Nona, Jadikan Aku Supirmu!!

Nona, Jadikan Aku Supirmu!!
Chapter 46 Masalah Clara


__ADS_3

Ervin bingung harus apa, dia tiba-tiba saja mempunyai sebuah ide.


Dia menekan klakson dengan lama dan berbunyi nyaring sehingga menarik perhatian orang-orang terutama sekuriti yang berdiri di depan pintu masuk.


"Kamu sudah gila ya?" Clara memekik setelah Ervin berhenti menekan tombol klakson.


"Biar pak sekuriti menghampiri kita Non," sahutnya.


Dan benar saja dua sekuriti datang dan menyeret pria yang sedang menggedor kaca mobil berulang kali.


"Sebenarnya apa hubungannya Nona dengan pria sinting tadi Non?" Ervin bertanya lancang.


"Kamu tidak perlu tahu! memangnya kamu siapa berani sekali untuk mengetahui kehidupan pribadi aku?" ketus Clara.


"Aku kan supir sekaligus bodyguard Nona, ya seandainya kalau pria tadi mengganggu Nona, aku bisa memberinya pelajaran," Ervin memandang Clara dari spion dalam.


"Tidak usah khawatir dengan orang gila sepertinya! cepat jalan! pria itu udah diamankan sekuriti," Clara bersender.


Dengan sigap Ervin langsung menyetir dan memecah jalanan yang mulai padat karena hari sudah sore.


Satu jam tanpa suara, mereka berdua seolah mempunyai pikiran yang menguasai kepalanya dan segan untuk bersuara.


"Semoga aja Nona menerima aku apa adanya walaupun aku hanya seorang supir," tiba-tiba saja Ervin bergumam pelan.


Clara mengernyit, dia tidak mendengar apa yang supir itu gumamkan. Di depan sana rumah mewah sudah terlihat. Ervin masuk ke dalam setelah pintu pagar otomatis terbuka.


Kali ini Clara turun dari mobil sebelum Ervin membukakan pintu untuknya.


"Kenapa tidak menungguku Non?" Ervin cepat turun dari mobil.


"Lama," sahut Clara singkat.


Wanita itu mempercepat langkahnya. Dia ingin segera masuk ke kamar dan ingin berbaring sebentar saja. Pekerjaan dalam seminggu ini telah menguras emosi dan pikirannya.


Dia ingin mengalihkan pikirannya ketika sudah berada di rumah namun sesampainya di rumah, dia tidak bisa kalau tidak memikirkan pekerjaan yang sudah di lakukannya.


Wanita itu melempar tas kerjanya di atas kasur.


Dia berbaring dengan posisi telentang. Matanya menatap atap-atap kamar. Dia mengingat kembali kejadian tentang masa kecilnya ketika bersama sang ibu.


"Mama, Clara kangen," gumamnya lirih.


Air mata menetes perlahan, kerinduan yang selama ini ditahannya ternyata menyeruak dan menyebabkan dadanya sesak. Matanya terpejam sejenak dan terbuka kembali. Ia menerawang jauh, bayangan ibunya tiba-tiba saja muncul.


"Clara sayang, mama beliin kamu boneka Teddy bear nih," Diana berjalan dan merengkuh anaknya yang baru saja masuk ke sekolah dasar.


Mata Clara kecil berbinar, dia mengambil boneka tadi dan memeluknya dengan erat seakan tidak mau kehilangan boneka tersebut.


"Gimana? suka?" tanya ibunya yang tersenyum lebar.

__ADS_1


"Sukak dong mah," jawabnya sambil mengangguk berulang kali.


Ibunya gemas melihat tingkah anaknya itu. Dia mencubit pipi anaknya berulang kali dan menciumnya bertubi-tubi.


"Kalau suka dengan boneka ini simpan baik-baik ya sayang!" Diana mengelus rambut anaknya.


Clara mengangguk saja tanpa tahu maksud dari perkataan ibunya. Mereka berdua bergandengan tangan melangkah ke ruang makan. Di sana sudah ada ayahnya yang tengah menunggu kedatangan mereka.


"Sini dong anak ayah!" tuan D mendudukkan anaknya di kursi.


Clara meletakkan boneka itu tepat di kursi sebelahnya.


Mereka makan siang bersama sebelum tuan D kembali ke kantor.


"Daddy udah mau pergi?" Clara menatap ayahnya dengan polos.


"Iya sayang, kamu nunggu di rumah sama Mami ya?" Daddy berjongkok, dia mensejajarkan tingginya dengan si anak yang masih kecil.


