
"Sejak kapan kamu keluar dari penjara? Seharusnya kamu meringkuk di sana selama dua tahun," Mata Ervin menatap nyalang.
"Tentu saja aku cepat bebas dari belenggu hukum. Orang tuaku sangat berkuasa," bibirnya terangkat sebelah.
Ervin tak mau lagi meladeninya, dia melihat brankar sudah masuk ke Ambulans.
"Hey ... Ngapain kamu masuk ke sana! Pergi!" Pria itu menarik kerah baju Ervin.
"Sebaiknya kamu yang pergi!" Ervin tak mau kalah.
Dia mencengkeram lengan pria itu dan memelintir dengan kencang.
"Auw," Pria itu memekik tertahan.
"Ingatlah ucapanku! Jangan dekati Clara lagi!" Ancam Ervin sambil mendorong tubuh pria di depannya.
"Memangnya kenapa? Aku masih menyukainya," sahut pria tersebut dengan santainya.
"Aku tidak akan membiarkan kamu untuk mendekatinya!" Ervin geram.
"Jangan mimpi kamu! Ingat kamu itu siapa! Aku tahu kalau kalian tidak direstui oleh bapak kalian masing-masing, hahah," Pria itu tertawa mengejek.
"Apa yang ada di rumah itu aku tahu semuanya." Dia tersenyum licik.
"Aku tak ada waktu untuk meladeni kamu!" Ervin berbalik arah. Dia melihat mobil ambulans sudah keluar dari rumah sakit.
Dia masuk ke mobil dengan terburu-buru.
Sekali starter, kendaraan tersebut langsung bergerak dan menyusul ambulans.
"Kita lihat saja nanti, siapa yang menjadi suami Rara. Aku atau kamu yang jelas-jelas anak dari musuh lama om Dendi," Pria tersebut tertawa lebar.
Dering ponsel membuyarkan konsentrasinya.
Dia menyunggingkan senyum setelah melihat nama di layar ponsel.
"Wah, nyonya besar menghubungi aku lagi. Tandanya akan ada kerjasama lain yang sudah dipersiapkan," Dia beringsut duduk di kursi yang tersedia di sana.
__ADS_1
["Diam kamu! Kalau saja kamu tidak menguntungkan, aku tidak akan pernah sudi berbagi informasi."]
Suara di seberang telepon terdengar memekakkan telinga pria tersebut.
"Santai aja Tante Firda! Jangan terlalu membenciku! Kalau tidak ada campur tangan dariku, pasti tante langsung didepak waktu itu," Pria itu terdengar meremehkan.
["Mana Dendi? Kata pihak RS dia kecelakaan. Apakah dia terluka parah?"] Suara itu terdengar berharap.
"Wah tante mau om Dendi mati, ya?" Tapi sayangnya om Dendi baik-baik saja. Aku bertemu di jalan dengannya tadi sebelum ke rumah sakit. Yang parah itu Clara wanita yang kucintai," Pria itu terdengar bergetar.
["Anak itu, ya semoga saja mereka berdua secepatnya mati. Aku tidak sabar mendapatkan seluruh aset Diana. Oh iya, anak buahku sudah berada di markas dengan barang Dendi yang baru. Sebaiknya kamu pergi ke sana dan jual semuanya!"]
"Biar tangan kananku yang mengurusnya tante, aku akan menyusul wanitaku dulu," Pria itu langsung memutuskan panggilan telepon begitu saja.
Dia mengetik pesan singkat pada seseorang dan bertanya kepada perawat tentang Clara tadi. Dengan cepat dia pergi ke parkiran dan menuju RS yang disebut oleh perawat.
Sementara itu Malik yang sudah berada di ruang ICU mendapatkan perhatian khusus. Hidung Malik ada alat bantu pernapasan. Pria paruh baya itu mengalami shock yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah di syarafnya. Akibatnya napasnya sesak dan kesadarannya pun tidak lama. Kini Dokter spesialis telah menanganinya. Anggota keluarga yang lain menunggu di depan kamar ICU. Elisa menangis sesenggukan dan memeluk Nissa yang baru saja tiba.
"Ma, tolong jangan menangis seperti ini! Kita doakan papa bareng-bareng yuk!" Ajaknya.
