Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 67 Berita Besar


__ADS_3

"Keluar kalian dari sana!" Tuan D berkacak pinggang. Dadanya turun naik.


Tuan besar rumah tersebut mengamati Ervin dan anaknya dari jauh. Dia berjalan menghampiri mobil Ervin dan melihat mereka tengah bercumbu. Tuan D mengambil kayu besar yang tergeletak di bawah pohon dan membantingnya di atas kap mobil. Kap mobil tersebut terlihat penyok atas ulah si tuan rumah.


"Daddy ... bagaimana ini Vin?" Clara masih bergeming, dia tidak berani keluar mobil.


"Tenanglah! Aku akan memberikan penjelasan pada Daddy kamu," Ervin menenangkan kekasihnya.


Hari ini mereka resmi sebagai sepasang kekasih.


Mereka telah meresmikannya dengan sebuah kecupan manis.


Pintu mobil terbuka, belum sempat Ervin berbicara tapi tuan D sudah meninju rahang sopir tersebut.


"Kamu ... berani-beraninya melakukan itu di rumah ini," Pria paruh baya itu meninju perut Ervin.


Bukannya tidak bisa membalas, Ervin diam saja karena dia tahu bahwa Daddy Clara tersulut emosi.


Clara tidak tinggal diam, wanita itu turun dari mobil dan melerai perkelahian antara mereka. Lebih tepatnya, tuan D yang memukul Ervin.


"Daddy! Lepaskan Ervin!" Wanita itu memohon.


Ada buliran air bening yang menetes dari pipinya. Suaranya terdengar serak.


Wanita itu menghampiri mereka berdua.


Clara memeluk badan Ervin, dia tidak mau ayahnya itu memukul Ervin sampai parah dan menyesali perbuatannya suatu saat nanti.


"Clara ... jadi kamu—," tuan D berhenti bergerak, dia menatap anaknya dan mulai menyadari sesuatu.


"Iya Dad, aku mencintai Ervin. Aku juga udah ketemu sama orang tuanya," Clara yang terisak masih memeluk badan sopirnya.


"Kalian? Kalian sampai sejauh itu? Kenapa kamu bertemu dengan orang tuanya? Apa jangan-jangan kamu ...." Tuan D menatap anaknya, dia tidak percaya kalau anaknya itu telah berbuat sesuatu yang merugikan dirinya sendiri.


Ervin menguraikan pelukan. Dia menghadap tuan D dan berusaha tersenyum ditengah kesakitan yang dirinya rasakan.


"Kami tidak pernah melakukannya tuan! Saya mengerti apa yang tuan maksud. Kami hanya kebetulan bertemu dengan orang tua saya, itu saja!" Ervin menegaskan kata-katanya.


Seorang pria baru saja mendekati mereka dan menopang tubuh tuan D yang hampir saja terjatuh.


Emosi yang membuncah membuat penyakitnya kambuh. Dadanya terasa sesak.


"Tuan, ayo kita masuk! Nanti kita bicarakan lagi baik-baik dengan mereka!" Frank berjalan dengan memapah majikannya.

__ADS_1


Tuan D berusaha menormalkan emosinya. Dia berjalan tertatih dengan merangkul pundak Frank.


"Kalian! Cepat panggil dokter Richard! Siapkan tempat untuk tuan D berbaring!" Pekik Frank pada anak buahnya.


Mereka segera beringsut dari tempatnya berjaga dan melakukan perintah dari Frank.


Sementara Ervin yang babak belur berjalan sambil meringis bersama Clara di sampingnya. Clara memeluk pinggang Ervin dari samping. Wanita itu kasian pada kekasihnya.


Ada sepasang mata yang menatap mereka bergantian.


"Ck, ck, ck. Ternyata keributannya karena anaknya yang berciuman," sekuriti menggelengkan kepalanya. Dia tak pernah menyangka bahwa ada alasan seperti itu untuk memukul orang lain.


Mereka semua berpindah tempat di ruang keluarga. Ervin duduk di sebelah kekasihnya. Tuan D berbaring di kasur lipat yang sudah disediakan. Sepuluh menit berlalu, seorang pria berpakaian dokter masuk dan menyapa orang yang dikenal.


"Kamu kenapa Di? Sudah tua itu harus jaga emosi!" Pria paruh baya tersebut menggelengkan kepala menatap sahabatnya yang berbaring.