Diana malas ketika melihat suaminya yang ingin segera meninggalkan rumah selepas makan siang.


"Pergi saja sana mas! pasti cepet-cepet mau ketemu sekertaris gatel itu kan?" Diana bersedekap.


"Diana, jangan memancing keributan! ada Clara di sini," tuan D berdiri menatap wajah istrinya.


"Ayo kita masuk saja Clara!" ibunya menarik tangan mungil Clara.


Tuan D melihatnya dan hanya bisa menghembuskan napasnya dengan cepat. Dia tidak menyangka Diana bisa kasar seperti ini padanya.


Dia memandang punggung anak dan istrinya sampai tak terlihat. Langkahnya gontai menuju luar rumah.


"Clara, ini mama ada sesuatu buat kamu, mama simpan di sini ya sayang. Kalau kamu sudah besar kamu bisa mengambilnya tanpa harus bersusah payah karena semua ini hanya untukmu," Diana membuka resleting boneka itu dan memasukkan sesuatu ke dalamnya.


Clara memandang wajah ibunya, dia tidak mengerti apa yang ibunya katakan.


"Boneka ini punya Clara kan mam?" tanyanya lagi dengan suara lugu.


Diana memberikan boneka tersebut pada anaknya lagi. Senyumnya terkembang sempurna.


Mereka berdua bermain bersama. Dan tiba-tiba saja ibunya pergi meninggalkan dirinya bermain seorang diri. Clara menangis sambil memanggil ibunya.


"Mama, tidak mama jangan pergi!" mata Clara terbuka lebar.


Napasnya terdengar memburu, dia menatap sekeliling.


"Ternyata mimpi," dia menekan dadanya yang naik turun.


Keningnya berkeringat sebesar biji jagung. Dia mengusapnya sambil mengubah setelan pendingin agar kamarnya lebih dingin daripada sebelumnya.


Dia bangkit dari ranjangnya, dia menoleh pada meja rias yang terletak di salah satu sudut kamar. Dia melangkah mendekati dan duduk di kursi tersebut.

__ADS_1


Boneka lama yang mamanya berikan masih berada di atas mejanya. Dia mengambil dan memainkan boneka tersebut.


Suara ketukan pintu membuyarkan kegiatannya.


"Non, tadi kenapa berteriak?" kepala menyembul dari balik pintu kamarnya.


"Ngapain kamu kemari? pergi sana!" pekik Clara.


Dia dengan cepat mengusap air mata yang baru saja mengalir di pipinya.


Tapi Ervin tidak peduli pada perintah si majikan. Dia tetap saja masuk dan menutup pintu kamar tersebut.


"Kenapa pintunya tidak dikunci Non?" tanya Ervin santai.


Dia melihat sekeliling, kamar yang bagus, begitulah pemikirannya. Ervin dengan berani menghampiri Clara yang melongo karena supirnya itu lancang masuk ke kamarnya.


"Wanita cantik tidak boleh bersedih," pria itu mengusap bekas air mata di pipi Clara.


Clara terdiam, dia tidak sanggup berkata-kata. Mata mereka saling menatap satu sama lain. Pandangan keduanya menyiratkan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan oleh masing-masing.


Ervin dengan berani mendekatkan wajahnya pada wajah Clara, napas wanita itu berhembus di wajahnya.


Clara masih diam terpaku, Ervin mulai menempelkan bibirnya pada wanita yang dia cintai.


Namun seketika keduanya terperanjat bersamaan ketika suara gagang pintu bergerak.


"Sial, siapa itu?" Ervin bergumam lirih.


Dia cepat bersembunyi di dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar tersebut.


"Kamu kenapa Rara?" tuan D menyapa anaknya yang terdiam terpaku.


"Eh, ehm, tidak ada apa-apa Dad," sahutnya gelagapan.


"Bau apa ini? seperti bau keringat lelaki," ucap tuan D ketika menghampiri anaknya yang tengah berdiri di depan meja riasnya.


"Benarkah Dad? tapi aku tidak mencium bau apapun," Clara bergeming.


"Jangan bohong kamu Ra! siapa laki-laki yang sudah masuk ke kamar ini?" tuan D bertanya lantang.


"Tidak ada Dad," Clara meyakinkan ayahnya.


Tuan D mengikuti bau keringat tersebut. pendingin ruangan tak mampu menyembunyikan bau keringat khas lelaki itu. Kini langkah tuan D membuka sebuah gagang pintu.


"Pasti di sini kan?!" ucapnya yakin dan membukanya.


*


*

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2