
Mendengarkan perintah dari Louis membuat Diandra yang sejak tadi hanya memegang amplop tersebut pada akhirnya berani untuk membuka nya.
Dengan teliti Diandra membaca satu per satu isi di dalam kertas tersebut.
"Apa maksud ini semua dokter Louis?"
Ke dua mata Diandra semakin membulat ketika Diandra sudah membaca semua bagian akhir dari isi kertas - kertas yang di dalam amplop itu.
"Sederhana nya kau sekarang harus bekerja sepenuhnya dengan ku, semua biaya rumah sakit dari ibu mu nanti akan aku potong dari gaji mu setiap bulan."
"Jadi ini tidak gratis?"
Louis kembali tertawa untuk kesekian kalinya mendengarkan pertanyaan Diandra.
"Tentu saja tidak, kau sungguh seperti bocah yang bertanya berulang - ulang, berapa usia mu sekarang?"
"Dua puluh satu tahun dokter."
"Pantas, kau masih bocah!"
Louis kembali mengatakan hal itu dengan tersenyum seperti menghina Diandra yang Louis anggap masih seperti anak - anak.
"Aku bukan bocah dokter, aku sudah dewasa."
"Ya, ya baiklah terserah apa yang akan kau katakan kepadaku, ya jelas mau tidak mau kau harus tanda tangan surat perjanjian ini, kau akan bekerja dengan ku untuk melakukan segala hal pekerjaan yang aku minta kepada mu."
"Semuanya dokter?"
"Iya semuanya, ini gaji mu setiap bulan."
Louis menunjukkan satu nominal di akhir kontraknya.
Diandra langsung memandang tajam ke arah nominal yang telah di tunjukkan Louis dengan tangannya.
"Sepuluh juta per bulan?"
"Ya, aku rasa itu sudah nominal gaji yang besar untuk di daerah Jogjakarta bukan, apalagi aku belum pernah melihat mu bekerja, dan sampai saat ini aku tidak mengetahui gelarmu, ya paling kalau aku bisa menebaknya kau hanyalah lulusan sekolah menengah atas saja, bukan lulusan perguruan tinggi."
"Jadi ini pasti sudah menjadi nominal yang besar untuk mu bukan?"
Diandra yang sejak tadi hanya memandang isi kontrak tersebut kini mengalihkan pandangannya kepada Louis dan berganti dengan memandang kertas kontrak tersebut sampai berulang - ulang.
"Tunggu apa lagi, kau harus tanda tangan malam ini juga, aku tidak akan pernah mengizinkan kau untuk keluar dari ruangan ini sebelum tanda tangan, ya kecuali kau mau berlama-lama bahwa menghabiskan malam ini bersama ku di dalam sana."
__ADS_1
Louis menunjukkan satu kamar kepada Diandra dan Diandra yang sudah mengerti arah pikiran dari Louis langsung mengambil pena dan membubuhkan tanda tangan nya di surat perjanjian tersebut.
"Ini dokter."
"Bagus, nah tugas pertama yang harus kau kerjakan besok adalah, jam enam pagi kau harus ikut aku ke rumah orang tua ku."
"Hah?"
Seketika itu juga Diandra langsung kaget mendengar apa yang di minta oleh Louis.
"Untuk apa aku harus ke rumah itu dokter?"
"Ya jadi pembantu lah, memang untuk apa lagi?"
Deg
Perkataan Louis langsung membuat dada Diandra menjadi sesak, sejenak yang lalu Diandra hampir lupa jika derajat dirinya dengan Louis sangat berbeda.
"Ya dokter, besok pagi aku akan ke rumah itu."
"Bagus ini alamat rumahnya, dan ini adalah daftar menu yang harus kau masakan untuk ku, meskipun di sana ada ibu dan juga koki, tapi semua masakan di rumah itu manis, aku tidak menyukai masakan manis, itu sebabnya aku butuh pembantu pribadi, apa kau mengerti?"
"Mengerti dokter Louis."
Dengan cepat Diandra langsung mengambil daftar masakan yang ditaruh Louis atas meja dan mulai membacanya.
