
"Kalian tunggu di sini dulu! Biar aku yang keluar," Elisa beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar rumah. Bibi mengekori langkahnya dengan perasaan was-was.
"Bi, sebenarnya dia siapa?" Elisa merasa asing dengan wajah di depan teras sana.
"Entahlah nyonya, dia belum pernah kemari. Tapi mengaku sebagai teman spesial mas Ervin," Bibi mengendikkan bahu.
Elisa mengangguk sembari menelisik wajah seorang wanita di depannya.
"Tante," Wanita yang seumuran dengan anaknya menyapa dirinya.
"Kamu siapa? Aku tidak kenal denganmu," mereka berdiri berhadapan. Bibi berada di belakang majikannya.
"Tante, ini aku Tania calon istri Ervin," Wanita itu tersenyum lebar dan meraih tangan Elisa serta bersalaman.
Elisa menggeleng kepala. Dia menatap wanita itu dengan malas.
"Pasti cuma ngaku-ngaku, Ervin kan cuma cinta sama Clara." Batinnya tak percaya.
"Kamu kalau bersandiwara bukan di sini tempatnya!" Elisa bersedekap.
"Tidak tante, aku tidak bersandiwara. Aku dan Ervin saling berhubungan. Kami dekat sekali," Tania masih berusaha.
"Bi, panggil pak sekuriti untuk mengusir gadis ini! Sepertinya dia salah masuk rumah," Elisa malas menanggapi perkataan Tania.
"Tante, aku ini anak orang kaya. Kalian pasti menyesal kalau tidak membuatku menjadi menantu di rumah ini," Tania bersikeras.
Bibi berjalan cepat menuju pos keamanan yang berada di depan untuk menyusul si sekuriti.
"Benarkah? Mulia sekali hatimu gadis baik. Tapi sayangnya aku sudah punya calon istri buat Ervin. Sekarang silakan pergi dari sini!" Elisa tersenyum dan meninggalkan Tania seorang diri.
"Tapi tante ...." Belum selesai berbicara Tania sudah ditarik oleh sekuriti agar keluar dari rumah.
"Maaf ya mbak, keluarga besar mas Ervin sedang ada masalah keluarga dan tidak ada waktu untuk berbicara panjang lebar dengan mbaknya," Bibi berkata lirih.
Tania berontak, dia tidak mau keluar dari rumah itu. Akhirnya terpaksa bibi dan sekuriti yang menariknya keluar dari halaman rumah.
"Bi, saya ini beneran calon mas Ervin," Wanita itu tetap kekeuh.
"Maaf non, kami tidak tahu siapa anda," Pak sekuriti menyahut.
Mereka masih mendorong tubuh Tania agar keluar dari sana, sesampainya di pintu gerbang, Tania didorong dengan kasar sampai terjatuh.
Dengan cepat bibi langsung menutup dan mengunci pagar.
"Auwww," Tania mengaduh, pantatnya terasa nyeri karena berbenturan dengan benda padat.
__ADS_1
"Maaf ya non! Saya tidak sengaja mendorong terlalu keras," Sekuriti itu menyesal.
"Awas aja kalian! Kalau aku sudah jadi Nyonya besar di rumah ini, aku akan pecat kalian semua," Tania berusaha untuk bangkit dan berjalan tertatih mengusap pantatnya, dia menuju mobil yang terparkir di samping rumah Ervin.
"Nona kenapa? Kenapa meringis begitu?" Tanya pak sopir yang terheran-heran melihat raut wajah majikannya yang menahan sakit.
"Nggak usah banyak nanya pak! Cepat pergi dari sini!" Tania kesal.
Mobil tersebut melaju kencang meninggalkan sekitar rumah Ervin.
****
Sorenya sebelum pulang ke rumah, Clara menyuruh Roy untuk mampir sebentar ke sebuah pusat perbelanjaan. Dia harus mencari beberapa aksesoris untuk diberikan pada sekretaris barunya.
Setelah sampai, Clara turun setelah dibukakan pintu oleh sopirnya.
Clara berjalan cepat seakan terburu-buru. Roy mempercepat langkahnya agar tidak tertinggal.
"Lho, kenapa kamu mengikuti aku segala?" Clara berbalik arah dan menatap nyalang pada Royan.
"Tugas saya memang seperti itu nona. Saya harus ikut nona kemanapun nona pergi," Roy tersenyum lebar.
