
Dengan mantap pada akhirnya Louis berjalan, masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobil tersebut keluar dari halaman cafe.
Tepat di saat yang sama sepasang mata sedang mengamati mobil yang kini sudah keluar tersebut dari balkon lantai 2.
"Jika seperti ini kejadian aku akan sulit untuk menghindar darinya."
Diandra memandang dari balkon lantai dua mobil yang saat ini baru keluar dari halaman cafe.
Rasa rindu bercampur dengan rasa yang lainnya kini hinggap di hati Diandra.
Ingin Diandra berteriak memanggil nama laki - laki tersebut dari atas lantai dua, namun semua hal tersebut dia urungkan.
"Ah sudahlah, mungkin dia tidak akan sering - sering kemari lagi."
Setelah mengatakan hal tersebut Diandra kembali bekerja hingga sore hari.
Sungguh pekerjaan yang banyak membuatnya lupa akan pikiran tentang Louis.
"Diandra ayo pulang."
"Ya Mer, tapi aku mau ke pasar dulu, soalnya isi kulkas aku habis."
"Baiklah jika seperti itu, aku duluan ya Diandra."
Diandra langsung melambaikan tangannya kepada Merry yang sore hari ini memilih untuk pulang terlebih dahulu.
__ADS_1
Dengan cepat Diandra berjalan ke sepeda motor kesayangannya.
Diandra melajukan sepeda motornya tersebut ke arah pasar yang buka di malam hari.
Malam ini Diandra berbelanja bahan sayur - sayuran untuk mengisi kulkas mereka.
"Malioboro, sudah lama aku tidak mampir beli pernak pernik disana, ah lebih baik malam ini aku duduk di pinggiran Malioboro terlebih dahulu."
Selesai dari pasar Diandra segera mengarahkan sepeda motornya ke arah Malioboro dan setelah sampai Diandra memarkirkan sepeda motor tersebut lalu duduk di pinggiran Malioboro.
"Rasa rindu ku terhadap kota Jogjakarta adalah disini."
Dengan menatap para wisatawan yang lalu lalang Diandra mengatakan hal tersebut.
Sungguh satu pemandangan yang tidak pernah Diandra lupakan.
Deg
Tiba - tiba saja ada satu wanita paruh baya yang masih tetap cantik mendatanginya bersama dengan dua orang laki - laki yang sudah amat sangat dia kenal.
"Ibu Sekar?"
"Iya nduk, apa kabar mu?"
Dengan cepat ibu Sekar langsung memeluk Diandra di pinggiran jalan itu.
__ADS_1
"Diandra baik bu."
Diandra yang kini telah mengendurkan pelukannya langsung menatap ibu Sekar dan seketika itu juga tatapannya berganti pada sosok laki - laki muda yang berada di samping ibu Sekar yang sejak tadi juga menatapnya.
"Ibu sedang jalan - jalan keluarga?"
"Iya nduk, malam ini ibu, bapak dan Louis sedang berjalan - jalan malam, yah menikmati udara Yogyakarta, la kamu sedang apa nduk sendirian disini?"
"Anu bu Diandra juga sedang jalan - jalan santai."
"Walah anak perempuan duduk sendirian disini."
"Tidak apa - apa Bu Diandra sudah biasa."
"Ya wes kalau begitu gabung saja dengan kita, betul pak?"
Ibu Sekar mengatakan hal tersebut sambil menoleh ke suaminya seakan - akan meminta persetujuan.
"Ya tentu saja, ayo mbak Diandra gabung saja makan malam dengan kita, biar tidak sendiri, kan ada Louis juga jadi mbak Diandra tidak merasa sedang pergi dengan orang tua lah."
Suami ibu Sekar mengatakan hal tersebut sambil tersenyum kepada Diandra.
"Tapi bu Diandra tidak enak."
"Walah gak enak sama siapa? kita kan juga keluarga."
__ADS_1
Hai Hai pembaca novel Nona Diandra, terima kasih sudah setia sampai bab ini.
Jangan lupa voter, like yang banyak yah agar author nya semangat. Yuk lanjut bab selanjutnya yah😘