
Hati Louis yang begitu tersentak dengan setiap perkataan Diandra membuatnya tidak ingin melakukan hal apapun lagi setelah ini.
"Baru kali ini aku menemukan wanita yang hidupnya begitu menderita, baru kali ini aku menemukan wanita yang dengan gampangnya terbuka, dan baru kali ini aku menemukan wanita yang bisa berkata apa adanya, dia bisa mengekspresikan semua perasaan nya dengan sangat baik, sungguh perjuangan hidup mu luar biasa."
Di bawah guyuran air di dalam kamar mandi Louis terus mengatakan hal tersebut.
"Sayang ada apa dengan mu? sepertinya kau hari ini terlihat berbeda?"
Vivian yang melihat Louis telah keluar dari dalam kamar mandi kembali menanyakan hal tersebut.
"Kemari, dan duduklah."
Louis yang baru keluar dari dalam kamar mandi langsung meminta Vivian untuk duduk di kursi di samping tempat tidur Louis.
"Ada apa Louis?"
"Sepertinya aku harus mengatakan hal ini kepada mu."
Louis langsung menatap tajam Vivian saat akan mengatakan beberapa kata lagi.
"Katakan saja Louis."
"Aku minta kau pergi dari tempat ku sekarang juga."
Ke dua mata Vivian seakan ingin keluar dari tempatnya ketika mendengarkan apa yang telah Louis katakan.
Karena baru kali ini seorang nona malam seperti Vivian yang sangat menjadi primadona di usir oleh pelanggan nya sendiri tanpa sebab.
"Kenapa Louis? apakah pelayanan di atas ranjang kurang memuaskan? atau ada hal lainnya? ayolah Louis kau harus mengatakan terus terang kepada ku, agar aku bisa memperbaiki diriku."
Louis yang mendengarkan Vivian berbicara panjang kali lebar, membuatnya hanya bisa memijit - mijit pelipisnya saja.
"Jadi kau sungguh - sungguh ingin mengetahui kenapa aku tiba - tiba ingin meminta mu pergi?"
Vivian langsung menganggukkan kepalanya ketika mendengarkan pertanyaan dari Louis.
"Ya Louis katakan saja."
"Alasan sebenarnya kenapa aku tiba - tiba meminta mu untuk pergi adalah karena aku jijik pada diriku sendiri."
"Kau tau aku sangat jijik melihat tempat tidur ku sendiri, entah sudah berapa banyak wanita yang aku ajak tidur disana dan itu termasuk dengan mu."
__ADS_1
Sungguh ada satu kemarahan yang kini terpancar dari wajah Vivian, karena baru kali ada seorang pelanggan laki - laki yang mengatakan hal itu terhadap dirinya.
"Jijik kau bilang? lalu apa yang telah kita lakukan semalam, atau apa yang telah kita lakukan pada malam - malam sebelum ini Louis?"
"Kau laki - laki sangat menikmati permainan ku di atas ranjang, dan satu hal yang harus kau ingat aku kemari, aku sampai ke Jakarta, itu semua karena kau yang memintanya bukan? dan sekarang kau mengatakan bahwa kau jijik? sungguh ini ingin membuat ku tertawa Louis."
Dengan nada marah Vivian mengatakan semua isi hatinya, dan dengan marah pula Vivian mulai merapikan koper - koper nya.
"Aku tidak akan banyak berkata - kata lagi terhadap mu Vivian, karena sekarang yang aku inginkan hanya kau pergi dari hadapan ku!"
"Kau harus membayar ganti rugi tiga kali lipat baru aku akan pergi dari dalam kamar ini."
Mata merah Vivian sungguh membuat Louis ingin segera melemparkan dirinya keluar dari dalam kamar.
"Tak masalah sepuluh kali lipat pun aku bisa membayar mu."
Setelah mengatakan hal tersebut Louis mengambil ponselnya dan mengirimkan sejumlah uang ke rekening Vivian.
"Aku sudah transfer lima kali lipat dari harga yang sudah aku sepakati dengan madam."
