
Ini foto pernikahan ibuk?"
"Ya dek itu foto pernikahan mas Giandra dan mbak Amanda."
"Lalu ini apa mbak?"
Diandra memegang satu buku berukuran sedang di tangannya.
"Ibu adalah buku mas Giandra, menjelang hari - hari terakhir, mas Giandra sering menulis di dalam buku tersebut."
Diandra ingin sekali membuka buku tersebut, namun tiba - tiba saja Diandra meletakkan kembali buku dan semuanya di dalam satu box besar dan kembali menatap Anindita dan juga Aditya.
"Lalu siapa sebenarnya kalian berdua? apa hubungannya dengan ibuk ku?"
Deg
Saat itu juga Anindita dan Aditya baru sadar jika Diandra baru pertama kali ini bertemu dengan mereka.
"Dek, kami adalah paman dan bibi mu, mas Giandra adalah kakak angkat mbak dek, jadi sekarang kamu bisa memanggil kami dengan om dan tante."
Anindita kali ini mencoba menerangkan kepada Diandra siapa sebenarnya mereka.
"Aku ingin mendengarkan semua cerita tentang ibuk dan bapak di masa itu sekarang juga."
Perkataan Diandra kembali membuat Anindita dan Aditya saling pandang, ingin sekali mereka mengatakan bahwa Diandra tidak perlu mendengarkan kisah cinta Amanda dan Giandra yang berakhir tragis, namun tatapan mata Diandra seakan - akan adalah tatapan memohon kepada mereka berdua.
"Baiklah sebelum aku menceritakan semua masa lalu mbak Amanda dan mas Giandra, aku harap Diandra bisa menerima semua cerita ini dengan dewasa."
Dengan cepat Diandra menganggukkan kepalanya dan di saat yang bersamaan Anindita mengarahkan pandangannya kepada kakek Surjono seolah - olah meminta izin untuk bisa menceritakan semuanya.
"Baiklah mbak Anin akan menceritakan semuanya sekarang juga."
Dengan menarik nafas panjang pada akhirnya Anindita memulai setiap cerita Amanda dan Giandra di masa lalu, dari mulai mereka bertemu, mereka jatuh cinta, kasus bapak Surjono, Amanda yang tidak diakui oleh keluarga besar Joyodiningrat, kehadiran dokter Jonas, Giandra cemburu, sampai pada Amanda hamil dan Giandra tidak mengetahui kehamilan Amanda.
Dengan perlahan air mata Diandra mulai kembali mengalir ketika Diandra mendengarkan semuanya itu dengan tenang.
"Sepahit itukah kehidupan ibuk ku?"
__ADS_1
"Kenapa ibuk selama ini tidak pernah bercerita hal itu kepada ku?"
Tangis Diandra langsung meledak sambil mengatakan hal tersebut.
"Nduk, sabar ya nduk, ibu mu memang sengaja menyimpan semua hal itu karena ibu mu tidak ingin membuat mu sedih."
Kakek Surjono mendekatkan diri ke arah Diandra dan mencoba untuk menenangkan cucu satu - satunya tersebut.
"Tapi kek apa yang ibuk lakukan itu salah, aku akan menjadi sangat terluka ketika mengetahui hal ini, terlebih aku mengetahui semua ini setelah ibuk tidak ada, Tuhan tidak adil, sungguh tidak adil, apa kurangnya kami di hadapan Engkau Tuhan?"
"Kami bukan orang jahat, kami ini juga selalu taat kepada Mu, namun kenapa semuanya ini harus terjadi kepada kami? sungguh Tuhan ini sangat tidak adil."
Dengan menangis kencang Diandra mengatakan hal tersebut di hadapan semua orang yang hadir.
Satu perasaan kecewa seorang gadis yang mengetahui semua kebenaran dengan terlambat menurut versinya.
