Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 13


__ADS_3

"Pergi ke suatu tempat di sebuah pulau yang jauh dari perkotaan," ungkapnya.


"Tempat apa itu Pa? memangnya ada tempat seperti itu?" Ervin tak percaya.


"Ada dong, teman baik Papa yang punya tempat di pulau itu," ia menyeringai licik.


"Terus aku harus ngapain di sana Pa?" jiwa Ervin penasaran.


"Ya, kamu harus berlatih tenaga dalam di sana, dan ingat kamu harus berlatih menahan emosi diri!" Malik menatap manik mata anaknya.


"Cuma itu? ah gampang Pa," Ervin terkekeh.


Pasti dia gak tahu kalau di sana serba manual dan harus bertahan hidup di alam bebas, gak ada sinyal dan tekhnologi lagi.


"Kamu harus berlatih selama dua tahun di sana, selama kamu bisa bertahan hidup selama itu semua rahasia Papa akan dibeberkan padamu," Malik berucap mantap.


"Gak salah Pa? dua tahun bukanlah waktu yang sebentar," ia berdecak.


"Kalau gak mau ya udah, kembali ke kamar sekarang juga!" tegas Malik.


Ervin memainkan matanya dengan malas, dengan terpaksa ia menuruti kemauan ayahnya. Ia tidak mau ketinggalan untuk pergi bersama teman-teman lamanya.


"Oke deh Pa! Ervin mau," ia mengacungkan telunjuk.


"Kalau begitu pergilah! dan ambil ini!" Malik memberikan sebuah kartu kredit pada anaknya.


Ervin tak menyangka bahwa ayahnya bisa sebaik itu memberikan uang jajan yang lebih dari biasanya.


"Beneran ini Pa?" ia terkejut karena tak percaya.


"Iya pakai saja! cuma ada sepuluh juta di dalamnya jadi kamu harus gunakan baik-baik!" nasehatnya pada anak lelakinya.


"Makasih Pa," Ervin memegang kartu tadi ke udara.


Ia melangkah pergi menuju kamarnya dan bersiap-siap untuk menyiapkan barang keperluannya selama tiga hari.


Elisa tercengang dengan tingkah suaminya, selama ini ia belum pernah memanjakan anak lelakinya itu. Tiba-tiba saja sikapnya berubah seketika.


"Maksud kamu apa sih Mas? kenapa memberikan uang segitu banyaknya? dia itu cuma 3 hari ajah perginya, tiga juta pasti cukup," istrinya protes.


Nissa melihat ke dua orangtuanya yang masih berdebat tentang adiknya. Ia jengah melihat mereka dan kembali masuk ke kamar, suaminya baru saja keluar dari kamar mandi.


"Kenapa Yang? muka kamu kok kusut gitu? mau aku setrika?" ia mengejek istrinya.


"Tega amat sih mas ngatain istrinya sendiri muka kusut," ia berkacak pinggang.


"Kelepasan Yank, ayo kita makan malam! aku udah laper banget," ia mengajak istrinya kembali ke luar kamar.


"Tunggu dulu, si Mbok belum siapkan makan malam sepertinya. Apa dia masih sibuk di dapur?" Nissa bertanya-tanya.

__ADS_1


"Alah, kek gitu ajah dipikirkan, ayolah keluar dulu nanti mereka pasti juga menyusul," pria itu menarik lengan istrinya dengan lembut dan memapahnya.


Satu persatu orang dirumah itu mendekat ke meja makan, si mbok yang telat menyiapkan merasa bersalah dan meminta maaf terus menerus pada mereka.


"Kalau butuh bantuan kasih tau kami saja Mbok! biar Susi nanti yang bantu," Elisa merasa kasihan pada pembantunya yang sudah berumur.


Sementara Susi hanya mengurusi Sumiyati yang sudah renta. Susi yang dibicarakan akhirnya datang mendorong kursi roda majikannya.


Mereka makan malam dengan khidmat walaupun ada seorang anggota keluarga yang belum hadir di meja makan itu. Setelah berkemas, Ervin malah tertidur dengan pulasnya dan melewatkan makan malam.


Setelah makan malam mereka bercengkrama sebentar dan masuk ke dalam kamar masing-masing.


Nissa dan suaminya sudah kembali ke kamarnya, mereka bergandengan dengan sangat mesra.


"Kamu ganti baju dulu deh! bau asem," goda suaminya.


