
Dia adalah sekretarisnya yang menyusul menggunakan taksi pesanannya. Sekertaris itu melihat kejadian tersebut dari awal sampai akhir.
"Istri kamu mas," sekretaris itu menutup mulutnya.
Tuan D tak kuasa menahan kesedihannya, air mata menetes perlahan. Wanita itu memeluknya erat dan mencoba menenangkan Tuan D.
Ambulans dan polisi lalulintas datang bersamaan. Kini korban yang tewas dibawa ke Rumah Sakit terdekat. Lalu lintas mulai berjalan normal setelah polisi lalulintas datang, kendaraan yang berlalu lalang mulai lancar kembali.
Tuan D dihubungi oleh pihak kepolisian karena dia harus mengurus jasad istrinya dan mengubur jenazah tersebut dengan layak.
Tuan D meraup wajahnya, ingatan tersebut masih saja membuatnya merasakan penderitaan yang mendalam.
Walaupun dia merasa bersalah sampai saat ini, tapi rasa cintanya masih melekat pada Diana istrinya yang sudah meninggal.
Tuan D menatap jam di atas meja, hari sudah berganti pagi. Jam 1 pagi mulutnya terbuka karena menguap. Ngantuk menguasai dan dia melangkah ke sofa yang berada di sudut ruangan. Dia berbaring di sana dan berusaha untuk memejamkan mata.
***
Di rumah, Ervin tengah bersiap untuk berangkat kerja. Dia berpakaian rapi seperti biasanya. Kali ini dia meminjam motor sekuriti rumahnya agar Clara dan mereka tidak curiga dengan motornya yang mahal.
"Loh, apa Aden tidak malu kalau memakai motor butut saya?" sekuriti itu heran.
"Cuma hari ini saja Pak! motor aku harus dibawa ke bengkel tapi aku belum punya waktu. Aku malas pake mobil, bisa-bisa telat di jalan," Ervin beralasan.
Mau tak mau pak sekuriti mengalah dan memberikan kunci motornya pada Ervin.
Ervin menerimanya dengan senang hati, dia langsung pergi tanpa berpamitan pada kedua orang tuanya yang masih berada di dalam kamar. Ervin harus mengambil ponsel jadul pesanannya pada kenalannya.
Dia bergegas pergi ke Apotek setelah mengambil ponselnya. Apotek masih sepi dan masih belum ada satu karyawan yang datang. Dia membuka pintu samping dan berganti baju dengan pakaian biasa yang sudah dia siapkan.
Ervin mematut diri di cermin, dia tersenyum puas melihat tampilan dirinya di cermin tersebut.
"Penyamaran yang sempurna," dia merapikan rambutnya.
Pintu dibuka dari luar, Ervin menoleh ke arah suara dan melihat Jefrey yang sudah datang.
"Tumben amat pagi sekali Bos datengnya," Jefrey menggoda Ervin.
"Hari ini seperti biasa, sebulan kedepan aku serahkan laporan Apotek padamu! awasi Royan! kalau dia berbuat kesalahan langsung tegur saja!" perintah Ervin.
"Siap Bos, tumben berubah pikiran dalam semalam," goda pria itu.
"Males ngurusin hidup orang Jef. Sekarang aku harus pergi dari sini! aku titip Apotek ini dan 2 lainnya padamu!" Ervin menepuk pundak karyawannya dan bergegas pergi meninggalkan Apotek.
"Dasar aneh, pakaian udah kayak orang gembel. Motor jaman baheula juga masih di pakai. Ada apa sih dengan Bos?" Jeffrey memperhatikan gerak-gerik Bosnya yang menjauh.
__ADS_1
Ponsel Ervin yang ada saku celana berdering dan bergetar bersamaan. Dia lupa mematikan ponselnya itu. Motornya berhenti di pinggir jalan dan merogoh saku celananya.
"Beneran deh aku lupa, pantesan ajah diteror," Ervin menggerutu.
Suara di seberang telepon terdengar memekakkan telinga.
"Kenapa kamu nggak pamit Vin? kamu udah merasa bisa mandiri dan hidup seenaknya?" suara ibunya memekik keras.
"Sorry Mam, aku terburu-buru dan harus pergi sekarang!" Ervin menutup ponselnya tanpa mempedulikan sahutan ibunya.
Ervin mematikan ponselnya agar tidak ada lagi orang yang mengganggu pekerjaannya nanti. Kini motor pinjamannya telah memecah jalanan yang mulai padat.