Hancur hati Diandra ketika mengetahui semua hal ini, rasa sesak di dalam dadanya sangat besar, rasa kecewanya akan kehidupan, dan rasa kecewanya akan keluarga sang ayah serta kecewa akan sang ayah yang tidak berjuang untuk mencari keberadaan dirinya dan juga sang ibunda yang sakit - sakitan
Dengan cepat Diandra mengambil kembali box besar yang masih di atas meja, Diandra langsung berdiri dan Diandra berlari ke dalam kamar, mengunci kamar tersebut sambil membawa box besar tersebut bersama dengannya.
"Nduk, kamu tidak apa - apa, nduk buka pintu kamarnya."
"Kek, orang - orang itu tolong suruh pergi, Diandra tidak mau mereka ada di dalam rumah ini."
Anindita dan Aditya yang mendengarkan suara kencang Diandra cukup kaget dan mereka mencoba untuk memahami apa yang di alami oleh Diandra.
"Tapi nduk mbak Anindita dan mas Aditya itu juga keluarga kita."
"Aku tidak punya keluarga yang seperti itu! keluarga yang tidak pernah datang kemari, keluarga yang tidak berusaha untuk menjelaskan semuanya, keluarga apa yang datang dan menjelaskan semuanya setelah ibuk meninggal!"
Jeritan nyaring Diandra kini sungguh membuat hati Anindita bergetar hebat dan tanpa terasa Anindita menitihkan air matanya.
"Dek, maafkan kami yah, maafkan kami yang terlalu pengecut dengan tidak berani memperjuangkan untuk mengatakan kebenaran ini, dek maafkan kami."
Anindita yang telah bangkit dari tempat duduknya mencoba untuk mengetuk pintu kamar Diandra dan mengatakan hal tersebut.
"Pergi! aku bilang pergi! jangan pernah datang kembali kemari jika pada akhirnya kalian membawa duka untuk keluarga ini, pergi aku bilang pergi!"
__ADS_1
Jeritan nyaring Diandra kembali terdengar dari dalam kamar dan itu sungguh membuat hati Anindita menjadi sakit.
"Dek."
Aditya yang mengetahui keadaan hati sang istri sedang tidak stabil langsung menghampiri dan memeluk sang istri.
"Mas, apa aku bilang ini tidak gampang."
Dengan penuh air mata dan di dalam dekapan sang suami Anindita membisikkan kata - kata tersebut.
"Pak Surjono sepertinya pembicaraan ini tidak bisa kita lanjutkan lagi hari ini."
"Iya nak Aditya, maafkan Diandra yah nak."
"Ini bukan salah Diandra pak Surjono ini salah kami, salah keluarga kami, keluarga Wijaya, jadi jika reaksi Diandra seperti itu kami sangat mengerti pak."
Setelah Anindita dapat menguasai dirinya, Anindita mencoba mengatakan hal tersebut kepada pak Surjono.
"Kami permisi untuk pulang dulu pak, bagaimana pun juga Diandra masih menjadi tanggung jawab kami, jika ada sesuatu hal yang berhubungan dengan Diandra, kabari kami ya pak Surjono."
"Pasti nak Aditya, bapak pasti akan mengabari nak Aditya dan juga nak Anindita."
Aditya langsung menganggukkan kepalanya dan setelah selesai berpamitan mereka berdua langsung meninggalkan rumah pak Surjono.
"Nduk mereka sudah pergi, buka pintu kamarnya yah nduk."
Untuk kesekian kalinya pak Surjono mencoba untuk kembali membujuk Diandra agar mau keluar dari dalam kamar.
"Tinggalkan Diandra sendiri kek, Diandra mohon."
Dengan isak tangisnya Diandra mencoba untuk memohon hal itu kepada pak Surjono.
"Ya wes kakek akan mencoba untuk mengerti dan membiarkan kamu tenang dulu yah nduk, nanti kalau sudah tenang buka pintunya yah, karena ini masih banyak tamu yang akan mengucapkan bela sungkawa."
"Ya kek."
Diandra mengatakan hal itu untuk membuat pak Surjono tenang, namun pak Surjono tidak pernah mengetahui jika saat ini di balik pintu kamar Diandra sedang terduduk dengan memeluk erat ke dua kakinya.
__ADS_1
Hatinya begitu hancur ketika Diandra mengetahui segala kebenaran yang sangat membuat hatinya sakit.