Dalam hatinya tentu saja Roy senang karena Ervin tidak akan bisa bertemu dengan Clara.
"Kalian semua menyebalkan," Clara mendengus kesal.
"Terserah!" Clara berjalan seraya menghentakkan kakinya saking kesalnya. Clara pergi ke lantai dua yang ada di pusat perbelanjaan tersebut dan masuk ke sebuah outlet pakaian.
Dia sengaja masuk ke sebuah kamar pas yang ada di outlet baju bermerek lokal yang berkualitas.
Roy tidak bisa masuk ke ruang pas itu, dia duduk di tempat yang disediakan oleh pihak outlet.
Clara sumringah setelah berada di dalam ruang pas. Wanita itu mengeluarkan ponsel jadulnya di balik rok panjang yang dia pakai. Ponsel tersebut dia sembunyikan pada samping pahanya dengan menggunakan stoking panjang.
Dia menghubungi Ervin dan berbisik setelah panggilan tersambung.
"Mas, aku diikuti body guard baru yang di pilih om Frank. Bagaimana ini? Kita bertemu di mana?" Clara berbisik pelan.
["Kalau begitu kita bertemu di kamar mandi lantai dua saja Yang! Kamu usahakan agar kamar mandi itu sepi dari pengunjung lainnya. Nanti aku menyusul ke sana."]
"Tapi mas, masa harus ketemu di toilet sih. Kan bau," suara Clara terdengar tak bersemangat.
["Mau bagaimana lagi Yang. Aku juga selalu diikuti sopir papa. Ini aja aku alesan mau beli barang keperluan untuk apotek."] Suara Ervin terdengar putus asa.
"Ternyata orang tua kita sama mas. Sama-sama tidak waras," kesal Clara.
__ADS_1
["Lekaslah ke sana! Aku tidak bisa berlama-lama di ruang pas ini. Pengap."]
"Hah? Jadi mas Ervin ada di ruang pas juga? Eum, sama dong," Clara terkekeh geli karena mereka sama-sama berada di kamar pas walaupun berbeda outlet.
["Nanti ngobrolnya di toilet saja Yang! Sekarang kita keluar dan pura-pura sakit perut!"]
Ervin memutuskan panggilan teleponnya.
Clara memasukkan kembali ponsel jadulnya ke dalam stoking yang dia pakai. Dia mengambil beberapa potong pakaian yang tengah digantung.
"Ah, sial. Nggak ada yang cocok," ujarnya setelah keluar dari kamar pas tersebut.
Roy menghampiri majikannya.
"Coba cari saja yang lain non!" Usul Roy.
"Males ah, kita langsung pergi cari aksesoris aja,"
Wanita itu menyuruh Roy meletakkan kembali baju-baju tersebut pada tempatnya. Clara melenggang pergi meninggalkan Roy di belakang.
Roy selalu mengekori langkahnya. Mendadak Clara berakting karena sakit perut. Dia mulai menjalankan rencana.
"Aduh, perutku mules." Clara berusaha untuk terlihat lemas dan kesakitan.
"Non, sakit apa non?" Tanya Royan khawatir.
"Kalau sampai ada apa-apa, aku yang akan disalahkan oleh om Frank," batinnya tiba-tiba cemas.
"Perutku sakit, aku akan pergi ke toilet. Kamu belikan obat diare di apotek terdekat ya!" Suruh Clara.
Clara memegangi perutnya dan berusaha berjalan perlahan. Langkahnya sengaja dibuat lemas. Royan yang panik tentu saja menuruti perintah Clara.
Setelah melihat Roy yang sudah tak terlihat, Clara setengah berlari pergi ke toilet.
"Astaga ada pintu yang tertutup satu," ucapnya malas.
Clara mengitari toilet dan melihat sebuah benda plastik yang berwarna kuning bertuliskan toilet rusak. Dia tersenyum cerah dan membuka benda tersebut serta menaruhnya di luar toilet agar tak ada seorang pun yang masuk setelah orang yang di dalam keluar.
Pintu terbuka lebar, Clara yang sudah kembali masuk ke toilet tersentak melihat wajah wanita di depannya.
Mereka saling menunjuk.
"Kamu? Ngapain kamu di sini?" Mereka bertanya bersamaan.
*
__ADS_1
*
*Bersambung