"Akhirnya sampai juga," Ervin membuka helem dan menyapa sekuriti rumah Clara.
"Lho, kenapa penampilannya berubah Tuan?" si sekuriti heran.
"Shuuttt! jangan berisik Pak! nanti orang-orang mendengar. Kalau sampai ketahuan awas saja ya!" Ervin mendelik tajam menatap sekuriti.
Pintu otomatis sudah tertutup rapat kembali. Sekuriti membekap mulutnya sendiri tanda tidak akan membicarakan tentang Ervin lagi.
"Maaf ya Tuan, eh Ervin," sekuriti tadi meringis.
Ervin menyapa bodyguard tuan D yang berada di teras depan setelah meletakkan motornya di depan garasi.
"Hanya beginilah pakaian yang saya punya. Saya tidak punya pakaian seperti yang kalian pakai," Ervin meringis menahan malu.
"Ck, nanti kamu menghadap Om Frank! biar dia yang memberikan pakaian seperti yang kami kenakan," seru salah satu dari mereka.
"Baiklah, saya akan memanaskan mesin kendaraan dahulu," Ervin pamit masuk ke dalam rumah dan mengambil kunci mobil yang tergantung di tempat biasanya.
Clara keluar dari kamarnya, gaun tidur tipis yang ia kenakan masih melekat. Dia merasa haus dan kembali lagi ke kamar untuk melakukan rutinitas paginya. Sebelum masuk kembali, Clara dan Ervin berpapasan di ruang tengah, mata mereka beradu pandang.
Ervin menatap Clara dari atas sampai bawah tanpa berkedip. Mulutnya tanpa sadar menganga.
"Hey, apa yang kamu lihat? pergi sana!" Clara membentak Ervin. Dia kembali ke kamarnya dengan tergesa.
"Sialan tuh sopir, berani banget mesum pagi kek gini," gumamnya kesal.
"Pemandangan pagi hari yang menyegarkan," Ervin terkekeh melihat reaksi Clara yang terburu-buru masuk ke kamarnya.
"Ehem..." Frank berdehem.
Tangannya bersedekap sambil menatap Ervin dengan dingin.
"Pak Frank, selamat pagi," Ervin tersenyum cerah.
__ADS_1
Hatinya merasa bahagia karena melihat Clara yang polos tanpa riasan.
Ah, baru bangun tidur ajah cantiknya udah seperti bidadari. ( Ervin )
"Kenapa kamu senyam-senyum sendiri? sudah gila ya?" Frank menelisik Ervin.
"Owh tidak Pak, hanya saja tadi ada kejadian lucu," Ervin menjawab santai, tidak ada rasa emosi dalam dirinya.
"Penampilan kamu, kenapa bisa begini? ini seperti penampilan orang pekerja bangunan," Frank menatap malas.
"Saya tidak punya pakaian seperti yang Anda kenakan Pak," Ervin menunduk merasa sedikit bersalah.
"Kalau begitu beli yang baru! biar Nona Clara yang memilihkan pakaian untukmu. Jadi supir dan bodyguard di rumah ini harus rapi dan bergaya," jelas Frank tegas.
"Tapi saya kan baru bekerja dua hari Pak," Ervin mengernyit.
"Tidak masalah karena Tuan D sendiri yang menginginkan kamu menjadi bodyguard Nona," Frank pergi meninggalkan Ervin yang termangu.
"Ah iya, kunci mobil," Ervin teringat sesuatu yang terlupakan.
Dia kembali ke tempat mobil yang di parkir. Beberapa orang menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
Byuuuurrr...
Air dari atas mengguyur badan Ervin, Ervin mendongak dan menatap nyalang.
"UPS, maaf aku nggak sengaja," seorang pria yang berdiri di rooftop menatap Ervin di bawah.
"Siapa kamu? sembarangan menyiram orang. SAYA INI BUKAN TANAMAN!!" Ervin mengepal erat.
Suasana hati Ervin berubah seketika. Sementara pria yang menatapnya di atas sana tersenyum meremehkan.
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu," pria tadi turun dari rooftop. Langkah kakinya terdengar di telinga Ervin.
"Owh tidak, kenapa dia malah kemari?" Frank keluar karena mendengar teriakan Ervin.
"Perkenalkan, aku adalah
Senyum licik terkembang dari bibir pria tersebut.
*
*
*Bersambung
__ADS_1