
Bukan soal perasaan ku yang kini di ketahui oleh mas Louis saja Mer, tapi rasa malu ku, rasa marah ku terhadap mas Louis yang membaca buku harian tanpa persetujuan dari ku."
Dengan mata memerah Diandra mengatakan hal tersebut kepada Merry.
Merry yang mendengarkan hal tersebut kini hanya bisa terdiam tanpa kata.
"Jadi kau pergi dari rumah mas Louis dan kembali ke Jogyakarta karena hal ini yang paling utama?"
Dengan cepat Diandra langsung menganggukkan kepalanya.
"Ya Mer, mungkin perasaan ku terlalu rapuh sehingga aku tidak bisa menjadi wanita profesional di dalam setiap pekerjaan ku."
"Tapi jujur aku tidak kuat Mer jika aku harus terus bekerja bersama dengan mas Louis dengan hatiku yang seperti ini, apakah aku sudah salah mengambil keputusan Mer?"
__ADS_1
Pertanyaan Diandra kini membuat Merry semakin terdiam, di satu sisi Merry sangat menyayangkan Diandra berhenti dari pekerjaan ketika banyak orang yang saat ini sedang mencarinya, namun di satu sisi Merry sangat paham dengan apa yang Diandra rasakan saat ini.
"Diandra, jika kau tanya kepadaku apakah keputusan yang kau ambil ini salah satu tidak, aku hanya bisa mengatakan aku tidak tau, karena ini hanya kau dan Tuhan yang tau, namun satu hal yang pasti ketika kita berani mengambil satu keputusan kita juga harus siap dengan konsekuensi yang kita terima."
Merry mengatakan hal tersebut sambil menatap tajam ke arah Diandra.
"Ya Mer aku sadar bahwa keputusan ku yang serba dadakan ini pasti mendapatkan konsekuensi yang tidak sedikit, salah satunya sekarang aku telah kehilangan pekerjaan, tidak punya uang lagi, dan aku sendiri tidak tau esok hari harus makan dengan apa."
"Satu hal yang aku rasakan ketika aku mulai memiliki perasaan terhadap mas Louis aku terlalu percaya diri, aku juga terlalu bahagia, aku lupa jika segala sesuatu hal yang berlebihan itu biasanya berakhir tidak baik."
"Bersama dengan mas Louis aku juga baru merasakan bagaimana rasanya di perhatikan oleh satu orang laki - laki tampan, laki - laki baik, tanpa aku pernah memikirkan jika perhatian itu sebenarnya adalah perhatian yang biasa - biasa saja."
"Di dalam perjalanan hidup aku tidak pernah sama sekali mendapatkan hal ini, apa karena aku juga tidak mendapatkan kasih sayang seorang ayah yah Mer?"
__ADS_1
Tiba - tiba saja Diandra mengatakan hal ini kepada Merry, satu pemikiran yang terlintas di dalam benaknya atas setiap hal yang akhir - akhir ini sudah terjadi di dalam kehidupan Diandra.
"Itu bisa saja Diandra, jatuh cinta nya seorang perempuan pertama kali adalah jatuh cinta terhadap papanya, jika hal itu belum pernah terwujud maka dia akan teru bertanya - tanya sepanjang hidup dan akan terus mencari cinta yang seharusnya dia dapatkan dari kecil."
Diandra langsung terdiam dengan perkataan dari Merry.
"Kau benar Mer."
Tiba - tiba saja air mata Diandra mengalir sambil mengatakan hal tersebut, akar dari setiap permasalahan yang sedang dia alami saat ini adalah karena Diandra belum menemukan sosok seorang ayah yang selama ini dia rindukan.
Hai Hai pembaca novel Nona Diandra, terima kasih sudah setia sampai bab ini.
Jangan lupa voter, like yang banyak yah agar author nya semangat. Yuk lanjut bab selanjutnya yah😘
__ADS_1