Dengan polos Diandra menunjukkan tulisan - tulisan kanji yang tentu saja dia tidak dapat membacanya dengan baik.
"Ah aku lupa menuliskan di dalam bahasa mu dengan baik."
Setelah mengatakan hal tersebut Louis kembali mengambil daftar menu makanan itu dari tangan Diandra.
"Catat, pertama."
Deg
Dengan gugup Diandra langsung mengeluarkannya peralatan tulisnya ketika Louis memintanya untuk mencatat.
"Pertama sushi, kedua steak, ke tiga pizza, ke empat dimsum, ke lima sandwich, ke enam .."
Louis langsung berhenti berbicara ketika melihat Diandra hanya menatapnya saja.
"Hei kenapa kau tidak mencatat semua menu yang sedang aku bacakan untuk kau sediakan ha?"
__ADS_1
"Anu dokter, maafkan, aku tidak bisa memasak menu itu, makan saja aku belum pernah dokter."
"Astaga lalu apa saja yang kau makan selama ini ha?"
"Selama ini aku hanya memasak, sambel terasi, tempe, tahu goreng, sayur, ayam dan daging mungkin hanya beberapa kali di dalam satu tahun, jadi aku tidak pernah tahu makanan yang dokter sebutkan tadi."
Seketika itu juga Louis langsung menggelengkan kepalanya di hadapan Diandra.
"Dasar gadis ndeso, udik!"
Deg
Hati Diandra kembali sedih ketika mendengarkan kata - kata yang keluar dari mulut Louis.
Sedih karena Louis tidak pernah mengetahui untuk makan itu saja Diandra harus bekerja keras setiap hari dari pagi terkadang hingga pagi lagi, dan dengan gampang Louis mengeluarkan perkataan tersebut kepadanya.
"Besok kau mau makan pizza, aku tidak mau tau bagaimana caranya kau membuat, tapi besok pagi aku tetap mau makan itu, aku tidak akan memesan pizza dari restoran terkenal, tapi aku mau pizza itu di buat di dalam dapur ibu ku."
"Dan untuk kali ini kau tidak boleh menolak, tidak boleh bertanya, kau hanya perlu melakukan nya saja, apakah kau paham?"
Kini tatapan mata tajam Louis memandang ke arah Diandra, dan tatapan mata itu sungguh membuat Diandra menjadi takut.
"Mengerti dokter."
"Sekarang cepat pergi dari sini, aku bisa stress jika kau terus berada di hadapan ku!"
Louis mengatakan hal itu sambil melambaikan tangannya ke arah Diandra untuk mengusir Diandra dari hadapan nya.
Tanpa butu waktu lama, Diandra langsung berlari keluar dari dalam apartemen Louis.
"Tuhan bagaimana aku bisa membuat pizza, makan saja aku belum pernah Tuhan."
Sesampainya Diandra di parkiran motor, Diandra mengatakan hal tersebut sambil duduk di atas motor kesayangannya.
"Ah Merry, ya Merry, pasti dia pernah makan pizza aku akan bertanya kepada Merry."
Diandra langsung teringat akan nama sahabat nya ketika Diandra esok hari harus membuatkan Louis pizza, salah satu nama makanan yang selama ini tidak pernah di rasakan oleb lidahnya.
"Ayo Diandra kau harus semangat, ini semua demi kesembuhan ibu, dokter Louis hanya meminta mu untuk membuat pizza tidak meminta mu untuk melakukan hal yang macam - macam, jadi kau pasti bisa, semangat Diandra."
Dengan merentangkan ke dua tangannya Diandra mengatakan hal tersebut, bagi Diandra saat ini yang terpenting adalah kesembuhan dari sang ibu dan untuk itu Diandra akan melakukan segala cara.
Sementara itu di salah satu kompleks perumahan megah di Jogyakarta.
__ADS_1
"Ini semua tidak mungkin mas Aditya."
Malam itu Anindita yang telah mendengarkan kabar dari Aditya hanya bisa menggelengkan kepalanya.