NONA DIANDRA

NONA DIANDRA
PENGHARAPAN PALSU


__ADS_3

Terima kasih karena mas sudah menceritakan kebahagiaan keluarga mas Louis, aku memang tidak memiliki keluarga yang utuh, namun aku selalu ikut bahagia jika mendengarkan cerita - cerita keluarga seperti itu."


"Karena bagiku itu sudah cukup untuk mewakili aku yang sangat ingin memiliki keluarga."


Perkataan Diandra sungguh saat ini mampu untuk merobek - robek hati Louis yang kaku dan dingin, kata - kata yang mampu membuat Louis merasakan betapa seharusnya dia bisa memiliki rasa syukur yang dalam.


"Tidur lagi, agar besok kau cepat sehat."


Diandra tersenyum dan langsung menarik kembali selimut nya.


"Selamat malam mas Louis."


Setelah selesai mengatakan hal tersebut ke dua mata Diandra langsung terpejam.


Louis saat ini seperti sedang terhipnotis oleh pemandangan yang dia lihat.


Kenapa aku ini? kenapa hatiku rasanya tak karuan setelah mendengarkan ucapan demi ucapan gadis ndeso ini.


Louis hanya bisa mengatakan keanehan dirinya tersebut di dalam hati saja.


"Ah mending aku tidur saja, besok bangun pagi dan langsung bekerja."


Setelah selesai mengatakan hal tersebut Louis langsung beranjak ke kamar yang berada di sebelah Diandra untuk beristirahat.


Kamar eksklusif yang di pesan Louis di rumah sakit rupanya saat ini sangatlah berguna dimana Louis yang sudah lelah bisa beristirahat dengan tenang tanpa gangguan apapun.


"Selamat pagi dokter Louis."


Pagi ini Louis bangun dan langsung menuju ke ruangan Diandra, Louis melihat para dokter sudah datang dan memeriksa kesehatan Diandra.


"Bagaimana keadaannya dokter?"


"Mbak Diandra sudah jauh lebih baik dokter Louis, jika tidak ada hal yang serius nanti sore sudah boleh keluar dari rumah sakit, nanti saya berikan obat untuk luka jahitan nya agar cepat kering."


"Terima kasih dokter."


Dokter yang telah memeriksa keadaan Diandra pada akhirnya meninggalkan ruangan .


"Mas, aku baik - baik saja, mas Louis bisa meninggalkan aku sendiri disini mas."


Diandra pagi ini yang sepertinya mengerti keadaan Louis yang sedang banyak pekerjaan meminta Louis untuk meninggalkan nya saja.


"Baiklah, nanti sore aku akan menjemputmu, jadi kau tunggu saja di sini, apa kau mengerti?"


"Iya mas Diandra akan menunggu mas Louis disini."


"Bagus, ingat jangan kemana - mana ya."


"Iya mas."


Setelah mengatakan hal tersebut Louis langsung meninggalkan ruang rawat Diandra.

__ADS_1


"Pagi mas Louis."


"Pagi Ren."


"Langsung ke kantor mas?"


"Ya Ren, aku akan mandi di kantor saja."


"Baik mas."


Pagi ini seperti biasa Reino sudah datang ke rumah sakit untuk menjemput Louis, Reino yang mengetahui bahwa Louis semalam tidak pulang karena menunggu Diandra memutuskan untuk menjemput tuan nya tersebut lebih pagi.


Hari ini Louis memang banyak sekali pekerjaan, perusahaan farmasi yang dia pimpin sedang berkembang pesat dan itulah yang membuatnya sangat sibuk.


"Mas ini sudah sore, alangkah baiknya mas Louis untuk segera menjemput mbak Diandra."


"Ya kau benar Ren, bocah itu harus di dampingi agar tidak terjadi sesuatu hal buruk lagi dengannya."


Louis langsung berdiri dari tempat duduknya, mengambil jasa hitam, serta kunci mobilnya sendiri.


"Ren aku yang akan membawa mobil ini sendiri, kau gantikan saja aku rapat sore ini."


"Ya mas Louis."