Vivian langsung meletakkan kembali pakaiannya di atas tempat tidur dan maju mendekat ke arah Louis.
"Kau akan menyesal Louis karena kau telah melakukan hal ini terhadap ku!"
Dengan tatapan tak kalah tajam Louis kembali mengatakan hal itu kepada Vivian.
Vivian langsung membalikkan badan, kembali memasukkan pakaiannya ke dalam koper dan setelah itu langsung membawa koper tersebut keluar dari dalam kamar Louis.
"Aku minta supir untuk mengantarkan aku ke hotel."
"Pergilah, supir pribadi ku yang akan mengantarkan mu kemanapun kau mau."
"Sekali lagi kukatakan kau akan menyesal dengan semuanya Louis."
Setelah Vivian mengatakan hal tersebut, Vivian langsung meninggalkan kamar Louis dan langsung keluar dari kediaman Louis.
Kini tinggal Louis yang masih di dalam kamar dan dalam keadaan sendirian.
"Louis ada apa dengan mu? kenapa baru kali ini kau melakukan hal gila seperti ini."
Dengan duduk di tepi tempat tidur, Louis mengatakan hal tersebut sambil mengacak - acak rambutnya.
__ADS_1
Pada malam hari ini, pertama kali Louis melakukan sesuatu hal yang sebelumnya tidak pernah dia lakukan.
"Bagaimana keadaannya yah?"
Seketika itu juga Louis beranjak dari tempat tidur, meninggalkan kamar dan langsung menuju ke kamar Diandra yang ternyata lupa Diandra kunci.
Dengan perlahan Louis masuk ke dalam kamar Diandra dan di saat itu juga Louis melihat Diandra sudah tertidur dengan lelap.
Dengan jelas Louis dapat melihat mata yang sembab dari gadis tersebut, mata yang sembab karena telah lelah untuk menangis dan pada akhirnya tertidur.
"Dia masih memakai baju yang tadi, itu berarti saat di masuk ke dalam kamar, dia masih dalam keadaan menangis."
Dengan perlahan Louis kini lebih mendekatkan dirinya kepada Diandra, Louis mengamati Diandra dan dengan gerak cepat Louis mengambil selimut dan meletakkan selimut tersebut di atas tubuh Diandra.
"Kau pasti sangat lelah setelah menangis sehingga kau tidak ingat untuk menghangatkan tubuh mu sendiri."
Louis juga mengambil remote ac dan mengecilkan volume AC tersebut.
"Jangan sedih lagi, gadis ndeso."
Dengan perlahan Louis mengatakan hal itu sambil membelai kepala Diandra.
"Selamat malam."
Setelah mengatakan hal tersebut, Louis mematikan lampu kamar dan keluar dari dalam kamar Diandra.
Louis langsung menuju ke taman belakang dan duduk di sana, dengan ditemani cahaya rembulan Louis memejamkan mata dan mengarahkan wajah ke atas.
"Tuhan apakah kau benar - benar ada? sudah lama aku tidak mengajak Mu untuk berdiskusi banyak hal seperti dulu."
Seketika itu Louis langsung tersenyum mengingat bagaimana dulu dia termasuk laki - laki yang sangat rajin berdoa.
"Tuhan kau pasti sangat merindukan aku, Tuhan mungkin kau sudah lelah memanggil ku karena ketika kau memanggilku aku selalu pura - pura tidak mendengarkan"
Louis terus menutup mata sambil mengatakan hal tersebut.
"Sekarang aku ingin mendengarkan apa yang akan kau katakan kepadaku Tuhan, saat ini aku yang sedang ingin mengetuk pintu hati Mu."
Seketika itu juga air mata Louis mengalir dengan sangat deras ketika setiap kata - kata tersebut sudah keluar dari dalam mulutnya.
Ada rasa rindu yang sudah lama hilang kini perlahan mulai masuk ke dalam relung hatinya yang paling terdalam.
__ADS_1
Di tengah keheningan malam, ada satu laki - laki yang saat ini sedang menangis dengan begitu hebatnya.