NONA DIANDRA

NONA DIANDRA
KABAR DUKA


__ADS_3

Dengan tenang Anindita dan Aditya duduk di dekat Amanda.


"Maafkan kami mbak Amanda, baru kali ini kami bisa menemui mbak Amanda."


"Bohong!"


Deg


Suara tegas Amanda membuat Anindita dan Aditya saling berpandangan, Anindita mencoba untuk menatap Aditya sekali lagi untuk memastikan bahwa bukan satu kesalahan mereka berada di dalam ruang rawat Amanda.


"Mbak Amanda, maafkan Anindita, ibu melarang Anindita memberitahukan keberadaan mbak Amanda kepada mas Giandra, Anin tidak dapat berbuat apa - apa selain menuruti semua hal yang ibu katakan mbak."


Air mata Amanda tiba - tiba saja mengalir ketika Anindita mengatakan hal itu kepada nya.


"Kau tau bertahun - tahun aku mengirimkan pesan kepada mas Giandra, semua metode sudah aku coba, namun tidak ada satupun pesan yang di balasnya."


Anindita dan Aditya langsung kembali berpandangan ketika melihat Amanda mulai menangis.


Tatapan Anindita kepada Aditya kali ini betul - betul meminta satu ketegasan untuk mereka bisa meninggalkan ruangan itu dan pada akhirnya Aditya menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Mbak kami senang melihat keadaan mbak Amanda yang telah berangsur pulih, kami datang kemari untuk menjenguk mbak Amanda."


Diam dan hening langsung terjadi ketika Anindita selesai mengatakan hal tersebut kepada Amanda.


"Baiklah mbak, karena keadaan mbak baik - baik saja kami mohon pamit."


Hanya beberapa kata yang pada akhirnya Anindita ucapkan untuk Amanda, ingin sekali Anindita langsung lari keluar kamar agar Amanda tidak bertanya kepadanya lebih lanjut lagi.


"Dimanakah mas Giandra."


Deg


Anindita dan Aditya yang hendak melangkahkan kaki menuju pintu keluar langsung menghentikan langkahnya.


"Mas."


"Ayo."


Dengan perlahan Aditya pada akhirnya membalikkan badan dan mengajak Anindita untuk kembali mendekatkan diri ke arah Amanda.


"Kalian belum menjawab pertanyaan ku, sebenarnya dimana keberadaan mas Giandra?"


"Mbak, maafkan Anindita, maafkan mbak."


Tiba - tiba saja Anindita mengatakan hal itu sambil menangis di hadapan Amanda.


"Ada apa Nin?"


Amanda yang masih belum mengerti akan permintaan maaf Anindita dan juga air matanya yang mengalir kembali bertanya kepada Anindita.


"Mbak, mbak, mas Giandra, mas Giandra...."


Anindita tidak dapat melanjutkan kata - katanya karena kini air matanya telah mengalir dengan deras melebihi suaranya sendiri.

__ADS_1


"Dek biarkan mas saja yang menjelaskan kepada mbak Amanda."


Aditya yang sudah mengetahui keadaan istrinya yang seperti itu segera mengambil alih suasana.


Dan Anindita yang memang sudah tidak bisa berkata apa - apa lagi langsung menganggukkan kepalanya.


"Mbak, maafkan kami yang baru bisa menyampaikan kabar duka ini kepada mbak Amanda."


Deg


mendengarkan apa yang dikatakan oleh Aditya hati Amanda seperti di hantam sebuah batu besar.


"Kabar duka apa yang kalian maksudkan?"


Kini Aditya yang mengarahkan pandangannya kepada Anindita mendengarkan nada bicara Amanda yang tiba - tiba saja meninggi.


"Mas Giandra sudah kembali ke Tuhan mbak."


Deg


Hati Amanda begitu sakit, hati Amanda seketika hancur, Amanda langsung menangis mendengarkan kabar duka tersebut.


"Kalian bercanda kan? mas Giandra pasti sekarang hanya pergi, mas Giandra pasti sekarang hanya berada di luar negeri? mas Giandra pasti....."


Amanda kini tidak dapat berkata apapun selain hanya bisa menangis.


"Maafkan kami yang baru bisa menyampaikan hal ini mbak, tapi memang mas Giandra sudah meninggal."