"Tega kamu mas bilangin aku bau," Nissa melotot tajam.


"Ibu hamil gak boleh marah-marah! ayo kita tidur Yang! udah malem lho, besok kita pulang pagi-pagi," ia berbaring di ranjangnya dan menepuk ranjang sebelahnya. Nisa berganti baju dan mulai berbaring di sebelah suaminya mereka tidur saling berpelukan.


****


Di sebuah pulau terpencil ada sebuah bangunan tua yang tidak terawat. Ervin memasuki bangunan itu, ada suara misterius yang ia dengar dan membuatnya penasaran. Ada genangan air di seluruh bangunan, terlihat seseorang yang telah menunggunya setelah sekian lama.


"Selamat datang Tuan, saya adalah salah satu dari pelayanmu," wanita cantik nan molek tersenyum lebar padanya.


"Tuan Ervin," ia sudah dekat dan mulai mendekatkan wajahnya. Jarak wajah mereka hanya beberapa senti saja. Dengan cepat wanita itu mencium bibir Ervin.


Ervin melepaskan ciumannya karena ada sesuatu yang hangat yang ia rasakan di punggung wanita itu.


"Darah..." ia melihat tangannya yang penuh dengan darah segar, tiba-tiba saja bau anyir mengganggu Indra penciumannya.


Wanita itu menyeringai lebar dan mengeluarkan suara yang aneh, Ervin berusaha menjauh dan berlari akan tetapi langkahnya terasa melambat.


Wanita itu sudah berada di depan mata dan kukunya mulai menyembul keluar.


Seringaian lebar, rambut acak-acakan, kuku hitam nan panjang. Penampilan wanita itu berubah seketika.


"Awwwwwh..." teriaknya, Ervin terhenyak dari ranjangnya.


Nafasnya yang memburu membuat kerongkongannya kering. butiran keringat sebesar biji jagung keluar membasahi keningnya, pendingin ruangan tak mampu meredakan keringatnya yang bercucuran.


Tok... tok


"Kamu kenapa Vin?" Malik yang mendengar teriakan anaknya langsung menghampiri kamarnya.


Ervin berusaha untuk beranjak dari tempat tidur, ia membuka pintu kamarnya.


"Iya Pa," Ervin masih lemas.

__ADS_1


"Kamu kenapa? kenapa teriak-teriak?" Malik khawatir ada pencurian atau bahkan perampokan.


"Mimpi Pa, aku mimpi buruk," ia mengusap keringat di kening.


Malik menghela nafasnya, ia bersyukur karena anaknya tidak kenapa-kenapa.


Malik masih berada di ambang pintu dan menggelengkan kepalanya.


"Makanya kalau tidur berdoa dulu!" gerutunya sambil melangkah pergi.


"Iya Pa," Ervin menyahut dan menutup pintu kembali.


"Sialan tuh setan, bisa-bisanya menggoda aku," kesalnya.


Ervin berwudhu dan kembali tidur supaya dia bisa memimpikan jodohnya, bukan hantu pemakai gaun putih yang legend.


****


Pagi masih diselimuti mendung, matahari seakan malu menampakkan sinarnya.


"Nek, sepertinya ada tamu deh di depan," Jasmine yang masih memakai piyama memanggil neneknya di dapur.


"Pagi-pagi begini ada tamu?" Zainab berkerut kening.


"Mungkin tamu penting Nek," sahut Jasmine lagi.


"Kamu bantuin Nenek motong sayuran itu! biar nenek bukain pintu dan melihat tamu yang datang," ia bergegas ke arah pintu utama.


"Kenapa sih Mi? pagi-pagi begini udah panggil-panggil nenekmu ajah," Fatma keluar dari kamarnya.


"Ada tamu Moms, sepertinya sih tamu penting soalnya jam segini lho bertamunya," Mimi belum beranjak dari tempatnya berdiri.


Neneknya masuk bersama seorang pria, mereka tampak akrab, Fatma yang baru saja mengambil air dingin di dapur tersentak melihat kehadirannya.


Prankkkk.


Gelas ditangannya jatuh di lantai dan berserakan.


Ia tak menyangka bahwa ia akan bertemu dengan orang itu lagi setelah...


*


*


*Bersambung.


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, komen, favorit, rate ⭐ 5 dan gift 😁😁


Terimakasih banyak atas dukungan semuanya 🙏

__ADS_1


__ADS_2