"Kita ambil wudhu dan sholat hajat dulu di mushola ma!" Nissa menggandeng lengan ibunya. Mereka berdua berjalan perlahan, Nissa mengedip pada suaminya dan menunjuk ICU dengan dagu. Untunglah suaminya itu mengerti kode dari si istri yang harus tetap berada di sana sampai mereka selesai.
Tiba-tiba ada brankar yang didorong terburu-buru menuju ruang UGD yang berdekatan dengan ruang ICU. Kino melihat pasien yang berbaring di sana.
"Lho, dia kan calon istri Ervin yang tak direstui, kenapa dia?" Entah kenapa Kino khawatir.
Ervin berlari di lorong rumah sakit, dia mencari keberadaan kekasihnya yang sedang sakit. Dirinya sangat khawatir pada kekasihnya itu.
"Ervin!" Kino melihat adik iparnya yang seperti orang linglung kebingungan.
"Mas Kino!" Ervin mendekat padanya.
"Kenapa mas bisa ada di sini? Siapa yang sakit mas? Mbak Nissa, ya?" Tanyanya bertubi-tubi.
"Sebenarnya yang sakit itu ...." belum sempat Kino melanjutkan ucapannya, Ervin berlari karena melihat mantan tunangan Clara yang baru saja tiba.
"Tuh anak belum juga selesai ngomong, maen tinggal aja," gerutu Kino.
__ADS_1
Kino duduk kembali di tempatnya. Dia malas menanggapi adik iparnya.
Dokter keluar dari ruang ICU dan menanyakan keluarga pasien.
"Saya menantu pasien Dok!" Sahut Kino.
"Kondisi pasien sudah melewati masa kritis. Kini pasien sudah bisa bernapas dengan normal kembali. Saya hanya ingin memastikan kalau pasien harus dijaga emosinya, jangan sampai shock lagi. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan," Dokter menjelaskan dan pamit pada Kino.
Kino bernapas lega, dia melihat istri dan mama mertuanya kembali dari musholla. Pria itu menceritakan tentang Malik. Namun ketika bibirnya akan berucap tentang Ervin, tiba-tiba saja bibirnya terasa kelu.
Dendi menyusul anaknya yang berada di rumah sakit lain. Dia khawatir tentang kondisi Clara. Pria paruh baya itu terbalut perban di kepala dan tangannya.
"Bos, mana nona muda?" Frank sudah kembali dari gudang dan menyusul tuannya.
"Kamu tanyakan pada suster atau siapapun! Aku akan menunggu di sini!" Dendi duduk dan mencoba untuk menahan pusing.
Frank berlarian dan bertemu dengan dua pria yang tengah bersitegang. Beberapa orang melerai mereka berdua. Frank menggelengkan kepalanya berulang kali. Dirinya tak menyangka semua akan menjadi seperti ini.
Frank mendekati kerumunan, dan menarik lengan salah satu pria.
"Kamu ... Sebaiknya kamu pergi dari sini! Tuan D ada di depan. Pasti dia mengamuk kalau melihat wajahmu," Frank menyeret Ervin dan berusaha untuk mengusirnya.
"Tapi Clara gimana? Aku tidak mau meninggalkan dia dalam kondisi seperti ini," Raut wajah Ervin cemas.
"Pergilah! Biarkan kami yang mengurusnya!" Frank mendorong tubuh Ervin.
"Hey pria tak tahu diri! Pergi kamu dari sini! Sudah beberapa kali aku peringatkan kalau kamu tidak boleh bertemu dengan anakku lagi," Tunjuk Dendi pada mantan tunangan Clara.
"Aku masih mencintai Clara om. Sampe kapanpun aku tidak akan pernah melepaskannya atau rahasia om akan aku buka pada Rara," Ancamnya seraya mengepal.
Ervin menatap mereka bergantian, dahinya mengernyit heran.
"Kenapa pria itu tahu rahasia om Dendi? Sebenarnya siapa dia? Berasal dari keluarga mana?" Ervin merogoh kantong dan merekam kejadian itu.
"Astaga aku melupakan sesuatu. Lihat saja nanti siapa yang akan berhasil meluluhkan hati om Dendi," Ucap Ervin berlalu dari sana. Sebuah senyuman terkembang, rencana selanjutnya sudah ada di kepalanya.
*
__ADS_1
*
*Bersambung