"Setelah mas Giandra selesai operasi, ibu dan bapak langsung membawa mas Giandra ke Singapura untuk menjalani operasi, namun setelah operasi tersebut selesai kondisi mas Giandra tiba - tiba memburuk dan ke esokan harinya mas Giandra meninggal, maafkan kami mbak Amanda."


Anindita yang pada akhirnya bisa menjelaskan semuanya kini berakhir dengan derai air mata yang sama sekali belum bisa berhenti.


"Lalu siapa yang selama ini menerima kabar berita yang aku kirimkan? karena ponsel mas Giandra aktif."


Tatapan ke dua mata Amanda kini mengarah tajam kepada Anindita dan juga suaminya.


"Setelah mas Giandra meninggal, semua barang mas Giandra berada di dalam penguasaan ibu, termasuk ponsel mas Giandra."


"Jadi selama ini yang menerima semua pesan ku adalah ibu?"


"Iya mbak Amanda."


Anindita mengatakan hal tersebut sambil menganggukkan kepalanya.


"Dan ibu sama sekali tidak mau melihat cucunya?"


Kini tangisan Amanda meledak dengan hebat.


"Mbak sabar, mbak sabar."


Aditya yang khawatir akan kondisi Amanda langsung mencoba untuk menenangkan.


"Setelah mas Giandra meninggal, ibu sangat benci kepada mbak Amanda, benci kepada semua yang mbak Amanda punya."

__ADS_1


"Apakah termasuk Diandra? dia cucu kandungnya ibu Nin."


Anindita pada akhirnya hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil menangis saat Amanda mengatakan hal tersebut.


"Ya Tuhan, kenapa ini semuanya menjadi tidak adil seperti ini!"


Detik itu juga tangisan Amanda kembali meledak, dan rasanya sangat sakit.


"Maafkan kami mbak Amanda, maafkan."


Anindita pada akhirnya mengatakan hal tersebut sambil menangis dengan histeris di depan Amanda.


"Tinggalkan aku sendiri."


Deg


Anindita dan Aditya langsung terdiam begitu Amanda mengatakan hal itu.


"Mbak..."


"Tinggalkan aku sendiri, sebentar lagi Diandra akan kemari, dia tidak boleh melihat kita di dalam keadaan seperti ini."


Deg


Anindita langsung kembali memandang ke arah Aditya, sungguh di luar dugaan ketika mereka melihat Amanda dengan penuh keterpaksaan menghapus air matanya.


"Mbak."


Anindita yang masih terkejut melihat perubahan emosi Amanda kembali memanggil Amanda.


"Pergilah aku tidak mau Diandra melihat kalian disini, Diandra sama sekali tidak mengetahui cerita kelam ini, yang Diandra tau ayahnya sudah meninggal, dan aku tidak salah bukan?"


Air mata yang sudah di hapus oleh Amanda tiba -tiba saja mengalir kembali saat Amanda mengatakan hal tersebut.


"Mbak Amanda tidak pernah memberitahukan tentang mas Giandra kepada Diandra?"


Dengan cepat Diandra langsung menggelengkan kepalanya.


"Putri ku tidak perlu mengetahui kebenaran ini, aku tidak ingin putriku di hantui cerita sedih dimana dia tidak diakui oleh kakek nenek nya sendiri seperti aku yang dulu pernah di buang oleh keluarga besar ku hanya aku adalah anak hasil perselingkuhan."


"Jadi aku mohon pergilah."


Anindita yang hendak berbicara langsung di halangi oleh Aditya.


"Mbak kami akan mencoba mengerti jika mbak Amanda tidak ingin memberitahukan siapa kami sebenarnya, kami akan mencoba menerima ketika Diandra tidak mengetahui jika dia memiliki keluarga selain ibu nya."


"Namun tetap menjadi sebuah kesalahan jika mbak Amanda tidak mengatakan hal yang sebenarnya kepada Diandra."


"Keputusan ku sudah bulat dan aku harap kalian menghormati keputusan ku."


Tidak ada yang bisa di ucapkan lagi Anindita dan Aditya ketika Amanda sudah mengambil keputusan tersebut.


"Baiklah mbak, kami akan pergi dan kami akan menghargai keputusan mbak Amanda, tapi satu hal yang pasti, suatu saat jika Diandra membutuhkan kami, dengan senang hati kami akan membantu nya."

__ADS_1


__ADS_2