
Oh apa tidak capek nduk kerja disana?"
Dengan cepat Diandra langsung menggelengkan kepalanya.
"Semua pekerjaannya tidak ada yang tidak capek bude."
"Iya bude tau, nduk kamu suka masak?"
"Suka bude, kenapa?"
"Ndak, tadi bude berpikir untuk kamu bisa bantu - bantu bude, soalnya bude kan ada catering dan sedang butuh orang untuk mengawasi bagian produksi makanan."
"Jam kerjanya bagaimana bude?"
"Bude butuh untuk sore sampai malam jam sembilan, tapi kamu kata kakek mau kembali bekerja di cafe?"
Mata Diandra langsung berbinar mendengarkan tawaran bude.
"Diandra bisa bude, soalnya kan bekerja di cafe cuma sampai sore, nanti dari cafe bisa lanjut ke tempat catering bude."
"Kamu yakin nduk bisa?"
"Yakin bude, Diandra bisa."
Diandra mengatakan hal tersebut dengan mantap untuk bisa menyakinkan Anindita, jika hanya sampai jam sembilan malam saja itu masih merupakan hal kecil, karena dulu Diandra pernah bekerja di dua tempat hampir dua puluh empat jam.
"Ya sudah ayo kita makan dulu nduk."
"Iya bude."
__ADS_1
Siang itu Diandra, Anindita dan kakek Surjono menikmati makan siang dengan penuh canda dan tawa.
Sejenak kenangan buruk tentang Louis mulai menghilang dari pikiran Diandra.
"Ati - ati ya bude."
"Iya nduk, besok malam tak tunggu ya di catering bude."
"Pasti bude."
Sore menjelang malam pun tiba dan hari ini sungguh hati Diandra sangat bahagia, bahagia karena Diandra mendapatkan dua pekerjaan sekaligus.
Bahagia karena pada akhirnya bayang - bayang Louis mulai menghilang di dalam benaknya.
Sementara itu di Jakarta di satu pusat tempat hiburan malam satu orang laki - laki tampan turun dari dalam mobil mewah, masuk ke dalam tempat tersebut dan langsung menuju ke ruang eksklusif.
"Louis sayang, akhirnya kau datang juga."
"Lepaskan tangan mu Vivian."
Dengan satu hentakan Louis dapat membuat pelukan pada pinggang nya langsung terlepas.
"Ah aku lupa kau kan sudah jijik dengan ku."
"Jadi apa yang akan kau bicarakan disini Vivian?"
"Duduklah terlebih dahulu, tidak akan enak jika kita membicarakan hal ini di dalam keadaan berdiri."
Dengan santai Vivian mengatakan hal tersebut sambil menuju ke meja kecil dan menuangkan minuman beralkohol ke dalam gelas.
__ADS_1
"Ini minumlah dulu, kau boleh bilang jijik kepada ku, tapi tidak pada minuman ini bukan? aku tau ingin adalah minuman favorit mu."
Louis hanya diam dan langsung menyambar minuman tersebut dari tangan Diandra.
Louis langsung menegak minuman tersebut sampai habis dan Vivian langsung tersenyum dengan apa yang dilakukan oleh Louis.
"Jadi apa yang akan kau katakan kepadaku?"
"Santai saja, aku hanya merindukan mu Louis sayang."
Louis yang sudah tidak tahan akan apa yang dilakukan oleh Vivian langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Kau pasti akan merindukan aku Louis."
Di saat yang bersamaan Louis pun pada akhirnya pingsan.
Vivian mendekati Louis yang pingsan dan memandangi dengan tajam .
"Seorang wanita yang menjijikkan akan memberikan kenikmatan kepada mu malam hari ini."
Vivian mengatakan hal tersebut sambil membelai pelan wajah Louis.
"Bawa dia ke hotel A sekarang."
"Baik mbak."
Beberapa pengawal yang kini sudah berdiri di hadapan Vivian langsung mendapatkan perintah tersebut.
Hai Hai pembaca novel Nona Diandra, terima kasih sudah setia sampai bab ini.
__ADS_1
Jangan lupa voter, like yang banyak yah agar author nya semangat. Yuk lanjut bab selanjutnya yah😘