Setelah melakukan pemeriksaan, dokter tersebut memberikan resep obat dan beralih pada Ervin karena Clara yang memanggil.


"Lho, siapa pria ini?" Richard mengernyitkan dahi.


"Dia kekasihku om," sahut Clara enteng.


Tentu saja orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut terkejut karena perkataan nona muda mereka. Frank yang sudah tahu tentang Ervin pun merasa tersentak.


Richard tak membalas ucapan Clara, dia membersihkan luka di rahang Ervin. Ada goresan yang lumayan panjang di sana. Clara dengan sigap membuka baju Ervin dan menunjukkan perut kekasihnya itu. Richard memberikan obat anti nyeri pada Ervin, agar pria tersebut tidak kesakitan lagi.


"Sebenarnya apa yang terjadi di sini? Coba jelaskan padaku!" Dokter tersebut berdiri dan menatap Clara serta Frank bergantian.


"Daddy tuh main hantam ajah," sungutnya kesal.


"Ra, kenapa malah belain sopir itu sih?" Tuan D yang berbaring melotot tajam pada anaknya.


"Ini semua memang salah Daddy!" Tunjuk Clara.


"Apa sih kamu? Stop menunjuk Daddy sendiri!" Ervin menepis tangan kekasihnya dengan lembut.


Ternyata dia yang selama ini selalu melawan pada orang tuanya dipasangkan dengan Clara yang setipe serupa kelakuannya. Tapi, itu dulu sebelum belajar dengan Toni.


Clara diam tak menyahut.


"Tuan D, saya akan menceritakan kenapa kami bertemu orang tua saya," Ervin menatap manik mata majikannya.


"Beginilah ceritanya ...."

__ADS_1


Ervin bercerita dari awal sampai akhir. Dia juga memberikan informasi bahwa seminggu kemudian orang tuanya akan kemari untuk membicarakan tentang hal pertunangan mereka.


"APA? KAMU NGGAK SALAH?" Tuan D yang berbaring, spontan bangkit untuk duduk.


"Kami tidak bercanda Tuan," balas Ervin mantap.


"Ra ... apa maksudnya ini? Kamu mau bertunangan dan menikah dengan dia?" Tunjuk tuan Di.


"Iya Daddy, Rara ternyata mencintai Ervin. Rara sebenarnya kaget waktu mama dan papa Ervin berkata demikian. Tapi, mereka terlihat baik kok dad. Rara ingin mencoba kembali berhubungan dengan pria setelah sekian lama," nada suara Wanita itu lamat lain terdengar pelan.


Richard yang sedari tadi berdiri, memilih untuk duduk lagi di sofa. Dia masih tidak mengerti ada apa sebenarnya dengan keluarga ini. Apalagi dengan Rara yang ingin bertunangan. Namun, Frank menarik tangan Richard agar menjauh dari sana dan berterimakasih karena telah datang. Pria tersebut mengantarkan Richard di depan pintu masuk.


Mereka berdiskusi dan mendapatkan jalan keluar.


Dengan tatapan anaknya yang berbeda, akhirnya si tuan D yang paling keras kepala dan keras hati bisa luluh juga. Dia mengijinkan orang tua Ervin agar menemuinya dan membicarakan tentang hal ini lebih jauh.


"Sialan, kenapa mereka malah semakin dekat dan rapat?!" Firda menatap mereka bergantian dari atas tangga. Sebenarnya sedari tadi dia sudah mendengar suara ribut-ribut, namun dia malas untuk turun. Firda hanya bisa menatap dari balkon kamarnya.


Suara ponsel membuyarkan konsentrasi Firda.


"Ih, siapa lagi ini?" Gerutunya kesal.


Wanita paruh baya tersebut mengernyit heran karena tidak ada nama yang tertera. "Sebuah nomor asing," batinnya.


"Siapa ya ini?" Firda menyahut ketus.


["Kamu lupa dengan suaraku sayang?"] Suara seberang membuat Firda mengernyit.


Dia mengingat kembali suara tersebut.


Telapak tangannya membungkam mulutnya, dia tak menjawab pertanyaan dari suara di seberang telepon.


["Kenapa kamu terdiam? Halo ... halo. Pasti kamu penasaran siapa aku,"]


Suara bass pria itu terdengar jelas.


"Kenapa kamu bisa bebas? Sejak kapan?" Akhirnya sebuah pertanyaan meluncur begitu saja dari mulut Firda si nyonya rumah palsu.


*


*


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2