
Dan tiba - tiba terdengar bunyi barang terjatuh sebelum Louis akan menjawab pertanyaan Lidya.
Semua mata langsung tertuju kepada sumber barang tersebut dan Louis baru sadar jika Diandra sejak tadi masih berada di dalam ruangan tersebut dan mendengarkan semua pembicaraan mereka.
"Hai, anu, maafkan aku masih disini, dan maafkan aku pada akhirnya mendengarkan pembicaraan kalian."
Diandra yang melihat dua orang sedang menatapnya dengan tajam mencoba untuk mencairkan suasana.
"Ayo kita pulang."
Louis mengatakan hal tersebut sambil menarik lengan Diandra.
"Mbak, kami permisi pergi dulu."
Diandra yang di tarik oleh Louis mencoba untuk tetap berpamitan dengan Lidya yang masih menatap mereka berdua.
"Louis, kenapa kau tidak mengatakan terus terang jika kau masih mencintai ku? apakah ego mu begitu besar sehingga kau tidak bisa mengucapkan hal itu kepada ku? seyakin itu kah kau mau melepaskan aku?"
Lydia mengatakan hal tersebut sambil ******* - ***** ke dua tangannya, rasa cinta yang kuat masih sama - sama di rasakan oleh Louis dan juga Lydia, namun ego dari masing - masing yang pada akhirnya membuat ke dua insan ini saling tidak mau mengakui perasaannya masing - masing.
"Lepaskan aku mas Louis, ini sakit."
Diandra yang berhasil di bawa Louis ke dalam ruangan pribadinya langsung minta untuk di lepaskan, karena Louis menggenggam lengannya dengan sangat kencang.
"Sekarang buatkan aku kopi, dapur ada dibagian belakang, ayo cepat!"
Louis mengatakan hal tersebut dengan nada tinggi kepada Diandra, rasa kesal terhadap dirinya sendiri dia luapkan kepada Diandra pada hari ini.
"Iya mas."
Diandra yang ingin sekali lari dari hadapan Louis namun tidak mampu kini memilih untuk masuk ke dalam dapur.
Louis yang kini hatinya mulai tenang langsung duduk di tempat duduknya dan memiji - mijit pelipisnya.
"Dasar kau bodoh Louis, bodoh, kenapa kau masih mencintai wanita itu, bodoh kau Louis, bodoh!"
Louis mengatakan hal tersebut sambil memukul - mukulkan tangannya di atas meja.
"Ini mas Louis kopinya."
Diandra meletakkan kopi tersebut di meja Louis, sungguh saat ini Diandra merasa iba dengan laki - laki tampan yang berada di depannya tersebut.
"Duduklah."
"Duduk dimana mas?"
Diandra yang tidak ingin salah, segera menanyakan di mana dia harus duduk.
"Duduklah di depan ku."
Louis meminta Diandra untuk duduk di depan mejanya, dan Diandra dengan patuh mengikuti apa di perintahkan.
__ADS_1
"Kau tadi mendengarkan semuanya?"
Seperti biasa Louis memberikan tatapan tajam kepada Diandra agar Diandra mendapatkan intimidasi.
"Iya."
"Lalu apa yang akan kau lakukan ketika kau sudah mendengarkan semuanya?"
"Itu bukan urusan ku."
Louis langsung tersenyum puas begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Diandra.
"Bagus, lupakan hal yang tadi, Lydia Natalia itu hanyalah masa lalu ku, dia wanita yang telah aku tinggalkan, karena dia berselingkuh dengan sahabat ku sendiri selama kami menempuh pendidikan di Swiss."
Diandra langsung mengernyitkan dahi ketika mendengarkan cerita Louis.
Dia bilang, aku tidak boleh ikut campur, dia bilang bahwa anggap saja aku tidak pernah mendengarkan, nah sekarang dia sendiri yang membuka cerita itu sungguh aneh manusia ini.
Hal tersebut yang Diandra katakan di dalam hatinya, Diandra hanya berani mengatakan hal ini di dalam hati karena tidak mungkin Diandra berani mengatakan langsung di hadapan Louis.
"Dia adalah wanita yang sangat aku cintai, dia adalah cinta pertama ku, namun semuanya kandas, karena saat itu aku melihatnya tidur dengan laki - laki lain dikamar nya, dan laki - laki itu adalah Marcel sahabat dekat ku sendiri selama berada di Swiss."
"Sejak saat itu aku meninggalkan dirinya, dan memilih untuk kembali ke Indonesia, aku melanjutkan hidup ku dan aku tidak tau keadaan nya sampai suatu saat aku mendengarkan kabar bahwa dia juga kembali ke Indonesia dan meneruskan usaha keluarga nya."