Louis yang sudah mendapatkan jawaban dari Reino langsung meninggalkan ruang kerjanya untuk kembali menuju ke rumah sakit.


"Nenek, nenek bangun nenek."


Louis melihat satu jenazah hendak memasuki lift dan Louis sangat terkejut ketika melihat satu wanita muda dengan penuh air mata sedang berada di dekat jenasah tersebut.


"Lydia."


Louis mengatakan hal tersebut sambil menghampiri Lydia.


"Turut berdukacita Lidya."


Louis yang kini posisinya sudah dekat langsung bisa mengerti apa yang saat ini sedang terjadi.


"Terima kasih Louis."


Louis terdiam dan melihat sekitar Lydia, Louis melihat Lydia hanya seorang diri tanpa ada satu saudara pun yang mendampingi nya saat ini.


"Kau akan menuju langsung ke rumah duka Lid?"


Dengan cepat Lydia menganggukkan kepalanya.


"Ya Louis, aku akan menggunakan mobil saja menuju ke sana."


"Sendirian?"


Dengan cepat pula Lydia menganggukkan kepala untuk yang ke dua kalinya.

__ADS_1


"Iya sendiri, keluarga ku hanya tinggal nenek saja, dan yah sisanya berada di luar Indonesia dan akan memakan waktu untuk menuju ke Indonesia dengan cepat."


Timbul rasa iba ketika Louis melihat keadaan Lydia, bagaimana tidak melihat wanita dengan penuh air mata kesedihan harus mengemudikan mobilnya sendiri.


"Ayo dengan ku saja, tinggalkan mobil mu di rumah sakit, nanti biar supirku yang mengurusi nya."


Lydia sungguh sangat kaget dengan keputusan Louis yang akan mengantarkan dirinya ke rumah duka.


"Kau serius?"


"Tidak akan perkataan ulang lagi Lydia, ayo ikut aku."


Louis langsung meraih tangan Lydia dan mengajaknya ke parkiran rumah sakit untuk mengantarkan Lydia yang sedang berdukacita menuju ke rumah duka.


Seketika itu juga Louis melupakan tujuan utamanya untuk apa dia harus datang ke rumah sakit sore ini.


Tanpa pemberitahuan, tanpa kabar berita, kini ada satu gadis yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan Louis.


"Tuhan kenapa jantungku berdegup sangat kencang ketika aku dekat dengan mas Louis, akhir - akhir ini mas Louis baik sekali dengan ku Tuhan, ternyata dia bukan seperti laki - kaki yang di bicarakan oleh banyak orang."


Di atas tempat tidur dan sore yang dengan perlahan berganti dengan malam membuat satu gadis terus mengatakan hal tersebut kepada dirinya sendiri.


Seorang gadis yang saat ini sedang menceritakan menceritakan curahan hatinya kepada Tuhan.


"Permisi mbak Diandra."


Satu suara yang kini masuk ke dalam ruang rawat.


"Mas Reino?"


"Ya mbak Diandra."


"Bukan mas Louis yang menjemput ku?"


Diandra masih melihat - lihat di sekitar Reino mungkin saja tiba - tiba Louis muncul.


"Tidak mas, hari ini mas Louis memberitahukan saya untuk menjemput mbak Diandra pulang ke rumah, mas Louis sedang ada urusan di luar.."


"Ah jadi seperti itu, baiklah mas Reino."


Ada segurat kekecewaan yang saat ini terlihat dari wajah Diandra, sungguh dari lubuk hatinya yang paling terdalam dia ingin yang menjemputnya adalah Louis, namun rupanya itu semua adalah khayalan yang terkadang tidak sesuai dengan kenyataan.


"Ayo mas Reino, aku sudah tidak betah berada di ruangan ini, aku pingin pulang."


"Tentu saja mbak, mari mbak saya bantu."


Reino dengan cekatan membantu Diandra untuk turun dari tempat tidurnya saat ini.


Dari dalam hatinya yang paling terdalam Diandra sangat berharap saat ini yang melakukan semua hal ini adalah Louis.


Namun pengharapan Diandra seperti nya belum bisa terwujud dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2