkah Ervin yang sudah berada di depan pintu toilet.
"Makasih ya pak," balasnya sembari tersenyum yang dipaksakan.
"Pak tunggu di sini dulu! Aku mendadak tidak jadi pipis tapi sakit perut," Ervin membawa kaleng minumannya. Dia masuk ke lorong pembatas toilet antara lelaki dan perempuan. Setelah melihat situasi, Ervin berbelok arah ke toilet perempuan.
"Pinter juga dia," senyum Pria itu sumringah karena melihat benda kuning yang berada di depan toilet.
"Aku datang," bisik Ervin.
"Mas Ervin," spontan Clara berloncatan dan memeluk kekasihnya dengan erat.
"Aku kangen mas, cuma suara aja tanpa ketemu tetap aja masih ada yang mengganjal," keluh Clara.
Wanita itu melabuhkan kepalanya pada dada bidang Ervin. Tangan panjang Ervin mulai mendekapnya erat. Dan mengecup pucuk kepala kekasihnya.
"Sabar ya! Papaku baru saja sembuh, aku sudah memegang kartu As ayahmu dan Firda ibu tirimu," Ervin mengurai pelukannya dan menatap wajah Clara yang dia sayangi.
"Maksudnya apa mas?" Clara terlihat bingung.
"Papa mas Ervin sakit apa?" Tanya Wanita tersebut khawatir.
"Papa sudah sembuh walaupun tidak boleh banyak bergerak," Ervin mendekap kekasihnya lagi.
Pria itu tidak mau menyia-nyiakan waktu dan kesempatan ini.
__ADS_1
"Pokoknya kamu harus mengikuti rancangan rencanaku! Aku akan membuat Daddy kamu tak berkutik. Daddy kamu banyak menyimpan rahasia besar dan berbahaya," Ervin terpaksa mengucapkannya.
"Kamu pasti boong kan mas? Nggak mungkin Daddy seperti itu. Selama ini dia tidak pernah ikut campur tangan ketika menghukum orang. Ya, kecuali sekretaris lamaku dan body guard dulu," Clara merasa tak terima.
"Nanti kalau kita bertemu lagi aku akan menunjukkan sebuah file padamu. Sekarang biarkan aku mengecupnya dulu," Ervin menunjuk wajah kekasihnya dengan dagu.
Dengan rakus Ervin menempelkan bibirnya pada Clara. Mereka saling mengecup lama sampai napas tersengal-sengal.
"Udahlah, nanti kita dicariin," Clara menormalkan kembali detak jantungnya yang berdetak kencang karena sentuhan Ervin. Wanita itu mengurai ciumannya dan mendorong tubuh Ervin.
"Tapi aku masih kangen. Sekali lagi ya?!" Pintanya.
"Nanti aku dicariin mas, lagian ini toilet umum. Kapan-kapan kita bertemu lagi. Aku sebenarnya juga masih kangen. Daripada Daddy menambah body guard untuk menjagaku lebih baik aku harus berhati-hati," Clara memanyunkan bibirnya.
"Ya sudah kita keluar! Kamu dulu yang keluar ya!" Ervin mencubit gemas pipi kekasihnya.
Clara berusaha bersikap normal setelah keluar dari sana. Tapi, sesampainya di depan lorong toilet, dia mulai memegang perutnya.
"Non, nona kenapa lama sekali di dalam? Ini obatnya!" Roy dengan cemas memberikan pil diare pada Clara.
"Namanya juga diare pasti lama," ketus Clara.
"Cepat diminum non!" Serunya tak sabar.
"Maaf non, saya terlupa," tanpa berpikir panjang Roy segera meninggalkan Clara.
Ervin memperhatikan kekasihnya, dia tersentak begitu melihat Royan yang menggantikan posisinya menjadi sopir sekaligus body guard Clara.
Pak sopirnya berdiri dibelakang sejak dia keluar dari toilet.
"Liat apa mas?" Pak sopir mengekori pandangan Ervin.
Ervin dengan cepat mengalihkan pandangannya dan melihat beberapa orang yang berlalu-lalang.
"Tadi sepertinya temen saya di sana, temen ketika saya belajar bela diri dengan om Toni," sebenarnya Ervin memang tidak berbohong karena ada Roy di sana.
"Owh begitu ya mas, bapak pikir liat apa sampe serius begitu," cengir pak sopir.
"Ya sudah ayo kita pulang pak! Barang yang saya cari sedang kosong. Harus pesan dulu," Ervin berbohong.
Bos dan sopir itu turun ke lantai bawah dimana area parkir berada. Mobil sudah meluncur keluar dari parkiran.
__ADS_1
Sementara Clara duduk di sebuah bangku yang tersedia di pinggiran outlet. Clara harus menunggu Roy membeli air mineral untuknya.
"Ini minum dulu non!" Roy menyodorkan botol tersebut.
"Lama banget sih," tegur majikannya yang meraih botol itu dengan kasar.
Dengan berpura-pura Clara meminum obat tersebut. Setelah dilihatnya Roy yang sedang memperhatikan sesuatu barulah obat itu dia muntahkan dan membungkusnya dengan tisu bekas menyeka bibirnya tadi.
"Ck, masih terasa pahit di lidah," batinnya kesal.
Roy masih saja memperhatikan sesuatu, Clara mencoba untuk mengekori pandangan sopir. Dia melihat seorang wanita yang sedang berbincang dengan pria dewasa.
"Woi! Kamu kenapa? Ayo kita pergi!" Clara beringsut dari tempatnya berdiri.
"Eh, iya nona," konsentrasi Roy terpecah. Dia menurut saja perkataan majikannya.
Dengan terpaksa Clara memilih dan membayar beberapa aksesoris berupa bros dan anting untuk sekretaris barunya.
"Beli sekarang tapi ngasihnya kalau dia udah becus bekerja," batinnya.
Roy masih mengekori langkahnya. Pria itu sedikitpun tidak pernah jauh dari tempatnya berdiri.
"Kita pulang!" Ajak Clara santai.
Mereka turun ke tempat parkir dan masuk mobil.
Roy melihat seorang wanita yang ia kenal. Dia berani meminta ijin pada majikannya untuk ke kamar mandi sebentar walaupun itu hanya alasan saja.
Clara mengijinkan sopirnya begitu saja tanpa bertanya lebih jauh. Wanita tersebut melihat gelagat Roy yang tak biasa. Setelah Roy menghilang dari pandangan, Clara membuka pintu mobil dan keluar menyusul Roy.
"Tuh kan, firasatku bener. Ada yang tidak beres dengannya. Tadi aja dia selalu bengong dan seperti memikirkan sesuatu," Clara mengendap-endap agar Roy tak melihatnya. Wanita itu mampu menyusul sopirnya karena pria itu ternyata berhenti di depan kendaraan mewah berwarna putih.
Roy berbincang dengan seorang wanita. Clara mengambil posisi yang pas agar wanita itu terlihat jelas. Tubuh Roy yang membelakangi seakan tak memberikan celah padanya untuk melihat wanita tersebut.
"Sepertinya mereka terlihat akrab," gumamnya setelah melihat mereka tertawa lepas.
Mendadak wanita itu hendak pergi meninggalkan Royan. Clara terlonjak saking terkejutnya karena ternyata Royan mengenal wanita itu.
"Dia kenal dengan wanita itu?" Clara menutup mulutnya.
*
__ADS_1
*
*Bersambung