Louis mengatakan hal tersebut sambil menyandarkan kepalanya sambil menatap langit - langit di dalam ruangannya.
"Ah dasar Louis bodoh, untuk apa aku harus bercerita dengan mu, bocah mana mengerti cerita orang dewasa."
"Mengerti apa kau soal cinta, apakah kau pernah pacaran?"
Deg
Pertanyaan Louis cukup membuat Diandra terdiam, karena baru kali ini ada satu laki - laki yang berani untuk menanyakan hal pribadi kepadanya.
"Ah sudahlah, dari tampang mu saja, aku tau kalau kau tidak pernah pacaran kan?"
Diandra kini hanya bisa menganggukkan kepalanya karena apa yang telah dikatakan oleh Louis itu benar adanya.
Bagi Diandra yang saat itu menjadi tulang punggung keluarga sama sekali tidak pernah memikirkan untuk dekat dengan lawan jenis, karena bagi Diandra keluarga nya saja yang paling utama.
Diandra menolak untuk mencintai dan di cintai karena Diandra tidak akan punya waktu untuk hal yang seperti itu.
"Iya mas, aku belum pernah pacaran."
"Sudah aku duga, kalau kau bukan bocah kecil tentu kau sudah pernah menjalin cinta dengan laki - laki bukan?"
"Aku belum pernah pacaran karena aku yang menginginkan mas, saat itu aku masih menjadi tulang punggung keluarga, bagiku yang penting adalah kesembuhan dari ibuk, jadi tidak ada terlintas sedikitpun dariku untuk pacaran."
"Jadi aku tadi pernah memiliki pacar bukan karena aku masih kecil tapi karena aku yang memang tidak mau merasakan cinta karena keadaan hidup."
Rasa sesak kembali terasa di relung hati Diandra yang paling terdalam dia menceritakan hal itu.
__ADS_1
Entah mengapa itu seperti memori yang diputar sangat cepat di dalam ingatan, bagaimana saat itu Diandra juga merasakan hal yang sama yaitu mencintai laki -laki, namun semua perasaan nya tersebut terpaksa nya di kubur rapat - rapat.
"Sudah pergi sana, aku akan memulai kerja."
Deg
Lamunan Diandra langsir terhenti ketika Louis memintanya untuk pergi.
"Diandra pergi yah mas."
"Ya pergi menjauh dari hadapan ku, tapi tetap tidak boleh keluar dari ruangan ini."
Diandra yang hendak beranjak dari tempat duduknya langsung kembali menatap Louis.
"Maksud mas Louis?"
"Ya pergi, jangan mendekat tapi tetap tidak boleh pergi, sebentar lagi jam makan siang kau bisa memasak di dapur bukan? jika ada bahan makanan yang perlu kau beli, hubungi Reino dengan menggunakan telepon itu."
Louis menunjukkan satu telepon berwarna putih yang berada di pojok ruangan.
"Nanti kau tinggal menekan Extension yang sudah ada di daftar."
Diandra yang telah mendengarkan apa yang diperintahkan oleh Louis langsung menuju ke telepon tersebut namun pada akhirnya hanya terdiam.
"Kenapa kau tiba - tiba diam, jangan bilang bahwa kau juga tidak mengerti menggunakan extension itu seperti apa?"
"Bukan itu mas."
"Lalu apa?"
"Mana uang untuk belanja nya?"
"Astaga Diandra kau tidak perlu memakai uang tunai, kau hanya tinggal meminta semuanya kepada Reino maka dia yang akan membelikan apa kebutuhan mu."
"Ya mas."
Setelah mendengarkan arahan Diandra langsung menghubungi Reino untuk meminta di siapkan bahan masakan.
Seharian Louis sibuk sekali di dalam ruangannya, dan untuk pertama kali Louis begitu lahap menyantap makan siangnya yang hanya sayur asam dengan ayam goreng dan sambel goreng terasi.
"Hari ini di rumah akan ada tamu."
Di dalam perjalanan pulang, di dalam mobil tiba - tiba saja Louis mengatakan hal tersebut kepada Diandra.
"Tamu mas? siapa mas?"
"Apa hak mu bertanya siapa tamu ku? itu semua bukan urusan mu!"
Perkataan Louis yang tegas langsung menyadarkan Diandra.
"Maafkan Diandra mas Louis."
__ADS_1
"Siapkan saja makanan dan minuman untuk nya nanti.